My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Perjuangan


__ADS_3

5 menit. 10 menit. Setengah jam. Bahkan sampai satu jam belum ada satupun yang datang membeli dagangan Fahmi maupun gadis disampingnya.


"Kok belum ada juga yah yang datang kesini untuk beli barang dagangan kita" Fahmi mulai lelah menunggu.


"Sabar, namanya juga jualan, kita harus tenang, siapa tahu aja nanti ada yang datang, terus beli banyak atau sekaligus banyak yang antri disini, kita kan gak tahu, yang penting jangan patah semangat" ucap gadis itu dengan yakin.


"Oh iya, sedari tadi kita belum kenalan, namaku Kinan" gadis itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya pada Fahmi.


"Aku Fahmi" Fahmi menjabat tangan gadis itu.


"Fahmi, aku tinggal dulu bentar yah, aku mau beli sarapan di depan sana tuh, kalau misalkan ada yang mau beli daganganku, kamu tolong layanin yah, okey, aku gak lama kok" Kinan beranjak pergi. Tak berapa lama setelah Kinan pergi, satu persatu orang berdatangan membeli dagangan Kinan. Fahmi melayaninya satu persatu sampai selesai.


"Wah... Dagangannya Kinan langsung banyak yang laku, sedangkan dagangan aku belum ada satupun yang laku" Fahmi mulai risau.


Hari sudah mulai siang. Matahari sudah mulai meninggi, namun dagangan Fahmi masih utuh. 45 menit kemudian, Kinan akhirnya datang.


"Duh.... Maaf yah, Fahmi, tadi disana antriannya cukup panjang, terus ketemu temanku juga, kita keasyikan ngobrol, jadi, lupa waktu gini" terang Kinan.


"Gimana, udah ada yang laku?" Tanya Kinan.


"Kalau dagangan pakaian kamu tadi ada beberapa yang beli, kue pukis kamu tinggal dua bungkus lagi, sementara daganganku masih utuh" Fahmi terlihat sedih, karena dagangannya belum ada satupun yang laku.


"Oh iya, nih sarapan buat kamu" Kinan memberikan pada Fahmi.


"Gak usah, Kinan, kalau lapar gampang lah, tinggal makan dua potong pisang gorengku ini udah kenyang kok" Fahmi menolak.


"Udah, gak apa-apa, ini sebagai ucapan terima kasih karena udah bantu jagain dan jualin daganganku juga, ini rejekimu, gak baik loh nolak rejeki" Kinan kembali menyodorkannya pada Fahmi.


"Ya udah kalau gitu, makasih yah, Kinan" Fahmi akhirnya mau menerima pemberian Kinan.


"Duduk sini dekat aku" Kinan meminta Fahmi duduk disampingnya. Baru saja Fahmi makan sesuap, ada seorang gadis yang datang ingin membeli dagangannya.


"Mas, beli pisang gorengnya dong" katanya. Fahmi berdiri dan menghampirinya.


"Mau beli berapa, mbak?" Fahmi menyiapkan kantongan.


"Aku beli semuanya, berapa?" Tanyanya sambil merogoh saku celananya.

__ADS_1


"Mbak serius mau beli semuanya?" Fahmi terkejut mendengarnya dan seolah tidak percaya.


"Iya, serius" jawabnya singkat.


"Semuanya 50 ribu, tapi, pisang gorengnya udah dingin, gak apa-apa" kata Fahmi.


"Gak apa-apa, gampang itu, nanti tinggal dihangatkan lagi pas udah nyampe dirumah" katanya santai.


"Nih... Uangnya, makasih yah" gadis itu membawa pesanannya, menyerahkan uangnya pada Fahmi dan langsung beranjak pergi.


"Eh... Mbak! Kembaliannya belum!" Fahmi memanggil gadis tadi, ingin memberikan uang kembaliannya.


"Ambil aja, buat masnya!" Teriaknya.


"Alhamdulillah, terima kasih atas rejeki yang Engkau berikan pada hamba hari ini, ya Allah" Fahmi berucap syukur.


"Tuh... Apa aku bilang, kuncinya itu sabar, kalau emang rejeki gak akan kemana" kata Kinan.


"Iya, benar kata kamu, Kinan, akunya aja tadi yang kurang tenang" Fahmi membenarkan perkataan Kinan.


Selang 1 jam kemudian, satu persatu pedagang mulai berkemas dan bersiap untuk pulang kerumah masing-masing.


"Iya, aku bawa mobil, maksudnya mobil temanku, dia pinjamkan mobilnya ke aku buat jualan disini" jawab Kinan.


"Wihh.... Baik banget teman kamu itu, mau pinjamkan mobilnya ke kamu, jarang loh ada teman yang seperti itu" ucap Fahmi. Kinan hanya tersenyum.


"Hahaha.....! Dasar orang miskin yah, dimana ada keramaian, pasti pada jualan. Beda emang sama aku yang tajir, mau belanja apa aja tinggal beli aja, beda sama kalian, harus capek-capek kerja buat belanja, itupun juga masih nyari yang termurah kali yah" seseorang menghampiri keduanya sambil tertawa, mengejek Kinan dan juga Fahmi.


"Eh... Jodi, kamu mau beli apa?" Tanya Fahmi yang masih berusaha ramah padanya.


"Sorry, aku gak level sama yang ginian, aku alergi sama barang-barang murahan gini, aku biasanya belanja itu di butik yang mahal, yang aku yakin kamu gak akan sanggup belinya" ucapnya dengan tatapan meremehkan. Kinan yang mendengarnya sedari tadi, merasa begitu geram. Kinan mengepalkan tangannya dan ingin langsung mengarahkannya ke wajah Jodi. Namun, Fahmi menahannya dan memberi isyarat untuk tidak melakukannya.


"Heh! Kalau kamu gak mau belanja disini gak apa-apa, tapi, jangan kamu hina barang dagangan kita berdua!" Kinan menatap tajam.


"Kamu boleh, punya uang banyak, punya barang-barang mewah dan mau kemana aja bisa, tapi, semuanya itu terasa percuma kalau kamu dapatkan itu dengan hanya meminta pada orang tuaku dan hanya mengandalkan hartanya. Harusnya kamu tuh malu dengan orang seperti Fahmi ini, biarpun hasilnya gak sebanyak uang jajan kamu, tapi, dia dapatkan dengan hasil keringat sendiri, bukan karena minta sama orang tua. Ingat, harta berlimpah itu bisa habis kalau semata pengeluaran saja tanpa adanya pemasukan" lanjut Kinan.


"Ini nih, senjatanya orang miskin, ceramahi orang. Lebih baik aku pergi, aku malas lama disini" Jodi pun beranjak pergi.

__ADS_1


"Itu orang singing banget sih, mana gayanya selangit lagi, rasanya pengen aku gampar mulutnya itu" Kinan masih merasa kesal.


"Udah.... Udah, gak perlu buang-buang energi untuk layani orang kayak dia" Fahmi mencoba menenangkan Kinan.


"Dia itu siapa sih? Kayaknya dia tahu banget tentang kehidupan kamu?" Tanya Kinan penasaran.


"Jodi, teman aku sejak SMP sampai sekarang SMA, satu sekolah bahkan satu kelas sama dia. Dia emang kayak gitu orangnya, gak pernah bisa hargain orang lain, karena dia selalu mengandalkan kekayaan orang tuanya untuk menindas orang lain yang secara status ekonomi, jauh dibawah dia" terang Fahmi dan sudah biasa dengan sikap angkuh Jodi.


"Kinan, yuk, balik sekarang, pedagang lain udah banyak yang cabut tuh, malah asik ngobrol disini kamu" seseorang menghampiri.


"Eh... Iya, Ras, aku sampai lupa" Kinan menoleh.


"Ya udah, yuk, tuh mobil di depan, jadi, gak perlu jauh angkatnya" gadis itu membantu membereskan barang dagangan Kinan. Kinan membereskan yang lainnya, dibantu oleh Fahmi.


"Udah gak ada lagi kan yang ketinggalan?" Tanyanya.


"Sepertinya sih udah gak deh, Ras" jawab Kinan.


"Oh iya, Ras, kenalin ini Fahmi, yang tadi aku bilang, dia yang bantu aku jualan juga, dan Fahmi, ini Laras, teman aku yang menjamin mobilnya ini" Kinan memperkenalkan keduanya satu sama lain. Keduanya saling berjabat tangan sambil tersenyum.


"Oh iya, Fahmi, aku punya penawaran buat kamu" kata Kinan.


"Penawaran apa itu?" Tanya Fahmi yang terlihat makin bingung.


"Gini, di distro itu lagi butuh karyawan, kamu mau gak kerja di distro?" Tanya Kinan.


"Tapi, aku kan sekolah, aku sih mau aja terima tawaran kamu itu" jawab Fahmi.


"Kamu tenang aja, kamu masuknya jam 2 siang. Kamu pulangnya jam 1 kan, setelah pulang sekolah kamu ke distro deh, kamu kerjanya sampai jam 8 malam" terang Kinan.


"Terus kalau soal gaji, sebulan kamu dibayar 1.5 juta dan seminggu sekali kamu libur" lanjut Kinan.


"Iya, Kinan, aku mau, paling tidak bisa ringankan beban orang tuaku juga, makasih yah, Kinan" Fahmi terlihat sangat senang.


"Ya udah kalau gitu, ini kartu nama, disitu ada alamatnya, kamu langsung kesitu aja dan besok bisa langsung kerja" Kinan memberikan kartu nama pada Fahmi. Fahmi hanya mengangguk.


"Oke, kalau gitu, aku sama Laras pamit yah, sampai ketemu lagi. Kalau misalkan kita bertemu lagi, aku akan berikan sesuatu sama kamu" ucap Kinan, lalu masuk ke mobil dan perlahan jalan menjauh dari hadapan Fahmi.

__ADS_1


"Aku belum pernah bertemu dengan gadis yang baik hati dan santun seperti Kinan, kuharap Kinan bisa jadi sahabatku, karena sepertinya Kinan itu tulus, dia tidak memandang seseorang dari status sosialnya. Berbeda dengan teman-teman sekolahku, mereka hanya mau berteman dengan yang punya banyak uang" batin Fahmi.


__ADS_2