
Minjoo dan Junho baru saja turun dari bus. Masih perlu berjalan lagi selama beberapa meter untuk tiba di rumah Minjoo.
Minjoo menahan langkah kakinya.
"Tapi Junho, apakah kamu tidak lelah??. Kamu bisa mengantarkanku cukup sampai sini." Ucap Minjoo.
Rasanya jarak rumah Minjoo dan Junho memang lumayan jauh meskipun mereka searah. Minjoo jadi sungkan sendiri kepada Junho karena telah merepotkannya sampai sejauh itu. Belum lagi nanti pulangnya. Pasti Junho akan sampai di rumahnya malam hari kalau ia mengantar Minjoo sampai rumah.
"Arah ke rumahmu sebelah mana?"ย Tanya Junho dengan wajah flat ciri khasnya.
Minjoo menunjuk ke sebuah jalan di depannya.
"Lurus ke sini, lalu ada pertigaan sebelah kiri. Rumah sederhana dengan cat warna coklat dan pagar warna hitam. Itu rumahku."
Junho tak merespon banyak, hanya saja ia berjalan sesuai dengan arah yang sudah dijelaskan oleh Minjoo.
Minjoo mendesis, kemudian hanya berjalan mengikuti Junho di belakang.
Bukk..
Minjoo kepalanya terpentuk punggung kokoh Junho karena dia berjalan menunduk dan tidak melihat kalau Junho tiba-tiba berhenti.
Minjoo memegangi keningnya yang sedikit sakit, sementara Junho membalikkan badan.
"Maaf." ucap Minjoo, lirih.
Minjoo mendongak, dan seketika mata mereka berdua bertemu.
"Kenapa tiba-tiba berhenti?" Tanya Minjoo, mengerjap bingung.
Junho tidak merespon dan hanya menatapnya lekat-lekat.
Tubuh Minjoo gemetaran sekarang. Minjoo gugup. Minjoo elalu saja seperti ini tiap Junho menatapnya.
Minjoo menatap Junho penuh tanya. Mencoba menerka apa yang ingin dikatakan oleh cowok jangkung itu, namun tidak berhasil.
Junho memegang tangan Minjoo dan Minjoo kaget bukan main. Minjoo tidak bisa melepasnya karena Junho memegangnya cukup kuat.
"Berjalan disampingku!" Titahnya.
__ADS_1
Minjoo tampak ragu, namun ia menuruti apa yang di katakan oleh Junho.
Berjalan disamping Junho dengan tangannya yang di gandeng erat seperti sekarang, rasanya sungguh bak mimpi disiang bolong bagi Minjoo. Ia melirik kepada Junho yang menatap lurus kedepan. Seulas senyum Minjoo kemudian mengembang.
Ini sungguhan. Bukan mimpi. Rasanya Minjoo masih tidak percaya kalau ini benar-benar sungguhan. Tapi memang benar sungguhan.
Minjoo semakin gugup sekarang. Bahkan badannya mulai keluar keringat dingin. Minjoo merasakan tangannya mulai berkeringat. Entah Junho merasakannya atau tidak.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Mereka berdua tiba di sebuah rumah minimalis ber-cat coklat dan pintu gerbang berwarna hitam. Persis seperti yang disebutkan oleh Minjoo sebelumnya.
"Disini?" Tanya Junho.
Minjoo mengangguk pelan.
"Ya. Ini rumahku."
Seorang perempuan berusia paruh baya yang sedang berada di depan rumah kemudian menuju keep pintu gerbang untuk menghampiri mereka berdua. Perempuan berusia paruh baya itu adalah mamanya Minjoo.
Junho buru-buru melepaskan tangan Minjoo saat Mama Minjoo mulai berjalan mendekat.
Minjoo berdeham, lalu memberikan spasi antara dirinya danย Junho.
"Kamu sudah pulang?"
Minjoo mengangguk.
Pandangan Mama Minjoo spontan teralihkan pada cowok tampan yang berdiri disamping anaknya.
Junho memberikan salam kepada Mama Minjoo dan Mama Minjoo membalasnya dengan senyuman lebar.
"Ini siapa Minjoo?" tanya Mama Minjoo, sembari melirik ke Junho sekilas.
Minjoo hendak menjelaskan pada mamanya. Namun belum sempat ia berbicara, Junho sudah terlebih dahulu memperkenalkan diri.
"Nama saya Junho. Saya teman sekalasnya Minjoo."
Mama Minjoo mengangguk paham.
__ADS_1
"Tadi Minjoo ada kerja kelompok di rumah Junho. Bareng teman-teman yang lain juga. Makanya sekarang pulangnya telat." Terang Minjoo.
Mama Minjoo tersenyum. Sejujurnya Ia sudah bisa menebak itu, sekalipun Minjoo tidak menjelaskan kepadanya.
"Tante saya permisi pulang dulu." Ucap Junho.
"Tidak mau mampir dulu?" Timpal Mama Minjoo.
Junho menggeleng.
"Takut kemalaman." Jawabnya singkat.
"Saya permisi." Imbuh Junho, sembari bersalaman dengan tangan Mama Minjoo.
"Hati-hati di jalan!" Ujar Mama Minjoo, berpesan.
Junho mengangguk pelan.
Junho menoleh ke Minjoo sekilas sembari tersenyum samar, lalu pergi meninggalkan Minjoo dan juga mamanya.
Minjoo memandangi Junho yang semakin lama berjalan semakin jauh, kemudian kabur dari pandangannya dan menghilang.
Minjoo menunduk. Tersenyum simpul.
Mama Minjoo yang masih ada di samping Minjoo hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat anaknya tak henti-hentinya menatap Junho yang bahkan sudah pergi.
Ehemm..
Mama Minjoo berdeham cukup keras dan membuat Minjoo tersentak.
"Mau di lihatin sampai kapan?. Tidak mau masuk?. Apa mau disini sampai malam?."
Minjoo mendadak kikuk.
"Apaan sih ma.. yuk masuk!"
Minjoo buru- buru masuk ke rumah. Bahkan meninggalkan mamanya sekarang. Sepertinya anak itu sedang salah tingkah karena ketahuan lagi kasmaran.
"Anak mama sudah besar ternyata. Sudah bisa cinta-cintaan sekarang." gumam Mama Minjoo, terkekeh seraya menutup gerbang dan beranjak masuk rumahnya.
__ADS_1
๐ฟ๐ฟ๐ฟ