
Sepulangnya dari sekolah, Fahmi langsung menuju ke kost-an Jesselyn untuk memberitahu kabar gembira padanya.
"Jes... Jesselyn! Kamu ada didalam!" Fahmi mengetuk pintu kamar Jesselyn.
"Eh... Ada Fahmi, ngapain kesini, Mi" seseorang berdiri dibelakangnya.
"Eh... Jes, kirain kamu didalam" Fahmi menoleh.
"Aku abis dari warung, beli makanan, kamu ada apa kesini?" Tanya Jesselyn.
"Kita ngobrol didalam aja, ini soal masalah yang kamu hadapi itu, gak enak kalau ada yang dengar" kata Fahmi. Jesselyn membuka pintu dan mengajak Fahmi masuk kedalam.
"Jadi, gimana, Mi, soal yang kamu bilang tadi" Jesselyn terlihat penasaran.
"Kamu sekarang tenang aja, gak perlu takut lagi sama ancamannya Jodi, karena video yang ada di handphone Jodi itu sudah terhapus, mulai hari ini kamu udah terbebas dari masalah itu" kata Fahmi. Mendengar hal itu, Jesselyn tersenyum bahagia.
"Mi, kamu beneran kan, video itu sudah terhapus dari handphone Jodi" Jesselyn masih sedikit meragukan.
"Iya, Jes, aku yakin banget, aku sendiri yang hapus video itu dari handphone Jodi" Fahmi meyakinkan.
"Kok bisa, Mi? Gimana caranya handphone Jodi ada ditanganmu?" Tanya Jesselyn yang sepertinya bingung.
"Jadi, tadi waktu kita abis ketemuan ditaman belakang sekolah, aku ketemu Jodi di halte, Jodi juga lagi nunggu angkot, karena mobilnya lagi dibengkel katanya" terang Fahmi.
"Melihat ada kesempatan itu, aku berpikir untuk meminjam handphone Jodi dengan alasan mau nelpon teman. Jadi, langsung aku cari deh video itu dan aku hapus, aku sedikit paham lah dengan penggunaan handphone seperti punya Jodi itu, karena pernah diajarin pake handphone seperti itu sama teman aku" lanjut Fahmi.
"Aku gak tahu lagi harus bilang apa, selain terima kasih, kamu udah membantu banget, Mi, aku sekarang sudah lega, bisa terlepas dari masalah ini" Jesselyn terlihat sangat senang.
"Oh iya, Jes, tadi Jodi ngasi alamat ini ke aku, katanya nanti malam aku disuruh anterin kesini katanya, aku cuma ambil kertas itu dan gak bakal lakuin itu, kalau besok dia nanya, paling aku jawab aja, kalau aku lupa alamat kost kamu, beres kan" kata Fahmi.
"Kamu memang laki-laki yang baik, Mi, aku senang punya sahabat seperti kamu, gak salah aku mempercayaimu selama ini" mata Jesselyn berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apapun akan aku lakukan untuk sahabatku, semoga persahabatan kita ini bisa langgeng yah, Jes" harap Fahmi. Jesselyn mengangguk.
"Mana coba sini, kertas itu, Mi" Jesselyn meminta secarik kertas yang tadi diberikan Jodi pada Fahmi. Fahmi pun memberikannya pada Jesselyn.
"Ini sih alamat rumahnya Jodi, dia sengaja nyuruh kamu antar aku kerumahnya dan dia bawa aku ke orang yang udah transfer uang ke Jodi itu, tapi, karena videonya sudah terhapus, aku gak perlu takut lagi sama ancamannya itu" Jesselyn tertawa bahagia.
"Ya udah kalau gitu, aku pamit yah, Jes, kalau misalkan kamu butuh bantuan atau apa, kamu tinggal bilang aja ke aku, aku siap bantuin kamu" Fahmi beranjak dari kost Jesselyn.
"Iya, Mi, makasih yah, kamu hati-hati dijalan" Jesselyn mengantar sampai depan pintu. Fahmi melambaikan tangan dan pergi dari kost-an Jesselyn.
Jodi sudah siap untuk mengantarkan Jesselyn pada teman dari Denis yang sudah memberikan bayaran, sesuai dengan yang telah mereka sepakati.
"Oke, tinggal nungguin Fahmi datang anterin Jesselyn kesini, abis itu langsung ke tempatnya bang Hardi deh" batin Jodi. Jodi menunggu kedatangan Fahmi bersama Jesselyn, sambil bermain game online diruang tamu. Sudah hampir sejam, namun, Fahmi tidak kunjung datang. Jodi mulai resah.
"Ini Fahmi mana lagi, belum datang juga sampai sekarang, harusnya kan udah nyampe dari setengah jam yang lalu" Jodi melihat jam ditangannya.
"Apa jangan-jangan, Fahmi gak tahu lagi kost-an Jesselyn, soalnya dia kan gak pernah ke kost-annya, aku juga lupa ngasi alamat kost-nya Jesselyn. Ya udahlah, mending aku aja yang jemput sendiri di kost-nya" pikir Jodi.
Selang 30 menit kemudian, Jodi sampai di depan kost Jesselyn.
"Jes... Jesselyn!" Jodi mengetuk pintu kamar Jesselyn.
"Iya!!" Jesselyn membuka pintu.
"Jodi? Ngapain kamu disini, malam-malam begini?" Tanya Jesselyn yang tampak terkejut.
"Aku kesini mau jemput kamu, ketemu sama seseorang yang aku ceritakan ke kamu, kamu udah janji kan mau ikuti semua yang aku mau, ingat, Jes, kartu as kamu ada sama aku loh" Jodi kembali mengeluarkan senjata andalannya itu.
"Sorry, Jod, aku gak mempan lagi sama ancaman kamu itu, kalau kamu mau sebarkan video itu, silahkan saja, aku justru pengen lihat kamu melakukannya" tantang Jesselyn.
"Oke, kalau itu yang kamu inginkan, aku lakukan sekarang, lihat ini yah" Jodi segera mengeluarkan handphone-nya dan segera menyebarkan video yang direkamnya malam itu. Raut wajah Jodi yang tadi gembira, berubah sekejap, karena video itu ternyata sudah tidak ada.
__ADS_1
"Loh... Kemana video itu yah? Aku simpan disini deh, masa iya tiba-tiba hilang, aduh... Aku gak bisa lagi nih ancam Jesselyn kalau gini caranya, kacau semua rencanaku, arrggh...!" Gerutunya dalam hati.
"Kamu mau nyari sampai subuh juga gak bakal ketemu, Fahmi kan udah hapus video itu, dasar t***l* batin Jesselyn.
"Gimana, Jod? Udah kamu upload video itu ke sosmed? Coba sini aku lihat?" Jesselyn melihat ke layar handphone Jodi. Jodi terlihat salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tanpa berkata apapun, Jodi langsung beranjak pergi.
"Mau kemana, woy!!" Teriak Jesselyn. Jodi tidak menoleh sedikitpun dan langsung masuk ke mobil, lalu pergi dari kost Jesselyn.
"Bye, Jodi, hahaha....!!" Jesselyn tertawa bahagia.
"Rasain kamu, Jodi, sekarang kamu lihat kan, siapa yang akhirnya tertawa, picik sih otak kamu" Jesselyn meledek Jodi yang sudah menjauh dari kost-nya.
"Jes, kamu ngomong ama siapa?" Penghuni disamping Jesselyn, keluar dari kamarnya.
"Itu, tadi ada teman aku, dia sok ngancam gitu, gak tahunya, dia malah salah tingkah sendiri dan langsung cabut gitu aja karena malu" terang Jesselyn.
"Oh... Kirain, tidur gih sana, udah larut loh ini" katanya dan langsung masuk kembali. Jesselyn pun menutup pintunya dan bersiap tidur, karena besok harus ke sekolah.
"Tok... Tok... Tok....!" Seseorang mengetuk pintu kamar Jesselyn.
"Duh... Siapa lagi sih, baru juga mau tidur, ada aja gangguannya" Jesselyn sedikit kesal. Jesselyn pun membuka pintunya.
"Eh... Dimas, ada apa kamu kesini?" Tanya Jesselyn.
"Aku kesini cuma mau bilang, kalau pernikahan kita dibatalkan!" Katanya dengan tegas.
"Loh... Kenapa, sayang? Apa salahku, kenapa kamu tiba-tiba batalin pernikahan kita" Jesselyn terlihat bingung.
"Kamu lihat ini!" Dimas menunjukkan sebuah nota pada Jesselyn.
"Haah! Kok nota ini ada sama Dimas yah? Darimana dia dapatkan ini?" Jesselyn bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
"Kamu pasti bingung kan darimana aku dapat ini? Aku dapatkan dari orangnya langsung, om Dika! Asal kamu tahu, om Dika itu ayahku!" Terang Dimas, yang sontak membuat Jesselyn terkejut. Mata Jesselyn membola, saking terkejutnya dia.