
"Udah ah, kita kembali bahas soal kerjaan. Berhubung kamu udah resmi jadi Store Manager, jadi, mulai besok kamu gak usah kesini lagi, kamu langsung ke cabang kita, ini alamatnya dan ini kunci motor, kamu pake motor itu biar memudahkan kamu bekerja, aku harap kamu tetap pertahankan kerja bagus kamu ini yah" harap Kinan.
"Iya, Nan, aku janji akan bekerja sebaik mungkin dan gak akan mengecewakan kamu, yang udah ngasi kepercayaan sebesar ini sama aku" kata Fahmi meyakinkan.
"Iya, aku percaya sama kamu, Mi" Kinan tersenyum.
"Ya udah, aku balik yah, sekalian aku mau ngasi tahu kabar gembira ini sama ibu dan ayahku" Fahmi bergegas keluar dari ruangan Kinan.
"Nan, terus langkah kamu berikutnya apa? Apa kamu akan ungkapkan perasaan kamu ke dia?" Tanya Laras, saat Fahmi sudah pergi.
"Belum saatnya, Ras. Emang sih aku suka sama Fahmi, cuma aku belum siap menjalin hubungan lagi dengan laki-laki, aku belum bisa menghilangkan rasa trauma itu, meskipun aku tahu kalau Fahmi itu beda dengan laki-laki diluar sana yang aku kenal selama ini, cuma aku masih butuh waktu lagi" dalam hatinya, Kinan masih belum siap untuk menjalin hubungan baru dengan laki-laki.
"Iya, Nan, aku paham gimana perasaanmu, tapi, jangan kelamaan juga, yang ada cintamu berada dalam diam dan tidak terungkap, sampai pada akhirnya si dia ditaksir orang" Laras mengingatkan.
"Ihh... Kok doainnya kayak gitu sih, Ras" Kinan cemberut mengerucutkan bibirnya.
"Bukan doain, cuma aku ingetin aja, jangan sampai karena kelamaan pendam perasaan kamu, Fahmi keburu ditaksir orang yang lebih agresif dari kamu, mereka jadian bahkan sampai nikah, pupus sudah harapan kamu" jawab Laras.
"Assalamualaikum! Bapak! Ibu!" Fahmi berteriak di depan pintu.
"Waalaikumsalam! Kamu kok datang-datang udah teriak gitu, ada apa?" Ibunya menjawab salam Fahmi dan menghampirinya keluar.
"Bu, bapak mana?" Tanya Fahmi.
"Bapak kamu masih disalah, seperti biasanya kan, sore baru balik, ada apa kamu nyari bapak?" Ibunya berbalik bertanya.
"Aku ada kabar gembira. Jadi, yang punya distro tempat aku kerja itu mengumumkan kalau dia buka cabang, bu, nah... Disitu aku ditunjuk sebagai Store Manager, yang bertanggung jawab untuk mengelola toko itu, aku senang banget, Bu, makanya aku cepat-cepat balik kesini mau ngasi tahu bapak sama ibu kabar ini" wajah Fahmi terlihat sangat bahagia.
"Alhamdulillah! Ibu senang dengarnya, nak" mata ibunya berkaca-kaca, saking senangnya.
"Iya, bu, ini juga berkat doa ibu dan Insya Allah, kedepannya kebutuhan keluarga kita semuanya akan terpenuhi, bahkan bisa bantu bapak sama ibu untuk bayar SPP aku" terang Fahmi.
"Assalamualaikum! Bu Rahmi, Fahmi" seseorang datang dan mengucap salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam!" Fahmi dan ibunya menjawab bersamaan.
"Mang Hedi, ada apa?" Tanya Fahmi.
"Itu, bapak kamu, tiba-tiba pingsan di sawah dan sekarang para warga sudah membawanya ke rumah sakit terdekat, buruan" terangnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Fahmi dan juga ibunya segera menuju ke rumah sakit.
Jarak antara rumahnya dengan rumah sakit berjarak 1 Km. Sesampainya di rumah sakit, Fahmi dan juga ibunya langsung menghampiri kerumunan orang yang menunggu diruang tunggu.
"Bapak-bapak semua, gimana keadaan bapak saya?" Tanya Fahmi.
"Belum ada kabar dari dokter yang menangani" jawab salah satunya.
"Gimana ceritanya, bapak bisa pingsan?" Fahmi penasaran.
"Gak tahu juga, Fahmi, tiba-tiba aja, bapak kamu pingsan, kita gak tahu harus ngapain, jadinya kita bawa kesini, takut terjadi apa-apa" jelasnya.
"Kalau gitu, kita semua pamit yah, masih banyak pekerjaan di sawah yang harus dikerjakan" katanya, mewakili yang lainnya.
"Sekali kali terima kasih yah, bapak-bapak semua" kata Fahmi.
"Kita doakan semoga bapak bisa cepat sadar yah, nak" ibunya mengelus punggung Fahmi.
"Astaghfirullah! Aku lupa lagi!" Kinan menepuk jidatnya.
"Ada apa, Nan?" Tanya Laras penasaran.
"Ini aku lupa ngasi STNK motor yang dipakai Fahmi itu, bahaya kalau misalkan ada pemeriksaan dijalan, Fahmi bisa kena tilang" jawab Kinan.
"Kamu tuh kebiasaan deh, ya udah sana anterin kerumahnya, urusan distro biar aku aja" kata Laras.
"Ya udah, aku keluar bentar yah, Ras" Kinan beranjak keluar.
"Assalamualaikum! Fahmi....!" Kinan mengetuk pintu rumah Fahmi, begitu dia sampai.
__ADS_1
"Neng, cari Fahmi yah?" Tanya seseorang yang kebetulan lewat depan rumah Fahmi.
"Iya, bu, aku temannya Fahmi, Fahmi kemana yah? Kok sepi gini rumahnya?" Kinan berbalik bertanya.
"Fahmi sama ibunya ke rumah sakit, katanya bapaknya Fahmi tiba-tiba pingsan waktu kerja di sawah dan langsung dibawa kesana, kalau neng mau, susul aja kesana, rumah sakitnya gak terlalu jauh kok dari sini, permisi, neng" jelasnya dan berlalu pergi.
"Aku susulin aja deh, lagian juga ini hal yang penting" pikir Kinan dan segera bergegas menuju ke puskesmas.
30 menit kemudian, Kinan sampai di rumah sakit. Kinan langsung menghampiri Fahmi dan juga ibunya yang tengah menunggu di ruang tunggu.
"Assalamualaikum Fahmi!" Kinan mengucap salam.
"Waalaikumsalam!" Fahmi dan ibunya menjawab salam, menoleh kearah Kinan.
"Loh... Kinan, kamu ngapain disini?" Tanya Fahmi.
"Aku tadi abis dari rumah kamu, maksudnya mau anterin STNK ini, aku lupa ngasi tadi, terus ada yang kebetulan lewat depan rumah kamu, ngasi tahu aku, kalau kamu sama ibumu ke rumah sakit, jadi, aku susul kesini aja" jelas Kinan.
"Oh iya, bu, kenalin ini Kinan, yang aku ceritakan itu, yang ngasi kerjaan di distro itu" Fahmi memperkenalkan Kinan pada ibunya. Kinan menjabat tangan ibu Fahmi.
"Oh iya, gimana bapak kamu, Mi? Udah ada kabar dari dokter?" Tanya Kinan. Fahmi menggeleng.
"Kamu yang sabar yah, Mi, Insya Allah, bapak kamu bisa cepat sadar" Kinan mencoba menguatkan Fahmi. Fahmi hanya mengangguk. Sekitar 20 menit kemudian, dokter yang menangani, keluar dari ruang ICU.
"Dok, gimana keadaan bapak aku?" Tanya Fahmi, menghampiri dokter tersebut.
"Setelah dilakukan pemeriksaan, bapak kamu terkena penyakit jantung, itu yang membuat beliau tiba-tiba pingsan tadi. Namun, kami sudah berusaha semampu yang kami bisa, sayangnya bapak kamu tidak bisa diselamatkan, beliau sudah dipanggil oleh Allah, kami dari pihak rumah sakit turut berduka cita atas meninggalnya bapak kamu" terang dokter tersebut. Mendengar hal itu, tangis Fahmi dan juga ibunya pecah. Kinan pun turut bersedih atas apa yang menimpa keluarga Fahmi.
"Bapak kenapa pergi begitu cepat, bahkan aku belum sempat menyampaikan kabar gembira ini ke bapak!" Air mata Fahmi mengucur deras.
"Fahmi, aku turut berduka cita atas meninggalnya bapak kamu, semoga beliau tenang Disana dan amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT" Kinan duduk disamping Fahmi.
"Aku tahu gimana rasanya kehilangan sosok bapak, bapak aku juga udah meninggal 2 tahun yang lalu, rasanya sedih sekali dengan kepergian bapak, tapi, aku berpikir kalau semua yang ada di dunia ini milik Allah dan suatu saat akan kembali kepada-NYA. Emang berat sih, cuma kita sebagai manusia harus bisa ikhlas menerima setiap takdir yang telah ditentukan oleh Allah" Kinan seolah dapat merasakan bagaimana sedihnya kehilangan sosok bapak.
__ADS_1
Setelah mengurus semua administrasi rumah sakit, ayah Fahmi pun dikebumikan hari itu juga.
"Bapak, semoga bapak tenang di alam sana, aku sama ibu akan selalu mengirimkan doa untuk bapak, agar jalan bapak dimudahkan menuju surga, Amiin....