My Cold Prince

My Cold Prince
5


__ADS_3

Minjoo memijat-mijat kedua bahunya yang terasa pegal, sambil berjalan menuju ke tempat vending machine yang letaknya tidak jauh dari kantin,  untuk membeli minuman.


Hari ini aktifitas sekolah berlangsung seperti biasanya, dan jadwal pelajaran mulai padat.


Duduk selama hampir dua jam lebih selama pelajaran berlangsung, membuat badannya terasa pegal semua sekarang.


Jam istirahat kali ini Minjoo berniat keluar kelas sebentar untuk mencari udara segar dan meregangkan otot-ototnya agar lebih enakan.


Minjoo memasukkan sebuah koin ke dalam mesin pengecer otomatis, dan satu kaleng minuman soda berhasil ia dapatkan.


Minjoo segera mengambilnya dan membuka segel kaleng. Saat akan meminumnya, seseorang dari arah samping tiba-tiba mengambil kaleng minumannya.


Air dalam kaleng bahkan hampir tumpah dan mengenai baju seragam Minjoo.


Minjoo secara spontan memekik, lalu menoleh kesamping. Ia terkejut tatkala mendapati orang itu adalah Junho.


Minjoo coba berdiri tegak, sembari merapikan rambutnya yang acak-acakkan, lalu menyibakkan poninya ke pinggir.


Minjoo berdeham pelan.


"Aku akan ambil minuman ini. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihmu yang kemarin." ucap Junho.


Junho menunjukkan kaleng minumannya kepada Minjoo sebentar, lalu meminum isinya.


Minjoo mendengus. Bukan karena kesal, melainkan karena tidak percaya ada orang yang seperti Junho di dunia ini. Maksudnya sikapnya Junho yang aneh bin ajaib.


Minjoo mengangguk pelan, kemudian terdiam. Sementara Junho tengah menenggak habis minumannya saat ini.


Minjoo menghela nafas dan menghembuskannya pelan. Ia kembali memasukkan koinnya ke mesin pengecer otomatis. Tidak lagi membeli minuman soda, melainkan minuman isotonik.


Lagi dan lagi. Junho merebut dan meminum sekaleng minuman isotonik miliknya.


Minjoo berdecak sembari mengamati Junho yang sedang asyik meminum minumannya, LAGI.


"Tttapi itu minumanku." gumam Minjoo.


"karena aku menolongmu dua kali, jadi aku meminta ini lagi." Ucap Junho.


Benar. Junho telah menolongnya dua kali. Membopongnya menuju UKS dan juga menahan tubuhnya ketika hampir terjatuh di bus kemarin.


Alhasil, Minjoo tidak bisa memprotes. Hanya diam dan menunduk. Minjoo kembali merogoh saku baju seragamnya.


Sial sekali. Koin tadi adalah koin terakhir miliknya. Sudah tidak ada lagi koin di sakunya.

__ADS_1


Minjoo menelan ludahnya sendiri. Padahal ia haus sekarang. Namun seseorang tiba-tiba mengulurkan sekaleng minuman padanya.


Minjoo mendongak. Melihat ke arah cowok yang ada didepannya, yang  sedang mengulurkan sekaleng minuman kepadanya sekarang. Tentu cowok itu adalah Junho. Tidak ada orang lain selain Junho.


Junho memberikan sekaleng minuman soda kepadanya tanpa berbicara banyak, dan membuat Minjoo menatap Junho bingung sekarang.


Hah, apa maksudnya?.  Setelah merebut minuman punyaku, lalu dia memberikan minumannya kepadaku?.


Minuman itu bahkan masih utuh. Belum terbuka segelnya. Sepertinya Junho sendiri yang sudah membeli minumannya.


"Ini apa?" tanya Minjoo, sembari melihat sekaleng minuman yang sudah ia terima dari Junho.


"Minuman." Jawab Junho, singkat seperti biasanya.


Minjoo mengangguk pelan, kemudian menutup wajahnya karena malu. Minjoo bodoh. Jelas-jelas itu minuman, kenapa mesti tanya.


"Maksudku ini untuk apa?. Apa kamu benar-benar hanya bermaksud memberikannya padaku? Tidak ada maksud lain kan?" tanya Minjoo, sedikit berhati-hati.


"Kamu tidak suka?"


Minjoo menggeleng cepat.


"Tidak. Aku tentu sangat menyukainya." Timpal Minjoo.


"Aw.."


Minjoo terlalu gugup membuka segel minuman, hingga tidak sengaja tergores dan membuat jari telunjuk tangan kanannya berdarah.


Minjoo mengernyit kesakitan sembari mengibas - ngibaskan jari telunjuknya.


"Dasar bodoh." Ucap Junho refleks, bersamaan ketika Minjoo tidak sengaja melukai tangannya.


Minjoo membelalakkan mata, kemudian menggeleng. Minjoo tidak salah kan?  Baru saja Junho mengatainya bodoh?


Junho dengan cepat meraih telunjuk Minjoo dan meniup-niup di atas bagian yang luka. Darahnya tidak banyak, tetapi pasti perih.


Junho menatap sekilas ke sepasang netra gadis di hadapannya yang tengah menatapnya canggung, kemudian menundukkan matanya lagi. Junho lalu menghisap darah di jari telunjuk Minjoo.


Minjoo ternganga. Kaget bukan main. Minjoo segera menarik tangannya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"supaya lukanya cepat kering dan sembuh."

__ADS_1


Minjoo mengangguk paham.


"Tapi tetap saja, melakukannya tiba-tiba seperti bukan sesuatu yang seharusnya dibenarkan meskipun tujuannya adalah untuk menolong. Setidaknya ijin dulu." batin Minjoo.


Dari arah belakang mendadak datang Chaewon menyapa Minjoo dan juga Junho.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Chaewon, dengan sikap sok manis.


Minjoo menggeleng pelan.


"Hanya membeli minuman." Jawab Minjoo singkat.


"Kamu membeli minuman itu?. Sepertinya itu enak. Kebetulan aku haus. Bolehkah aku memintanya?"


Minjoo mengerjap beberapa kali sembari menatap kaleng minuman di genggamannya. Ia melirik Junho sekilas.


Minjoo mengangguk.


"Tentu boleh."


Minjoo hendak menyodorkan kaleng minumannya kepada Chaewon, tapi Junho menahannya.


"Minuman itu dariku. Jika kamu mau,  kamu bisa membeli sendiri minuman yang sama dengan ini." ucap Junho.


Chaewon tersenyum pahit.


"Maaf. Aku tidak tahu itu." Jawab Chaewon.


"Dan juga, tidakkah memberikan hasil pemberian orang lain ke orang lain lagi merupakan tindakan yang tidak sopan?" Imbuh Junho.


Minjoo menunduk dan terdiam.


"Maaf. Aku hanya---"


Kata-katanya terpotong, karena Junho yang langsung pergi.


Chaewon menatap Minjoo sinis, lalu berdecih. Setelahnya ia ikutan pergi.


Kenyataannya, Chaewon sudah tahu minuman itu dari Junho dan Chaewon sengaja melakukannya. Entah apa maksud dan tujuannya.


🌿🌿🌿


__ADS_1


__ADS_2