
"Aku pulang."
Moza membuka kunci pintu apartemennya dan membukanya dari luar. Pemandangan seisi ruangan yang rapi, juga semerbak harum stroberi sudah menjadi hal yang biasa saat Moza pulang dari kafe.
Ya, hal yang biasa... Termasuk melihat Mogi terdiam menatap jendela.
"Aku pulang," ucap Moza kedua kalinya.
Mogi pun menoleh. Moza dapat melihat bibir merah muda milik lelaki itu menerbitkan senyumannya dibarengi dengan kedua alis yang terangkat.
"Mozaaaaaa!!!"
Moza ikut tersenyum melihat Mogi berlari ke arahnya. Tapi ia sempat bingung. Se-tidak fokus apakah Mogi sampai Moza harus mengulangi ucapannya tadi?
Dan tahu apa yang lucu? Moza jadi seperti selalu mengharapkan reaksi ini dari Mogi. Astaga....
"Lama banget perginya! Mogi bosen tau." Mogi memajukan bibirnya sebal. Moza terkekeh, "Iya-iya maaf. Tadi ada kerjaan tambahan, jadi agak telat pulangnya."
"Dimaafin, gak?" tanya Moza melihat laki-laki di depannya yang masih memajukan bibir. "Enggak. Huh!" Mogi berlagak membuang mukanya.
Moza terkekeh, "Ayolah... Aku harus ngapain biar kamu maafin?"
Mogi terdiam dan menatap Moza. Lelaki itu lalu menoleh pada jendela yang tengah menampilkan pemandangan sore dengan orang-orang yang sedang berkumpul dan bermain di luar sana.
Melihat itu saja Moza paham. Mogi ingin sekali bermain di luar. Masuk akal memang. Karena sejak memutuskan untuk saling percaya, Mogi tak pernah keluar dari apartemen Moza.
Ya... Mustahil Moza melakukan itu tanpa alasan. Moza takut ada orang yang melukai Mogi alias si bocil polos yang tak tahu apa-apa.
Belum lagi bisa saja ada yang mengorek informasi tentang Mogi padanya. Apalagi bocil polos ini memiliki senjata yang mematikan.
Wajah tampan.
"Kamu mau main?" tanya Moza, dan Mogi menoleh padanya. Lelaki itu menunduk dan memainkan jari-jarinya, "Boleh...?"
Moza tersenyum lebar. Gadis itu melempar tas kecil yang berada di pundaknya lalu menggandeng tangan Mogi.
"Apa pun supaya kamu maafin aku. Yuk!"
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Sumpah. Ini pertama kalinya Moza merasa diperhatikan oleh sekeliling. Di mana orang-orang menatapnya saat berjalan dengan tatapan yang mengganggu.
Belum lagi mulut mereka yang menganga lebar seperti hendak menelannya. Astaga... Melihatnya saja membuat Moza merinding.
Moza bergidik takut melewati beberapa ibu-ibu yang menatapnya dan Mogi sambil menganga lebar. Astaga... Rahang ibu-ibu itu seakan hampir lepas saking lebarnya.
Sementara Mogi, laki-laki itu malah fokus melihat-lihat keadaan sekitar sembari menoleh ke sana-sini dengan tempo cepat seperti anak kecil yang baru melihat dunia luar.
"Sial. Mbak Ghina, lagi." Moza berusaha menutupi wajahnya dengan tangan. Karena pasti berbagai pertanyaan akan keluar dari ibu hamil satu itu.
"Eh, Moza! Mau ke mana? Tumben keluar jam segini. Udah pulang kerja?" Ghina berjalan mendekati Moza dengan tangan kanan menenteng sebuah tas kresek hitam.
Lihat? Baru saja bertemu, sudah dua pertanyaan yang dilontarkan Ghina. Apa kabar nanti?
"I–iya, Mbak. Lagi mau cari makanan, nih," jawab Moza sempat gugup.
Percuma aku berharap Mbak Ghina gak ngeh soal keberadaan Mogi. Karena Mbak Ghina pasti berisik liat cowok asing berduaan sama aku. Apalagi cowok yang mukanya kayak berlian gini. Aargghh, batin Moza berpidato.
"Eh, siapa yang di samping kamu ini, Za?" Ghina melirik Mogi yang kini tengah kebingungan.
Moza tersenyum palsu, "I–ini... Eummm... Ini... Ini sepupu... sepupu aku! Iya! Ini sepupu jauh aku, Mbak."
"Oh, masa? Kok Mbak baru liat?" tanya Ghina.
Apa terlalu jahat kalo aku berharap Mbak Ghina kontraksi supaya berhenti nanya? Moza lagi-lagi membantin dengan gilanya.
"Soalnya... dia dari Aussie, Mbak! Ini pertama kalinya dia ke sini. Makanya aku ajak keliling," jawab Moza si ratu drama.
"Oh... Bule, toh. Keliatan, sih. Ganteng banget, ya. Mbak mau pingsan liatnya."
Pingsan aja, Mbak. Gak apa-apa beneran, batin Moza kurang ajar.
Ghina menjulurkan tangannya, "Kenalin saya Ghina. Tetangganya Moza."
Bukannya membalas jabatan tangan Ghina, Mogi justru malah terdiam sambil sedikit bersembunyi di belakang Moza.
"A–ah... Gak bisa bahasa Indonesia, ya? Aduh... Gimana ini, Za. Nilai bahasa Inggris Mbak merah semua."
Moza terkekeh paksa, "N–nah! Makanya! Dia lagi beradaptasi sama lingkungan sini, Mbak. Tapi dia orangnya baik, kok! Dia juga kayaknya seneng ketemu, Mbak. Kalo gitu kami–"
"Udah baik, ganteng, paket komplit ini sih. Astaga... Mimpi apa aku ketemu cowok seganteng ini?" gumam Ghina tanpa sadar.
Moza tersenyum kikuk, "Kalo gitu, kami duluan ya!"
Moza berjalan cepat sembari menggandeng tangan Mogi. Sambil berjalan, gadis itu menoleh pada Mogi, "Aku bingung. Muka ganteng-mu ini anugerah apa kutukan, sih?"
"Maksudnya?" Mogi mengernyit tidak mengerti. Moza memutar bola matanya malas. Ia tahu bocah ini tak akan paham. Tapi, ya....
Orang ganteng mah bebas.
"Eeeehhhh, Moza!!"
Moza yang tengah menggandeng tangan Mogi pun terkejut dan ikut berhenti saat lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Jangan teriak-teriak, Mogi! Malu di tempat umum," ujar Moza, dan Mogi menoleh padanya sambil manggut-manggut.
"...."
__ADS_1
Moza mengernyit, "Hah? Apa?"
Sial. Lelaki itu malah bisik-bisik.
"Kamu kalo di tempat umum gini jangan bisik-bisik, Mogi. Gak kedengeran."
Mogi memajukan bibirnya, "Gimana, sih! Tadi kata Moza jangan berisik, giliran Mogi gak berisik disuruh berisik. Bikin pusing aja."
Moza mengepalkan tangannya sembari menampilkan senyum kudanya. Ini yang bego Moza atau Mogi, ya?
"Ya udah. Emang kamu kenapa sampe teriak tadi?" tanya Moza. Mogi menunjuk sesuatu, "Mau ituuuu...."
Ekspresi Moza baik-baik saja sampai ia menoleh dan melihat apa yang ditunjukkan oleh Mogi.
"Kamu... mau balon?"
Mogi mengangguk cepat, "Hu'um."
Astaga. Anak zaman sekarang saja sudah fokus pada gadget. Dan bocah ini masih tertarik pada balon?
"Kalo aku gak turutin gimana?"
Mogi terdiam sejenak lalu menunduk sambil menghela napas. Lelaki itu menatap Moza kemudian dan membuang mukanya kesal.
Sumpah. Sepertinya Moza harus memiliki ribuan cara untuk menghadapi makhluk baperan ini.
Hmm... Aku ada ide, batin Moza.
"Aku ganti pertanyaannya, deh...."
"...Apa balon bikin perut kamu kenyang?"
Mogi menatap Moza. Yang semula kesal, sekarang lelaki itu tampak sedang berlagak berpikir.
Mogi menggeleng, "Enggak. Gak bikin kenyang."
"Terus yang bikin kamu kenyang apa?"
"Hmm... Makanan?"
Moza tersenyum menang, "Kalo gitu kita beli makanan aja."
Mogi mengangguk setuju, "Ya udah boleh, deh. Let's goooo!!!" teriaknya semangat seraya mengangkat sebelah tangan ke atas layaknya Superman.
Ah, ralat. Super-bocil.
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
"Enak, gak?"
Moza terkekeh, "Bagus deh kalo enak."
"Mmmmm... Bener kata Moza! Mogi jadi kenyang sekarang! Perut Mogi kayaknya udah mirip balon yang tadi, deh!" seru Mogi setelah gigitan terakhirnya sambil menepuk-nepuk perutnya yang padahal sama sekali tidak berubah.
Daripada balon, Moza lebih melihat perut Mogi seperti balok. Enam balok yang berjejeran. Bukan jelalatan, kaus putih cukup ketat yang dipakai Mogi memang membuat lekuk tubuh laki-laki itu samar-samar dapat Moza lihat.
Mungkin sekalian cuci mata sedikit.
Ya. Lain kali aku akan beliin dia baju oversize aja. Sekalian biar bisa jadi pengusir burung di sawah, gumam Moza dalam hati.
"Ikaaaann, ikaannn...."
Moza dan Mogi yang tengah terduduk di bangku pun langsung menoleh pada suara seorang penjual ikan yang melewat di hadapan mereka.
Tidak. Bukan ikan mentah yang siap dimasak. Tapi IKAN HIDUP. Plastik-plastik berisikan berbagai jenis ikan itu menggantung rapi di gerobak.
"Kang, Teh, ikannya?" ucap penjual ikan itu pada Moza dan Mogi. Sementara Mogi mengernyit bingung dan melirik pada Moza lalu berbisik, "Moza... 'Kang Teh' itu siapa?"
Moza terkekeh kecil, "Itu sapaan untuk orang yang lebih tua dalam bahasa Sunda, Mogi." Moza lalu menoleh pada penjual itu, "Enggak dulu, pak. Makasih."
"Beneran, Teh? Ini–"
"Sunda? Kedengerannya kayak minuman dingin. Mogi mau, ya?!" ucap Mogi antusias, dan Moza lagi-lagi hanya bisa tersenyum.
Tersenyum kesal.
Ya, jelas saja lah! Kalian pikir tidak menguras kesabaran saat menjelaskan hal-hal umum pada lelaki dewasa yang bertingkah seperti bocah?
"Monmaap, ini saya masih dianggap kan?"
Moza dan Mogi menoleh pada penjual ikan yang tengah menatap mereka dengan nanar. Moza lalu tersenyum kecil, "Eh maaf, pak. Tapi enggak dulu. Makasih sebelumnya."
"Bener, neng? Ini ikan langka loh. Bisa nyala! Jarang ada yang begini."
Mogi terbelalak, "Nyala? Beneran?"
Oh, tidak. Satu hal yang kini Moza sadari.
Kucing suka ikan.
Moza terperanjat saat Mogi menoleh ke arahnya dan memandangnya dengan penuh harap.
"Moza... Mauuuuu!! Ya? Boleh?" tanya Mogi. Sementara Moza terdiam sejenak. Gadis itu tak tahu harus merespons apa.
Sumpah. Antara harus malu, atau bingung. Moza jadi seperti pedofil yang 'memelihara' bocah jika Mogi bersikap dan berbicara seperti ini.
"I–ikan buat apa sih? Beli yang lain aja." Moza berujar sembari menahan rasa malunya. "Itu... Kan tadi kata bapaknya ikannya bisa nyala! Mogi mau yang begitu!" Mogi terdengar antusias.
__ADS_1
"Bukan cuma nyala, dek! Ikan ini juga diambil langsung dari sungai Amazon yang di London itu!" jelas penjual itu yang bahkan mengganti panggilan untuk Mogi menjadi 'dek' karena kelakuan laki-laki memang seperti bocil.
Oke, kabar baru bagi Moza. Rupanya sekarang sungai Amazon sudah pindah ke London.
Selain absurd, sepertinya sudah saatnya Moza mengusir bapak ini supaya tidak banyak mengoceh.
"Enggak, Pak. Makasih."
"Yeehhh serius, neng? Mumpung saya di sini, loh! Besok–"
Penjual itu berhenti berbicara saat melihat sorot mata sinis dari Moza. Bapak itu bergidik seram. Jika saja Moza adalah Hana, mungkin Moza akan bilang,
"Pergi dari sini, atau gue bikin lo pergi ke hadapan Tuhan."
"Y–ya udah saya pamit, ya. Kayaknya gak ada gunanya nawarin ini ke bocah-bocah kere macam kalian. Permisi."
"Lalaki na jiga anak hayam, ai awewe na jiga maung kitu gusti," gumam sang penjual sebelum pergi.
Moza menghela napasnya panjang. Ia menatap Mogi yang kini tengah menatapnya dengan wajah kecewa.
"Tadi balon gak boleh, ternyata ikan pun gak boleh, ya?"
Astaga. Moza bahkan belum punya anak. Tapi sepertinya ia paham se-menyayat apa rasanya melihat seorang anak yang tidak bisa mendapatkan apa yang mereka mau.
"Enggak gitu... Bukan tanpa alasan aku gak bolehin kamu beli ikan itu. Jelas aku punya alasan, dong."
"Salah satunya karena ikan itu gak langka. Di Citarum banyak."
Sudah menjelaskan demikian pun, Moza tidak bisa melihat raut wajah tenang dari Mogi. Laki-laki itu hanya berekspresi seperti tadi.
Kecewa.
Moza menghela napas lagi dan tersenyum ke arah Mogi, "Kamu tau gak artinya istilah sangkar emas?"
Tunggu. Seperti pertanyaan barusan kurang sesuai untuk seseorang yang baru saja menganggap Sunda adalah jenis minuman.
"P–pokoknya! Kamu belum siap peliharaan ikan itu, Mogi."
Mogi menunduk, lalu kembali menatap Moza, "Kenapa?"
"Jawabannya satu. Tanggung jawab."
Mogi mengernyit bingung, dan Moza tersenyum melihat, "Yang namanya pelihara itu artinya kita udah berdedikasi pada diri sendiri buat bertanggung jawab merawat sesuatu."
"Contohnya kamu. Kamu mau pelihara ikan. Itu artinya makanan, tempat tinggal dan kesehatan ikan itu adalah tanggung jawab kamu, Mogi."
"Dan aku bisa liat kamu belum siap untuk itu."
Mogi tertegun, "Seberat itu, ya?"
Moza terkekeh, lalu menaikkan kedua pundaknya. Andai saja lelaki itu tahu, bahwa ialah tanggung jawab Moza saat ini.
Moza bak berada di cermin saat berkata seperti tadi. Alias berkata pada dirinya sendiri. Sejak kedatangan Mogi, sudah otomatis lelaki itu adalah tanggung jawab Moza.
Dan jangan pikir Moza berkata seperti itu karena kuat. Karena sejujurnya, Moza tak tahu apa-apa tentang semua hal memuakkan ini.
Namun satu kata yang dapat membuat akal sehat Moza masih ada sampai detik ini.
Pasrah.
Semua kegilaan dan ketidak-masukakalan itu musnah kala Moza hanya pasrah dengan keadaan dan menerimanya.
"Intinya, kamu belum siap buat bertanggung jawab atas ikan itu. Lagi pula saat kamu udah siap, apa kamu tega biarin ikan itu terperangkap di akuarium?"
"Se-cantik apa pun kamu tata akuarium itu supaya ikannya nyaman, tetap aja ikan itu terkurung. Gak bebas."
"Paham, kan?" tanya Moza setelah berpidato panjang lebar. Sementara Mogi menggeleng, "Mogi pusing. Tapi kayaknya Mogi emang belum siap. Tanggung Jawab serem."
Moza terkekeh mendengar Mogi menyebut tanggung jawab seperti nama orang saja.
Tapi lagi-lagi Moza ditampar oleh perkataannya sendiri. Bagaimana pun cara Moza menerima kehadiran Mogi di sisinya, tapi tetap saja kenyataannya lelaki itu terkurung.
Namun memikirkan itu membuat kepala Moza seakan hendak gundul. Jadi biarlah puluhan pertanyaan logis yang membuat gila itu melayang-layang di langit.
Untuk saat ini, Moza hanya minta satu. Supaya orang-orang tidak tahu asal-usul keberadaan Mogi yang sebenarnya.
Karena tentu saja Moza akan dianggap gila karenanya.
"Hmmm... Udah sore, nih. Kita pulang, ya?" ajak Moza. Mogi menatap Moza dengan bola mata cokelatnya lalu mengangguk kecil.
"Kok jadi sedih gini? Udahan dong sedihnya! Yuk berdiri–"
Sudah setengah berdiri, Moza dan Mogi malah kembali duduk saat kaget mendengar suara seseorang dari jauh.
"Ternyata beneran lo, Za." Hana berhenti di depannya sembari sedikit terengah-engah.
Moza terbelalak. Ngomong-ngomong tentang 'tidak boleh ada yang tahu keberadaan Mogi yang sebenarnya'....
Hana dan Mogi saling bertatap. Sementara Moza yang seakan ingin menghilang saja saking bingungnya harus bilang apa.
Ternyata benar, ya. 'Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.'
Tupai pandai saja bisa jatuh, apalagi tupai bodoh seperti Moza.
Doraemon, boleh pinjem pintu ke mana saja, gak? batin Moza meringis.
...-TBC-...
__ADS_1