My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Sedekah Pembawa Berkah


__ADS_3

"Dek, minta sedekahnya" seorang pengemis datang ke tempat jualan Fahmi dan kedua sahabatnya.


"Oh... Bentar, bu" Fahmi mengambil uang kecil didalam laci.


"Ini, bu, mohon diterima" Fahmi menyerahkannya pada pengemis tersebut.


"Makasih yah, dek, semoga jualannya laris manis, banyak yang beli" katanya.


"Amiin.... Makasih untuk doanya, bu" Fahmi tersenyum. Pengemis itu pun berlalu pergi setelah menerima uang dari Fahmi.


"Kasihan juga ibu itu, usia segitu jadi pengemis, yah... Mau gimana lagi, jaman sekarang kayak gini hidup emang susah, ditambah lagi nyari kerja juga susah" keluh Fahmi dalam hati.


"Mi, ngeliatin siapa?" Tanya Kinan, mengikuti arah pandang Fahmi.


"Itu, tadi ada ibu-ibu pengemis, kasihan banget lihat dia, kita-kita ini masih beruntung, masih punya tempat untuk berteduh, masih bisa makan. Masih banyak orang-orang diluar sana, yang hidup serba kekurangan" Fahmi merasa miris melihatnya.


"Iya yah, Mi, harusnya tuh orang-orang yang hidupnya berkelebihan itu, bantuin orang-orang seperti yang kamu bilang tadi, setidaknya bisa sedikit mengurangi beban mereka gitu. Justru yang terjadi orang yang kaya hanya mementingkan diri sendirinya aja, yah... Meskipun ada satu atau dua orang sih yang masih peduli dengan orang-orang yang dibawahnya, malah yang parahnya sampai ada yang terkadang menghinanya, mengeluarkan kata-kata kasar gitu" Kinan begitu emosional mengutarakan unek-uneknya itu.


"Nan, aku cariin di dalam, ternyata kamu lagi ngobrol disini sama Fahmi" kata Jesselyn.


"Ada apa, Jes?" Tanya Kinan.


"Ini, stok di dalam udah mulai berkurang, kamu udah gak punya stok lagi? Kalau misalkan nanti ada orang yang mau beli gimana, Nan, kalau stok kita habis gini" kata Jesselyn.


"Oh.... Gitu, ya udah kita ambil stoknya dirumahku, aku simpan disitu kok, yah... Masih lumayan banyak sih" jawab Kinan.


"Mi, kalau aku sama Jesselyn Kerumahku untuk ambil stok baju, gak apa-apa kan kamu sendirian disini?" Tanya Kinan.


"Gak apa-apa kok, Nan, aku bisa handle, kamu tenang aja" jawab Fahmi santai.


"Ya udah kalau seperti itu, kita berdua jalan dulu yah, gak lama kok, paling cuma sejam aja" kata Kinan, lalu beranjak dari hadapan Fahmi.


"Nan, aku penasaran deh, gimana ceritanya sih kamu bisa seakrab itu sama Fahmi? Padahal yang aku tahu nih, waktu kelas 1 SMA dulu, kalian gak begitu akrab, bahkan hanya sekedar menyapa kalau berpapasan" Jesselyn begitu penasaran.

__ADS_1


"Jadi, waktu itu kan aku jualan di CFD kan, nah... Disitulah aku ketemu dengan Fahmi, yang juga kebetulan jualan disitu, tapi, gak ada tempat dia mangkal, makanya aku ajak ke tempatku aja dan kita jualan bareng gitu" terang Kinan.


"Aku gak ngeh awalnya kalau ternyata Fahmi ini satu sekolah denganku, aku baru tahu pas besoknya saat mau berangkat sekolah, kita berpapasan dijalan dan akhirnya berangkat bareng. Dari situlah aku sama Fahmi perlahan mulai akrab, sering cerita banyak hal dan merasa kalau aku se-frekuensi sama dia, jadi, yah.... Seperti itu deh, Jes" lanjut Kinan. Selang 15 menit kemudian, mereka pun sampai dirumah Kinan.


"Wah.... Nan, rumah kamu besar banget" Jesselyn kagum melihat rumah Kinan.


"Dirumah sebesar ini, kamu tinggal sendirian, Nan?" Tanya Jesselyn.


"Iya, Jes, mau gimana lagi, aku sekarang hidup sebatang kara, kedua orang tua aku udah meninggal saat aku masih SMP. Rumah dan mobil ini peninggalan mereka" jawab Kinan.


"Terus kalau kamu udah punya rumah sebesar ini, terus punya mobil juga, kenapa kamu masih jualan seperti itu di depan toko distro kamu lagi, kenapa gak coba untuk mengembangkan usaha distro kamu lagi atau kalau gak kamu rombak aja toko distro kamu jadi rumah makan gitu" Jesselyn memberi usul.


"Itu juga yang aku pikirkan, Jes, makanya aku ngumpulin uang untuk rombak toko aku, dengan cara jualan seperti ini aja sekarang" Kinan pun memikirkan hal yang sama dengan Jesselyn.


"Jujur aja, Jes, sebenarnya modal aku dari buat usaha distro itu belum balik, kamu lihat sendiri, stok barang aku disini aja masih lumayan banyak" Kinan menambahkan. Jesselyn menganggukkan kepala.


"Hmm... Udah cukup kayaknya, Nan, kita balik ke toko, kasihan Fahmi sendirian" kata Jesselyn. Setelah semua dimasukkan kedalam mobil, Kinan dan Jesselyn bergegas kembali ke tempat jualan mereka. Baru saja mereka mau pergi, ada seseorang yang secara tiba-tiba berhenti tepat di depan rumah Kinan.


"Siapa itu, Nan?" Tanya Jesselyn.


"Permisi, mbak, maaf ganggu, apa benar ini rumahnya Laras? Laras ada gak?" Tanya pria yang menghampiri Kinan.


"Ini rumah aku, mas, emang sih, beberapa bulan yang lalu Laras pernah tinggal disini, cuma sekarang udah gak tinggal disini dan udah merantau ke Jakarta, mengadu nasib Disana dan gak tahu kapan kembali" terang Kinan. Mendengar penjelasan Kinan, raut wajah pria tersebut berubah dan terlihat kecewa.


Sementara itu, Fahmi yang tengah sendirian berjualan, tiba-tiba diserbu oleh segerombolan orang dan sontak membuatnya terkejut.


"Waduh... Ini kenapa nih, banyak banget yang kesini, kayak orang mau demo aja" batin Fahmi.


"Mas, kita semua mau makan dong" salah satu orang mewakili segerombolan orang tersebut.


"Tapi, bangkunya gak cukup untuk semuanya" kata Fahmi.


"Tenang aja, kita bawa tikar, kita mau gelar tikar disini, terus kalau boleh, ijin pindahkan kursi dan mejanya, terus gerobak baksonya juga digeser ke samping gerobak nasi goreng ini" katanya.

__ADS_1


"Yah... Kalau misalkan seperti itu, boleh deh, tapi, mau pesan apa nih?" Tanya Fahmi.


"Mas bikinin aja, nasi goreng 15 porsi dan bakso 15 porsi yah" pintanya.


"Ya udah langsung saya bikin yah, duduk aja dulu, silahkan, kalau misalkan gak cukup, duduk di depan pintu toko itu juga gak apa-apa" kata Fahmi. Pria itu mengangguk dan langsung menginstruksikan pada teman-temannya untuk menggeser kursi dan meja, serta gerobak bakso tersebut. Sementara Fahmi langsung menyiapkan pesanan segerombolan orang-orang tersebut.


"Alhamdulillah langsung banyak pembeli gini, bisa cepat balik ini kalau kayak gini sih" batin Fahmi senang. Dari kejauhan ada seseorang yang memerhatikan Fahmi. Raut wajahnya terlihat marah, melihat Fahmi memiliki banyak pembeli. Dia adalah salah satu penjual nasi goreng yang berjualan di pinggir jalan besar. Namun, kurang pembeli yang datang ke warungnya.


"Oh... Pantesan aja aku selama beberapa hari ini sepi pembeli, ternyata ada yang jualan nasi goreng juga disini, gak bisa dibiarkan, cari masalah dia sama aku, enak banget dia diserbu pembeli seperti itu, sedangkan warungku satu orang pun gak ada yang datang, gak bisa dibiarkan harus dikasi pelajaran, lihat aja kamu" katanya dalam hati sambil mengepalkan tangannya, lalu beranjak pergi.


Walaupun kewalahan, namun, Fahmi dengan senang hati melayani semua pembelinya tersebut.


"Mas ini yang sudah jadi, ada 8, sisanya sementara aku buat yah" Fahmi membawa pesanannya.


"Untuk baksonya tunggu bentar yah, aku selesaikan dulu bikin nasi gorengnya, abis itu aku siapin baksonya" kata Fahmi.


"Iya, mas, santai aja, kita ngerti kok, apalagi masnya sendirian gak ada yang bantuin" jawabnya. Sekitar 30 menit kemudian, semua pesanan sudah selesai disiapkan oleh Fahmi pada semua pembelinya tersebut.


"Oh iya, kalau boleh tahu nih, kalian semua ini darimana? Kok rombongan gitu datangnya?" Tanya Fahmi penasaran.


"Kita semua ini pekerja proyek, mas, ada pembangunan mall, di jalan besar sana itu, kita semua ini lagi istirahat makan siang, makanya kita datangnya rame-rame, terasa lebih nikmat mas makan rame-rame kayak gini dibanding makan sendirian" jelasnya.


"Iya sih, benar juga, mas, emang nikmat banget kalau makannya rame-rame kayak gini" Fahmi membenarkan.


"Udah lama jualan disini, mas?" Tanyanya.


"Yah... Baru 3 hari aku jualan disini" jawab Fahmi singkat. Pria itu mengangguk-angguk sambil tetap menikmati makanannya. Selang 45 menit kemudian, semua orang tersebut sudah selesai makan, sambil istirahat sejenak.


"Mas, udah selesai nih, udah kita susun juga piring sama mangkok diatas meja itu" katanya.


"Iya, mas, makasih banyak, Idha dibantuin" Fahmi tersenyum.


"Totalnya berapa semuanya, mas?" Tanyanya sambil membuka dompetnya.

__ADS_1


"300 rb, mas" jawab Fahmi.


"Ini, pas yah, mas, nasi gorengnya enak banget loh, mas, mantap deh pokoknya, baksonya juga enak kata teman aku, Insya Allah, besok kita semua kesini lagi untuk makan siang, oke, kan murah meriah dan bikin kenyang" katanya sambil tertawa. Satu persatu gerombolan orang itu pun pergi dan Fahmi membereskan kembali meja, kursi dan juga gerobak bakso Kinan seperti semula, lalu mencuci semua piring, mangkok dan juga gelas yang tadi dipakai.


__ADS_2