My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Jodi, Sang Trouble Maker


__ADS_3

Kinan dan Fahmi menyantap makanan didepannya.


"Nah... Ini baru pas, cowok miskin dan cewek miskin juga, pasangan yang cocok" Jodi menghampiri dan berdiri tepat depan meja Fahmi dan Kinan. Kinan menghentikan suapannya dan menoleh kearah Jodi.


"Mau ngapain kamu disini! Mau gangguin kita berdua seperti hari itu!" Kata Kinan dengan ketus.


"Emang kenapa kalau aku disini, gak boleh, kalian berdua gak ada hak untuk larang aku , mau ngapain aja bebas, aku kaya, ayahku kepala sekolah disini" Jodi menatap keduanya dengan tatapan angkuhnya.


"Kalau cuma andalkan kekayaan orang tua aja sih, gak ada apa-apanya dibandingkan dengan kita berdua yang belanja dari hasil keringat sendiri, beda sama kamu yang tahunya cuma minta aja. Lagian juga kalau bukan karena kekayaan orang tuamu, kamu pasti gak akan bisa nikmati semua fasilitas mewah itu, bahkan boleh jadi untuk makan aja bakal susah kali yah" kata Kinan dengan tertawa sinis.


"Heeh! Cewek miskin! Kamu itu punya apa, sampai berani ngomong seperti itu, bilang aja kalau iri" Jodi memelototi Kinan.


"Ngapain juga iri sama anak manja kayak kamu, yang tahunya hanya minta aja" kata Kinan.


"Aku juga yakin, cowok kayak kamu gak bakal bisa sukses kalau Kamunya seperti itu terus" lanjut Kinan. Mendengar ucapan Kinan, Jodi terlihat sangat kesal dan mengepalkan tangannya, ingin memukul Kinan.


"Eh... Eh... Ada apa ini" seseorang menghampiri dan melerai pertengkaran itu.


"Kebetulan papa datang, ini nih si Kinan belagu banget, dia ngatain aku anak manja dan mengatakan kalau aku gak ada apa-apanya dibandingkan dia" Jodi mengadu pada ayahnya.


"Kasi dia pelajaran, hukum dia, kalau perlu skorsing aja sekalian, buat tahu rasa dia" Jodi menambahkan.


"Jodi, kamj ikut papa sekarang" kepala sekolah menarik tangan Jodi dan berlalu pergi dari kantin.


"Papa ngapain sih, malah batik aku ke ruangan papa, masalah yang tadi itu belum selesai, pokoknya aku gak mau tahu, hukum cewek itu, pa" rengek Jodi.


"Jodi, stop! Kamu itu gak henti-hentinya bikin masalah disekolah, bulan ini saja sudah banyak laporan yang masuk terkait masalah kamu, yang kunciin orang dikamar mandi, bikin murid perempuan menangis, ngerjain guru di kelas, memukul murid laki-laki di kantin, sekarang kamu malah terlibat cekcok dengan murid perempuan dari kelas lain. Kamu gak ada kerjaan lain apa, selain bikin onar disekolah ini, jangan mentang-mentang papa ini kepala sekolah, kamu berbuat seenaknya disini dan selalu menjadikan jabatan papa, sebagai alat untuk menindas orang lain" ayahnya memarahi Jodi habis-habisan.

__ADS_1


"Papa itu malu punya anak trouble maker seperti kamu, seolah-olah papa yang dianggap tidak becus mendidik anak. Kapan kamu bisa berubah dan berhenti membuat masalah, papa benar-benar pusing menghadapi kamu" ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya, saking pusingnya melihat tingkah laku Jodi.


Sepulang sekolah, Fahmi berniat ingin menemui Winda. Mereka janjian bertemu di halte yang tidak jauh dari sekolahnya.


"Hai, Mi, udah lama nunggunya?" Tanya Winda, saat dia datang.


"Aku baru aja sampai disini" kata Fahmi.


"Oh iya, Mi, ada Apa'an, kamu minta ketemuan disini?" Tanya Winda penasaran.


"Aku mau balikin ini ke kamu, aku kan udah menjalankan tugas aku, memberitahu tahu kamu setiap gerak gerik Jesselyn disekolah" Fahmi mengembalikan handphone yang dipinjamkan Winda.


"Belum, Mi, kamu harus tetap memata-matai dia, kemanapun dia pergi, sedangkan aku mengumpulkan bukti dan aku tunjukkan deh semuanya ke kakak aku. Jadi, untuk sementara kamu pegang dulu aja handphone ini" kata Winda.


"Win, aku bukannya gak mau bantuin, cuma aku gak mau terkena masalah aja, itu terlalu beresiko menurutku" Fahmi mengutarakan alasannya.


"Win, aku minta maaf, aku mau bantuin apa aja, asal jangan seperti ini, yang lain aja yah" Fahmi mendekati mobil Winda dan meminta maaf padanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Winda menutup kaca mobilnya dan melaju pergi. Fahmi menggelengkan kepala sikap Winda.


"### Fahmi! Ngapain sendirian disini" Kinan yang kebetulan lewat, berhenti di depan Fahmi.


"Eh... Nan, kamu kok jalan kaki, kenapa gak pulang bareng teman kamu, yang pinjemin mobilnya itu kemarin" Fahmi heran melihat Kinan jalan kaki.


"Oh... Dia masih ada urusan, jadi, dia gak bisa nganterin pulang" jawab Kinan.


"Kita pulang bareng aja, yuk, searah kan kita" ajak Kinan.


-

__ADS_1


"Oh iya, Mi, gimana soal yah tadi di kantin? Soal aku yang nyuruh kamu balikin handphone itu ke Winda, udah kamu balikin kan?" Tanya Kinan.


"Udah kok, Nan, sebelum kamu lewat depan halte tadi itu, aku janjian ketemu Winda disitu dan langsung balikin handphone itu ke dia" jelas Fahmi.


"Tapi, Winda marah gara-gara aku gak mau bantuin dia untuk mata-matai Jesselyn, malahan dia ungkit-ungkit waktu dia bantuin aku dulu" lanjut Fahmi.


"Berarti dia bantu kamu itu, mengharapkan balasan dengan cara kamu bantuin untuk melakukan sesuatu yang nantinya bisa jadi masalah buat kamu, teman macam apa dia itu" Kinan kesal atas apa yang diperbuat Winda pada Fahmi.


"Oh iya, Mi, sekalian aku mau ingatkan, kalau sejam lagi, kamu udah di distro yah, seperti pembicaraan kita itu, kan ini hari pertama kamu, jangan sampai telat loh" Kinan mengingatkan.


"Iya, Nan, aku ingat kok dan aku akan datang tepat waktu" jawab Fahmi meyakinkan.


"Sama ini nih, seragam kamu, kamu pake yah" Kinan memberikan baju seragam pada Fahmi.


"Kalau aku duluan, gak apa-apa kan, soalnya waktunya tinggal sejam lagi, belum makan, terus Shalat Dzuhur, terus perjalanan ke distro" kata Fahmi.


"Iya, Mi, gak apa-apa, santai aja, kamu hati-hati, jangan ngebut bawa sepedanya" kata Kinan.


"Siap, non! Bye, Kinan, Assalamualaikum!" Fahmi beranjak pergi.


"Waalaikumsalam!" Kinan menjawab salam sambil melambaikan tangannya.


"Aku jadi semakin yakin sama dia, sepertinya dia orang yang pas, yang kelak jadi pendamping hidupku, yah.... Meskipun Fahmi itu lebih muda usianya dari aku, tapi, aku suka sama anak itu" batin Kinan. Kinan berjalan sambil senyum-senyum sendiri memikirkan Fahmi.


"Aku jadi tidak sabar menunggu hal itu benar-benar terjadi, mungkin aku bakal senang banget. Sabar Kinan, jangan terburu-buru, semuanya akan datang juga diwaktu yang tepat" pikir Kinan. Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan Kinan. Dia adalah lelaki yang selama ini mengejar Kinan, namun tidak pernah berhasil mendapatkannya. dialah Mirza, lelaki yang pernah menjadi pacarnya dan harus putus dikarenakan Mirza ketahuan, menjadikan Kinan sebagai bahan taruhannya bersama teman-teman nongkrongnya.


"Jadi, itu alasannya kenapa Kinan selalu menolak aku ajak kencan atau sekedar menawarkan tumpangan menuju sekolah, aku gak boleh kalah sama cowok itu, yang sudah berhasil mencuri perhatian Kinan, aku harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa menaklukkan hati Kinan" Mirza bertekad kuat dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2