
"Gimana, Jes? Apa kamu akan tetap menolak dan menginginkan video ini tersebar atau mengikuti apa yang aku mau" Jodi memberikan pilihan pada Jesselyn, yang menurut Jesselyn tidak ada satupun diantara dua pilihan itu yang mengenakkan baginya.
"Oke... Oke, aku akan ikuti yang kamu katakan tadi" Jesselyn menerimanya dengan sangat terpaksa.
"Nah... Gitu dong, itu baru gadisku" raut wajah Jodi terlihat senang.
"Tapi, ingat, jangan sebarkan video itu pada siapapun" kata Jesselyn sambil mengacungkan telunjuknya kearah wajah Jodi.
"Iya, aku janji gak akan sebarkan video itu, tenang aja, rahasia kamu bakal aman deh pokoknya" jawab Jodi dengan meyakinkan.
"Sekarang kamu mau aku anterin kemana? Balik ke kost-an kamu atau ke tempat lain?" Tanya Jodi.
"Apa kamu mau tidur bersamaku malam ini" Jodi berbisik.
"Jangan gila kamu, Jodi!" Bentak Jesselyn.
"Berani kamu bentak kayak gitu yah, ingat, Jes, aku pegang kartu as kamu, sekali saja aku sebarkan ini, semua orang akan tahu, kamu mau itu terjadi" Jodi kembali mengancam Jesselyn.
"Ngeselin banget sih ini cowok, rasanya pengen aku cekik lehernya itu" batin Jesselyn yang keras begitu kesal pada Jodi.
"Tapi, untuk malam ini, aku gak mau juga kok, next time aja, kamu juga pasti masih capek kan abis digempur sama om-om itu kan" kata Jodi.
"Udah, kamu berhenti sekarang, aku turun disini aja" pinta Jesselyn. Jodi menurutinya dan menepikan mobilnya. Jesselyn pun langsung turun dan berjalan secepat mungkin, menjauh dari Jodi.
"Dia gak bisa apa-apa sekarang, aku punya senjata ini dan bisa aku gunakan kapanpun aku butuhkan, hahaha.....!" Jodi tertawa bahagia.
"Pa, setelah mama pikir, apa yang papa katakan itu ada benarnya dan mama setuju kalau papa mencabut semua fasilitas Jodi, biar ini bisa jadi pelajaran buat Jodi juga" kata mama Jodi.
"Mama serius? Mama gak lagi bercanda kan ini?" Tanya papa Jodi seolah tidak percaya dengan yang di dengarnya.
"Mama serius, pa, mama akan ikuti semua yang papa katakan, selama itu baik untuk anak kita, karena Jodi adalah satu-satunya anak kita" mama Jodi meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah kalau seperti itu, makasih yah, ma, papa senang dengarnya" papa Jodi tersenyum.
Jam 00:00, Jodi baru sampai dirumahnya, setelah mengantar Jesselyn ke kost-annya. Jodi mengendap-endap masuk lewat garasi, melewati dapur dan langsung menuju ke kamarnya.
"Aman.... Papa sama mama gak lihat aku" Jodi merasa lega.
"Oh iya, aku telpon Denis sekarang deh, biar cepat-cepat bisa ngabarin ke temannya itu" Jodi memencet nomor telpon Denis.
"Iya, Jod, ada apa?" Tanya Denis, begitu dia menjawab panggilan dari Jodi.
"Den, gue cuma mau ngabarin, kalau gue udah berhasil membujuk si Jesselyn dan dia mau katanya" kata Jodi.
"Good job, Jod, lo benar-benar hebat, cepat juga cara kerja lo, Jod" puji Denis.
"Iya dong, siapa dulu, Jodi gitu loh" Jodi membanggakan dirinya sendiri.
"ya udah, thanks yah, gue langsung kabari ke teman gue, supaya dia secepatnya transfer uangnya, okey" Denis pun mengakhiri panggilan.
"Jodi, papa mau ngomong serius sama kamu" papa Jodi memecah keheningan, setelah beberapa saat mereka saling diam.
"Ada apa sih, pa?" Tanya Jodi.
"Papa sama Mama sudah memutuskan untuk mencabut semua fasilitas kamu, termasuk mobil dan ATM kamu. Papa sama mama akan memberikan kamu uang jajan dan uang untuk kamu naik angkot ke sekolah" jelas papa Jodi.
"Kok papa gitu sih, jangan dong, Jodi mohon" pinta Jodi.
"Keputusan papa sama mama sudah bulat dan tidak akan berubah, kecuali kalau kamu bisa mengubah semua tingkah laku kamu Disekolah dan diluar sekolah, bisa lebih bijak dalam menggunakan uang, papa sama mama akan mengembalikan semuanya ke kamu" lanjut papa Jodi.
"Kenapa sih, papa sama mama lakukan itu!" Jodi menatap papa dan mamanya bergantian.
"Papa sama mama lakukan ini semua, untuk kamu juga, Jodi, papa sama mama ingin kamu menjadi lebih baik lagi, karena kelak kamu akan menjadi pemimpin dalam rumah tangga kamu, kalau kamu tidak belajar dari sekarang, kapan lagi gitu" mama Jodi menasehati.
__ADS_1
"Dan jangan pernah kamu menganggap papa sama mama ini tega sama kamu dan menganggap kami gak sayang sama kamu, papa dan mama sayang banget sama kamu, kami gak mau, kamu tumbuh menjadi anak yang manja, papa sama mama ingin kamu bisa menjadi dewasa dan mandiri, tanpa dibantu oleh papa dan mama" lanjut mama Jodi.
"Asal kamu tahu, Jodi, dulu, sebelum mama menikah dengan papa kamu, hidup mama itu gak seenak seperti sekarang, tapi, mama harus berjuang keras untuk bisa menggapai mimpi mama, yang sekarang bisa mama dapatkan. Begitupun juga papa, harus berjuang dari bawah untuk menggapai semua ini" papa Jodi menimpali.
"Itulah yang namanya proses dalam hidup, Jodi, gak ada tuh satu orangpun yang bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan orang lain, kamu harus belajar dari sekarang" lanjut papa Jodi. Tanpa berkata apapun, Jodi langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Sudah kuduga, kalau Jodi akan seperti itu" papa Jodi menggelengkan kepalanya.
"Yah... Mau gimana lagi, pa, emang Jodi seperti itu kalau gak dituruti kemauannya" mama Jodi memaklumi sikap Jodi tersebut.
Jesselyn terlihat resah dengan masalah yang tengah dia hadapi. Jesselyn terjebak dalam sebuah masalah yang dia mulai sendiri dan kini dia sulit untuk keluar dari masalah tersebut.
"Gimana ini sekarang? Mana Jodi udah terlanjur tahu lagi yang aku lakukan diluar sana. Awalnya aku gini juga cuma untuk nambahin uang jajan, karena uang yang dikirim orang tuaku itu kurang dari kata cukup" Jesselyn kebingungan dalam hatinya.
"Siapa yang bisa membantuku yah, aku juga belum bisa percaya sepenuhnya dengan teman-teman geng aku, apalagi aku tahu kalau mereka itu gak bisa menjaga rahasia. Cuma ada satu orang yang benar-benar bisa aku percayai, Fahmi, dialah orang yang tepat, karena dia pasti gak akan membocorkan rahasiaku ini" Jesselyn hanya kepikiran nama Fahmi karena menurutnya hanya Fahmi satu-satunya orang yang dia percaya.
"Jes, kamu ngapain sendirian disini?" Fahmi menghampiri Jesselyn yang duduk sendirian di pinggir lapangan.
"Jes, kamu baik-baik aja kan? Soalnya aku lihat kamu gak kayak biasanya, yang selalu ceria gitu" Fahmi terlihat sedikit khawatir dengan Jesselyn.
"Kalau kamu ada masalah atau apa, kamu cerita sama aku, siapa tahu aja aku bisa bantuin kamu" lanjut Fahmi.
"Iya, Mi, aku memang lagi ada masalah" kata Jesselyn.
"Ya udah, kamu cerita deh sama aku, aku siap dengerin" Fahmi duduk disamping Jesselyn dan siap mendengarkannya.
"Cuma aku gak bisa ceritakan disini, nanti aja yah, pulang sekolah, aku tunggu kamu di taman belakang sekolah" kata Jesselyn.
"Ya udah, aku masuk duluan yah, Mi" Jesselyn pun beranjak pergi, dengan langkah yang sedikit lunglai.
"Aku kasihan sama Jesselyn, sepertinya masalah yang dia hadapi ini, benar-benar berat" Fahmi merasa iba dengan Jesselyn.
__ADS_1