My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Akan Selalu Ada Untukmu, Kinan


__ADS_3

Oh iya, Mi, motor udah kamu masukkan ke gudang kan?" Kinan Berbalik bertanya.


"Udah kok, Nan, udah aku masukkan kembali ke gudang dan gudangnya juga udah aku kunci" jawab Fahmi. Kinan hanya mengangguk.


"Nan, kamu lagi berantem yah sama Laras? Karena biasanya aku lihat kamu sama Laras selalu akur, kompak gitu" Fahmi menerka.


"Iya, Mi, aku sama Laras memang lagi berantem, pas kamu keluar anterin pesanan customer" Kinan membenarkan.


"Maaf nih, Nan, bukan bermaksud untuk ikut campur masalah kamu atau apa, cuma kalau boleh tahu, berantemnya gara-gara apa yah?" Tanya Fahmi penasaran.


"Jadi, tadi waktu disekolah, Mirza, cowok yang berpapasan dengan kita dijalan, pas mau berangkat ke sekolah itu. Dia nitip surat itu ke Laras untuk di kasi ke aku, tapi, aku gak baca surat itu, malahan langsung aku robek surat itu dan buang ke tong sampah" terang Kinan.


"Kenapa gitu, Nan? Kenapa gak kamu baca dulu isinya?" Fahmi kembali bertanya.


"Aku gak mau baca surat dari dia, aku udah terlanjur sakit hati sama dia, aku gak mau lagi mendengar atau menerima apapun yang berhubungan dengan cowok itu" Kinan terlihat kesal, saat menceritakan soal Mirza.


"Aku sama Mirza itu pernah berpacaran, tapi, hanya hitungan bulan aja. Bukan pertama sampai ketiga masih baik-baik aja, masuk bulan keempat, aku sama dia berantem karena dia ketahuan jadikan aku bahan taruhan dia sama teman-temannya, jelas aja aku marah dan saat itu juga aku minta putus dari dia" lanjut Kinan. Fahmi mengangguk dan mengerti pokok permasalahannya.


"Yang lebih menyakitkan, sahabat yang selama ini aku percayai, malah tidak ada sedikitpun rasa empati atas apa yang aku alami, justru dia seolah-olah berpihak pada cowok itu, rasanya sakit banget, Mi" Kinan meneteskan air matanya, saking sakitnya hati Kinan.


"Nan, kamu yang sabar yah, aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, aku janji, Nan, aku akan selalu ada untuk kamu dan siap mendengar semua keluh kesahmu" Fahmi memegang kedua tangan Kinan. Kinan sedikit terkejut saat Fahmi memegang tangannya dan jantung berdebar kencang.


"Duh... Kenapa jantungku berdebar gini yah, apa mungkin ini yang dinamakan cinta, yang bikin dah dig dug gitu" batin Kinan.


"Eh... Maaf Kinan, bukannya aku lancang, cuma refleks aja tadi" Fahmi melepaskan tangan Kinan dari genggamannya.


"I... Iya, Mi, gak apa-apa kok" Kinan sedikit gelagapan.


"Yah... Kok udahan sih, padahal aku pengennya yang lama gitu, Fahmi malah melepaskannya" runtuk Kinan yang sedikit kecewa.


"Duh... Kinan, kamu apa'an sih, ingat kamu itu bukan siapa-siapanya Fahmi, sadar Kinan!" Kinan berusaha membuang jauh-jauh pikirannya itu.

__ADS_1


"Mi, kalau ada kamu disini, aku merasa lebih baik, setidaknya beban pikiranku sedikit berkurang dengan curhat sama kamu, makasih yah, Mi" Kinan merasa lebih baik, setelah mencurahkan isi hatinya tersebut.


"Iya, Nan, kapanpun kamu butuh teman curhat, aku akan selalu ada untuk kamu" kata Fahmi.


*Apakah Fahmi adalah lelaki yang tepat untuk jadi pendamping hidupku? Entahlah, biar waktu yang menjawabnya dan kalau emang jodoh, suatu hari akan dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan" batin Kinan.


"Enaknya ngapain yah, bosan juga kalau cuma dirumah aja, tapi, kalau keluar, mau kemana" Jodi merasa bosan dirumahnya.


"Aku tahu mau ngapain" Jodi menjentikkan jarinya, seperti mendapat ide. Jodi mengambil handphone diatas meja belajarnya dan menelpon seseorang.


"Halo, Ram, kamu dimana?" Tanya Jodi diujung telpon.


"Aku dirumah aja, kenapa emangnya, Jod?" Jawabnya dan berbalik bertanya.


"Nongkrong yuk, ditempat biasa, bosan nih aku dirumah" ajak Jodi.


"Boleh tuh, Jod, aku kabari anak-anak yang lain juga" Rama menyetujui.


"Oke, sejam lagi kita ketemu Disana, see you" Jodi mengakhiri panggilan. Jodi segera beranjak dan bersiap untuk pergi bersama teman-temannya.


"Aku mau keluar sama teman-teman aku, bi" jawab Jodi.


"Kalau papa sama Mama nanti pulang, terus mereka tanya, bibi jawab aja sesuai dengan apa yang aku katakan tadi, oke, bi" Jodi pun berlalu pergi.


1 jam kemudian, Jodi pun sampai ditempat dia janjian dengan teman-temannya.


"Hai, bro!" Sapa Jodi saat dia sampai di tempat tersebut.


"Hai, Jodi, my brother!" Sambut salah satu temannya, Denis.


"Kalian semua udah pesan atau belum?" Tanya Jodi pada teman-temannya.

__ADS_1


"Belum, Jod, kan nungguin kamu, ya gak?" Rama melirik kearah teman-temannya. Mereka hanya mengangguk. Jodi memberi kode pada salah satu waiter, untuk datang ke mejanya.


"Mas, pesan kayak biasa yah, udah tahu kan" kata Jodi.


"Iya, mas Jodi, saya tahu kok, mohon ditunggu sebentar, langsung saya siapkan pesanannya" jawabnya dan langsung beranjak pergi.


"Jod, tumben ngajak kita nongkrong gini, kirain lo udah betah dalam rumah mewah lo dan gak mau keluar rumah" kata Denis.


"Iya, Jod, karena udah cukup lama kita gak nongkrong kayak gini" celetuk temannya yang lain, Rama.


"Gue suntuk dirumah Mulu, gue butuh udara luar, butuh refresh pikiran, makanya gue ajak lo semua nongkrong disini" jelas Jodi.


"Permisi, ini pesanannya, mas Jodi, selamat menikmati" pelayan itu menaruh pesanan Jodi dan teman-temannya dimeja dan beranjak pergi, setelah menyelesaikan tugasnya. Jodi hanya mengangguk.


"Oh iya, Jod, mumpung ketemu lo, ada yang mau gue omongin" Denis mendekat ke Jodi.


"Ada apa, Den?" Tanya Jodi.


"Gini, ada teman gue, dia itu pengusaha besar di Jakarta. Kebetulan dia lagi liburan disini selama 2 Minggu, dia butuh cewek yang bisa diajak untuk bersenang-senang gitu, karena dia itu kesepian dan sedikit bosan dengan suasana liburan dia yang gitu-gitu aja, lo tahu kan maksud gue, Jod" terang Denis. Jodi mengangguk-angguk, mengerti maksud dari Denis.


"Dia minta dicariin cewek, Jod, kalau ada, dia akan bayar sejuta semalam. Lo bayangin kalau 2 minggu, kita bisa senang-senang, bro dengan uang itu" lanjut Denis.


"Teman sekolah lo pasti banyak yang cantik-cantik dan semlohei gitu kan, lo cari lah yang seperti itu. Gue yakin dia akan suka, apalagi kalau anak SMA gitu, lo mau yah, bantuin gue" bujuk Denis. Jodi berpikir sejenak dan memikirkan kriteria yang sesuai dengan yang dikatakan Denis.


"Kalau kriteria yang seperti lo bilang tadi itu, ada sih, Den, namanya Jesselyn, ini dia orangnya" kata Jodi dan menunjukkan fotonya pada Denis.


"Nah... Yang ini sih perfect, bro" Denis menjentikkan jarinya.


"Tapi, gue gak yakin, dianya bakalan mau, soalnya yang gue tahu, dia itu bukan tipikal cewek yang kayak gitu, ditambah lagi dia anak orang kaya, suatu hal yang mustahil sih menurut gue" Jodi tampak ragu.


"Tapi, gak ada salahnya dicoba, bro, kamu mau yah usahain supaya dia mau, kalau misalkan lo bisa usahain, nanti gue ngomong ke teman gue itu, gue juga minta tip, mana tahu dia nambahin kan, lumayan tahu, Jod" Denis masih berusaha membujuk Jodi untuk melakukannya.

__ADS_1


"Ya udah, oke, gue akan usahakan untuk membujuk Jesselyn" Jodi pun akhirnya menyanggupi permintaan Deni tersebut.


"Nah.... Gitu dong, itu baru brother gue" Denis terlihat senang mendengar jawaban Jodi barusan.


__ADS_2