
"Permisi... Saya mau pesan."
Seorang wanita dengan turtleneck merah pekat dan tas tenteng berwarna senada tengah berdiri di depan kasir yang sedang sepi.
"Permisi–ASTAGA!"
Wanita itu terperanjat saat melihat Hana muncul dari bawah dengan raut wajah malas dan tidak semangat. Belum lagi kantung mata Hana yang sepertinya juga memiliki kantung mata.
"Perasaan dari luar kayak kafe, tapi pas masuk kok kayak rumah hantu, ya," ucap wanita dengan dandanan menor itu.
"Pesen apa?"
Wanita itu terperanjat dengan suara serak Hana. Belum lagi Hana tak pakai basa-basi ramah ala pegawai rumah makan lainnya.
"Jujur saya kurang suka ekspresi kamu. Ada senyumnya sedikit kek. Pasti bagus di muka kamu yang biasa aja itu."
Hana tersenyum sejenak lalu kembali berwajah datar, "Mau pesen apa?"
"Eh? Kok gini? Saya tadi panggil-panggil dari meja gak ada yang jawab, giliran saya samperin ke kasir malah dikasih respons kayak gini. Aduuuhh, mau gimana sih?"
Semesta... Capek-capek stalk Ig mantan sampe tidur jam tiga pagi, dan ini hadiah yang kau berikan? Ocehan ibu-ibu bawel?
Hana mengatur napasnya. Ia menyesuaikan ekspresi wajahnya menjadi lebih ramah, lalu tersenyum lebar, "Mau pesan apa? Ada banyak menu diskon hari ini. Silakan dipilih."
"K–kayaknya kurang cocok, sih. Tapi gak apa-apa. Dan ngomong-ngomong, saya mau pesan kopi susu hangat sama onion ring, ya."
Hana kembali menghilangkan senyumnya, lalu mencatat, "Kopi susu satu, onion ring satu."
"Eh, tapi onion ring terlalu berminyak buat saya. Lagu pula kayak gak cocok dimakan sama kopi susu gak, sih? Saya mau kopinya sama cheese cake aja."
Hana menghela napas kasar, "Kopi susu satu, cheese cake satu."
"Kayaknya kalo dua-duanya manis gak akan terlalu enak. Lagi pula kopi hangat gak cocok buat hari panas gini. Saya mau pesan ice coffe sama omelette aja."
Mumpung lagi sepi. Kayaknya bunuh ni orang satu gak akan ketauan, batin Hana geram.
"Ice coffe satu, omelette satu." Hana bahkan kehabisan tinta pulpen untuk mencatatnya.
"Tapi kalo–"
"Kita juga ada menu kopi plus sianida, loh. Mau?"
Wanita itu terperanjat kaget, "K–kamu mau bunuh saya, ya??!"
"Kalo boleh jujur, sih... Dari tadi saya pengen banget cakar muka ibu."
Wanita itu lagi-lagi kaget dengan ucapan Hana yang berterus terang dengan ekspresi dingin seperti itu.
"CAKAR?!! IBU??!! Kamu manggil saya IBU?!Kamu mau saya penjarain, ya??!!!"
"Dengan senang hati asalkan di penjaranya gak ada makhluk tua, berisik dan bikin jengkel macam ibu."
"BENER-BENER KAMU, YA! HARUSNYA KAMU–"
__ADS_1
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Berbarengan, Hana dan wanita itu menoleh pada seorang laki-laki berkemeja biru muda yang menghampiri mereka.
Billy.
Hana memutar bola matanya, "Nice. Si artis datang."
"Na, ada apa ini?" tanya Billy. Ia bingung mendengar suara cekcok dari luar ruangannya. Tapi sekarang mendadak hening.
Billy bahkan dapat merasakan mata wanita itu tengah menatapnya secara tidak wajar.
"Bagus. Hadapi makhluk ini pake muka ganteng lo itu, ya. Gue mau lanjut mimpi ******* sama Song Joong Ki lagi."
Hana pergi menuju ruangan pegawai, sementara Billy yang kebingungan setengah mati.
"Ada apa, ya? Ada yang bisa dibantu?"
Wanita itu sadar dari lamunannya, "I–ini... Saya mau pesan d–dada EH! Kopi! Ya, kopi! Kopi susunya satu."
Billy terdiam. Sepertinya lain kali ia akan memakai dasi dan menutup dua kancing atas kemejanya.
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Jam menunjukkan pukul dua siang. Kini waktunya para pegawai untuk beristirahat dari kegiatan melelahkan berjam-jam tadi.
Ya, pegawai yang dimaksud tentu saja Moza dan Hana. Kafe Memories ini memang tak selalu ramai pengunjung, jadi tenaga yang dibutuhkan pun tak terlalu banyak.
"Gak ke apartemen dulu, Za?" tanya Billy sambil menaruh segelas kopi di meja dan menarik kursi agar terduduk bersama Moza.
Di apartemen Moza hanya ada seorang laki-laki muda berisik yang bersikap mirip bocah kelas dua SD.
Apalagi lelaki itu hanya diam di apartemen Moza tanpa seorang pun tahu bahwa sebenarnya lelaki itu bukanlah sepupu Moza.
Tak ada yang aneh, kan? Itu wajar-wajar saja.
"Eh, Bil. Aku masih ngakak soal insiden kamu sama ibu-ibu tadi. Bener-bener absurd. Gak kebayang kalo aku liat langsung kejadiannya. Pasti ketawa gak berhenti sampe sekarang," tawa Moza.
Billy mengernyit, "Ibu-ibu yang mana?"
Bukan pura-pura, karena sejujurnya ada lima ibu-ibu yang berulah pada Billy. Jadi tentu saja ia kebingungan Moza sedang menceritakan yang mana.
"Itu... ibu-ibu sosialita serba merah."
Billy terdiam sejenak lalu teringat, "Ah, yang itu. Astaga, iya. Gue juga kaget."
"Ppfftt kaget apaan. Harusnya udah biasa, kali. Bukannya ibu-ibu yang kayak gitu udah jadi makanan kamu sehari-hari?"
"Udah biasa itu bener. Tapi kaget itu pasti ada, lah. Siapa yang gak kaget kalo digituin, kan? Tatapannya itu bikin merinding, Za."
Moza tertawa geli, "Aku balikin pertanyaan, nih. Siapa yang gak kagum liat cowok kayak kamu? Dari segi fisik sih, kamu udah oke."
Billy yang tengah meneguk kopinya tiba-tiba tersedak lalu menatap Moza kaget. Apa-apaan maksudnya?
__ADS_1
Moza... baru saja memujinya?
Moza tersenyum kecil, "Eh! Maaf! Gak usah kaget gitu, dong. Maksud aku, artinya secara fisik, kamu udah cocok dari kriteria mereka."
Billy terdiam. 'Mereka'....
Gue berharap apa, sih? gumam Billy dalam hati.
"Seperti kata Hana, gue kagum sama lo yang bisa liat sisi positif dari segala hal," ujar Billy dengan senyum tipisnya.
Moza balas tersenyum, "Ngomong-ngomong soal Hana, siapa yang baru keluar itu?"
Moza menatap gadis yang tak lain adalah Hana baru saja keluar kafe dengan langkah pelan nan lesu. Belum lagi disertai ekspresi wajah yang muram dan mata yang sembab.
"Hana?" panggil Moza. Billy menggeleng, "Bukan. Bukan Hana. Gue tau Hana kayak triplek ancur, tapi gak segininya."
Hana mendelik, "Gue lagi males congkel mata orang."
"Ya. Ini emang Hana," ucap Moza dan Billy berbarengan.
"Hana? Lo ke–"
"Belakangan ini gue lagi stalk pacar gue si Garry di Ig, atau pun real life buat mastiin dia selingkuh sama cewe lain atau enggak," jawab Hana bahkan tanpa membiarkan Billy menyelesaikan pertanyaannya.
Moza dan Billy saling menatap cemas, lalu Moza bertanya, "Terus gimana?"
"Ternyata Garry enggak selingkuh sama cewek lain...."
Moza dan Billy bernapas lega.
"...Tapi sama cowok."
Moza dan Billy bernapas leg– UUAPAAAA??!!!
"M–maksud kamu?" tanya Moza yang berusaha tidak mengerti apa yang ia dengar barusan.
Hana menoleh dan menatap keduanya datar, "Ya. Si Garry selingkuh sama cowok. Gue liat mereka berdua ke hotel, kamar seratus satu dan lantai enam. Kayaknya udah saling unboxing."
Astaga... Moza tak menyangka hal seperti tadi bahkan dapat masuk telinganya.
"Stres." Billy tak habis pikir. Hana mengangguk-angguk setuju, "Ya. Gue tau. Kadang orang gak bisa diprediksi."
"Gue ngatain lo, pe'a! Ngapain lo nguntit orang segitunya?! Sampe tau detail kamar dan lantai berapa, lagi."
Hana melamun sejenak, "Ya daripada nonton di video? Mending langsung, ya gak? Sayangnya pintu hotelnya dikunci. Gue gak jadi nonton adu pedang."
Billy geleng-geleng, "I'm done."
"Terus kalo Garry emang 'begitu' kenapa dia pacarin kamu?" tanya Moza yang malah jadi penasaran....
...Penasaran se-sableng apa otak Hana.
Hana mengangkat kedua bahunya, "Entahlah. Mungkin biar dia bisa punya anak sama gue, tapi mau ngakuin ke semua orang kalo itu anaknya sama cowok barunya."
__ADS_1
Moza geleng-geleng, "I'm done."
...-TBC-...