My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Part Jesselyn: Biar Aku Saja Yang Menentukan


__ADS_3

Saat berjalan menuju ke kamarnya, dari kejauhan Jesselyn melihat seseorang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Siapa itu yang berdiri depan kamarku?" Tanyanya dalam hati. Jesselyn pun segera menghampiri seseorang tersebut.


"Loh... Ibu!" Jesselyn terkejut, ternyata yang berdiri depan kamarnya adalah ibunya.


"Jesselyn, kamu darimana aja, ibu dari tadi sore nungguin kamu disini, kata tetangga sebelah kamarmu, kamu keluar dari pagi, kamu darimana?" Tanya ibu Jesselyn.


"Apa jangan-jangan, kamu abis sama om-om lagi?" Terka ibunya.


"Bu, aku udah gak gitu lagi sekarang, aku sama teman-temanku abis jualan dan ini hasilnya hari ini, ini uang halal, bukan hasil jual diri!" Jesselyn memperlihatkan pendapatannya hari ini pada ibunya.


"Ya udah, ibu percaya, maafin ibu kalau udah berpikiran negatif sama kamu" kata ibunya.


"Ibu tahu darimana aku kost disini?" Tanya Jesselyn.


"Dari Dimas, ibu sengaja tanya ke dia soal tempat tinggal kamu, ada hal penting yang mau ibu bicarakan sama kamu" jawab ibunya.


"Gini, teman ayahmu ingin menjodohkan anaknya sama kamu. Namanya Kevin, seorang pengusaha properti. Ayah sama ibu berpikir kalau sudah waktunya kamu memiliki pendamping hidup, biar ada yang bisa membimbing kamu kearah hidup yang lebih baik lagi dan kamu gak usah capek-capek kerja, karena Kevin ini siap menghidupi kamu lahir bathin" terang ibunya.


"Ibu berharap kamu mau menerima perjodohan ini yah, ini juga demi kebaikan kamu kok, Jes" harap ibunya.


"Terbaik untuk aku atau untuk ayah dan ibu? Maaf, bu, aku belum mau menikah, aku masih ingin kerja dulu dan bisa mengembangkan usaha yang sedang aku tekuni" Jesselyn menolaknya.


"Kenapa ibu malah nyari aku sekarang, bukannya ibu sendiri yang bilang gak mau lihat aku lagi dan sudah tidak menganggap aku sebagai anak lagi, sekarang malah berubah pikiran dan tiba-tiba menjodohkan aku dengan lelaki yang tidak aku kenal sama sekali" lanjut Jesselyn.


"Iya, nak, ibu minta maaf soal perkataan ini waktu itu, ibu terlampau emosi" kata ibunya.


"Iya, aku udah maafin ibu, tapi, bukan berarti aku mau menerima perjodohan ini, aku tetap gak mau menerimanya" jawab Jesselyn.

__ADS_1


"Gak ada salahnya dicoba, Jes, kamu coba jalan dulu atau pendekatan gitu dengan Kevin, mana tahu cocok kan" ibunya mencoba membujuk Jesselyn.


"Gak, bu, keputusan aku udah bulat dan gak akan berubah, maaf yah, bu, aku ngantuk mau tidur, besok harus jualan lagi, mending ibu pulang aja yah, udah larut juga" Jesselyn memutar kunci dan membuka pintu.


"Oke, kalau memang itu keputusanmu, ibu gak bisa memaksamu, ibu pulang dulu, kamu jaga diri kamu baik-baik" ibunya beranjak pergi dari hadapan Jesselyn.


"Hari gini masih ada jodoh-jodohan, udah bukan jamannya lagi, udahlah, ngapain juga dipikirkan" Jesselyn menutup pintu dan bersiap untuk segera tidur.


Keesokan paginya, Jesselyn bersiap untuk jualan lagi seperti hari kemarin.


"Oke, semua udah siap, sekarang tinggal berangkat" batin Jesselyn. Baru saja Jesselyn mau berangkat, ada seseorang yang menelponnya.


"Halo, ini siapa?" Tanya Jesselyn saat menjawab panggilan.


"Ini, aku mau beli bajunya dong yang kemarin di posting itu, aku tertarik sama baju itu, harganya berapa yah?" Tanyanya.


"Harganya 75 rb aja kok, kalau mau langsung ketemu aja di toko, aku share alamatnya yah" kata Jesselyn.


"Baru juga mau menuju ke tempat jualan, udah ada yang pesan aja, ini kali yang dinamakan rejeki gak akan kemana, pasti ada aja jalannya" batin Jesselyn dan segera berangkat.


"Pagi, Jes!" Sapa Kinan yang sudah ada di depan kost-nya.


"Eh... Kinan, pagi juga, kok kamu disini?" Tanya Jesselyn heran.


"Jemput kamu, kita barengan ke toko, kebetulan juga abis belanja Dipasar, aku mampir kesini deh" kata Kinan.


"Ya udah, yuk" ajak Kinan. Jesselyn naik ke mobil Kinan, lalu mereka pun berangkat.


"Oh iya, Nan, barusan aku ditelpon sama pembeli, dia mau beli baju dagangan kita yang aku posting kemarin dan dia mau ke toko sekarang" kata Jesselyn.

__ADS_1


"Alhamdulillah, pagi-pagi udah ada penglaris dagangan aja, aku senang deh dengarnya, gak sia-sia usaha kita, ternyata ide jualan di sosmed ini benar-benar jitu banget, Jes" Kinan terlihat senang. Namun, hanya dalam hitungan beberapa menit, raut wajah Jesselyn berubah murung.


"Jes, ada apa? Kamu ada masalah? Kok wajah kamu tiba-tiba berubah jadi murung gitu" Kinan memperhatikan wajah Jesselyn.


"Semalam itu, ibu aku datang ke kost-an, dia mau jodohkan aku dengan lelaki pilihannya, aku tolak permintaan ibuku itu, tapi, setelah aku pikir-pikir, aku merasa gak enak aja sudah menolak permintaannya itu" Jesselyn terlihat resah.


"Emang sih, ibu aku gak memaksa, dia cuma sekedar menjodohkan aja, sisanya biar aku yang tentukan karena nantinya aku juga yang bakal jalanin" lanjut Jesselyn.


"Apa aku salah yah, Nan, menolak permintaan ibuku itu? Apakah aku harus menerimanya dan justru mengorbankan perasaanku, aku masih bingung ini, meskipun semalam aku udah jawab dengan tegas untuk menolaknya" Jesselyn masih menyimpan perasaan bimbang dalam hatinya.


"Sebenarnya sih disini, gak ada salah atau benar, cuma kembali lagi ini masalah hati, gak bisa dipaksakan, karena kalau dipaksakan bakal kacau juga jadinya, jadi, menurutku kamu gak salah sih kalau menolak perjodohan itu, karena, seperti yang kamu katakan tadi, kamu yang akan jalaninya, kami cukup kasi pengertian aja ke ibumu kalau kamu sendiri yang menentukan pasangan hidupmu sendiri dan nantinya tinggal memberi restu untuk hubungan kalian, gitu aja sih" Kinan memberi masukan.


"Aku ngerti maksud ibu kamu, cuma menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi, masalah jodoh itu pilihan masing-masing orang yang akan menjalaninya" lanjut Kinan.


"Makasih yah, Nan, setidaknya beban dalam hatiku udah berkurang dengan menceritakannya ke kamu dan mendengarkan masukan dari kamu, nanti aku ngomong ke ibuku dan coba kasi pengertian padanya" Jesselyn tersenyum.


"Oh iya, Nan, ngomong-ngomong soal ibu, kamu belum pernah cerita soal ibu kamu, ibumu mana? Gak, soalnya aku lihat kamu itu kerja keras banget dan seperti orang yang hidup sebatang kara" Jesselyn terlihat penasaran.


"Emang aku udah tinggal sebatang kara sekarang, Jes. Waktu aku baru lulus SMP, kedua orang tuaku meninggal akibat kecelakaan pesawat yang mereka alami. Lalu semua harta orang tuaku, aku yang dapatkan semuanya, karena aku anak tunggal" terang Kinan.


"Makanya waktu itu, aku sempat mempercayakan sama sahabat aku, namanya Laras untuk membantu mengelola keuangan aku, karena jujur, aku gak bisa mengelola keuangan dengan baik, bahkan ide mendirikan distro itu, ide dari dia juga dan akhirnya sukses, sampai-sampai bisa buka cabang" lanjut Kinan.


"Duh... Nan, maaf yah, aku gak tahu dan gak bermaksud bikin kamu sedih" Jesselyn merasa tidak enak, karena telah mengingat hal menyedihkan dalam hidupnya itu.


"Santai aja, Jes, gak apa-apa kok" kata Kinan santai.


"Terus, sekarang sahabat kamu itu dimana sekarang?" Tanya Jesselyn.


"Sekarang dia ingin menggapai cita-citanya sebagai seorang DJ yang terkenal, yang dia impikan sejak dulu" jawab Kinan.

__ADS_1


"Aku sih berharap, Laras bisa menggapai mimpinya itu, aku akan senang kalau melihat Laras bisa menggapai mimpinya itu" harap Kinan.


"Amiin...." Jesselyn mengaminkan.


__ADS_2