My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Sosok Misterius


__ADS_3

"Kalau boleh tahu, ada apa yah, mas mencari Laras?" Kinan berbalik bertanya.


"Siapa tahu aja, besok-besok dia nelpon, supaya aku bisa kasi tahu ke dia nantinya" lanjut Kinan.


"Jadi, gini, mbak, 2 tahun yang lalu aku nembak Laras, waktu aku ajak dia nonton konser Sheila On 7. Saat itu emang sih Laras nolak aku dengan alasan mau fokus kejar karir dan gak mau pacaran. Dia juga bilang ke aku, kalau dia itu maunya langsung nikah aja tanpa melewati masa pacaran gitu" jelasnya.


"Maka dari itu, setelah aku dengar ucapannya itu, aku berpikir kalau dia bakalan mau kalau aku langsung lamar dia jadi istriku. Nah... Selama 2 tahun itu aku kerja keras, supaya aku bisa nabung untuk beli cincin dan datang melamar Laras. Makanya hari ini, aku datang kesini, dengan maksud ingin melamar Laras, aku juga udah bawa cincinnya" pria itu melanjutkan dan memperlihatkan cincin yang dibawanya pada Kinan.


"Tapi, sekarang malah Laras udah pergi jauh dan gak tahu kapan dia kembali lagi" pria itu terlihat bingung dan putus asa.


"Oh iya, dari tadi kita ngobrol, tapi, belum tahu nama mas siapa?" Tanya Kinan.


"Namaku Marcell" pria itu mengulurkan tangannya pada Kinan.


"Aku Kinan dan ini teman aku, Jesselyn" Kinan menjabat tangan pria tersebut dan memperkenalkan Jesselyn pula padanya.


"Mas, sebelumnya aku minta maaf yah, tapi, aku gak tahu soal ini, Laras juga gak pernah cerita apa-apa soal ini, makanya aku agak kaget juga dengarnya" Kinan merasa tidak enak pada Marcell.


"Gak apa-apa, mbak Kinan, gak usah minta maaf, mungkin cuma akunya saja yang terlalu berharap sama Laras" katanya.


"Kalau soal perasaan sih, gak ada yang salah kok, Cel, cuma mungkin waktunya aja yang tidak tepat, tapi, kalau misalkan kamu berjodoh dengan Laras, akan ada aja caranya untuk bertemu lagi" kata Kinan, yang setidaknya bisa membesarkan hatinya.


"Atau kalau gak gini aja, mas Marcell sama teman aku aja nih" Kinan menunjuk Jesselyn dan seolah ingin menjodohkannya dengan Marcell.


"Nan, kamu apa-apa'an sih, malah nyodorin aku ke dia" bisik Jesselyn.

__ADS_1


"Gak apa-apa lah, Jes, lagian kamu juga kan jomblo, gak salah dong" kata Kinan.


"Gimana, Cel, mau gak?" Berpaling ke Marcell dan bertanya padanya. Marcell seperti berpikir antara menerima tawaran Kinan itu atau tetap mempertahankan tekadnya untuk tetap menunggu Laras kembali, walaupun dia gak tahu sampai kapan dia menunggu.


"Kalau misalkan kamu mau pikir-pikir dulu sih, gak apa-apa, siapa tahu nanti kamu berubah pikiran, kamu datang aja ke alamat ini, Jesselyn sama aku tiap hari disitu kok, okey" Kinan memberikan kartu namanya.


"Ya udah kalau gitu, kita berdua harus pergi, gak bisa lama-lama disini, kita mau balik jualan lagi, kita duluan yah, Cel" Kinan dan Jesselyn masuk ke mobil dan langsung beranjak pergi.


"Nan, kamu tuh Apa-Apa'an sih, tiba-tiba jodohkn aku sama cowok tadi?" Tanya Jesselyn yang terlihat sedikit kesal.


"Yah... Gak apa-apa, Jes, setidaknya saling kenal dulu, nambah teman kan gak apa-apa, Jes, malah bagus dong, mana tahu kalian ada kecocokan gitu" kata Kinan.


"Kalau aku lihat dari tampangnya sih, kayaknya dia cowok baik-baik deh, beda tipis lah sama Fahmi, cuma beda dari segi perekonomiannya dia yang sedikit lebih baik dibanding Fahmi, bukan bermaksud membandingkan Fahmi yah, cuma menurut penilaianku seperti itu" lanjut Kinan.


"Kalaupun kalian gak berjodoh, setidaknya bisa jadi teman baik, siapa tahu aja, cowok itu punya channel yang bisa membuat bisnis kita berkembang, kita gak tahu kan" kata Kinan.


Selang 30 menit kemudian, mereka pun sampai.


"Jes, itu Fahmi sibuk banget nyuci piring, gelas, mangkok, mana banyak banget lagi" Kinan terkejut melihat Fahmi mencuci banyak piring dan mangkok.


"Kita turun aja, Nan, nanti juga kita tanya Fahmi aja langsung" kata Jesselyn dan turun dari mobil.


"Mi, banyak banget cucian piring kotornya?" Tanya Kinan yang melihat cucian piring dan mangkok bertumpuk.


"Iya, Nan, tadi ada segerombolan orang, pekerja proyek pembangunan mall di jalan besar yang disana itu, mereka makan disini, kalau aku hitung tadi ada sekitar 30 orang, mereka bawa tikar sendiri dan gelar disini, mereka geser meja sama kursinya, mereka makan deh rame-rame" terang Fahmi.

__ADS_1


"Kamu pasti kewalahan banget yah, ngelayanin mereka sekaligus, maaf yah, Mi, kita agak lama, soalnya dijalan tadi agak macet juga" kata Kinan yang merasa tidak enak pada Fahmi.


"Gak apa-apa, Nan, santai aja, aku bisa handle kok" jawab Fahmi santai.


"Besok mereka bakal kesini lagi katanya, untuk makan siang" lanjut Fahmi.


"Alhamdulillah yah, Mi, penjualan kita meningkat kayak gini, aku senang deh dengarnya" Kinan tersenyum bahagia.


"Woy..!" Seseorang datang dan memukul gerobak Fahmi.


"Ada apa ini, datang-datang mukul gerobak orang, gak punya sopan santun apa!" Kinan kesal melihatnya.


"Heeh! Berani kalian jualan disini yah, pantesan aja warung aku jadi sepi, ternyata semuanya pada lari kesini toh, mau nyari masalah kalian!" Katanya dengan mata melotot.


"Warung bapak yang sepi, kenapa kita yang disalahkan, kita juga jualan, gak ada maksud untuk rebut pembeli bapak dan membuat warung bapak sepi, rejeki itu udah diatur, kalau warung bapak sepi jangan nyalahin orang lain dong" kata Kinan, yang tidak terima dengan perkataan pria tersebut.


"Pokoknya aku gak mau tahu, kalian pindah dari sini atau aku acak-acak dan hancurnya gerobak ini" ancamnya.


"Pak, kalau mau bersaing itu secara sehat dong, jangan pake cara gini, yang namanya usaha itu pasti ada pesaing, kalau gak mau ada pesaing, jangan jualan, gitu aja, simpel kok" kata Kinan.


"Kamu perempuan tahu apa soal bisnis, anak kemarin sore aja, sok-sok ngajarin lagi, pokoknya kalian harus pindah ke tempat lain, kalau kalian masih disini, kalian akan tahu akibatnya!" Gertak pria itu.


"Ngapain kita pindah, ini tempat aku yang punya, ini toko aku, mau jualan apa juga terserah dong dan bapak gak punya hak untuk usir kita, kalau bapak berani macam-macam, aku gak segan-segan untuk melaporkan ke pihak yang berwajib" Kinan berbalik mengancam dan seolah tidak takut dengan ancaman pria itu.


"Bapak jangan macam-macam, aku punya kenalan polisi, pangkatnya Kapolsek dan disini adalah wilayahnya dia, aku bisa kok suruh dia kesini sekarang juga dan menangkap bapak, karena bapak berbuat onar di tempat kita" lanjut Kinan. Perlahan nyali pria tersebut mulai menciut mendengar perkataan polisi dan terlihat sedikit ketakutan, namun, dia tidak ingin menampakkan diwajahnya. Tapi, Kinan bisa membaca kalau pria itu mulai ketakutan. Tak berapa lama, pria itu pun pergi dan gak bisa lagi berkata apa-apa. Setelah pria itu menghilang dari pandangannya, Fahmi bertanya pada Kinan mengenai yang diucapkannya barusan.

__ADS_1


"Nan, emang benar yah, yang kamu bilang tadi, kalau kamu punya kenalan polisi dan jabatannya itu Kapolsek sekitar sini?" Tanya Fahmi.


"Iya, Mi, benar, cuma udah pensiun, tapi, kalau misalkan aku minta bantuannya, beliau itu masih cukup berpengaruh gitu" jawab Kinan.


__ADS_2