My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Yang Benar Akan Selalu Benar


__ADS_3

Sekitar jam 4 sore, dagangan Fahmi dan Kinan sudah habis terjual. Bahkan ada satu sampai dua orang lagi yang mau membeli. Namun, sayangnya sudah habis tidak tersisa dan memintanya untuk kembali lagi besok.


"Alhamdulillah yah, Mi, jam segini, dagangan kita udah habis, kita beresin mangkok dan piringnya, abis itu masukkan gerobak kita di dalam gudang" kata Kinan.


"Tapi, kita gak langsung baik kan abis beresin ini semua kan?" Tanya Jesselyn.


"Iya, Jes, gak kok" jawab Kinan singkat.


"Loh... Emang kenapa kalau kita baliknya sekarang?" Fahmi bertanya, seolah bingung.


"Gini loh, Mi, Jesselyn itu kan jualan online dan dia udah cantumkan di sosmed kalau dia close-nya jam 8 malam. Kalaupun ada yang pesan di menit-menit akhir menjelang close atau diatas jam 8 malam, baru deh pengantaran barangnya di hari esoknya saat toko dibuka lagi, jam 8 pagi, gitu sistemnya, Mi" Kinan menjelaskan.


"Kalau misalkan Jesselyn close-nya itu lebih cepat dari yang dicantumkan, takutnya customer akan lari dan beralih ke yang lain" lanjut Kinan.


"Nah... Gitu, Mi, maksud aku tuh kayak gitu" Jesselyn menimpali.


"Yah... Maaf deh, Jes, aku kan gak terlalu ngerti soal sistem online shop seperti itu" kata Fahmi.


"Permisi, mas, mbak" seseorang menghampiri, ditengah asiknya Fahmi, Kinan dan Jesselyn ngobrol.


"Iya, mas, ada apa? Mau beli bakso atau nasi goreng? Udah abis kalau itu, ini aja kita lagi beres-beres" terang Kinan.


"Gini, maksud kedatangan aku kesini, mau pesan nasi goreng 50 bungkus dan bakso 100 porsi untuk acara syukuran besok siang, kira-kira kalian bisa gak?" Tanyanya.


"Oh... Bisa kok, mas, Insya Allah, sebelum acara syukuran besok udah selesai" kata Fahmi.


"Oke, ini DP-nya 500rb dulu, sisanya besok pas aku datang ambil pesanan kesini" pria tersebut menyerahkan 5 lembar uang 100rb pada Fahmi. Fahmi mengangguk dan menerima uang tersebut. Dari kejauhan, ada orang lain yang memperhatikan dan tertawa melihatnya.


"Rasain kamu, makan tuh uang palsu, dijamin kalian bakal rugi besar. Itu akibatnya kalau berani nantangin aku" batinnya dan segera pergi dari tempat tersebut. Pria yang tadi memesan itu bekerja sama dengan pemilik warung dipinggir jalan besar itu. Dia menyuruhnya untuk memesan bangko dan nasi goreng dan membayarnya dengan uang palsu. Fahmi yang tadi menerima uang tersebut tidak menelitinya dengan baik dan langsung memasukkannya dalam saku celananya.


"Bos, aku sudah lakukan, sesuai dengan perintah bos" katanya.

__ADS_1


"Good job , besok tinggal ambil dan berikan uang itu lagi" kata sang pemilik warung tersebut.


"Terus semua bakso dan nasi goreng itu kita jual dengan separuh harga, bilang aja lagi promo khusus hari ini, pasti banyak yang datang, hasilnya kita bagi dua, beres deh" lanjut sang pemilik warung.


"Wah... Ide bos benar-benar cemerlang banget" katanya sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Iya dong, siapa dulu bosnya, Bari gitu loh" Bari membanggakan dirinya sendiri.


Keesokan paginya, Fahmi dan juga ibunya yang ikut membantunya, selesai menyiapkan pesanan dan siap membawanya ke tempat jualannya itu.


"Oke, semua sudah siap, Fahmi jalan sekarang yah, bu" Fahmi mencium tangan ibunya sebelum berangkat.


"Kamu hati-hati yah, nak, semoga dagangan kamu dan juga Kinan laris manis seperti kemarin" ibu Fahmi mendoakan.


"Amiin....!" Fahmi mengaminkan doa ibunya. Fahmi berangkat dengan membawa pesanan 50 bungkus nasi goreng yang telah dibuatnya. Sesampainya Fahmi di tempat tersebut, dia dikejutkan dengan kehadiran 2 orang asing, yang mengobrol dengan Kinan dan Jesselyn.


"Nah... Ini teman aku, yang aku bilang tadi, dia yang menerima uang dari orang suruhan Bari itu" kata Kinan saat melihat Fahmi datang.


"Haah! Kantor polisi? Maksudnya gimana sih ini? Terus bapak-bapak ini siapa?" Fahmi bertanya-tanya kebingungan.


"Gini, Mi, dua orang ini polisi, mereka menyamar dan berpura-pura kerja dengan kita. Kita lakukan ini, karena tadi sebelum kita kesini, kita sempat melihat pak Bari, si bapak pemilik warung dipinggir jalan di depan itu dengan orang yang kemarin pesan makanan sama kita, mereka bekerja sama untuk menghancurkan kita. Dia hanya berpura-pura, karena dia membayarnya itu dengan uang palsu yang diberikan oleh si pak Bari itu" jelas Kinan.


"Oh iya, Mi, kamu yang simpan uang yang kemarin itu kan, coba sini, kasi uangnya ke aku" Kinan meminta uang tersebut pada Fahmi. Fahmi merogoh kantongnya dan segera memberikannya pada Kinan.


"Ini dia uang yang diberikan kemarin itu" Kinan memberikannya pada polisi tersebut.


"Tidak salah lagi, ini uang palsu!" Polisi tersebut meraba uang yang diterimanya.


"Hampir aja kita rugi, dibayar pake uang palsu itu" celetuk Jesselyn.


"Maaf yah, Nan, Jes, hampir aja kita rugi gara-gara aku yang tidak teliti" Fahmi meminta maaf pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Iya, Mi, gak apa-apa, ini juga pelajaran buat kita supaya berhati-hati lagi" kata Kinan.


"Jam berapa kira-kira dia kesini ambil pesanannya itu?" Tanya polisi.


"Kemarin dia bilang mau kesini, sebelum jam 12, karena katanya acara syukuran dia itu siang dan harusnya sih udah datang, pak" jawab Kinan.


"Mungkin sebentar lagi, dia datang kesini, pak" Jesselyn menambahkan. Tak berapa lama, orang yang ditunggu itu pun berjalan menuju ke tempat jualan Fahmi dan kedua sahabatnya.


"Pak, itu dia tuh orangnya, dia berjalan kemari" Fahmi melihat seseorang yang berjalan kearah mereka dan memberi kode pada kedua polisi. Kedua polisi itu bersiap-siap dan memberi aba-aba pada tiga anggota lainnya yang sedang bersembunyi.


"Mas, aku yang kemarin, mau ambil pesanannya" katanya.


"Ini uangnya, 1 juta, jadi, udah lunas yah" pria itu memberikan uang pada Fahmi.


"Oh... Iya, mas, aku siapkan dulu" kata Fahmi setelah menerima uang dari pria tersebut. Tanpa sepengetahuan pria itu, tiga orang polisi mendekat dan segera meringkus pria tersebut.


"Eh... Eh... Apa-apa'an ini" pria tersebut terkejut, tangannya tiba-tiba diborgol.


"Saudara ditangkap atas tuduhan penipuan, kami dari kepolisian" katanya.


"Penipuan apa, aku gak melakukannya" pria itu mencoba mengelak.


"Anda tidak bisa mengelak lagi, barang buktinya sudah ada ditangan kami berupa uang palsu untuk membayar makanan yang kamu pesan" jelas polisi sambil memegang uang tersebut.


"Katakan siapa yang menyuruh kamu melakukan ini?" Tanya polisi itu. Pria tersebut bungkam dan tidak menjawab. Namun, pada akhirnya dia pun berbicara setelah di desak oleh polisi.


"Yang menyuruh saya, Bari, yang punya warung dipinggir jalan di depan, dia yang memberikan uang itu" jawabnya.


"Bawa dia!" Perintahnya pada anggota lainnya.


"Terima kasih atas bantuan kalian, untuk menangkap pelaku pengedar uang palsu. Bari adalah buronan kami sejak lama. Dia selalu berhasil kabur dan akhirnya dia akan kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku" jelas polisi tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu kami permisi, kami mau meringkus si Bari itu" polis dan dua orang anggotanya beranjak pergi. Fahmi, Kinan dan Jesselyn membalas dengan anggukan.


__ADS_2