
Keesokan paginya Fahmi, Kinan dan Jesselyn memulai usaha mereka. Seperti yang sudah mereka rencanakan, Kinan menjual bakso, Fahmi menjual nasi goreng sedangkan Jesselyn mencoba menjual barang dagangan Kinan yang belum terjual melalui media sosialnya.
"Bismillahirrahmanirrahim! Semoga dagangan kita hari ini laris manis!" Fahmi memanjatkan doa.
"Amiin..." Kinan mengaminkan. Selang beberapa saat kemudian, ada seseorang yang datang menghampiri Fahmi dan Kinan.
"Mari, mas, silahkan, mau beli apa?" Kinan menyambutnya.
"Perasaan ini distro deh, kenapa sekarang malah berubah jadi dagang makanan" seseorang terlihat heran.
"Iya, mas, seminggu yang lalu, distro ini ditutup dan beralih berjualan makanan, tapi, kalau misalkan mas mau beli baju atau apa masih bisa kok, cuma kita jualannya via online, bisa langsung cek di akun Twitter aku, @JKStore. Mas tinggal order aja, nanti bayarnya COD" Jesselyn menjelaskan.
"Oh... Gitu yah udah deh, nanti aku pesan lewat situ" katanya.
"Karena aku udah nyampe sini, jadi, aku pesan yah, nasi goreng pedas satu dibungkus, sama baksonya juga satu dibungkus yah" lanjutnya.
"Baik, mas, akan segera dibuatkan, silahkan duduk dulu mas sambil nunggu pesanannya disiapkan" Kinan mempersilahkan duduk.
Selang Beberapa Menit kemudian pesanan tersebut sudah siap.
"Ini mas pesanannya, semuanya jadi 20 RB" Kinan menyerahkan kantongan pada seseorang tersebut.
"Ini uangnya, makasih yah" seseorang itu menyerahkan uang dan menerima kantongan tersebut, lalu beranjak pergi.
"Alhamdulillah! Pembeli pertama, semoga ada lagi pembeli-pembeli berikutnya" Kinan terlihat senang.
Tak berapa lama ada lagi yang datang.
__ADS_1
"Wihh... Kayaknya baru nih, kemarin-kemarin aku lihat belum ada" seorang gadis berdiri di depan gerobak Fahmi.
"Iya, mbak, kita baru jualan hari ini, kalau mbak mau, bisa coba beli, barangkali mbak suka, ada nasi goreng, terus ada bakso juga" Fahmi menawarkan.
"Aku sih suka bakso yah, cuma aku tahu enak atau gak, soalnya kalau dilihat dari gerobaknya, aku gak nafsu lihatnya, lebih bagus dilangganan aku, lebih bersih tempatnya, ini agak kotor gitu" ucap gadis itu dengan cukup kritis.
"Sama satu lagi, yang duduk disana itu, itu kan cewek panggilan yah, kok mau sih pekerjakan dia, nanti dagangan kalian jadi sial loh" lanjutnya. Kinan tidak tahan mendengar ucapan gadis tersebut. Ingin rasanya dia marah padanya. Jesselyn pun juga ikut maju, karena kesal mendengar perkataan gadis tersebut Namun, Fahmi memberi isyarat pada Kinan dan Jesselyn untuk tidak melakukannya.
"Jadi, mbak mau coba atau gimana nih? Kalau aku buatin deh" Fahmi masih berusaha ramah pada gadis tersebut.
"Gak deh, aku nyari tempat lain aja, yang lebih terjamin rasanya" gadis itu pun berlalu pergi.
"Ngeselin banget tuh cewek, pengen aku jambak rambutnya itu" Jesselyn terlihat kesal.
"Tahu tuh, mana gayanya selangit lagi" Kinan juga ikut kesal.
"Udah, kalian harus sabar, namanya pembeli itu, ada berbagai macam karakter. Ada yang datang dan langsung beli tanpa banyak basa-basi, ada yang sekedar ingin tahu harganya aja, ada yang kayak tadi, yang mengkritik tentang kondisi tempat jualan kita, membandingkan dengan warung lain dan sebagainya, harus sabar menghadapinya, okey" Fahmi mencoba menenangkan kedua sahabatnya itu.
"Iya, Mi, aku paling gak suka kalau ada yang menghina orang lain seperti tadi itu, pake bilang pembawa sial lagi, itu cewek gak diajarin sopan santun apa sama orang tuanya" Kinan menimpali.
"Udah, cukup yah, ingat, kita itu diuji, seberapa kuat mental kita menghadapi orang-orang seperti itu" kata Fahmi.
"Jes, kalau Kamunya emang berniat untuk mengubah hidup kamu menjadi lebih baik lagi, ya udah, kamu jalani aja dan gak usah kamu dengarkan omongan orang lain, yang tahu hidup kamu itu, cuma kamu sendiri bukan orang lain, okey, jangan mudah terpancing hanya karena omongan kayak gitu" Fahmi menasehati Jesselyn.
"Aku yakin kok, suatu saat semuanya ini akan berbuah manis kedepannya, yang penting kita jalani ini dengan ikhlas dan sabar menghadapi segala ujian yang ada didepan kita dan yang penting lagi, harus tetap semangat" lanjut Fahmi.
"Maaf yah, Mi, aku terbawa emosi, makasih udah diingetin" Kinan mengelus dada, agar emosinya mereda.
__ADS_1
"Hei, Kinan! Gimana rasanya, enak kayak gini?" Seseorang datang menghampiri.
"Kamu! Ngapain kamu kesini? Aku udah gak mau lagi lihat muka kamu!" Kinan terkejut dan tampak terlihat marah.
"Eits... Santai dong, Nan, aku kesini cuma mau lihat toko kamu, ternyata udah anjlok yah, malah makin parah, kamu malah jualan pake gerobak seperti ini, kasihan banget kamu, coba aja kamu terima tawaran aku waktu itu, kamu pasti gak akan menderita gini" katanya.
"Siapa bilang aku menderita, aku senang jalani ini dan asal kamu tahu, keputusan aku untuk tidak menerima tawaran kamu adalah keputusan yang tepat, karena aku gak mau berutang budi sama kamu, karena aku tahu, kamu sengaja memanfaatkan keadaan demi untuk menggapai keinginan dalam hati kamu itu" Kinan menatapnya tajam.
"Kita lihat aja nanti, seberapa lama kamu bisa bertahan seperti ini bersama si cowok miskin ini" pria itu tertawa sinis dan berlalu begitu saja dari hadapan Kinan.
"Nan, itu siapa tadi?" Tanya Jesselyn.
"Mirza, mantan aku dulu sewaktu SMA, kita berdua pacarannya juga gak lama, dia ketahuan, jadikan aku bahan taruhan dengan teman-temannya, saat aku tahu itu, aku langsung putusin dia, sejak saat itulah dia seperti kesal dan selalu mencari cara gimana caranya supaya aku jatuh sejatuh-jatuhnya, agar aku mengemis minta bantuan sama dia, tapi, aku gak sebodoh itu, aku selalu punya segudang cara untuk mengatasi setiap masalah yang aku hadapi, sehingga aku gak harus bergantung sama dia" terang Kinan.
Sampai sore hari, dagangan mereka baru laku sedikit dan sepertinya ketiganya mulai lelah menunggu.
"Capek juga yah, jualan kayak gini, nunggu pembeli gak ada yang datang lagi" keluh Jesselyn.
"Namanya juga jualan, Jes, pasti capek lah, apalagi ini kan hari pertama kita jualan, akan terasa sangat berat kalau kita tidak kuat menjalaninya, tapi, hari-hari berikutnya pasti akan terasa semakin ringan ketika kita santai menjalaninya" kata Kinan.
"Jujur aja nih, Nan, ini pengalaman pertama aku jualan kayak gini, biasanya aku yang jadi pembelinya, datang tinggal pesan, terus duduk, nungguin pesanan datang, makan, bayar dan pergi deh dari warungnya. Sekarang aku merasakan betul gimana rasanya jadi penjual kayak gini, berat rasanya, aku salut sama beberapa orang yang dagang dari pagi sampai malam, yang tetap semangat dan seolah tidak mengenal kata lelah" Jesselyn merasa begitu kagum.
"Kalau berjuang demi keluarga dirumah sih, rasa capek itu gak akan terasa, baru akan terasa lelahnya kalau mereka sudah sampai dirumahnya masing-masing dengan membawa hasil yang memuaskan, apalagi kalau dagangan mereka habis terjual, rasa lelah itu setidaknya terbayarkan dengan hasil yang mereka raih itu, itu kuncinya, Jes" Fahmi menimpali.
"Wih.... Fahmi udah belajar banyak nih pasti sama mendiang bapak kamu dulu, yang pantang menyerah, bekerja keras demi menghidupi keluarga" kata Kinan.
"Iya, benar, bapak itu sumber inspirasi aku, sehingga aku merasa terpanggil untuk ikut membantu bapak memenuhi kebutuhan keluarga. Sekarang aku yang gantikan posisi bapak sebagai tulang punggung keluarga, untuk kebutuhan sehari-hari aku dan juga ibu" jawab Fahmi.
__ADS_1
"Mi, kalau kamu niatnya untuk menghidupi ibu kamu, Insya Allah, ada-ada aja jalannya dan kamu dapat rejeki darimanapun itu, tanpa kamu sangka. Entah itu berupa uang, makanan atau apapun itu" kata Kinan dengan penuh keyakinan.
"Amiin....!" Fahmi mengaminkan.