
Nabila maupun Gabriel masih sama sama tertidur pulas. Bahkan posisi tidur mereka sudah saling berlawanan, Nabila menghadap ke arah jendelanya yang hanya di tutupi dengan kain putih tipis.
Samar-samar cahaya matahari yang terang mulai masuk menembus kedalam kamarnya. Nabila yang mendapat sorotan sinar, mulai terbangun dari mimpi indahnya.
Kesadarannya masih belum sepenuhnya lengkap. Matanya melirik kearah jam dinding, seketika itu juga dia melompat kaget.
“JAM 10?!” teriak Nabila dengan sangat keras.
Karena teriakan tersebut, Gabriel terpaksa ikut bangun dari tidur pulasnya. Dia menatap Nabila dengan mata yang masih setengah terpejam.
“Kenapa kau berisik sekali, Nabila?” Gabriel melenguh.
Nabila semakin terkeju, dia baru sadar jika semalam sudah bersama dengan Gabriel. Dan akhirnya dia pun menyalahkan Gabriel, karena dialah Nabila jadi terlambat bangun.
“Hish! Gabriel! Gara-gara kamu aku jadi terlambat lagi!”
“Sudahlah, tidak usah pergi ke Kampus. Lebih baik temani aku tidur kembali!” Gabriel yang masih setengah sadar mulai meracau, dia berusaha menarik tangan Nabila.
“GABRIEL!!” pekik Nabila yang kesal.
Karena kesal dia pun menendang tubuh Gabriel hingga jatuh ke lantai. Dan karena hal itu pula akhirnya Gabriel benar-benar terbangun tanpa ada rasa kantuk lagi.
“HEY, NABILA!!”
Terlambat, gadis itu sudah lebih dulu masuk kedalam kamar mandi dengan handuk ditangannya.
BLAM!
Suara pintu kamar mandi yang tertutup. Lantas Gabriel bangkit dari posisinya, dia menatap ke arah pintu kamar mandi sembari tersenyum.
“Baru kali ini aku bisa tidur dengan sangat nyenyak” ujarnya lirih.
Selama ini dia memang memiliki kesulitan untuk tidur. Sering kali, di tengah malam ketika dia tidur. Gabriel akan terbangun dan mengalami sesak napas. Itu dikarenakan trauma nya tentang kejadian masa lalu yang kelam.
Gabriel bangkit dari lantai, dia pun mengambil kembali jas hitamnya tanpa memakainya. Sembari menunggu Nasbila selesai mandi. Gabriel berjalan-jalan untuk melihat foto-foto yang ada dikamar gadis tersebut.
Dia sedikit terhibur dengan foto Nabila saat masih kecil. Gadis itu bahkan lebih terlihat seperti bocah laki-laki yang cantik.
"Ternyata dia sangat tomboy"
Hampir 15 menit sudah Gabriel melihat-lihat foto dikamar Nabila. Dia menoleh ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Nabila baru saja keluar dengan lilitan handuk yang menutup bagian dadanya sampai paha putihnya.
Gabriel sempat melotot sejenak. Dia terkejut melihat tubuh Nabila yang begitu bersinar itu. Apalagi kulit tubuhnya masih basah dengan air.
"K—KAMU, KENAPA MASIH DISINI?!"
Sembari berteriak, Nabila kembali berlari masuk kedalam kamar mandinya.
"CEPAT KELUAR! KAMU BENAR-BENAR TIDAK TAU MALU YA!"
__ADS_1
"Iya iya, kenapa kau jadi galak sekali, sih? Jangan lama-lama, aku menunggumu di mobil"
Setelah mengatakannya, Gabriel pun bergegas keluar dari kamar gadis tersebut. Merasa sudah aman, Nabila segera berlari kearah pintu utama dan langsung menguncinya.
...***...
Jam setengah 11 lebih 5 menit, dan Nabila baru keluar dari Apartemennya. Dia membeku ketika melihat Gabriel sedang berdiri sembari bersandar di mobil mewahnya.
Pria itu menatapnya. “CEPAT!! KAU BILANG SUDAH TERLAMBAT, AKU AKAN MENGANTARMU"
Nabila sempat ragu, namun dia tidak punya pilihan lagi. Jika dia tetap gengsi, maka dia akan semakin terlambat ke Kampus.
Dia pun segera berlari kearah mobil tersebut, Nabila duduk di kursi sebelah Gabriel.
"Ayo berangkat!" ajak Nabila yang tergesa-gesa.
"Pakai dulu sabuk pengamannya" ujar Gabriel dengan tatapan tajamnya.
"Sudahlah cepat! Karena mu aku jadi terlambat" tolak Nabila yang malas berbasa-basi.
Gabriel berdecak geram, dia pun mendekat kepada Nabila yang membuat gadis itu langsung terdiam dengan ekspresi tegang.
Gabriel mengambil sabuk pengaman kemudian memakaikannya kepada Nabila. Dia sempat melirik sejenak wajah Nabila yang berada sangat dekat dengannya.
Jujur saja Nabila merasa gugup karena berada begitu dekat dengan Gabriel. Sebelum Gabriel menyadari ekpsresi gugupnya, Nabila segera memalingkan wajahnya. Dan benar saja, Gabriel tau jika pipi gadis itu merona merah.
"Kau tersipu?" tanya Gabriel sembari kembali pada posisinya semula.
Gabriel tersenyum miring. "Kau memang suka berbohong ya"
"Jangan banyak bicara, cepat berangkat!"
Akhirnya Gabriel pun melajukan mobilnya. Disepanjang perjalanan, Nabila sedang fokus membaca buku pelajarannya. Gabriel diam-diam mencuri pandang kepadanya, jujur saja dia terkesan dengan kepribadian gadis ini.
"Tidak mau sarapan dulu?" tanya Gabriel lagi.
"Tidak perlu."
"Kau yakin, cacing dalam perutmu itu pasti sedang berdemo sekarang?"
"Apa pedulimu? Kamu tidak lihat aku sedang belajar? Jangan menggangguku!" kata Nabila yang semakin emosi.
"Lihatlah, sekarang kau sendiri yang pemarah.” Cibir Gabriel. “Sudah sana turun, sepertinya kau sudah tidak ingin melihatku.”
Sontak Nabila melihat kedepan, dia terkejut karena ternyata sudah sampai didepan gerbang Kampusnya.
"Kenapa bisa cepat sekali sampainya?” lirih Nabila yang bingung.
“Kau tidak perlu tau, yang terpenting kau sudah sampai di Kampus lebih cepat. Sekarang, kau bia turun”
Nabila memanyunkan bibirnya, hal itu menarik perhatian Gabriel. Nabila segera mengemas kembali buku-bukunya.
__ADS_1
“Baiklah aku turun, terima kasih atas tumpangannya!”
Gadis itu pun hendak membuka pintunya, namun tangan Gabriel kembali menahannya hingga membuat gadis itu hampir saja terjengkang kebelakang.
"Tunggu!"
“Kamu ini kenapa?!” tegur Nabila yang kesal.
"Kau masih tertinggal satu hal"
Nabila mengernyit heran, dia kembali mengecek bukunya satu persatu. Dan tidak ada bukunya yang tertinggal.
"Apa sih? Tidak ada" gumam Nabila.
“Ini” Gabriel menarik Nabila agar mendekat kepadanya. Kemudian dia langsung mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir gadis tersebut.
Nabila sempat terdiam beberapa waktu, hingga akhirnya dia sadar dan langsung memukul lengan Gabriel.
"Hish, apa yang kamu lakukan?"
"Itu hal yang biasa tunangan lakukan, kenapa memang?” jawab Gabriel dengan entengnya.
"Aku belum memberi jawaban!"
"Sudahlah, aku tidak tahan. Intinya mulai hari ini kau adalah tunangan ku, tidak ada penolakan" tegas Gabriel.
"Kenapa kamu selalu memutuskannya sendirian?!" tanya Nabila heran.
"Lebih cepat lebih baik bukan? Lusa aku akan memperkenalkan mu kepada keluarga besarku, jadi bersiaplah.."
"GABRI—"
Chup...
Ciuman singkat Gabriel memotong ucapan Nabila.
"Lebih baik kau patuh, jika kau patuh. Aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik." ujar Gabriel sembari mengedipkan sebelah matanya.
Dalam hati Nabila, sebenarnya dia ingin sekali memaki dan mengutuk pria ini. Tapi percuma saja, sudah tidak ada waktu untuk berdebat dengan makhluk satu ini. Dia harus segera masuk kedalam Kampus.
"Terserah mu saja, bye!"
Nabila segera keluar dari mobil Gabriel. Namun sebelum Gabriel benar-benar pergi, sempat-sempatnya pria itu kembali menggodanya dengan sangat menyebalkan.
"Pulang nanti, aku akan menjemputmu. Kita makan malam bersama, ok!"
"Aku sibuk!"
"Jika kau menolak, aku akan menyerang mu sekarang juga!!" ancam Gabriel yang bersiap turun.
"Iya iya, baiklah! Sudah sana kamu pergi!"
__ADS_1
Nabila segera masuk kedalam gerbang Kampus. Gabriel hanya tertawa melihat tingkah lucu Nabila yang mulai luluh kepadanya. Dia pun kembali melajukan mobilnya pergi.