My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Memulai Dari Bawah Lagi


__ADS_3

Oh... Jadi sebelum mendirikan resto ini, mas Fahmi kerja di distro milik mbak Kinan ini, sampai akhirnya bisa jadi Store Manager, hebat" puji salah satu tamu yang datang dalam acara peresmian restoran tersebut.


"Eits...! Itu baru awalnya saja, masih ada kelanjutannya" kata Fahmi.


"Biar aku yang lanjutkan ceritanya, okey" celetuk Kinan. Fahmi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ini berawal, saat distro milikku mengalami kebangkrutan dan terpaksa gulung tikar" Kinan melanjutkan.


........


Distro yang telah dirintis oleh Kinan selama 6 tahun itu, perlahan mulai menurun dan bahkan diambang kebangkrutan. Kinan, Laras dan juga Fahmi sudah melakukan segala cara untuk bisa mendongkrak angka penjualan. Mulai dari memberi diskon pada setiap pembeli yang datang sampai menjualnya di pusat keramaian. Namun, hasilnya tetap sama saja. Hari itu ketiganya berunding untuk memikirkan bagaimana nasib distro tersebut dan memikirkan nasib para karyawan yang bekerja pada mereka.


"Gimana ini sekarang, Nan, segala cara kita lakukan, tapi, hasilnya tetap saja nihil" kata Laras.


"Iya, Nan, aku juga udah gencar banget jualan kesana kemari sama karyawan yang lain, hasilnya tetap aja seperti ini" Fahmi menambahkan.


"Harus diakui sih, namanya juga bisnis, ada kalanya kita berjaya, ada kalanya kita jatuh seperti ini. Saingan kita juga satu persatu bermunculan dengan kualitas produk yang sama baiknya dengan milik kita" jawab Kinan.


"Terus sekarang gimana, Nan? Langkah apa yang harus kita lakukan? Terus gimana juga nasibnya karyawan kita semua, yang menggantungkan hidupnya disini, aku kasihan kalau sampai mereka berhenti bekerja, sedangkan kebutuhan keluarga mereka pasti banyak" Laras merasa kasihan dengan nasib semua karyawannya.


"Yah.... Mau gak mau, kita pecat mereka dan kasi gaji mereka, kita gak bisa lagi sepertinya untuk menyelamatkan distro ini dan mulai merintis bisnis baru. Nanti kalau misalkan kita bisa bangkit lagi dari keterpurukan ini, kita panggil mereka lagi, karena aku lihat karyawan kita ini kerjanya bagus loh, semoga ini yang terbaik" Kinan telah mengambil keputusan.


Setelah berunding dengan Laras dan juga Fahmi, Kinan memanggil karyawannya satu persatu dan memberikan gajinya, yang menjadi gaji terakhir bagi semua karyawannya. Ada rasa sedih dalam hati Kinan, distro miliknya ini bangkrut. Tapi, dia berusaha menerima semua ini dengan ikhlas.


"Sedih sih rasanya, cuma aku harus bisa mengikhlaskan ini, aku yakin kok suatu saat akan ada jalan keluar dari masalah ini" batin Kinan.


"Oh... Iya, Nan, aku jadi punya ide deh, gimana kalau kita bisnis kuliner aja, siapa tahu kita bisa sukses, seperti pengusaha yang aku lihat di tivi itu" Fahmi melontarkan idenya.

__ADS_1


"Ide bagus sih, Mi, cuma masalahnya kita kan gak bisa masak, gimana mau bisnis kuliner coba" kata Kinan.


"Itu soal gampang, kita belajar sama ibuku, kebetulan ibuku bisa masak, yah... Meskipun bukan masakan seperti yang di resto, tapi, aku jamin rasanya gak kalah dengan yang dijual di rumah makan" jawab Fahmi.


"Oke kalau seperti itu, kita rintis usaha kuliner aja, gimana menurutmu, Ras?" Kinan berpaling pada Laras.


"Aku kayaknya gak ikut deh, aku mau nerusin cita-cita aku jadi seorang DJ. Tapi, suatu saat ketika aku sudah sukses, aku akan cari kalian kok" Laras telah mengambil keputusan.


"Baiklah kalau itu keputusan kamu, aku doakan semoga kamu bisa meraih cita-cita kamu itu dan menjadi DJ terkenal, selamat berjuang yah, sahabatku" Kinan memberi semangat.


Setelah membereskan semua barang dan menutup toko, Kinan dan Fahmi pun segera bergegas menuju kerumah Fahmi.


"Oh iya, Mi, tadi kamu usulkan ide untuk bisnis kuliner, nah... Masakan apa yang mau kamu jual rencananya?" Tanya Kinan.


"Yang gampang-gampang aja dulu, kayak jual nasi goreng atau bakso gitu, yang banyak orang suka. Untuk awalnya kita jualan pake gerobak dulu, sambil kita ngumpulin uang untuk mengubah toko kamu itu menjadi resto gitu" terang Fahmi.


"Kita jual dua-duanya aja, gimana? Jadi, kamu yang jualan nasi goreng, aku jualan bakso. Kita jualan di depan aku aja, kita pasang aja tenda, sama meja dan kursi kayu, daripada jauh-jauh nyari tempat dagang kan" Kinan mengusulkan.


"Mi, itu siapa yah, yang diteras rumah kamu?" Tanya Kinan.


"Aku juga gak tahu sih, Nan, kita samperin aja" kata Fahmi.


"Maaf, mbak, cari siapa yah?" Tanya Fahmi pada seseorang yang duduk di teras rumahnya.


"Eh... Fahmi, kamu udah balik" katanya.


"Loh... Jesselyn? Ngapain disini, Jes?" Fahmi tampak terkejut. Jesselyn hanya terdiam dan menundukkan kepala.

__ADS_1


"Jes, kamu baik-baik aja kan? Gak lagi ada masalah kan?" Tanya Fahmi untuk memastikan kalau sahabatnya itu baik-baik saja.


"Aku butuh teman curhat, makanya aku datang kesini, mau curhat sama kamu" kata Jesselyn.


"Mmm... Mi, mending aku balik aja yah, besok aja belajar masak sama ibu kamu" Kinan ingin buru-buru pamit, karena ada Jesselyn disitu.


"Gak apa-apa kok, Nan, aku gak apa-apa, kalau kamu dengerin juga, aku percaya sama kamu dan aku lihat, kamu itu sama seperti Fahmi, bisa jaga rahasia, jadi, kamu disini aja yah" Jesselyn mencegah Kinan pergi.


"Iya, Nan, kamu disini aja, lagian kamu itu sama kayak Jesselyn, sama-sama sahabat aku" Fahmi menambahkan.


"Ya udah deh kalau gitu" Kinan mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Oh iya, Jes, sekarang kamu ceritakan, kamu ada masalah apa" Fahmi berpaling pada Jesselyn.


"Mi, pada akhirnya, orang tua aku tahu soal pekerjaan yang pernah aku tekuni saat aku SMA dan memutuskan untuk tidak mengirimkan aku uang lagi, untuk kebutuhan aku disini" kata Jesselyn dengan raut wajah sedih.


"Kok bisa sih, Jes? Siapa yang ngasi tahu ke orang tua kamu?" Tanya Fahmi.


"Jadi, aku dan Dimas kan rencananya mau nikah setelah aku lulus SMA, tapi, Dimas tahu tentang pekerjaan aku itu, karena pelanggan aku itu ternyata ayahnya Dimas. Akhirnya hubunganku sama Dimas berakhir. Kemungkinannya Dimas yang ngasi tahu ke orang tua aku, Dimas pasti mengutarakan alasannya untuk membatalkan rencana pernikahan kita itu" terang Jesselyn.


"Sekarang aku gak tahu, aku harus ngapain untuk bisa menghidupi diriku sendiri disini, sementara uang ditabunganku makin menipis, sejak orang tuaku tidak mengirim uang lagi dari 7 bulan yang lalu. Gak tahu juga mau kerja apa sekarang" Jesselyn benar-benar kebingungan.


"Mi, sini deh aku bisikin" Kinan meminta Fahmi mendekat padanya. Kinan membisikkan sesuatu ke telinga Fahmi. Fahmi mendengarkannya sambil mengangguk-angguk.


"Boleh tuh, Nan, ide kamu brilian juga" kata Fahmi.


"Jes, gini, Kinan dan aku kan sekarang baru mau merintis usaha kuliner gitu, cuma masih kecil-kecilan dulu. Tadinya sih kita mengelola distro miliknya Kinan, cuma sekarang mengalami kebangkrutan, jadi, kita mulai dari bawah lagi untuk merintis usaha kita" terang Fahmi.

__ADS_1


"Maksud aku, gimana kalau kamu ikut kita jualan, yah... Meskipun gak seberapa, tapi, lumayan lah, sistemnya itu hasilnya kita bagi tiga dari keuntungan penjualan kita, kamu mau atau gak" Fahmi menawarkannya pada Jesselyn.


"Aku mau, Mi, apapun itu yang penting halal dan bisa menjadi penyambung hidup, akan aku buang gengsiku itu" Jesselyn menerima tawaran dari Fahmi tersebut. Kinan dan Fahmi mengacungkan jempol.


__ADS_2