
Keduanya sempat terdiam sejenak, dan hanya melempar pandangannya. Sampai akhirnya Nabila tersadar dan langsung melompat kearah Gabriel hingga pria tersebut jatuh terduduk.
Nabila mendudukki paha Gabriel sembari menekan dada pria itu agar bersandar di tembok lift. “Katakan apa mau mu dan berhenti menggangguku!”
Gabriel sempat tersentak, dia mengenali suara kecil gadis tersebut. Dan ternyata benar dugaannya, jika gadis yang sedang menimpanya ini adalah Nabila. Bukannya menjawab, justru Gabriel hanya tersenyum miring yang membuat Nabila semakin kesal.
“Kenapa malah tersenyum ?!” marah Nabila yang merasa disepelekan.
Tiba-tiba tangan Gabriel meraba belakang kepalanya, dia menekan kepala Nabila hingga membuat gadis itu menunduk kearahnya.
“Apa yang ka- emphhh”
Gabriel langsung mengecup bibir gadis itu dari balik maskernya. Tidak ada *******, pria itu hanya memberikan kecupan singkat pada Nabila yang membuat gadis itu tidak bisa berbicara.
“Brengsek! Sebenarnya apa maumu?! Kenapa kamu selalu melakukannya?!
“Aku tidak sering melakukannya, jika hanya ada kau saja” jawab Gabriel dengan enteng.
“Maksudmu?”
Dengan gerakan yang cukup gesit, Gabriel berhasil membalikkan keadaan. Kali ini giliran Nabila yang berada dibawah tubuh Gabriel. Dia juga mengunci tubuh Nabila yang membuat gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa.
Tidak lupa dia juga menekan tombol pause, yang membuat lift seketika berhenti berjalan. Nabila yang menyadarinya pun semakin panik, dia takut jika Gabriel akan melakukan hal yang lancang kepadanya.
“Bukannya kau sendiri yang sedang merindukanku? Buktinya kau sampai jauh-jauh harus datang kesini." bisik Gabriel tepat di telinga Nabila.
“Jangan konyol!” bantah Nabila dingin.
Entah kenapa, Gabriel merasa semakin tertantang dengan sifat Nabila yang menurutnya berbeda dari kebanyakan perempuan yang dia temui.
“Benarkah?”
Lalu kemudian Gabriel mulai melepas topi dan juga masker yang di pakai oleh Nabila. Tampaklah wajah cantik Nabila yang terkesan manis, apalagi bibir mungilnya yang menjadi ciuman pertama seorang Gabriel.
Gabriel mulai menggoda gadis itu kembali, dia mengusapkan jarinya ke permukaan bibir Nabila yang lembab. Sentuhan lembut dan sangat pelan dari Gabriel membuat Nabila merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
“Kenapa memejamkan mata? Apa kau ingin aku menghisapnya?” goda Gabriel.
“Berhenti menggodaku, kita sedang didalam lift” mohon Nabila dengan suara berat.
“Gadis... apa kau tau alasanku membuat lift pribadi ini?” tanya Gabriel sembari menatap lekat bibir Nabila yang berada tepat didepan matanya.
__ADS_1
“Agar aku bisa melakukannya—“
Gabriel mengecup pelan bibir Nabila. Jauh lebih lembut dari terakhir yang mereka lakukan. Setelah memberi kecupan, Gabriel kembali mengusap bibir bawah Nabila dengan lembut.
“Agar kita bisa melakukannya tanpa ada orang yang melihatnya. Bagaimana? Bukankah sensasinya sangat luar biasa? Kau mau melakukannya sekarang disini?” tawar Gabriel.
“Kamu benar-benar sudah gila, Gabriel! Kamu tidak waras!!”
“Lebih baik diam dan nikmati ini semua,”
Tak disangka, Gabriel justru mulai berani menciumi area rahang leher Nabila. Dia juga mulai menghisap dan meninggalkan bekas kemerahan disana.
“Hen—hentikan, apa tidak cukup kamu sudah mengambil ciuman pertamaku? Kamu bisa melakukannya dengan wanita manapun yang kamu mau, jadi tolong lepaskan aku!”
Ucapan Nabila barusan berhasil membuat Gabriel berhenti. Laki-laki itu kembali mengamati wajah Nabila yang perlahan membuka matanya. Hanya ada ekspresi dingin dari gadis tersebut.
Gabriel mengelus pipi Keisya dengan lembut, cukup lama dia memandangi wajah manis Keisya tanpa berbicara apa-apa.
“Apa kau benar-benar tidak menyukaiku?” Gabriel bertanya dengan tiba-tiba.
“Ya!!” balas Nabila datar.
Gabriel tersenyum miring. “Itulah yang membuatku semakin tertarik denganmu”
Tidak ada jeda tanpa hisapan dan juga gigitan. Dan yang dirasakan oleh Nabila sekarang adalah bibirnya seperti bengkak.
Gabriel melakukannya cukup lama dari yang pertama kali mereka lakukan. Dia baru berhenti ketika Nabila memukul dadanya, yang mengisyaratkan dia kesulitan bernapas.
“Ikut aku ke ruangan. Di sana, aku akan menjelaskan semuanya padamu” bisik Gabriel.
...***...
Mau tidak mau Nabila pun harus menuruti ajakan Gabriel. Bukan karena keinginannya sendiri, melainkan karena ancaman Gabriel yang menakutkan itu.
Kini ia sudah berada di dalam ruangan Gabriel yang sangat luas. Tidak hanya itu, ruangan ini begitu bersih dan elit. Mulut Nabila hampir menganga karena saking kagumnya.
Gabriel tampak duduk di kursi kerjanya dan sedang menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Nabila hanya bisa diam duduk di sofa yang mahal tersebut. Disebelah pria itu, seorang gadis bernama Sofia terus menatap tajam kearahnya.
“Gabriel, kenapa gadis itu masih diam disitu saja? Sebenarnya siapa dia?” tanya Sofia yang sedang bergelanyut manja.
“Dia adalah tamuku” jawab Gabriel dengan dingin.
__ADS_1
“El, apa kau tidak merindukanku? Kita sudah lama tidak pernah tidur bersama” Sofia sengaja menaikkan nada suaranya, dia ingin melihat reaksi Nabila.
Tentu saja Nabila hanya melebarkan matanya, dia sudah tidak terkejut jika Gabriel adalah seorang Casanova. Sekarang dia mulai bosan menunggu Gabriel yang tidak kunjung selesai.
Nabila memutuskan untuk pulang saja, dia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Gabriel menyadari pergerakkan Nabila itu.
"Hey, mau kemana ?" tahan Gabriel dengan keras.
"Aku ingin pulang!!"
"Tidak dengan apa yang ku bilang tadi? Diam disitu!"
Nabila berdecak gusar. "Aku sudah menunggu cukup lama,”
Gabriel pun menutup laptopnya dengan cukup keras. Dia menoleh kearah Sofia dengan dingin. "Aku harus pergi"
Setelah itu, dia bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Nabila yang berdiri di depan pintu.
“Apa?”
“Diam dan ikuti saja aku!” Gabriel langsung menarik pergelangan tangan gadis itu.
Kalimat yang sangat tidak asing menurut Nabila. Karena dulu, dirinya lah yang pernah mengatakan itu kepada Gabriel ketika mereka berada di Kampusnya.
"Gabriel! Kau mau kemana?" teriak Sofia yang mencoba menahannya.
Gadis itu berlari mengejar Gabriel, namun Gabriel tidak menggubris. Dia tetap berjalan menuju kedalam lift bersama dengan Nabila yang dia bawa. Nabila sempat melihat Sofia yang berhenti beberapa langkah dari lift, seolah dia tidak berani mendekati lift yang mereka gunakan.
“Sekarang kamu mau membawaku kemana lagi?”
“Sudah kubilang untuk diam, kenapa cerewet sekali?” geram Gabriel mendengar ocehan Nabila.
“Ya karena aku bukan barang yang dengan seenaknya bisa kamu bawa kesana kesini!”
“Aku ingin bicara dengan serius!” ujar Gabriel yang membuat Nabila sempat terdiam beberapa detik.
“Ka—kamu mau bicara apa? Katakan saja disini.”
Gabriel menatap lekat mata bulat gadis yang itu terlihat lugu. Nabila sempat tertegun dengan sorot mata Gabriel yang tidak seperti biasanya.
“Aku ingin kau menikah denganku,”
__ADS_1
“Apa?! Kau gila!!”
“Tidak, aku bersungguh-sungguh.” Bantah Gabriel dengan cepat. “Kumohon, menikahlah denganku.”