MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
28


__ADS_3

"Kamu mau ngomong apa, Bil?"


Moza bertanya sembari meneguk kopinya. Setelah Billy menyuruhnya untuk keluar dari apartemen tadi, keduanya memutuskan untuk pergi ke kafe yang direkomendasikan Billy.


Apa? Pegawai kafe pun boleh ke kafe juga, kan?


Sementara Billy, cowok itu tidak menjawab sama sekali. Cowok itu hanya menatap kopi di depannya sambil mengaduk-aduknya dengan sendok.


"Bil?"


Billy sedikit terperanjat, "Y–ya?"


Moza mengernyit bingung. Billy yang mengajaknya ke luar malam ini, tetapi cowok itu juga yang seolah-olah kebingungan akan bicara apa.


"Tapi lo gak apa-apa, Za? Ini udah agak malem," ucap cowok itu kemudian. Zoya terdiam sejenak, "Mungkin aku masih punya waktu sekitar setengah jam lagi, kok."


"Oh...Mmm... Lo mau pesen apa lagi, Za?"


Moza terdiam sejenak, "Gak usah. Kan aku ke sini cuma mau tau apa yang mau kamu obrolin."


Billy mengangguk kecil. Kemudian cowok itu menyandarkan tubuh pada kursi sambil mainkan jari-jari tangannya.


"Tapi kayaknya gue haus–"


"Billy... Kamu mau ngomong apa?"


Billy langsung berhenti bicara dan menatap Moza yang juga tengah menatapnya. Moza terlihat bingung sekaligus heran dengan cowok itu yang sedari tadi seakan mengulur waktu.


Namun entah kenapa, kemudian Zoya dibuat terkejut oleh Billy yang terlihat tertawa secara mendadak. Cowok itu tertawa kecil tiba-tiba sambil mengusap kepalanya sendiri.


"Ah... Gue pengecut, ya?"


Moza mengernyit bingung, "Maksud kamu?"


"Ya... Mau bilang suka sama lo aja lama banget."


Seketika, suasana di sekitar seolah mendadak terasa dingin. Padahal Moza sedang memakai hoodie. Tapi mengapa atmosfernya terasa sangat dingin hingga membuatnya terpaku?


Setelah sekian detik terdiam dan berusaha mencerna ucapan Billy di kepalanya barusan, Moza menghela napas lalu menatap cowok di hadapannya ini.


"Aku juga suka sama kamu, Bil."


Billy tertawa, "Sebagai temen?"


Moza menggeleng pelan, "Aku beneran suka sama kamu."


Kini giliran Billy yang diam. Cowok itu mengarahkan matanya pada Moza seakan tidak ingin melihat hal lain selain melihat wajah Moza.


"Waktu awal-awal kamu pindah jadi manager di kafe kita, aku udah suka kamu. Kamu friendly, sopan dan kocak kalau ngobrol sama Hana. Kamu pun manis... Aku pun suka sama kamu, Bil...."


Billy masih menaruh pandangannya pada Moza. Mulutnya masih tidak mengatakan apa pun, namun jantung cowok itu berdegup kencang sekali. Billy seolah sedang berlari mengitari lapangan sepak bola.


"...Tapi itu dulu."


Moza tersenyum, "Sekarang, aku lebih memilih untuk seperti aja dulu. Tapi makasih banyak lho udah jujur tentang perasaan kamu. Walaupun belum pernah...."


"...aku tau itu gak mudah."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Beberapa hari berlalu. Tapi kesibukan kafe Memories seolah tidak ada habisnya. Bahkan di tengah hari di mana waktu-waktu orang lain sedang bersantai di dalam kamar sembari marathon serial drama, Moza, Hana dan Billy terlihat sangat sibuk melayani customer.


"Selamat siang, Kak. Ada yang bisa dibantu?"


Billy menunjukkan senyuman ramahnya pada seorang pelanggan wanita yang baru saja berhenti di hadapannya.


"Mas, ada pulpen gak?"


Billy mengernyit bingung, "Maaf? Pulpen?"


"Iya pulpen. Buat nulis nama Mas di hatiku."

__ADS_1


Pelanggan wanita itu mengedipkan sebelah matanya tersenyum genit pada Billy sebelum akhirnya memilih duduk di kursi.


Billy mengusap tengkuknya, "A–ah... Hahaha...."


"Kira-kira Mbak tadi itu pelanggan ke berapa yang udah gombalin kamu hari ini, Bil?"


Billy menoleh pada Moza yang baru saja keluar dari dapur. Billy dapat melihat Moza menatapnya seraya tersenyum.


Dan Moza, entah kenapa gadis itu merasa senang karena kecanggungan antara mereka sudah hilang. Beberapa hari kemarin, keduanya memang sempat dilanda rasa canggung yang luar biasa akibat Billy menyatakan perasaannya saat itu.


Tapi kini, Billy seolah tidak lagi memikirkannya dan memilih untuk bersikap normal pada Moza. Seolah perasaan suka pada Moza tidak pernah muncul di benaknya.


Dan Moza pun senang akan hal itu. Billy menjadi lebih santai padanya, dan tidak melakukan hal-hal yang membuatnya bingung.


Kecanggungan hilang itu memang yang terbaik.


"Eh, Bil. Sampah hari ini di mana, ya?" tanya Moza kemudian. "Di tempat biasa. Emang lo mau buang sampah?" Billy bertanya di akhir kalimatnya, dan Moza mengangguk.


"Biar gue aja yang buang sampah, lo yang jaga di sini. Gimana?" tanya Billy. "Gak apa-apa, biar aku yang buang. Lagi pula kamu masih harus melayani fans-fans kamu itu, Kan?" Moza tersenyum jahil.


Billy tertawa, "Kalo gitu oke, deh. Thanks, ya!"


Moza mengacungkan kedua ibu jarinya dan pergi untuk membuang sampah. Setelahnya, gadis itu menuju dapur untuk mencuci tangannya.


"Inilah ruangan yang paling bikin males selain ruang BK. Dapur," gumam Hana yang memang tengah mencuci piring dan gelas-gelas kotor di wastafel.


Moza tertawa, "Emang kenapa bikin males?"


Setelahnya, mereka berdua larut dalam keheningan. Untuk sesaat, Moza merasa kebingungan. Biasanya, ada saja ucapan yang keluar dari mulut Hana.


Entah itu hal baik, atau hal yang jahanam.


"Tumben kamu diem."


Hana menghela napas, "Lo mau gue salto?"


"Ya aneh aja gitu. Biasanya kamu gak begini... Kenapa?"


Moza mengangguk paham sembari tersenyum. "Oke-oke... Iya, deh. Kamu gak kenapa-kenapa. Kamu lagi baik-baik aja. Gak ada apa pun yang lagi kamu pikirin...."


"...Iya, kan?"


Moza dapat melihat Hana terdiam. Tangannya tidak lagi sedang menggosok-gosok piring kotor itu. Matanya terlihat memandang kosong sebelum akhirnya menoleh.


"Lo ngapain kalo lagi suka sama cowok?"


Moza tersenyum menang. Ternyata memancing Hana memang tidak sulit.


"Ya... Aku bukan tipe orang yang bisa langsung bilang kalau lagi suka sama seseorang. Aku bukannya gak tau. Aku tau caranya. Tapi gitu... aku gak mau," jawab Moza.


"Ngebayanginnya aja udah malu sendiri," lanjut Moza.


"Tapi aku yakin kamu bisa, Na."


Hana menatap Moza sejenak, sebelum akhirnya mendengus pelan dan membuang mukanya.


"Enak banget mulut lo ngomongnya," ujar Hana, dan Moza kembali tertawa. "Mantan kamu itu ribuan, lho. Aku bahkan sampe lupa jumlahnya berapa. Cewek berpengalaman kayak kamu masih ragu soal begini?" Moza terkekeh.


"Ck... Lo ngasih masukan atau ngehina, sih?"


Moza tertawa, "Ya maaf. Kan memang bener kalau kamu itu cewek yang udah seharusnya profesional soal ini. Kamu itu suhu lho, Na!"


"Suhu mata lo! Cowok gue yang terakhir aja selingkuh sama cowok lagi."


Moza menggeleng, "Maksud aku gak ke sana, Hana... Poin aku adalah, kenapa kamu yang udah terbiasa dengan hal ini, tiba-tiba begini?"


Hana terdiam sejenak, "Kali ini... beda."


Moza mengangguk, "Berarti cowok ini spesial?"


"Yang gue suka itu orang. Bukan nasi goreng."

__ADS_1


"Ya udah! Mau orang, mau nasi goreng, mau ikan ****** pun... saran aku cuma satu. Kamu harus jujur sama perasaan kamu sendiri, dengan bilang terang-terangan ke orang yang kamu suka tentang perasaan kamu."


"Kamu gak mungkin ngasih dia kode, kan?"


Hana terbelalak, "Gak akan pernah!"


"Justru itu. Kamu bilang aja ke dia. Lagi pula dengan kamu jujur, bukan berarti kamu mau ngajak dia pacaran. Apa salahnya bilang, kan?"


"Tapi, Za...."


"...Dia kayaknya suka sama cewek lain."


Sejenak, Moza terdiam sebelum akhirnya tersenyum tipis. Sepertinya pura-pura bodoh akan menyenangkan juga.


"Cewek lain?"


Hana mengangguk, "Gue rasa, dia lagi suka sama cewek lain. Sikap dia, mata dia, semuanya menunjukkan kalo dia lagi suka sama cewek itu. Dia juga...."


Hana menatap Moza, "Ah, gue ngomong kebanyakan."


Moza tertawa. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Hana. "Kayaknya aku tau siapa yang kamu suka."


Mata Hana membulat sempurna. "I–iyain aja, deh."


"Kamu gak salah, Na. Cowok yang kamu suka itu memang lagi suka sama cewek. Bahkan dia udah jujur sama cewek itu, lho."


Hana terdiam. Matanya kini menatap kosong pada piring-piring kotor yang masih saja belum selesai ia cuci.


"Tapi mereka gak pacaran."


Hana menatap Moza, dan Moza membalasnya dengan senyuman hangat. "Mereka memilih untuk punya jalan masing-masing."


"Dan sekarang giliran kamu buat maju. Oke??"


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Ini kembaliannya, Moza."


Moza tersenyum, "Makasih, Bu."


Moza mengambil uang kembalian miliknya yang diberikan oleh Bu Dewi tadi. Gadis itu baru saja selesai membeli beberapa makanan ringan dan teh hangat untuk dinikmatinya malam nanti bersama Mogi.


Mogi memang sedang kurang sehat. Dan itu adalah satu-satunya alasan mengapa laki-laki itu absen pergi ke kafe hari ini.


Hendak masuk ke dalam apartemen, langkah Moza dibuat terhenti ketika mendengar suara berisik di sampingnya.


Suara itu terdengar dari tempat yang biasa menjadi tempat puluhan kresek besar yang berisikan sampah-sampah menumpuk.


Penasaran, Moza pergi menghampiri suara itu. Dan suara bising itu kian nyaring ketika Moza semakin dekat. Dan ketika itu juga Moza sadar jika suara itu adalah....


...suara kucing yang sedang bertengkar.


Kucing dengan bulu hitam bercampur oranye itu terlihat mengembangkan bulu ekornya sambil bersuara nyaring khasnya seekor kucing sedang marah.


"Husshh! Husshh!" Moza mencoba mengusir dengan menggunakan ayunan tangannya, walaupun dari jarak yang cukup jauh.


Hei... Moza pun takut.


Namun Moza dibuat semakin ketakutan ketika kucing hitam itu mendadak loncat dan memberikan tatapan marahnya pada satu tempat sampah besar.


"GGRAAAOOOOO!!!!"


Moza, gadis itu sudah dibuat ketakutan oleh aksi kucing hitam tadi. Dan kini, jantungnya dibuat nyaris copot ketika ada SESEORANG yang melompat keluar dari balik tempat sampah besar itu.


Dan orang itu adalah Mogi.


Mogi terlihat sedang berjongkok dengan kedua tangannya ditaruh di tanah. Matanya menatap kucing hitam itu dengan tatapan perang.


"MOGI! KAMU NGAPAIN ASTAGAAA??!!"


Mogi menoleh, "GRAAOO–Eh? Moza?"

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2