My BigBoss Mafia

My BigBoss Mafia
BAB 21. SALAH PAHAM


__ADS_3

Pagi hari masih berada di Mansion milik Gabriel, Nabila mulai terbangun dari tidur nyenyak nya. Tapi gadis itu tidak langsung bangun dari tidurnya, justru yang dia lakukan adalah berguling ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi senyaman mungkin.


“Hey! Kau tidak pergi kuliah?”


Mata gadis itu langsung terbuka lebar. Dia menoleh kearah balkon kamar dan melihat seorang pria sedang membelakanginya tanpa memakai baju.


“Gabriel! Apa yang kamu lakukan disana?!” teriak Nabila yang panik.


Dia langsung meraih selimut tebal dan menutupi tubuhnya. Gabriel sempat tersenyum melihat tingkah unik gadis tersebut.


“Dasar tidak sopan! Pakai bajumu, bukankah semalam aku sudah memberitahu mu untuk menjaga batasan!”


“Ini adalah rumahku, jadi semua peraturan yang ada didalam rumah ini karena perintahku” balas Gabriel dengan santai.


Pemuda itu berbalik mendekati Nabila yang sedang melotot kearahnya.


“Aku penasaran, apa yang kau sembunyikan dari balik selimut itu” goda Gabriel yang terus mendekat.


“Berhenti atau ku pukul kepalamu!” ancam Nabila yang panik.


Saat ini dia hanya memakai kaos tank top saja, karena dia memang menyimpan kemejanya untuk dipakai hari ini sebelum bisa pulang lagi ke Apartemennya.


“Tenanglah, tidak ada yang akan melihat kita berdua disini. Kau tidak perlu bersikap malu-malu seperti itu” rayu Gabriel.


“Gabriel, aku peringatkan. Aku tidak segan untuk menghantam mu sekarang juga! Jadi aku menyuruhmu untuk berhenti!”


Nabila hendak menendang dada Gabriel yang sudah berada didepannya. Namun pria itu lebih sigap dan berhasil menangkap kakinya.


“Gabriel!!” gadis itu menjerit ketika Gabriel mulai menindihnya.


“Nabila, aku masih tidak mengerti denganmu. Apa kau tau, diluar sana sangat banyak wanita yang ingin berada di sisiku. Kenapa kau selalu menolak ku, hm?”


Sontak ucapan Gabriel tersebut membuat Nabila mendongak, yang membuat hidung mereka bersentuhan.


“Karena aku tidak menyukaimu, jelas?!”


Gabriel semakin mendekatkan wajahnya. “Kau yakin?”


Nabila tidak tahan dengan jarak wajah Gabriel yang semakin dekat dengannya. Dia pun refleks memejamkan mata, sehingga membuat terpaksa Gabriel menahan tawa.


Pria itu pun bangkit dengan senyuman jahil diwajahnya, dia merasa begitu gemas dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Nabila.


“Cepatlah bersiap-siap, aku akan mengantarmu ke Kampus”


Nabila bisa bernapas lega, dia membuka matanya dan melihat Gabriel sudah berjalan keluar. Gadis itu bergegas lari kearah pintu dan menguncinya.


Gabriel yang masih berdiri didepan kamarnya pun pada akhirnya tertawa ringan. Nabila pun segera bersiap, sedangkan Gabriel sendiri segera berganti baju.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Nabila sudah siap untuk berangkat ke Kampus. Gadis itu menuruni tangga, dan melihat Gabriel sedang duduk di Sofa seorang diri.


Nabila tampak sedikit terkejut ketika melihat ruang tamu yang semalam berantakan, kini sudah sangat rapi tanpa ada jejak pesta sama sekali.


“ART di sini sangat mengagumkan” puji Nabila yang merasa kagum.


“Kenapa melamun disana? Cepat turun!”


Nabila tersentak kaget saat Gabriel memanggilnya, dia pun mengangguk pelan dan segera mempercepat langkahnya.


Disana Gabriel sudah siap dengan setelan Jas lengkap. Jujur saja, jika melihat Gabriel sedang serius seperti ini. Dia begitu tampan dan menakjubkan.


“Aku sudah siap” ujar Nabila.

__ADS_1


Gabriel menoleh, dia sedikit kaget dengan penampilan Nabila yang masih mengenakan pakaiannya semalam.


“Kenapa masih memakainya? Bukankah aku sudah menyuruh pelayan untuk membawakan mu baju ganti?”


Nabila mengangguk. “Iya, tapi maaf. Aku lebih nyaman memakai pakaian ku”


“Kau yakin?” tanya Gabriel lagi.


“Hm” jawab Nabila sembari mengangguk kecil.


...***...


Selama di perjalanan, kedua insan tersebut tidak ada yang melakukan perbincangan. Gabriel lebih sibuk dengan gadgetnya, sedangkan Nabila yang tidak punya kegiatan hanya memperhatikan jalanan luar dari jendela kaca.


“Boss, hari ini anda akan melakukan meeting bersama dengan seorang penyanyi sekaligus artis yang sedang naik daun”


Oiya, jangan lupakan Lucas. Pria itu sudah seperti permen karet yang selalu menempel pada Gabriel. Dimana ada Gabriel, sering kali disitu juga pasti ada Lucas.


“Jennie?” tebak Gabriel.


“Benar Boss”


‘Jennie?’ —batin Nabila yang mendengarnya.


Gadis itu merasa seperti mengenal nama tersebut, dia pun mencoba mencari jawabannya kepada Lucas.


“Tuan Lucas, apa yang Tuan maksud itu adalah Jennie yang menyanyikan lagu Alone?”


Lucas menoleh sembari tersenyum. “Kamu mengenalnya?”


“Ti—tidak, tapi aku sangat menyukai lagu-lagunya. Ketika dia bernyanyi, seolah lagu yang dia nyanyikan sudah melekat pada jiwanya” ujar Nabila dengan sangat tulus.


“Gadis kecil! Tahu apa kau tentang musik?” sambar Gabriel.


“Beraninya kau. Hey, sekarang ini aku adalah tunangan mu. Kau lupa?”


“Itu hanya perjanjian diatas kertas. Jadi jangan menganggapnya serius” balas Nabila sembari menjulurkan lidahnya.


“Kau ini!!”


Keduanya pun kembali berdebat, hal itu membuat Lucas merasa pusing. Entah kenapa dua makhluk ini tidak pernah bisa akur, namun Lucas menyadari jika sebenarnya Gabriel sudah sangat tertarik dengan gadis lugu ini.


“Sudah cukup, apa kalian tidak lelah berdebat setiap bersama?” kata Lucas berusaha menengahi.


“Bos mu ini yang membuatku selalu darah tinggi!” ujar Nabila.


“Kau itu yang tidak tau bersyukur. Apa kau tau di—“


Nabila memotongnya. “Diluar sana banyak gadis yang mengejar ku. Kamu mau bicara soal itu lagi, kan?”


Gabriel tidak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapan gadis lancang ini. Lalu Nabila pun kembali meneruskan ucapannya.


“Karena mereka buta, tidak tau siapa kamu yang sebenarnya. Sampai sini paham?!”


Gabriel sangat kesal karena Nabila berani mempermalukannya didepan Lucas dan Pak Sopir. Dia pun ingin membalas ucapan Nabila, namun gadis itu lebih dulu memotongnya lagi.


“Pak Sopir tolong berhenti, saya turun disini saja.”


“Kamu yakin turun disini? Kami juga akan masuk kedalam Kampus.” Kata Lucas.


“Tidak perlu Tuan, saya turun disini saja. Terima kasih atas tumpangannya.” Nabila menoleh kearah Gabriel. “BYE!”

__ADS_1


Gadis itu bergegas turun sebelum Gabriel mengamuk kepadanya. Dia tersenyum remeh kepada Gabriel yang sedang melototi dirinya.


...***...


“Nabila! Kenapa kamu bisa terlambat?!”


Arini menyapa Nabila yang baru masuk ke dalam kantin. Disana juga terdapat beberapa teman Fakultasnya yang lain. Nabila sedikit mengerucutkan bibirnya, dia merasa bersalah karena tidak bisa ikut kelas pertama.


“Ada masalah sedikit di perjalanan” balasnya pelan.


“Kalau Pak Nardi tau, kamu bisa dapat masalah besar.” Kata Arini mengingatkannya.


Nabila hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan, karena faktanya dia memang bersalah hari ini.


“Kamu sudah sarapan?” tanya Arini lagi.


“Belum..”


“Yasudah, sana pesan makanan dulu. Aku akan menemanimu”


Nabila pun tersenyum manis kemudian melaksanakan apa yang di suruh oleh Arini. Saat gadis itu sudah memesan semangkuk bubur ayam, dia coba membuka Ponselnya yang sedari kemarin tidak diaktifkan.


Nabila sangat terkejut ketika melihat puluhan pesan dan belasan panggilan tak terjawab yang merasa dari Kevin.


‘Apa kemarin dia mencariku?’ —pikir Nabila merasa tidak enak.


Dia membuka satu persatu pesan chat yang dikirim oleh Kevin. Senyuman manis terlihat ketika dia melihat Kevin mengirim sebuah foto dengan ekspresi khawatir kepadanya.


“Sepertinya ada yang sedang bahagia” ujar seseorang.


Nabila menoleh, dia terkejut melihat Nando yang sudah berada disebelahnya. Entah sejak kapan pemuda ini sudah ada di sini.


“Kamu membuatku kaget!”


Nando hanya tersenyum pelan, dia pun meraih ponsel Nabila dan melihat foto sepupunya ada disana.


“Jadi kamu selingkuhan Kevin?”


“Apa?!”


Nabila tampak tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Nando tersebut.


“Setahuku Kevin sudah punya kekasih, tapi kenapa dia mengirimi mu foto seperti ini?”


“Itu bukan urusanmu!”


Seketika Nabila berubah mood akibat Nando. Dia pun mengambil kembali ponselnya, dan memutuskan untuk pergi. Namun lagi dan lagi Nando menahannya, Nabila tidak paham sebenarnya apa yang di inginkan pemuda ini.


“Pulang nanti, temani aku pergi ke suatu tempat!” ujar Nando yang terkesan memerintah.


“Tidak mau!!”


“Nabila!”


“Berhenti menggangguku, aku tidak mau melihatmu lagi.”


Nando mencoba menahan amarahnya, dia pun langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Nabila hanya bisa memandangi Nando dengan tatapan sendunya.


Tanpa Nabila sadari, banyak anak kampus yang sedang memperhatikannya. Salah satunya adalah kakak tingkatnya yang bernama Ghea. Gadis cantik itu sepertinya sangat tidak menyukai kedekatan Nando dengan Nabila.


“Mbak Nabila, ini buburnya.” Ujar Ibu Kantin yang membuatnya menoleh.

__ADS_1


“Ah baik, terima kasih banyak Bu”


Setelah menerima nampannya, gadis itu menghampiri Arini dan teman-temannya lagi. Dia pun bisa menjalani kegiatan belajarnya tanpa ada gangguan dari Gabriel maupun Nando lagi.


__ADS_2