
Sore hari setelah mata pelajaran kuliah yang terakhir selesai, Nabila segera bergegas keluar dari kelasnya. Dia berniat untuk cepat-cepat pulang, karena tugas dari Pak Nardi cukup untuk membuatnya terjaga semalaman.
Apalagi dia juga harus mengambil buku paketnya di tempat Rina —teman satu fakultasnya- terlebih dahulu.
Saat sedang berjalan di koridor Kampus, Nabila tidak sengaja melihat seorang pemuda yang sedang berbicara dengan Pak Rektor. Sontak saja hal itu menghentikan langkahnya.
“Nando. Kenapa dia masih ada disini?”
Dengan panik dia pun memilih jalan lain, namun sayangnya Nando lebih dulu melihat keberadaannya. Dan seketika pemuda itu langsung memanggilnya.
“NABILA!!”
‘Sial! Kenapa harus sekarang sih.’ —pikirnya kesal.
Pemuda itu segera berlari menghampiri Nabila, seolah melupakan kejadian dia atap tadi. Nando tersenyum dengan ramah kearahnya.
“Sudah selesai kuliahnya?”
Nabila mengangguk. “Iya, dan sekarang aku mau pulang!”
Nabila sengaja mengatakannya agar Nando berhenti mengganggunya hari ini. Namun mereka berdua malah di kagetkan dengan kedatangan Pak Rektor yang sekaligus Ayah dari Kevin.
"Nando, jadi kamu mengenal Nabia?" tanya Pak Pradana.
"Nabila, iya Om. Dulu kami teman sekelas waktu SMA.” Jawab Nando dengan jujur.
"Kalau begitu ajak saja Nabila untuk menemanimu, karena Kevin harus bertemu dengan Aurel malam ini" ujar Pak Pradana.
Mendengar fakta jika Kevin sedang bersama dengan Aurel, cukup membuat hati seorang Nabila menjadi panas. Apalagi di bingungkan dengan keakraban Nando bersama dengan Pak Pradana, seolah mereka memiliki hubungan yang dekat.
“Menemani kemana?” tanya Nabila.
"Kami ada jamuan makan malam bersama dengan seorang tamu hari ini. Dan, Nando harus datang menggantikan Ayahnya yang masih berada di Amerika.”
Nabila melirik kearah Nando. “Kenapa aku harus menemanimu?”
“Tidak ada orang yang kukenal selain dirimu, jadi ikuti saja.” Rayu Nando.
Karena merasa tidak enak dengan Pak Pradana, Nabila pun menyetujui ajakan tersebut. Dia tidak berani menolak karena takut jika Kevin akan berpikiran buruk tentangnya.
...***...
Sebelum pergi makan malam bersama Pak Pradana, Nabila membuat kesepakatan bersama dengan Nando. Gadis itu meminta kepada Nando, agar menyuruhnya bersikap sewajarnya. Nabila tidak ingin Pak Pradana sampai tau jika mereka pernah sangat dekat, bahkan hampir berpacaran.
Jujur saja, Nabila masih menyimpan harapan kepada Kevin. Karena itulah, dia pun sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Nando.
Kini ketiganya sudah sampai di sebuah Restoran yang cukup mewah. Nabila sempat tertegun sebentar, dia tidak menyangka jika tempat yang mereka kunjungi akan semewah ini.
“La, kamu kenapa?” tanya Nando.
__ADS_1
“Aku baik” balas Nabila pelan.
Sebenarnya Nabila tidak pernah pergi ke tempat sebagus ini, karena itulah dia merasa tidak nyaman.
Lalu kemudian dia dikagetkan dengan tindakan secara mendadak dari Nando yang tiba-tiba menggenggam jemarinya. Gadis itu menoleh yang hanya dibalas oleh senyuman miring oleh Nando.
“Aku sudah bilang, bersikap wajarlah!” bisik Nabila dengan tekanan.
“Ini sudah biasa, bukannya dulu kita juga melakukan hal seperti juga”
“Nando!”
Pemuda itu tidak menggubrisnya, dia tetap membawa Nabila berjalan menuju meja yang sudah dipesan Pak Pradana.
Kini mereka bertiga sudah duduk bersama, Nabila bisa melihat keluar jendela kaca yang berada di sampingnya. Karena cuaca yang mendung dan perlahan gerimis, jalanan pun mulai sepi.
Gerimis selalu mengingatkan Nabila tentang kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa Ayahnya. Dia juga mengutuk dirinya sendiri, karena tidak bisa mengingat wajah pemuda yang dulu pernah di selamatkan.
Andai dia mengingatnya, Nabila akan mencarinya dan menanyakan alasan kenapa Ayahnya mau mengorbankan jiwanya untuk nyawa pemuda itu.
“Kalian mau makan apa?” tanya Pak Pradana.
“Samakan saja, Om.” jawab Nando.
Kemudian ia kembali memperhatikan Nabila yang duduk di sebelahnya. Gadis itu seperti sedang melamun, tatapannya kosong. Gadis itu tampak seperti tengah melamun, pandangannya juga terlihat kosong.
“La, kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan, kamu selalu melamun.”
“Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir”
Nando hanya bisa tersenyum tipis. “Baiklah”
Suasana pun kembali sepi, Nabila memandangi kursi kosong didepannya. Sementara Pak Pradana tampak sibuk menghubungi seseorang yang sepertinya akan menempati kursi kosong tersebut.
“Apa dia belum datang juga, Om?” tanya Nando.
“Harusnya sebentar lagi sampai. ”
Benar dugaan Nabila, ada orang lain lagi yang akan makan malam bersama mereka. Tapi siapa, apakah mungkin Kevin? Tapi tidak mungkin juga, jika Kevin sudah bersama dengan Aurel, maka dia tidak akan membiarkan Kevin pergi.
Mereka kembali menunggu, hampir satu jam sudah mereka menunggu. Nabila sudah merasa bosam, namun dia tetap berusaha bersabar. Hingga pada akhirnya sosok yang di tunggu oleh Pak Rektor pun datang.
“Selamat malam Tuan Ken, akhirnya anda datang” sambut Pak Pradana sembari berdiri..
Nabila sangat terkejut ketika dia menoleh kebelakang. Dia berharap jika dirinya sedang salah lihat, namun suara pria itu benar-benar menyadarkannya.
“Selamat malam Pak Rektor” sahutnya dengan tersenyum miring.
Pandangan pria itu lurus menatap Nabila dengan sangat tajam, Nabila sendiri merasa sedikit terintimidasi.
__ADS_1
“Gabriel...” lirihnya pelan.
“Apa?” sahut Nando cepat. “Aku tidak dengar, La. Kamu bicara apa tadi?”
Nabila segera menggeleng. “Tidak ada apa-apa, ayo duduk lagi”
Nabila berusaha untuk bersikap biasa. Dia berpura-pura seolah tidak mengenal Gabriel. Sedangkan Gabriel sendiri juga terkejut ketika melihat Nabila ada di janjian temunya.
“Silahkan duduk Tuan, kami sudah menunggu anda” kata Pak Pradana mempersilahkannya duduk.
Gabriel dikawal oleh beberapa bodyguard dibelakangnya. Dia pun duduk didepan Nabila yang sedangkan menundukkan kepalanya. Gabriel tersenyum ketika melihat tingkah kikuk gadis tersebut.
Beda halnya dengan Nabila, dia sangat ketakutan dan khawatir. Dia tidak ingin bertemu kembali dengan Gabriel, setelah apa yang dia lakukan kepadanya tempo lalu.
“Tuan, kami akan berjaga di depan Restoran” ucap Noah yang merupakan Kepala Pengawal nya.
“Hm” Gabriel mengangguk.
Kini tinggalah mereka berempat untuk membahas hal yang penting. Dan Gabriel bisa dengan leluasa memandangi Nabila merasa tidak nyaman karena kehadirannya.
Senyuman miring yang ada di wajah Gabriel semakin membuat Nabila merasa tertekan.
“Baiklah Tuan, bisakah kita mulai obrolan tentang bisnis yang akan kita kerjakan” ujar Pak Pradana memulai obrolannya.
Dua orang dewasa itu pun sesekali Nando juga ikut dalam pembicaraan tersebut. Sedangkan Nabila hanya fokus mengunyah makanannya, sekilas Nando meliriknya. Pemuda itu tersenyum lembut melihat tingkah Nabila yang sangat manis itu.
“Kamu suka dengan dagingnya?” tanya Nando.
“Eung, makanannya sangat enak” balas Nabila yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Nando tersenyum, dia pun memberikan daging panggang nya dan menaruhnya ke atas piring Nabila tanpa persetujuan si gadis.
“Nando..”
“Lala, lihatlah tubuhmu. Kamu jauh lebih kurus dari terakhir kita bertemu. Sekarang, kamu harus makan lebih banyak. Ok!” ujar Nando sembari mengusap puncak kepala Nabila.
“Tapi ini milikmu”
Nando menggeleng. “Dulu kamu juga melakukannya untukku.”
Nabila terdiam, dia kembali mengingat kenangannya bersama Nando. Dulu, Nabila sangat perhatian kepa Nando. Bahkan dia sering melakukan apapun asal itu yang terbaik untuk pemuda tersebut.
“Sekarang kamu tidak boleh menolaknya!” lanjut Nando kemudian.
Pada akhirnya Nabila tidak bisa membantahnya. Dia pun mengangguk dan menerima pemberian dari Nando.
“Terima kasih”
Tanpa mereka sadari, Gabriel terus memperhatikan mereka berdua. Wajah pria itu tampak tersenyum miring melihat perhatian yang diberikan oleh Nando kepada Nabila.
__ADS_1
Dia tidak tau perasaan apa itu, namun Gabriel tidak menyukai jika Nabila bersama dengan laki-laki lain. Apalagi ketika dirinya sudah mengklaim Nabila menjadi miliknya.