
Minjoo mengemasi buku-buku dan alat tulisnya yang masih berserakan di atas meja karena sudah waktunya pulang.
Junho berdiri dari tempat duduknya dan hendak keluar kelas.
"Tunggu!" Teriak Minjoo.
Saat itu Junho sudah berjalan sampai ambang pintu kelas mereka.
Junho terpaksa berhenti dan menoleh ke belakang. Dia tidak berkata apapun, tapi ekspresinya cukup mengisyaratkan sebuah tanda tanya.
Minjoo segera mengenakan tasnya dan pergi menyusul Junho.
"Apa?" tanyanya singkat.
Minjoo menggigit bibir bagian bawahnya. Kepalanya menunduk dengan tangan yang sibuk memainkan jemarinya. Kentara sekali kalau Minjoo sedang gugup. Bahkan mungkin Junho bisa melihatnya pada saat itu.
Junho tidak berhenti menatap Minjoo lamat-lamat, karena dia menanti jawaban Minjoo. Tapi Minjoo justru di buat semakin grogi dan malah diam saja. Padahal cuma mau bilang terima kasih. Tapi rasanya berat sekali, seperti ada yang menahan.
Junho melangkah pergi setelah menunggu cukup lama dan Minjoo masih belum mau bicara.
"Ah... Tunggu!" pekik Minjoo.
Lagi-lagi, memaksa Junho untuk berhenti.
Junho kembali menoleh dan membalikkan badan. Kali ini dengan ekspresi yang kelewat datar.
Minjoo menghela nafas sebentar.
"**..tte.. terima kasih." ucap Minjoo sedikit terbata-bata.
"Ya." Jawab Junho singkat, kemudian pergi.
🌿🌿🌿
"Ada lagi?" tanya Junho setelah cukup jauh berjalan dan mendapati Minjoo masih mengikutinya.
__ADS_1
Minjoo kikuk, seketika menghentikan langkahnya.
Minjoo menggelengkan kepala.
"Kalau begitu kenapa masih mengikutiku?" tanya Junho, lagi.
Minjoo tertegun. Kemudian mencoba berpikir. "Apa maksudnya dengan dia mengatakan aku tengah mengikutinya?. Apa dia menganggapku sebagai seorang penguntit?," Batin Minjoo.
"Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Jangan salah paham! Sebenarnya aku hanya ingin menuju halte untuk pulang. Mungkin kebetulan kita searah." Timpal Minjoo.
"Memang kamu tahu apa yang aku pikirkan?. Memang aku berpikir apa tentangmu saat ini?"
Minjoo terdiam. Bukankah pertanyaan Junho yang soal dia mengikutinya sudah jelas menunjukkan kalau Junho mencurigainya sebagai penguntit?. Tapi mengapa Junho bertanya balik seperti itu?
Minjoo menggeleng sekali lagi.
"Ah.. Mungkin aku yang terlalu berpikiran negatif." ucapnya.
🌿🌿🌿
Minjoo duduk dengan berjarak beberapa senti dari Junho. Ia mencoba menjaga jarak dengan Junho.
Minjoo mengamati Junho lewat sudut matanya. Terlihat Junho sedang duduk diam sembari menatap jalan raya yang lumayan sepi kendaraan di hadapannya.
Minjoo tersenyum samar. Melihat wajah Junho dari samping benar-benar membuatnya semakin terpesona dengan Junho. Wajah Junho terlihat tampan di lihat dari sisi manapun.
Minjoo lalu tertunduk dan tersenyum tipis. Ia menatap ujung sepatunya yang sedikit kotor, dan menggerak-gerakkan kakinya.
Minjoo menghela nafas sembari melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Kiranya sudah hampir tiga puluh menit, ia menunggu bus. Namun sampai sekarang belum ada satupun bus yang lewat. Dan juga, jalanan memang terlihat sepi di banding hari-hari sebelumnya. Padahal tadi pagi saja masih sangat ramai. Apa karena hari sudah hampir menjelang sore, jadi jalanan sepi?.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Baru saja Minjoo membatin, bus yang dibicarakan akhirnya datang.
Tapi Minjoo bergidik begitu melihat bus yang sepertinya sudah penuh dengan penumpang. Terlihat dari luar kalo penumpang di dalam sedang berdesak-desakan. Minjoo jadi ogah-ogahan untuk naik bus itu.
"Kamu tidak masuk?" Tanya Junho.
__ADS_1
Minjoo mengerjap beberapa kali. Sebenarnya Minjoo malas menaiki bus yang penuh. Tapi mengingat bus yang sekarang saja dia harus menunggu selama tiga puluh menit, bagaimana bus selanjutnya?. Harus berapa lama lagi ia menunggu dan bagaimana kalau justru tidak ada bus setelah ini?. Bagaimana ia akan pulang?.
Supir bus mulai memencet klakson dengan tidak sabaran.
Junho kemudian memasuki bus, tanpa memperdulikan Minjoo yang masih berpikir panjang. Baru setelah bus hendak melaju, Minjoo akhirnya memutuskan untuk ikut memasuki bus.
Minjoo masuk dengan susah payah. Mencari sedikit ruang untuk tempatnya berdiri, karena dia tidak kebagian tempat duduk. Minjoo lalu berusaha meraih besi pegangan yang ada di atasnya dan memegangnya erat-erat agar tidak terjatuh saat bus mulai melaju.
Di samping Minjoo, tampak Junho juga sedang berdiri sembari tangan kanannya memegang besi pegangan. Sama sepertinya.
Minjoo takut setengah mati. Meskipun Minjoo seringkali naik bus ke sekolah, tapi ini benar-benar kali pertama baginya naik bus sambil berdiri. Di tambah lagi, ada Junho di sampingnya yang semakin membuat dia deg- degan.
Minjoo menarik nafasnya dan berusaha terlihat tetap tenang.
Sssrrrrrtttttt..
Bus tiba-tiba ngerem mendadak karena ada sepeda motor yang ugal-ugalan dan tiba-tiba nyalip.
Minjoo terjengkang ke depan dan hampir jatuh. Untungnya, Junho yang dibelakangnya berusaha menahan.
Sekarang ini, tangan Junho sedang memegang erat pinggangnya. Sekarang ini, Minjoo sedang berada di dekapan Junho.
Benarkah ini?. Minjoo seperti sedang bermimpi sekarang.
Junho berdeham, kemudian melepaskan tangannya dari pinggang Minjoo.
Minjoo kembali berdiri tegak dan sedikit menata rambutnya yang berantakan. Minjoo semakin gugup sekarang. Terlihat pipi dan telinganya memerah.
"Maaf." Ucap Minjoo, lirih.
"Dan juga terima kasih." Imbuhnya.
Junho hanya mengangguk samar.
🌿🌿🌿
__ADS_1
Note : Please vote dan comment. (。・ω・。)ノ♡