
Di depan gerbang sekolah.
"Minjoo aku pulang dulu ya.."
"Bye~~"
Hyewon melambaikan tangannya ke arah Minjoo dari dalam mobil, sebelum akhirnya mobil yang di tumpanginya melaju.
"Bye~~~" Minjoo berbalas melambaikan tangan.
🌿🌿🌿
Minjoo berjalan sendiri menuju halte yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolahnya.
Kebetulan cuaca siang ini mendung.
Minjoo berhenti sejenak, dan mendongak ke atas. Memandang hamparan langit yang mulai menghitam dan gelap.
"Tadi pagi terang. Kenapa sekarang tiba-tiba mendung?" Gumam Minjoo.
Minjoo berjongkok sebentar untuk mengencangkan tali sepatunya yang kendur. Namun rintikan hujan tiba-tiba saja turun.
Minjoo berlari menuju halte setelah membenarkan tali sepatunya.
Hujan yang awalnya hanya gerimis, dengan cepatnya bertambah kian deras. Baju seragam Minjoo sampai basah kuyup sekarang.
Minjoo berteduh di halte sembari menunggu bus arah ke rumahnya datang.
Minjoo mengusap-ngusap bajunya yang terkena air hujan dan sedikit mengibaskan rambut panjangnya yang juga basah supaya menjadi cepat kering.
Minjoo mengelap jam tangannya yang berembun. Untungnya jam tangan Minjoo anti air, jadi jam tangannya aman dan tidak rusak meskipun terkena hujan tadi.
__ADS_1
Minjoo melihat jarum jam di tangannya dan sekarang sudah pukul setengah tiga sore.
Minjoo melirik ke sebelah kanan kiri. Ada tiga orang yang duduk di halte bersamanya. Orang pertama adalah bapak berusia sekitar empat puluhan yang mengenakan kaos hitam dan celana kain berukuran pendek, yang sedang duduk bertinggung sembari menyesap nikotin dari rokok. Kemudian orang kedua adalah seorang pemuda yang mengenakan jaket kulit hitam dan celana jeans, yang sedang sibuk memainkan ponsel. Sedangkan orang ketiga adalah seorang pemuda yang terlihat seperti preman. Pemuda itu mengenakan kaos compang yang bagian lengannya sengaja di gulung sampai atas, dan memakai kalung rantai berdesain tengkorak. Pemuda itu tengah menenggak minuman bersoda sambil sedikit meremat kalengnya hingga menimbulkan suara pletakan.
"Ini kenapa semuanya laki-laki? Terus kenapa muka dan penampilannya pada serem-serem?." Batin Minjoo.
Minjoo gemetaran. Bukan karena kedinginan, tapi lebih karena dirinya merasa ketakutan. Takut terjadi sesuatu padanya.
Minjoo dengan berat menelan ludahnya dan sebisa mungkin duduk dengan menjaga jarak dari orang-orang itu.
Namun Minjoo semakin di buat takut saat bapak-bapak yang sedang duduk di sampingnya malah kian bergeser mendekatinya. Belum lagi dengan pemuda tampang preman yang tidak henti memperhatikannya.
Minjoo serasa dikepung. Ingin lari, namun sekarang masih hujan deras. Kalaupun lari, harus lari kemana?. Minjoo kan harus naik bus untuk pulang. Sialnya lagi, mengapa busnya dari tadi tidak kunjung datang??.
Minjoo mendengus kesal. Rasanya dia ingin mengumpat sekarang.
Saat itu, sebuah sepeda motor yang ditumpangi pemuda berseragam SMA tiba-tiba berhenti di depan halte. Pemuda itu terlihat sedikit basah kuyup dengan jaket dan helm hitam yang dikenakannya.
Minjoo menundukkan kepala. Mulutnya komat-kamit tidak jelas. Entah apa yang di ucapkan. Namun dalam hatinya, Minjoo terus berdo'a supaya tidak akan terjadi apa-apa padanya.
Pemuda itu semakin mendekat ke arah Minjoo. Terlihat dari langkah sepatunya. Tapi----
Sepertinya Minjoo familiar dengan sepatu itu. "Itu sepatu Junho bukan?"
Namun Minjoo masih tidak berani mendongakkan kepalanya.
Pemuda itu melepas helmnya.
"Kim Minjoo!" panggilnya.
Seketika Minjoo mendongakkan kepalanya. Kaget.
__ADS_1
Dan ternyata benar. Itu Junho. Cha Junho.
Minjoo berdiri dan menatap Junho lamat-lamat. Rasanya masih tidak percaya kalau itu benar Junho. Soalnya kan setahu Minjoo, Junho selalu berangkat ke sekolah naik bus. Tapi kali ini Junho bawa motor?.
Rasanya Minjoo bisa bernafas lega sekarang, saat ada Junho bersamanya kini. Minjoo tidak lagi merasa takut dan terancam seperti tadi.
Junho melirik sekilas ke samping kanan kiri. Terlihat para pemuda dan seorang bapak tadi, sedang menatap mereka berdua.
Ah, bukan mereka berdua. Lebih tepatnya memperhatikan Minjoo.
Junho segera melepaskan jaket kulitnya yang lumayan basah dan langsung memakaikannya kepada Minjoo.
Enam pasang mata itu mungkin memperhatikan Minjoo karena kondisi seragam Minjoo yang sekarang basah dan terlihat sedikit transparan.
"Jaketku basah. Tapi pakai saja!" Perintah Junho.
Minjoo hanya mengangguk pelan.
Junho melihat ke atas, ke arah langit yang masih gelap.
Hujan kali ini berangsur reda, meskipun masih tergolong lumayan deras. Namun setidaknya tidak separah sebelumnya.
"Kamu apa tidak masalah kalau pulang hujan-hujanan?"
Minjoo terdiam. Minjoo berpikir sebentar.
"Kita pulang sekarang!" Ajak Junho yang langsung menarik pergelangan tangan Minjoo. Bahkan Minjoo sendiri belum sempat menjawab.
Namun Minjoo juga tidak ingin menolak dan hanya menurut.
Lagipula, rasa-rasanya memang akan lebih baik jika Minjoo pulang dengan Junho meskipun hujan-hujanan, dibandingkan dengan tetap berada di halte dan menunggu bus yang tidak pasti datangnya. Belum lagi perasaan was was terhadap tiga orang yang sekarang ada di halte itu.
__ADS_1
🌿🌿🌿