My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Hanya Ingin Membalas Kebaikan Winda


__ADS_3

Fahmi dan Kinan berbakat menuju sekolahnya. 45 menit kemudian, mereka sampai disekolah. Setelah memarkirkan sepedanya, mereka berjalan menuju kelas masing-masing.


"Oke, Fahmi, aku ke kelas duluan yah, nanti ketemu di kantin pas jam istirahat, ada hak yang mau aku sampaikan, see you" Kinan berlalu pergi.


*Handphone Fahmi berdering*


"Iya, Win, ada apa?" Tanya Fahmi saat menjawab panggilan dari Winda.


"Aku cuma mau ingatkan, kamu jangan lupa tugas yang aku kasi kemarin" kata Winda.


"Iya, Win, aku ingat kok soal itu" jawab Fahmi.


"Oke deh kalau gitu, aku tunggu infonya, bye" Winda pun memutus telponnya.


"Sebenarnya sih aku gak mau, terlibat dalam masalah ini, cuma aku kasihan juga sama Winda, apalagi dia selama ini baik banget sama aku, gak enak juga nolak permintaan dia" batin Fahmi.


"Ya udahlah, lakukan saja, toh cuma satu kali ini aja" pikir Fahmi.


"Hey, Mi! Ngapain bengong disini?" Seseorang menghampirinya.


"Eh... Jesselyn, hai, Jes" Fahmi menoleh dan terlihat sedikit salah tingkah.


"Wih.... Mi, kamu punya handphone sekarang? Mana handphone kamu bagus banget lagi" Jesselyn kagum dengan handphone yang dipegang Fahmi.


"Eh... Oh... Ini bukan handphone aku, tapi, punya teman aku, dia pinjamkan handphone untuk keperluan bisnis, aku bagian antar pesanan Pake sepeda aku" Fahmi beralasan. Jesselyn mengangguk-angguk.


"Udah, yuk, kayak kelas sekarang, sekalian aku mau nyontek PR yang kemarin, belum sempat ngerjain soalnya, maklum kalau sore sampai malam aku kerja, pulangnya tengah malam, bahkan terkadang sampai subuh" Jesselyn menarik tangan Fahmi menuju kelas.


"Kamu.... Kerja, Jes? Kerja apa'an?" Tanya Fahmi yang terlihat penasaran.


"Aduh... Aku lupa, Fahmi kan gak tahu kalau aku kerja, bisa malu aku kalau Fahmi tahu kerjaan aku yang sebenarnya" batin Jesselyn.


"Itu... Aku kerjanya bareng teman, jualan gitu loh, tapi, jualannya online, jadi kadang selesainya bisa sampai gitu lah" Jesselyn beralasan.

__ADS_1


"Eh.... Jesselyn, kesayangan aku" Jodi menghadangnya depan pintu kelas.


"Ini apa-apa'an sih, pake pegangan tangan gini" Jodi terlihat kesal dan melepaskan genggaman tangan Jesselyn dari Fahmi.


"Kenapa jadi kamu yang marah sih" Jesselyn heran melihat tingkah Jodi.


"Dengar yah, Jodi, kamu itu bukan siapa-siapa aku, jadi, kamu gak punya hak untuk marah-marah gitu" Jesselyn terlihat kesal.


"Tapi, aku gak suka, sayang, kamu dekat-dekat dengan si cowok miskin ini, gak selevel sama kamu, mendingan juga sama aku, yang jelas-jelas selevel" kata Jodi.


"Terserah aku mau dekat sama siapa aja, kamu gak bisa larang-larang aku, yuk, kita masuk, Mi" Jesselyn menarik tangan Fahmi, masuk kedalam kelas, berlalu dari hadapan Jodi.


"Awas kamu, Fahmi, gara-gara kamu, Jesselyn cuekin aku, aku akan bikin perhitungan sama kamu, Fahmi" Jodi geram, sambil mengepalkan tangannya.


"Woy... Fahmi! Berani yah kamu dekati Jesselyn, emangnya kamu sanggup untuk bersaing sama aku untuk dapatkan Jesselyn? Emang kamu punya apa, sampai berani dekati dia!" Jodi menatap Fahmi dengan tatapan angkuh.


"Kamu salah paham, Jod, aku gak ada niatan untuk dekati Jesselyn, cuma tadi Jesselyn mau pinjam buku aku aja, gak ada yang lain" Fahmi mencoba menjelaskan.


"Kamu tenang aja, Jod, aku gak bakal dekati Jesselyn" kata Fahmi sambil menyentuh pundak Jodi.


"Cih...! Singkirkan tanganmu, kotor nanti bajuku" Jodi menepiskan tangan Fahmi dari pundaknya.


"Udah, aku malas dekat-dekat kamu, mending aku di dekat Jesselyn, yang lebih selevel sama aku" Jodi berlalu dari hadapan Fahmi.


"Mi, ngapain si cowok sombong itu? Aku tadi lihat dari kejauhan" seseorang menghampiri Fahmi.


"Eh... Kamu, Nan, gak ada kok, cuma ngobrol biasa aja" Fahmi menoleh kearah Kinan.


"Oh iya, Nan, tadi katanya mau omongin sesuatu, mau ngomong apa?" Fahmi duduk di bangku, tepat di depan Kinan.


"Oh... Itu, tunggu bentar, aku mau pesan makan dulu, kamu tunggu sini aja" kata Kinan. Selang beberapa saat, Kinan datang dengan dua mangkok bakso ditangannya.


"Waduh... Nan, porsi makan kamu banyak juga yah, 2 mangkok sekaligus" Fahmi terkejut.

__ADS_1


"Gak sebanyak itu juga, Mi, ini sekalian aku pesan untuk kamu juga" kata Kinan, menyodorkan semangkok bakso.


"Kamu kok repot gitu sih, aku kan bisa pesan sendiri" kata Fahmi dan mengambil mangkok yang dibawa Kinan.


"Eh... Bunyi apa'an tuh, Mi" Kinan mendengar sesuatu.


"Bentar, Nan" Fahmi merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone.


"Itu handphone kamu, Mi?" Tanya Kinan.


"Bukan, ini punya teman aku, Winda. Dia ngasi tugas ke aku untuk mata-matai Jesselyn, aku harus ngasi tahu setiap gerak gerik Jesselyn, termasuk saat disekolah juga" terang Fahmi.


"Kamu kok mau sih, lakukan hal itu, beresiko banget tahu gak" kata Kinan, yang wajahnya sedikit menegang setelah mendengar penjelasan Fahmi.


"Kalau kamu sampai ketahuan sama si Jesselyn, kamu mata-matai dia, dia pasti bakal marah sama kamu, bahkan kamu dimusuhi, yang ada kamu malah nyari masalah sendiri" lanjut Kinan.


"Fahmi, aku minta kamu jangan lakukan itu, kamu itu lelaki yang baik, aku gak mau kebaikan kamu ini malah dimanfaatkan oleh orang lain, yang secara tidak langsung akan menjerumuskan kamu kedalam masalah baru" Kinan seolah peduli pada Fahmi.


"Aku juga gak mau lakukan itu, cuma aku gak enak aja kalau nolak permintaan dia, apalagi dia juga udah banyak bantuin aku, aku terpaksa mengiyakan dan menuruti permintaannya itu" Fahmi mengutarakan alasannya.


"Terus, aku harus bagaimana, Nan? Mana dia chat aku lagi, aku juga bingung mau jawab apa" Fahmi terlihat bingung.


"Sini, biar aku aja yang balas" Kinan mengambil handphone itu dari tangan Fahmi. Kinan membalas chat yang dikirimkan Winda tadi


"Nih... Udah aku balas nih" Kinan memberikannya kembali pada Fahmi.


"Pokoknya aku gak mau tahu, hari ini juga kamu harus balikin handphone itu ke Winda" kata Kinan dengan tegas.


"Kalau kamu gak balikin, aku gak bakal bantuin kamu, kalau nanti terkena masalah gara-gara ini" Kinan menambahkan.


"Iya... Iya, Nan, aku bakal balikin ini ke Winda, aku akan temui dia pas jam pulang sekolah" jawab Fahmi.


"Aku itu peduli sama kamu, Mi, aku gak mau orang lain memanfaatkan kamu untuk kepentingan pribadi orang lain, seperti yang saat ini dilakukan oleh Winda itu. Aku bukannya mau marah ke kamu atau apa, cuma aku gak mau kamu terlibat dalam masalah yang seharusnya bukan menjadi urusan kamu" Kinan menjelaskannya. Fahmi mengerti apa yang telah disampaikan Kinan padanya.

__ADS_1


__ADS_2