
"...Apa yang gue liat itu karung, ya?"
Pandangan Moza kosong. Ponselnya jatuh ke lantai. Gadis itu berlari menuju kamarnya, dan mengambil cardigan ungunya.
"Maaf, Bill. Aku ada urusan. Kamu minum aja dulu."
Moza paham siapa 'sepupu' yang Intan maksud.
Moza membanting pintu apartemennya, dan keluar tanpa membawa payung sama sekali. Padahal di luar, triliunan tetes air hujan tengah gencar menerjang tanah.
Gadis itu bahkan tak sempat melihat ekspresi Billy yang ia tinggalkan dengan keadaan masih berada di dalam apartemennya.
Moza berdiri di samping jalan raya, menunggu taksi yang siapa tahu lewat. Gadis itu hanya menutupi kening menggunakan tangan kanannya sebagai payung.
Walaupun hal itu tak berguna sama sekali, karena faktanya, seluruh tubuh Moza sudah basah kuyup.
Tapi sial. Tidak ada satu taksi pun yang lewat. Alhasil ia harus berlari menuju tempat ia meninggalkan Bad Boy sore tadi.
Moza... panik.
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Terengah-engah, Moza tidak dapat merasakan apa pun selain degup jantungnya yang semakin kencang akibat berlarian tadi.
Air hujan yang mengguyur, dan udara dingin yang menusuk kulit seolah Moza abaikan. Bahkan langit yang sudah mulai gelap tidak sedikit pun membuat Moza takut.
Namun... Moza tidak mengerti. Mengapa ia bisa berdiri di tempat gelap ini? Bahkan tubuhnya sampai basah diguyur air hujan yang sangat dingin.
Siapa yang Moza cari?
"M-M-Moza...?"
Entah mengapa, walau hujan deras tak henti mengguyur, Moza dapat mendengar dengan jelas suara parau serak itu.
Moza menoleh. Dan tepat di sampingnya nampak seorang lelaki dengan kaus putih lengan panjang, sedang terduduk.
Rambut terbelah dua milik lelaki itu sudah basah akibat hujan yang mengguyurnya. Kulit putih itu terlihat dingin, walau Moza tak menyentuhnya.
Laki-laki itu menerbitkan senyum di bibirnya yang pucat,
"Ya. Ini Moza...."
Jangan tanyakan mengapa Moza mau berlarian ke sini. Karena jujur saja Moza sendiri tidak tahu mengapa ia bisa sampai ke sini dan siapa yang ia cari.
Tidak mungkin Moza mencari penipu yang sudah ia tinggalkan tadi sore yang ternyata masih diam di tempat yang sama seolah sedang menunggunya.
"KAMU NGAPAIN MASIH DI SINI, SIH???!!"
__ADS_1
Suara Moza nyaris saja habis setelah meneriakkan itu. Ia benar-benar geram merasakan semua ini.
Tuhan... Sebenarnya apa tujuan orang ini? Mengapa lelaki itu sampai mau menunggunya, basah-basahan, dan bersandiwara seolah senang melihat Moza?
Penipu ini benar-benar membuat Moza kesal setengah mati.
"Mogi cuma lagi nunggu Moza," jawab Bad Boy dengan suara bergetar hebat akibat kedinginan.
Bad Boy tersenyum, "Tadi Moza nyuruh Mogi pulang duluan. Tapi Mogi lupa harus pulang ke mana. Jadi nunggu Moza di sini. Maaf, ya...." Laki-laki itu menggosok matanya yang terkena cipratan air hujan.
Moza mengacak-acak rambutnya frustrasi, "MOGI, MOGI, MOGI!! Berhenti nyebut nama itu!"
Bad Boy terdiam dalam seribu bahasanya, lalu menunduk, "Kenapa?"
"KARENA KAMU BUKAN MOGI!!"
Bad Boy mengangkat kepalanya dan menatap Moza. Sial. Ekspresi inilah yang Moza benci darinya.
Ekspresi yang menunjukkan bahwa lelaki itu tengah kebingungan, dan benar-benar tak tahu apa-apa. Persis sekali saat Mogi menatapnya.
"Moza kenapa? Padahal Mogi suka nama itu. Karena itu Moza yang kasih...."
"...Ingat, kan?"
"BATU BANGET, SIH?!! MOGI ITU-Ah...."
"Apa yang kamu mau?" tanya Moza memelankan suaranya.
Lagi-lagi Bad Boy hanya menunjukkan wajah bingungnya. Dan setiap kali melihat itu, entah kenapa Moza melihat wajah Mogi.
"Mogi cuma mau pulang sama Moza."
Moza menghela napasnya kasar. Gadis itu merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa keping uang koin, dan uang kertas yang basah.
"AMBIL SEMUANYA! AMBIL!!!" teriak Moza sembari melempar uang-uang itu ke arah Bad Boy yang sedang berdiri kebingungan.
"Kamu bisa ambil sisanya nanti. Tapi tolong berhenti... Aku capek."
Air mata yang sudah susah payah Moza tahan, akhirnya keluar juga. Isak tangis mulai terdengar dari mulut gadis itu.
Moza tidak pernah se-frustrasi ini sebelumnya. Jika memang Bad Boy menipunya karena uang, Moza akan memberikan semua hartanya. Asalkan laki-laki itu mau berhenti mengganggunya.
Karena jujur, ini membuat Moza gila.
Tangis Moza terhenti kala ia merasakan pelukan di tubuhnya. Matanya terbelalak saat menyadari Bad Boy tengah memeluknya erat.
"Ngapain kamu?" sinis Moza sambil melepas pelukan itu.
__ADS_1
"Aku akan anggap semua ini gak pernah terjadi, asal kamu berhenti ganggu aku. Ya? Please...." Moza tersenyum, namun dengan air mata yang mengiringi.
Sempat terdiam, Bad Boy menggulung baju lengan panjang yang ia pakai dan mencubit dirinya sendiri.
Tak hanya sampai di situ, Moza lebih kaget lagi saat Bad Boy memukul wajahnya sendiri dengan keras.
"Hei, hei, hei!! Kamu ngapain lagi sih hah?!!" Moza memegang tangan Bad Boy.
"Kalau emang Mogi gak boleh pegang Moza buat bikin Moza berhenti nangis, biarin Mogi nangis juga."
Moza terdiam. Apa?
Moza sampai terduduk di tanah saking stresnya. Gadis itu melamun beberapa saat sebelum menangis sejadi-jadinya.
Moza mencengkeram kepalanya frustrasi. Sebenarnya siapa lelaki di depannya ini?! Penipu, atau apa?!
Ini memang pertanyaan bodoh, tapi... tidak mungkin lelaki itu benar-benar Mogi, kan? Tapi tatapan itu... tidak ada manusia yang bisa menunjukkan tatapan itu.
Namun, bahkan anak satu bulan pun dapat membedakan mana kucing dan mana manusia. Masa Moza bisa-bisanya sempat berpikir kalau laki-laki di hadapannya ini adalah Mogi alias kucingnya?
"Maaf...."
Moza mengangkat kepalanya pada Bad Boy. Apa lagi ini?
"Kalo Mogi penyebab Moza nangis, maaf...."
"...Apa pun akan Mogi lakuin supaya Moza bisa berhenti nangis."
Moza tertegun. Lelaki yang Moza anggap penipu padahal tidak pernah melakukan hal aneh di apartemennya, lelaki yang basah kuyup kehujanan karena 'menunggu'-nya, lelaki yang rela menyakiti dirinya sendiri karena melihat Moza menangis baru saja meminta maaf? Serius?
Moza jadi terdengar seperti tokoh antagonis.
Gadis itu berdiri dan mengusap air mata di wajahnya. Hidungnya merah, kulitnya pun pucat seperti lelaki di hadapannya ini.
"Mau bikin aku gak nangis lagi?"
Moza menatap mata Bad Boy dengan tajam. Sementara yang diajak bicara tak memberikan respons apa pun selain membalas Moza dengan tatapan lugunya.
"Berhenti ngomong seolah aku ini monster."
...-TBC-...
Sengaja dibikin pendek, karena sayah bingung begete, yeoreobun... Pas nulis bab ini jujur kepalaku kek mo pecah, abisnya bingung penyampaian konfliknya (yg sebenernya ringan) . Simply, si Moza cuma bingung si Bad Boy ini Mogi atau bukan, makanya dia nuduh Bad Boy itu penipu. Secara Mogi itu kucing dan Bad Boy itu-Ah, paham kan?
*Penjelasan ini ditulis karena si author (cih) merasa bingung dengan ceritanya sendiri.
Maklum, msih amatiran mwehehehe.
__ADS_1