My BigBoss Mafia

My BigBoss Mafia
BAB 26. SUDAH BERTUNANGAN


__ADS_3

Syukurlah Nabila tidak terlambat mengikuti ujiannya. Dia pun bisa ikut melaksanakan ujiannya dengan lancar. Setelah selesai mengikuti ujian, Nabila bersama dengan temannya Renny segera menuju ke kantin untuk makan siang.


Sejak pagi tadi dia belum makan apapun, karena itu dia sangat kelaparan dan membutuhkan makanan.


Kini mereka sudah berada di kantin sembari menyantap makanannya masing-masing. Nabila sedang menyantap sup ayam favoritenya, sedangkan Renny memilih untuk makan soto betawi.


“Ngomong-ngomong, kenapa akhir-akhir ini kamu sering terlambat, La?” Renny membuka obrolan.


“Semalam rumahku mati lampu” jawab Nabila apa adanya.


“Berarti semalam mati lampunya rata, ya.” sahut Renny.


“Memangnya tempatmu juga?”


Renny hanya mengangguk sembari menyeruput kuah soto favoritnya. Nabila pun tersenyum melihat tingkah temannya tersebut.


Mereka kembali makan dengan damai, perhatian Renny tiba-tiba teralihkan oleh siaran di Televisi. Gadis itu mendadak heboh ketika melihat berita yang tengah menyiarkan sosok yang mereka kenal.


“La La! Lihat itu, bukannya itu pria yang kemarin menjadi tamu di Kampus kita?” tanya Renny kepada Nabila.


Gadis itu ikut menoleh, matanya menyipit untuk melihat gambar seorang pria yang terpampang nyata di dalam Televisi.


“Gabriel..” lirih Nabila tidak percaya.


“Ya ampun, bukankah dia itu pria idaman? Selain kaya dan juga cerdas, dia sangat sangat tampan”


Mendengar pujian tersebut, entah kenapa Nabila justru teringat kembali kejadian semalam. Dia setuju, jika Gabriel adalah pria yang sangat tampan. Terlebih lagi, ternyata Gabriel adalah orang yang begitu sukses dan sangat terkenal.


“Kira kira dia sudah menikah apa belum ya, La?”


“Mana aku tau, memangnya dia mau dengan kita yang hanya anak kuliahan?” dusta Nabila.


“Benar juga, kalau pria seperti Gabriel Kenzo pasti akan mencari pasangan yang sepadan dengan derajatnya”


Benar sekali, Nabila pun juga memikirkan hal sama. Dia tidak boleh larut atau terbawa suasana oleh pesona Gabriel, walaupun Gabriel memintanya untuk menjadi tunangannya. Semua itu hanya sebatas sandiwara saja.


Memikirkannya saja sudah membuat Nabila menjadi sesak, dia harus sadar diri dengan posisinya sekarang. Anak yatim piatu, tidak memiliki apapun, dan hanya memiliki semangat untuk tetap berjuang melawan kerasnya kehidupan.


“Nabila!!”


Tiba-tiba terdengar panggilan dari arah belakang. Nabila memicingkan matanya, dia tidak mungkin salah lihat bukan. Kenapa Arini bisa datang bersama dengan pemuda itu.


“La, Arini lagi sama siapa?” bisik Renny.


Nabila terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan Renny sampai dua orang itu benar-benar berada dihadapan mereka..


“Nabila, bagaimana ujianmu?” tanya Arini dengan ramah.


“Ujiannya lancar” jawab Nabila sembari melirik pemuda dibelakangnya.


Arini mengikuti arah pandang Nabila, dia tersenyum dan menarik tangan Nando agar berada disampingnya.


“Maaf ya, La. Tentang rencana belajar bersama malam ini, sepertinya gak bisa La.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Aku ada urusan penting dengan Kak Nando.” Arini tersenyum kepada Nando. “Kakak tidak keberatan menjemputku ke Apartemen kan?”


“Tentu tidak, kabari kalau kamu sudah siap..” balas Nando sembari tersenyum.


“Kalau begitu, aku masuk kedalam kelas dulu ya..”


Setelah memberi tau kabar tersebut, Arini pun bergegas pergi. Sedangkan Nando, pemuda itu masih setia berdiri didepan meja Nabila dan Renny.


Renny pun ikut melarikan diri karena merasa canggung dengan situasi tersebut. “La, aku pamit ke toilet sebentar ya?”


“Mau aku temani?” tawar Nabila.


“Tidak perlu, kalian berdua mengobrol saja disini. Duluan ya”


Renny segera bergegas pergi, hal ini pun dimanfaatkan oleh Nando yang langsung duduk di tempat Renny tadi.


“Hey, siapa yang menyur-“


“Shut! Kantin ini bukan milikmu kan?” sela Nando cepat.


Nabila pun hanya bisa menggelengkan kepala, gadis itu pun kembali menunduk. Dia tidak berani menatap Nando karena merasa malu, ketika dia mengingat kembali apa yang dilakukannya bersama dengan Gabriel semalam.


Sedangkan Nando, pemuda itu berpikir jika Nabila masih memikirkan kejadian kemarin ketika dia menangis.


“Nabila, kamu masih marah denganku?”


“Tidak..”


“Nando! Ini di kantin, jangan macam-macam. Semua orang sedang melihat kearah kita!”


Nando menggeleng sembari membawa tangan mereka kebawah meja. “Tidak akan ada yang melihatnya, sekarang kamu bisa melanjutkan makanmu..”


“Aku tidak mau Ndo, lepaskan tanganku!”


Walaupun Nabila sudah memohon kepadanya, tapi sepertinya Nando tidak menggubrisnya. Justru dia malah tersenyum kearah Nabila dengan bertopang dagu.


“Ndo..”


“Cepat makan”


Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Nabila pasrah dan melanjutkan makannya.


Ketika itu, banyak sekali mahasiswi yang sedang memperhatikan mereka. Salah satunya adalah Dea dan juga Tasya, mereka duduk di belakang Nando persis.


“Aku curiga dengan mereka, apa mungkin Nando dan Nabila punya hubungan yang spesial?” tanya Tasya dengan berbisik.


“Tidak mungkin! Semua juga tau jika gadis murahan itu dulu yang merayu Nando.” Kata Dea menyangkalnya.


“Dulu Kevin yang dia rayu, sayangnya Kevin tidak terpengaruh dan lebih memilih Aurel. Sedangkan sekarang, ada Nando. Dia tau jika Nando dan Kevin bersepupu, karena itu dia sengaja menggodanya. Semua pasti demi uang” jelas Dea yang tau jika Nabila yatim piatu.


“Lalu sekarang, apa yang akan kamu lakukan kepada Nabila? Bukannya kamu sangat menyukai Nando?” tanya Tasya yang penasaran.

__ADS_1


Dea tersenyum licik. “Tentu saja aku akan memberinya pelajaran!!”


...***...


Disisi lain, Gabriel yang kini sudah berada di kantonya, sedang melakukan meeting bersama dengan rekan bisnis. Disalah satu kursi tamunya itu, terdapat seorang perempuan cantik yang merupakan putri salah satu menteri di Negaranya.


Namanya adalah Brenda, gadis blasteran dengan rambut berwarna sedikit pirang. Gadis itu tertangkap basah sedang memperhatikan Gabriel yang tengah menjelaskan tentang produknya.


Tapi walaupun sedang di perhatikan oleh gadis secantik Brenda, Gabriel tetap bersikap dingin dan tidak menanggapinya.


Akhirnya meeting selesai, Gabriel segera menutup pertemuan tersebut dan memanggill Lucas yang merupakan tangan bawahnya.


"Lucas! Tolong input lebih lanjut tentang usulan Tuan Alex tadi."


"Baik Tuan, saya permisi" balas Lucas dan bergegas ke ruangannya.


Ketika Lucas keluar, ternyata disana masih ada Brenda yang memang sengaja menunggu Gabriel. Gadis itu bergegas masuk untuk menggoda Gabriel.


"Selamat siang Tuan Kenzo" sapa Brenda dengan ramah.


Gabriel melirik sekilas Brenda dengan mata elangnya. Pria itu tetap bersikap dingin walaupun Brenda sudah berusaha untuk berbincang dengannya.


Dengan sikap dinginnya tersebut, justru membuat Brenda semakin penasaran dengannya.


“Tuan Kenzo, apakah malam ini anda ada acara? Ayah mengajak anda untuk makan malam, apa anda mau menerima undangannya?”


Gadis itu duduk di kursi sebelah Gabriel. Dengan keahliannya, dia berusaha menggoda Gabriel. Perlahan tangannya mengelus bahu Gabriel dengan lembut, lalu selanjutnya dia menempelkan pipinya di pundak Gabriel.


“Ayah pasti akan sangat kecewa jika Tuan menolaknya” bisik Brenda dengan nada rendah.


Gabriel mendesah pelan, dia pun melirik Brenda yang kini sudah memeluknya. Mata elangnya tampak ganas, seolah siap menerkam Brenda.


“Katakan pada Tuan William, aku tidak bisa datang. Malam ini aku sudah ada jadwal lain.”


“El, tolong jangan lakukan itu. Bukankah kita sudah lama saling mengenal? Kenapa kau tega sekali menolak undangan Ayahku?” pinta Brenda yang merasa kecewa.


“Brenda, aku benar-benar tidak bisa”


Brenda masih merajuk, gadis itu bahkan mulai menciumi tengkuk Gabriel. Tidak lama, Gabriel langsung melepaskan pelukan Brenda dan sedikit mendorong gadis itu agar menjauh darinya.


“Kau tau, aku sudah memiliki tunangan. Jadi berhenti mendekatiku!” kata Gabriel dengan tegas.


Brenda tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengan dari Gabriel. Setahunya tentang seorang Gabriel, laki-laki itu tidak tertarik kepada seorang wanita. Lalu kenapa sekarang dia mengatakan jika dirinya sudah bertunangan.


“A—apa? Kau ini bicara apa, El?”


“Aku akan segera menikah. Jadi berhenti mendekatiku!” tegas Gabriel.


Brenda tidak melihat keraguan dari wajah Gabriel yang dingin itu. Laki-laki ini bersungguh-sungguh, ini sangat mustahil.


“Kau tidak sedang bercanda kan, El?”


“Tidak!!”

__ADS_1


Gabriel bangkit dari kursinya, dia pun berjalan keluar dari ruang meeting. Meninggalkan Brenda seorang diri. Gadis itu berbalik badan dan menatap punggung Gabriel yang menghilang di balik pintu.


“Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Akan ku lihat sendiri, perempuan seperti apa yang sudah kau pilih, sampai-sampai kau berani mengabaikan ku.”


__ADS_2