My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Rencana Jodi


__ADS_3

Pukul 8 malam, papa dan mama Jodi datang.


"Loh... Ini mobil Jodi gak ada di garasi, jangan-jangan anak itu keluyuran lagi" terka papa Jodi.


"Bi, Jodi keluar yah, ini mobilnya gak ada saya lihat" katanya pada ART-nya tersebut.


"Iya, pak, mas Jodi keluar, dia pergi sama teman-temannya" jawabnya


"Sudah kuduga, anak itu pasti foya-foya lagi sama teman-temannya yang tidak jelas itu" kata papa Jodi.


"Ya udah sih, pa, biarin aja, namanya juga anak muda, pa, butuh refresh mungkin dianya" jawab mama Jodi santai.


"Ini nih yang bikin Jodi seperti ini, mama selalu manjain dia, jadinya dia seperti itu" papa Jodi sedikit kesal dengan sikapnya yang memanjakan Jodi.


"Loh... Bukannya manjain, cuma menunjukkan rasa sayang aku ke Jodi, apalagi dia anak kita satu-satunya" jawab mama Jodi.


"Mama mau tahu, dalam bulan ini, Jodi sudah berapa kali membuat masalah di sekolah. Papa itu malu punya anak pembuat masalah, kesannya papa itu tidak bisa mendidik anak! Apa mama mau, Jodi tumbuh seperti itu, yang berbuat seenaknya dan keras kepala. Papa gak mau, papa mau dia juga kelak bisa menjadi sukses seperti papa, karena gak selamanya kita biayain hidup Jodi, akan ada masanya dimana dia harus menghidupi dirinya sendiri, kelak dia juga akan jadi kepala keluarga, kalau kita membiarkan seperti itu, dia tidak akan bisa bersikap dewasa" lanjut papa Jodi.


"Jadi, papa maunya seperti apa?" Tanya mama Jodi.


"Kalau mama menyetujuinya, gimana kalau dimulai dengan mengambil semua fasilitasnya dia dan membatasi uang jajannya, dengan begitu dia pasti akan lebih bijak menggunakan uang dan tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting" papa Jodi mengusulkan.


"Apa itu gak terlalu kejam, pa, kasihan Jodi" mama Jodi seperti kurang setuju dengan usul tersebut.


"Kalau mama tidak menyetujuinya, terserah, papa akan lepas tangan dan gak akan peduli lagi sama anak itu, papa gak akan menegurnya atau apapun itu, terserah dia mau terkena masalah atau tidak, papa gak akan peduli lagi" papa Jodi langsung beranjak pergi, karena marah.


-


-


Ya udah kalau gitu, kita semua balik yah, Jod, thanks banget loh untuk malam ini" Denis mewakili temannya yang lain.

__ADS_1


Iya, Den, sama-sama, gue juga senang banget bisa ngumpul bareng kalian, next time kita ngumpul kayak gini lagi" kata Jodi.


"Oh iya, Jod, cuma mau ingetin nih, lo jangan lupa sama yang gue bilang tadi, okey" Denis mengingatkan.


"Iya, beres, lo tenang aja, akan gue usahakan dan tentunya gak akan bikin lo kecewa" Jodi meyakinkan Denis. Denis mengacungkan jempol. Jodi segera pergi dari tempat tersebut, diikuti oleh teman-temannya. Sepanjang jalan, Jodi terus memikirkan cara untuk membujuk Jesselyn agar mau mengikuti apa yang diinginkan oleh Denis tersebut.


"Susah nih kayaknya untuk bujuk si Jesselyn, apalagi aku gak begitu akrab sama dia" Jodi bingung memikirkannya.


"Ya udahlah, pikir besok aja gimana caranya" Jodi melupakan sejenak rencananya itu dan kembali fokus ke jalan. Namun, kali ini situasi sepertinya berpihak pada Jodi. Dari kejauhan, Jodi melihat seseorang yang sepertinya dia kenali, sedang berdiri dengan seorang pria yang usianya jauh diatas gadis tersebut, di depan sebuah wisma.


"Itu kayaknya Jesselyn deh kalau dari perawakannya" Jodi menerka-nerka. Karena penasaran, Jodi menepikan mobilnya dan turun untuk melihat lebih dekat lagi.


"Gak salah lagi, benar, itu Jesselyn" Jodi semakin yakin.


"Ngapain Jesselyn disini, sama pria yang tua darinya, di wisma pula, apa jangan-jangan Jesselyn...." Jodi mulai berpikir negatif terhadap Jesselyn, saat melihat kejadian di depan matanya. Jodi segera mengeluarkan handphone-nya lalu merekam kejadian itu. Jesselyn tengah menggandeng erat pria tersebut. Dalam hitungan detik, tiba-tiba saja berubah. Kali ini Jesselyn menggelayutkan kedua tangannya ke leher pria itu dan mereka ciuman. Sontak membuat Jodi terkejut melihat adegan tersebut. Jodi benar-benar tidak menyangka, Jesselyn berbuat hal seperti itu.


"Aku benar-benar gak nyangka, di sekolah dia itu seperti anak baik-baik, gak tahunya diluar sekolah, kelakuannya justru kayak gini" batin Jodi.


"Ya udah kalau gitu, aku pergi yah, makasih untuk malam ini, aku puas banget" kata pria itu dan beranjak pergi dari hadapan Jesselyn. Setelah pria itu pergi, Jodi segera mendekat dan berhenti tepat dihadapan Jesselyn, sambil membunyikan pelan klakson mobilnya.


"Butuh tumpangan?" Jodi membuka kaca mobilnya.


"Jodi? Kamu ngapain disini?" Jesselyn terkejut melihatnya.


"Duh... Gimana ini, Jodi ada disini lagi, dia lihat gak yah tadi, waktu aku berduaan dengan om Dika" dalam hatinya, Jesselyn cukup panik.


"Kamu tenang Jesselyn...! Semoga aja Jodi tidak melihat itu" Jesselyn mencoba menenangkan dirinya sambil setengah berharap.


"Gimana, Jes, mau gak?" Tanya Jodi.


"Ya udah deh, aku mau, lagian gak ada kendaraan umum yang lewat sini" Jesselyn pun terpaksa menerima tawaran Jodi. Mobil Jodi beranjak pergi dari tempat tersebut, setelah Jesselyn naik. Jodi dan Jesselyn saling diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Jes, kamu ngapain di tempat itu, dengan pakaian yang minim kayak gini lagi, kamu gak risih apa dengan pakaian seperti itu" Jodi membuka pembicaraan, setelah beberapa saat mereka saling diam.


"Duh.... Aku harus jawab apa coba, bingung aku. Kenapa juga harus ketemu Jodi sih, kan ribet gini jadinya" Runtuk Jesselyn.


"Mmm.... Itu, Jod, abis ketemu teman lama, dia baru datang dari luar kota sejam yang lalu" Jesselyn beralasan. Jodi mengangguk sambil tersenyum, saat mendengar jawaban Jesselyn.


"Kamu kenapa, senyum-senyum gitu?" Tanya Jesselyn.


"Kamu yakin, abis ketemu teman dengan rambut acak-acakan gini" kata Jodi, seolah ingin memojokkan Jesselyn.


"Aduh... Aku lupa lagi, rapikan rambut aku sebelum keluar dari kamar tadi" batin Jesselyn. Jesselyn bingung harus jawab apa dan saat itu, tidak menemukan alasan yang masuk akal.


"Udah... Udah, gak usah dijawab, kamu pasti udah ngantuk banget, jadi, gak bisa berpikir kan" kata Jodi.


"I... Iya, Jod, aku ju... Juga mau ngomong se.... Seperti itu" Jesselyn tergeragap.


"Jes, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" kata Jodi.


"Dari tadi kamu udah ngomong kan, mau ngomong apa lagi sih" Jesselyn sedikit ketus.


"Gini, teman aku punya teman, di pengusaha besar di Jakarta. Selama 2 minggu ini dia liburan disini. Nah... Dia itu butuh cewek yang bisa diajak senang-senang gitu" Jodi mengutarakan niat awalnya itu.


"Aku mau kamu yang temani dia, dia akan bayar kamu dengan tarif 500rb semalam" lanjut Jodi.


"Maksudnya, kamu mau jual aku ke temannya teman kamu itu! Gila kamu, Jodi!" Jesselyn menatap Jodi tajam.


"Kamu gak usah sok marah gitu deh, Jes, kamu pasti udah biasa kan dengan hal-hal yang kayak gitu" Jodi tersenyum, sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kalau kamu gak mau, gak masalah, tapi, jangan salahkan aku kalau video ini tersebar luas di sosmed dan semua orang akan tahu kelakuan kamu yang sebenarnya, termasuk anak-anak dan semua guru disekolah" Jodi menunjukkan sebuah video pada Jesselyn. Jesselyn terkejut melihat video tersebut. Jesselyn tidak menyangka, Jodi sempat merekam kejadian tersebut.


"Apa yang aku takutkan tadi, benar-benar kejadian, ternyata Jodi melihat semuanya. Gawat ini kalau video yang ada di handphone Jodi itu sampai tersebar, aku pasti akan dikeluarkan dari sekolah dan masa depanku akan hancur. Siak banget sih! Pake ketahuan gini lagi sama Jodi" runtuk Jesselyn kesal.

__ADS_1


__ADS_2