My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Jangan Salah Menilainya


__ADS_3

"Nan, aku heran deh sama kamu, kamu kok baik banget sih sama si Fahmi itu? Ngasi kerjaan di distro lagi" Laras terlihat bingung.


"Kamu kan belum tahu persis dia seperti apa, kamu harus hati-hati, Nan, jangan nyesel loh udah milih orang yang salah" Laras mengingatkan.


"Kamu jangan khawatir, Ras, aku yakin aku gak salah pilih" kata Kinan dengan penuh keyakinan.


"Aku bisa lihat kok, kalau Fahmi itu baik. Contoh kayak tadi waktu aku tinggal dia sendiri saat aku beli sarapan, kalau misalkan dia mau, dia bisa aja bawa kabur bawa uang hasil penjualanku itu, tapi, dia malah menyimpan sebaik-baiknya dan memberikannya sama aku tanpa ada sepeserpun yang dia ambil" lanjut Kinan.


"Ya udahlah, terserah kamu aja" kata Laras pasrah.


"Oh iya, Nan, tadi aku gak sengaja ketemu sama Mirza, dia nitip salam buat kamu" kata Laras. Kinan hanya terdiam dan tidak merespon perkataan Laras.


"Kok kamu diam aja sih, Nan, respon dikit kek atau apa gitu" kata Laras.


"Aku udah malas dengar nama cowok itu dan aku gak mau dengar, kamu sebut nama dia lagi, ngerti!" Mata Kinan melotot.


"Lagian kenapa sih, kamu benci banget sama dia, ada apa? Apa karena kejadian dirumah Mirza waktu itu?" Laras menerka.


"Nah... Itu kamu tahu, udah stop omongin dia!" Kata Kinan dengan tegas.


"Nan, udah kali, itu kan udah 5 tahun berlalu, masa kamu gak bisa sih maafin dia, yang namanya manusia itu pasti punya salah dan khilaf. Kita harus bisa maafin seseorang yang pernah berbuat salah" Laras menasehati.


"Kalau masalah memaafkan, aku sudah maafkan dia, tapi, aku belum bisa melupakannya" jawab Kinan.


"Udah yah, Ras, please, gak usah bahas dia lagi, okey" pinta Kinan.


...*****...


Hari ini Fahmi begitu senang karena dagangannya semua habis terjual. Diperjalanannya menuju pulang ke rumah, Fahmi samar-samar mendengar seseorang berteriak minta tolong. Fahmi segera mencari asal suara tersebut. Fahmi dikejutkan dengan dua orang pria yang hendak merampas tas seorang gadis.


"Woy...! Apa yang kalian lakukan!" Teriak Fahmi.


"Lo gak usah ikut campur, kalau mau selamat. Sana lo pergi!" Bentak salah satu dari mereka.


"Kalau kamu laki-laki, sini, jangan beraninya sama perempuan!" Tantang Fahmi.


"Awas lo yah, berani Nantangin kita berdua" katanya dan menghampiri Fahmi. Mereka terlibat dalam perkelahian yang cukup imbang, walaupun beberapa kali Fahmi kena pukul. Namun, kedua laki-laki itu kalah dan kabur dari tempat tersebut.


"Kamu gak apa-apa kan?" Fahmi menghampiri gadis tersebut. Gadis itu menggeleng.


"Tunggu dulu deh, aku sepertinya familiar sama wajah kamu, kayak pernah lihat kamu, tapi, aku lupa dimana" Fahmi mencoba mengingat-ingat. Gadis itu hanya tersenyum. Gadis itu mengambil sesuatu dalam tasnya, lalu memakainya.

__ADS_1


"Kalau yang ini, kamu ingat?" Tanyanya.


"Wahyuni! Tapi, kamu kok beda, gak kayak biasanya" Fahmi terkejut.


"Sejujurnya nih, namaku Winda, cuma aku lagi menyamar, aku sedang menyelidiki seseorang, namanya Jesselyn, kamu pasti kenal kan sama dia" terang Winda.


"Cuma aku minta satu hal sama kamu, jangan bocorkan ini ke siapa-siapa, sebelum Misiku selesai, okey" kata Winda.


"Iya, kamu tenang aja, aku gak akan bocorkan rahasia kamu" jawab Fahmi.


"Kalau boleh tahu nih, kenapa kamu menyelidiki Jesselyn itu dan apa hubungannya dengan kamu?" Tanya Fahmi penasaran.


"Jadi, Jesselyn itu calon istri kakak aku. Mereka bakal menikah setelah Jesselyn lulus SMA. Cuma aku dengar kabar bahwa Jesselyn itu wanita panggilan dan tarifnya dia itu katanya mencapai 500 ribu sampai sejuta dalam semalam" terang Winda.


"Aku gak tahu apakah itu atau tidak, makanya itu, aku mau cari tahu kebenarannya" lanjut Winda.


"Iya... Iya, aku paham sekarang" Fahmi mengangguk, tanda dia mengerti maksud Winda.


"Kamu mau gak bantuin aku, untuk mengungkap ini" pinta Winda.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Fahmi.


"Aku cuma minta, kamu ikuti Jesselyn kemanapun dia pergi dan usahakan jangan sampai ketahuan, pokoknya kamu ngasi tahu apapun yang dilakukannya, termasuk saat disekolah juga" Winda menjelaskannya pada Fahmi.


"Ini handphone, kamu pakai ini, untuk ngasi tahu ke aku, kamu chat aku aja, caranya kayak gini nih" Winda menunjukkan cara memakai handphone yang diberikan Winda tersebu pada Fahmi.


"Nanti kalau misalkan kamu mau chat aku, kamu kirim ke nomer yang ini nih, udah aku save nomor aku disini, jadi gampang nyarinya" lanjut Winda. Fahmi hanya mengangguk.


"Sebelumnya makasih loh, Fahmi, kamu bersedia bantu aku dan terima kasih juga kamu udah nolongin aku dari dua preman tadi" kata Winda.


"Ya udah kalau gitu, aku pamit yah, bye" Winda beranjak pergi.


"Sebenarnya aku sih gak mau lakukan hal yang seperti ini, cuma aku juga gak enak kalau nolak permintaan dia" Fahmi bimbang dalam hatinya.


"Ya udahlah, lakuin aja, toh cuma sekali ini aja dan gak akan ada akibatnya, lagipula nolong orang kan itu hal yang baik" pikir Fahmi.


...*****...


Keesokan paginya, Fahmi berangkat ke sekolah naik sepeda seperti biasanya. Diperjalanan Fahmi bertemu dengan seseorang yang sontak membuatnya terkejut.


"Loh... Itu Kinan? Paket seragam SMA? Emang dia masih SMA yah? Aku kirain dia itu udah kuliah gitu, karena dari cara berpakaiannya kemarin itu, kayak gaya anak kuliahan" Fahmi bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


"Kinan!" Fahmi memanggilnya dan menghampiri Kinan.


"Eh... Fahmi, Ketemu lagi kita" Kinan terlihat senang bertemu Fahmi lagi.


"Kamu ternyata masih SMA yah, aku kirain kamu anak kuliahan gitu" kata Fahmi.


"Hehehe....." Kinan tertawa kecil.


"Aku minta maaf, Fahmi, bukannya aku mau bohong atau apa, cuma aku sedang menyamar, aku sedang mencari seseorang yang tepat untuk jadi pendamping hidupku kelak, karena aku gak mau salah pilih lagi, seperti saat aku pacaran sama Mirza, yang aku pikir lelaki yang tepat untuk aku, ternyata aku salah dan aku harus lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup" batin Kinan.


"Oh iya, Kinan, mau bareng gak, tapi, cuma naik sepeda ini" Fahmi menawarkan untuk berangkat bersama kesekolah.


"Boleh tuh, aku suka banget naik sepeda, yah... Sekalian nostalgia gitu, Eh... Tahu gak, dulu waktu aku masih SD setiap hari berangkat ke sekolah itu naik sepeda" Kinan bercerita sedikit tentang masa kecilnya.


"Ya udah, yuk, Kinan, nanti kita telat lagi".


"Kinan, kamu sekolah dimana?" Tanya Fahmi.


"Aku sekolah di SMK Tunas Bangsa" jawab Kinan.


"Loh... Kok bisa sama? Sekolah aku juga disitu" kata Fahmi.


"Ternyata kita satu sekolah yah, tapi, aku kok gak pernah lihat kamu kalau disekolah? Apa akunya aja yang tidak terlalu memperhatikan, tapi, aneh juga sih, kalau kita gak pernah ketemu sekalipun" Kinan heran.


"Udah nanti aja mikirnya, kita berangkat sekarang nanti telat lagi, naik deh cepat, udah jam berapa ini" Fahmi melihat jam ditangannya.


"Kinan!" Seseorang memanggil Kinan dan sebuah mobil berhenti di dekatnya.


"Kamu mau berangkat sekolah kan, bareng aja sini" kata seseorang tersebut.


"Mirza! Ngapain kamu disini" Kinsn terkejut melihatnya.


"Aku kebetulan lewat sini, terus aku lihat kamu dari kejauhan, ya udah aku singgah deh, siapa tahu mau bareng gitu berangkat ke sekolah" jelas Mirza.


"Kinan, yuk, naik buruan" ajak Mirza.


"Gak usah, Za, aku bareng Fahmi aja, boncengan naik sepeda, makasih sebelumnya untuk tawaran kamu" Kinan menolak secara halus.


"Kamu aneh deh, Nan, lebih milih boncengan naik sepeda dibanding bareng aku naik mobil, ya udah kalau kamu ya gak mau" mobil Mirza berlalu pergi.


"Nan, kok kamu biak ajakan dia, padahal enak tahu naik mobil, gak perlu panas-panasan, bebas debu juga" kata Fahmi.

__ADS_1


"Lebih enak kayak gini, aku merasa lebih nyaman kayak gini, boncengan sama kamu naik sepeda" Kinan tersenyum.


__ADS_2