
"Eh... Tunggu dulu deh, tadi kamu bilang kalau Kinan punya distro kan?" Tanya Jesselyn.
"Iya, Jes, emang kenapa?" Fahmi berbalik bertanya.
"Gini, kan sekarang distro Kinan mulai lesu kan, apalagi ditengah persaingan seperti sekarang ini, aku jadi punya ide, gimana kalau jualannya online aja, sekarang kan udah lumayan banyak pengguna sosmed" Jesselyn mengusulkan.
"Ide yang bagus sih, Jes, kebetulan juga barang di distro masih ada beberapa yang belum terjual, bisa tuh sepertinya kita pakai untuk jualan online" Kinan mendukung.
"Cuma kita jualannya gimana? Aku belum pernah jualan online soalnya?" Tanya Kinan yang masih bingung.
"Jadi, aku sama kamu, pakai baju itu, terus foto, upload dan kasi deh caption di foto itu mengenai baju yang kita pakai itu" jawab Jesselyn.
"Oh... Iya, aku paham maksud kamu, aku biasa tuh ngeliat yang seperti itu, boleh juga tuh dicoba, kamu yang handle itu sambil bantuin kita jualan makanan juga kalau lagi gak ada pesanan gitu, Jes, oke gak tuh" kata Kinan. Jesselyn mengacungkan jempol, tanda dia setuju.
"Assalamualaikum! Eh... Ada tamu toh" ibu Fahmi mengucap salam.
"Waalaikumsalam!" Ketiga menjawab bersamaan.
"Ibu darimana?" Tanya Fahmi.
"Abis dari sawah, kan selama bapak kamu meninggal, ibu yang gantikan bapak kamu disana, lagian ibu bosan kalau dirumah aja, gak ngapa-ngapain" jelas ibu Fahmi.
"Ini Jesselyn bukan, yang biasa kesini kan, waktu masih SMA dulu?" Ibu Fahmi mengingat-ingat saat melihat Jesselyn.
"Iya, tante, benar" Jesselyn membenarkan.
"Terus, ini Kinan kan? Yang punya distro itu, yang ngasi kepercayaan ke Fahmi untuk jadi Store Manager di salah satu toko kamu" ibu Fahmi berpaling pada Kinan. Kinan hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Bu, Kinan ini kesini mau belajar masak katanya" kata Fahmi.
__ADS_1
"Iya, tante, aku mau belajar masak gitu, karena sekarang bisnis distro aku lagi lesu, yah... Distro kan udah mulai bermunculan satu persatu, makanya aku mau beralih ke bisnis kuliner aja, yang menurut aku cukup menjanjikan, mulai dari yang kecil-kecil dulu sih, misalkan pake gerobak gitu" jawab Kinan.
"Oh... Boleh, malah tante senang, ya udah kita mulai sekarang aja, Jesselyn juga ikut sekalian, yuk" ajak ibu Fahmi. Kinan dan Jesselyn mengikuti langkah ini Fahmi ke dapur. Fahmi terlihat senang melihat kedua sahabatnya itu akrab dengan ibunya.
"Jadi, Kinan mau diajarin masak apa nih?" Tanya ibu Fahmi.
"Aku sih rencananya mau jualan bakso, tan, karena menurutku bakso itu banyak orang yang suka" jawab Kinan.
"Bener tuh, Nan, bisa dibilang bakso ini makanan sejuta umat gitu deh" celetuk Jesselyn. Tapi, entah kenapa ibu Fahmi menangis dan sontak membuat Jesselyn dan Kinan terkejut.
"Loh... Tan, kenapa? Kok tiba-tiba nangis gitu?" Tanya Jesselyn.
"Iya, tan, apa ada kata-kata kita yang nyinggung perasaan tante yah? Kalau ada, kita berdua minta maaf yah" Kinan menimpali.
"Gak apa-apa kok, nak, cuma tante teringat sama mendiang bapaknya Fahmi, soalnya dulu, sewaktu masih pacaran, kita berdua sering banget makan bakso, bahkan sampai dilamar pun di warung bakso. Bapaknya Fahmi itu, orangnya begitu romantis, jadi, kalau makan bakso atau bikin bakso gitu, suka teringat lagi dan pasti akan nangis lagi" ibu Fahmi teringat lagi dengan mendiang suaminya.
"Maaf yah, tan, aku gak bermaksud bikin tante sedih" Kinan merasa tidak enak, karena membuat ibu Fahmi menangis teringat masa lalunya.
"Nah... Setelah bumbunya itu sudah dihaluskan, baru deh kita masukkan ke kuahnya, tapi, kuahnya kita masak belakangan aja, kita bikin adonan baksonya dulu" lanjutnya. Setelah beberapa kali dicontohkan, baik Jesselyn maupun Kinan perlahan sudah mulai bisa membuat bakso dengan bulatan yang sempurna.
"Wah... Hebat juga kalian, baru belajar sebentar udah bisa, bahkan lebih bagus dan lebih rapi dari punya tante" puji ibu Fahmi. Kinan dan Jesselyn tersenyum.
Selang 30 menit kemudian, bakso yang mereka masak pun sudah selesai. Ibu Fahmi menghidangkan kedalam mangkok dan dicicipi bersama-sama.
"Wih... Baksonya udah jadi yah" Fahmi melihat ibunya membawa semangkok bakso.
"Iya, ini hasil masakan Kinan dan Jesselyn loh ini, ibu cuma ngajarin aja, sisanya mereka yang masak sampai selesai, kamu cobain deh" ibunya menyodorkan mangkok pada Fahmi. Fahmi mencicipi masakan yang dibuat oleh Kinan dan Jesselyn.
"Gimana, Mi? Enak gak? Atau masih ada yang kurang apa gitu?" Tanya Kinan penasaran.
__ADS_1
"Kamu yang jujur yah, Mi, jangan bohong untuk sekedar menyenangkan kita" celetuk Jesselyn.
"Ini udah enak kok, Nan, Jes, enak banget malah, gak kalah sama buatan ibu" puji Fahmi.
"Kalau enak gini sih, aku yakin dagangan kita laris manis" lanjut Fahmi.
"Amiin...!" Jawab Jesselyn, Kinan dan ibu Fahmi bersamaan.
"Jadi, besok kita bisa langsung mulai nih jualan, kamu jualan bakso, aku jualan nasi goreng, seperti yang kita rencanakan" kata Fahmi.
"Sekarang giliran kamu dong, Mi, aku sama Jesselyn mau cobain masakan kamu juga" pinta Kinan.
"Iya, Mi, gantian dong, kita yang cicipin masakan buatan kamu" Jesselyn menimpali.
"Oke, siapa takut, kalian tunggu yah, aku akan buat sekarang" Fahmi beranjak menuju dapur.
"Oh iya, tan, emang Fahmi bisa masak yah?" Tanya Kinan.
"Bisa, Nan, dia itu udah belajar sejak SMA, yah... Dia belajarnya dari Tivi, dia itu suka nonton acara masak-masak gitu, sampai pernah diledekin sama bapaknya, katanya dia kurang macho kalau nonton acara kayak gituan, tapi, Fahmi gak down mendengar itu, malah dia terpacu untuk bisa pintar memasak, karena dia punya cita-cita jadi pengusaha dibidang kuliner yang selalu dia lihat di tivi itu, sekarang dia udah cukup lincah di dapur" terang ibu Fahmi.
"Nah... Ini dia udah jadi, nasi goreng buatan aku, silahkan dicicipi" Fahmi membawa makanan buatannya dan menyajikannya diatas meja. Kinan, Jesselyn dan juga ibunya mencicipi masakan Fahmi.
"Gimana, enak kan?" Tanya Fahmi pada ketiga orang didepannya.
"Ini enak banget, Mi, gak nyangka kamu bisa masak seenak ini" kata Kinan.
"Ini sih kalau seenak ini, bakal laris manis ini" Jesselyn memuji masakan buatan Fahmi.
"Besok kita mulai berjuang, sahabat-sahabatku" kata Fahmi.
__ADS_1
"Ibu doakan, semoga besok berjalan lancar dan banyak orang yang beli yah dan jangan lupa berdoa juga" ibu Fahmi mendoakan mereka.
"Amiin...." Ketiganya menjawab bersamaan.