My Girl, My Inspiration

My Girl, My Inspiration
Hari Pertama Fahmi Kerja Di Distro


__ADS_3

Tepat jam 2 siang, Fahmi sampai di distro yang dimaksud Kinan, lengkap dengan seragam yang diberikan Kinan tadi.


"Eh... Fahmi, kamu udah datang, sini, biaraku jelaskan tugas kamu" Kinan menyambutnya dan meminta Fahmi mendekat padanya.


"Maaf nih, yang punya distro ini mana yah? Aku cuma mau ucapkan terima kasih udah ngasi kesempatan buat aku kerja disini" mata Fahmi mencari-cari orang yang dia maksud.


"Ini dia yang berdiri didepan kamu" kata Kinan spontan.


"Aduh... Aku pake keceplosan lagi, aku kan lagi nyamar" runtuk Kinan.


"Eh... Gak, maksudnya, yang berdiri di depan kamu ini, diberi kepercayaan untuk kelola distro ini sama yang punya, gitu maksud aku, Mi" Kinan beralasan.


"Untung aja aku bisa berpikir cepat, untuk menemukan alasan yang tepat dan tidak membuat Fahmi curiga sama aku" Kinan merasa lega.


"Belum saatnya Fahmi tahu tentang jati dirimu yang sebenarnya. Aku akan mengatakannya jika waktu itu tiba" batin Kinan.


"Oh... Gitu" Fahmi menganggukkan kepalanya.


"Oke, kita balik lagi bahas soal kerjaan kamu. Jadi, tugas kamu anterin pesanan, kalau ada yang pesan via online, kalau gak ada pesanan yang dianterin, kamu bantuin juga layani pembeli yang datang kesini, ngerti kan" Kinan menjelaskan pada Fahmi, tugas yang harus dikerjakannya.


"Terus anterinnya naik apa? Naik sepeda aku aja atau gimana?" Tanya Fahmi.


"Kalau soal itu, kamu naik motornya anterinnya, ada di dalam gudang samping toko, kalau udah selesai kamu pakai, kamu masukkan kembali ke gudang" jawab Kinan.


"Nan, laporan yang Minggu lalu, udah aku kirim ke Email kamu" kata Laras yang baru datang.


"Iya, Ras, aku udah cek kok, thanks yah" jawab Kinan singkat.


"Fahmi ini kerja disini, Nan?" Tanya Laras sambil melirik kearah Fahmi dan melihat baju yang dipakainya.


"Iya, Ras, Fahmi akan jadi kurir kita. Kita gak perlu lagi pake jasa ojek online" terang Kinan.

__ADS_1


"Tapi, Nan, Fahmi kan gak punya SIM, nanti kalau misalkan nih, dia lagi anter pesanan ke customer, terus dia ditilang polisi gimana? Malah jadi masalah" kata Laras.


"Iya, Nan, benar kata Laras, aku belum punya SIM, umur aku juga belum cukup untuk bikin SIM" Fahmi membenarkan perkataan Laras.


"Tenang, aku berpikir selangkah didepan kalian, soal itu sudah aku siapkan juga, nih SIM kamu" Kinan memberikan SIM pada Fahmi.


"Haah! Kok bisa, tiba-tiba ada SIM" Laras terlihat heran.


"Oh... Jadi itu alasannya, kamu minta data aku, untuk bikin SIM ini ternyata" kata Fahmi.


"Sekarang, kamu Laras, pesanan yang harus diantar ke customer. Fahmi, kamu siapkan motor untuk anterin semua pesanan itu" Kinan memberi instruksi pada keduanya.


"Pesanan hari ini, ada 5 paket yang diantarkan. Pastikan ini semua sesuai dengan yang tertera disitu. Kalau misalkan kamu gak dapat alamatnya atau misalkan yang punya gak ada dirumahnya, kamu telpon nomor yang tertera disini, kamu ngerti kan" Laras memberi penjelasan, perihal tugas yang harus dikerjakan Fahmi. Fahmi hanya mengangguk.


"Oke, kamu jalan deh sekarang, tuh pesanannya diatas meja" Laras menunjuk dengan dagunya. Fahmi segera melaksanakan tugasnya tersebut. Setelah semuanya sudah siap, Fahmi pun berangkat dan memulai tugasnya.


"Nan, aku masih penasaran deh, kenapa sih kamu itu pekerjakan Fahmi disini? Kenapa gak yang lain aja gitu, yang sedikit berpengalaman" tanya Laras.


"Apa jangan-jangan kamu suka lagi sama Fahmi" Laras menerka.


"Kalau soal perasaanku ke Fahmi, biar waktu yang menjawab semuanya" lanjut Kinan.


-


"Oke, sekarang, aku anterin ini dulu kali yah, pesanan Mbak Lena, alamatnya jalan Manggis no. 14, ini sih gak jauh dari sini" Fahmi segera menuju kerumah customer pertama. 15 menit kemudian, Fahmi sampai ditujuannya.


"Permisi...! Paket...!" Fahmi berteriak depan pagar. Tak berapa lama kemudian, seseorang membuka pintu dan menghampiri Fahmi di depan pagar.


"Iya, mas, ada apa?" Tanyanya.


"Ini, paket untuk mbak Lena" kata Fahmi.

__ADS_1


"Oh... Iya, mas, makasih yah" seseorang itu menerima paket tersebut.


"Paket yang pertama sudah selesai, tinggal 4 lagi" Fahmi melanjutkannya menuju ke tujuan berikutnya.


"Nan, nih ada surat buat kamu" Laras mengeluarkan sepucuk surat dari tasnya dan memberikannya pada Kinan.


"Surat dari siapa, Ras?" Tanya Kinan saat menerima surat tersebut.


"Dari Mirza, Nan, tadi dia ngasi surat itu waktu disekolah" kata Laras. Tanpa membuka dan membaca isi surat tersebut, Kinan langsung merobeknya, lalu membuangnya ke tempat sampah didekatnya.


"Loh... Nan, kok malah kamu robek surat itu, baca dulu isinya" kata Laras.


"Udahlah, Ras, isinya pasti gak penting, aku gak mau lagi lihat apapun yang ada hubungannya dengan cowok itu!" jawab Kinan dengan tegas.


"Nan, kamu itu kenapa sih? Bersikap kayak gini ke Mirza, kayak tadi pagi, kamu nolak ajakan Mirza berangkat bareng ke sekolah, malah milih bareng sama Fahmi" Laras heran melihat perubahan sikap Kinan pada Mirza belakangan ini.


"Apa kamu lupa dengan yang dia lakukan ke aku? Sekarang kamu masih nanya kenapa? Atau kamu pura-pura lupa?" Kinan menatap Laras dengan tatapan marah.


"Yaelah, itu kan udah lama juga kejadiannya, lupakan aja lah, ngapain diingat-ingat lagi" kata Laras santai.


"Enak banget kamu ngomong, coba kalau misalkan kamu yang berada diposisiku, gimana kira-kira perasaan kamu, apa kamu gak akan merasa sakit dan membekas di hatimu" Kinan kesal dengan perkataan yang diucapkan Laras.


"Tunggu dulu deh, Ras, kamu itu sebenarnya sahabat aku atau bukan sih, kamu itu seolah-olah berpihak ke Mirza, kamu udah disogok berapa sama dia!" Kinan memelototi.


"Oh... Jadi kamu sekarang udah tega tuduh aku seperti itu, kamu udah berubah, Nan, sejak kamu kenal sama si Fahmi itu" amarah Laras pun mulai naik.


"Kamu gak usah bawa-bawa Fahmi dalam masalah ini, gak ada sangkut pautnya sama sekali. Ini nih yang aku gak suka dari kamu, selalu membawa orang lain yang gak ada kaitannya sama sekali dengan masalah yang sedang kita bahas ini" wajah Kinan masih menegang. Tanpa berkata apa-apa lagi, Laras langsung beranjak pergi dari hadapan Kinan.


"Eh... Laras, mau kemana?" Tanya Fahmi, saat berpapasan dengan Laras. Laras hanya menatap Fahmi, lalu berlalu begitu saja, tanpa merespon Fahmi sedikitpun.


"Itu Laras kenapa yah? Kayak orang yang lagi marah gitu mukanya!" Fahmi bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


"Nan, aku ketemu Laras didepan, tapi, kok mukanya kayak lagi marah, ada apa yah dengan dia?" Tanya Fahmi saat menghampiri Kinan dimejanya.


"Udahlah, Mi, biarin aja, nanti juga bakal baik sendiri kalau marahnya udah mereda" Kinan seolah tidak peduli.


__ADS_2