MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
21


__ADS_3

"Za... Lo gak apa-apa, kan?"


Pertanyaan Hana barusan itu tidak membuat Moza berhenti melamun menatap sepatu putihnya yang sudah ternodai oleh lumpur dan beberapa bercak darah.


Ya. Bercak darah....


"BRENGSEEEKK!!!" Windi mengambil vas bunga yang ada di meja lalu mengarahkannya tepat pada kepala Moza.


Sempat menutup mata, Moza akhirnya membuka perlahan dan menyadari bahwa ia sama sekali tak merasa sakit.


Tapi ketika melihat Mogi tergeletak di lantai dengan kepala yang bercucuran darah, membuat Moza tiba-tiba merasakan sakit.


Sakit yang teramat sakit.


"MOGIIIIII!!!!"


Moza menjerit histeris lalu menjatuhkan dirinya sendiri. Gadis itu menaruh kepala Mogi di dalam pangkuannya dengan air mata yang tak henti mengalir.


Moza tak mengatakan apa pun. Gadis itu hanya menangis kencang dengan ekspresi yang masih kaget disertai napas yang terengah-engah.


Sesekali, Moza mengusap rambut belah tengah milik Mogi dengan bagian pelipis kanan yang sudah penuh darah akibat insiden barusan.


Lelaki ini... memang bodoh.


Moza kemudian menoleh cepat pada Windi dan menatapnya dengan tajam. Dan wanita itu pun tampak sedikit kaget dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Mama tau? Ada satu hal yang membuat aku bener-bener bersyukur papa meninggal...."


"...Karena beliau gak perlu liat psikopat kayak mama lagi."


Moza menggeleng cepat. Ia tidak mau mengingat ekspresi yang ditunjukkan Windi saat insiden di rumahnya beberapa jam lalu.


Tapi sialnya, Moza malah ingat betul bagaimana lempeng dan datarnya raut wajah sang "MAMA" saat Moza mengatakan itu.


"Lo gak apa-apa?" Dan pertanyaan Hana tadi terasa konyol baginya. Apa Moza bisa baik-baik saja kala melihat seorang lelaki yang polos tak tahu apa-apa tak sadarkan diri karena melindungi dirinya?


Jelas Moza sedang tidak baik-baik saja.


"Ya... Aku gak apa-apa, kok."


Moza dan Hana tiba-tiba berdiri ketika seorang dokter keluar dari kamar tempat Mogi diobati tadi.


"Gimana keadaanya, dok?!" tanya Moza dengan panik.


"Duk, dak, dok! Saya juga punya nama, kali. Panggil saya Agus. Coba ulangi pertanyaannya."


Hana ambil alih, "Dokter... Saya punya lipstik setrum dan saya yakin lipstik ini gak segan untuk mengahadapi mulut dokter yang macam ibu-ibu itu."

__ADS_1


"Oke-oke...." Sang dokter membuang napasnya pelan, "Kami sudah berusaha yang terbaik. Tapi pasien tidak bisa tertolong."


Moza dan Hana terbelalak kaget.


Tidak mungkin....


Moza membatu. Tidak ada yang bisa ia rasakan selain perasaan sakit. Perasaan ini begitu menyiksanya–


"Tapi boong! Yahahahhaha... Pasien baik-baik aja, kok. Cuma lukanya emang gak bisa diabaikan. Gimana? Saya cocok gak jadi pemeran dokter di sinetron-sinetron?"


Moza memutar bola matanya malas lalu masuk ke dalam ruangan tempat Mogi terbaring. Sementara Hana yang tampak geram sendiri.


"Minggat, atau gue sleding."


Dokter itu tampak kikuk sebelum akhirnya meninggalkan Hana yang tengah geleng-geleng kepala.


"Gue harap dia satu-satunya dokter o'on di rumah sakit ini," gumam Hana lalu mengikuti Moza yang baru saja masuk ke ruang pengobatan Mogi.


Dan Moza, gadis itu hanya terdiam mematung di kursinya. Kedua matanya tak bisa mengalihkan perhatiannya pada Mogi.


Lelaki dengan kening dibalut perban itu nampak terbaring lemas tidak berdaya. Tetesan darah masih tertinggal di baju laki-laki itu.


Hana berdiri di belakang Moza yang sedang terduduk, "Gue tanya sekali lagi. Lo–"


"Aku baru tau gini rasanya jadi orang jahat."


Moza tersenyum hambar, "Aku... ngerasa buruk, Na." Moza masih tak mau melepaskan pandangannya dari Mogi.


"Hey, hey... Lo bukan orang jahat. Oke?"


Lucu mendengar Hana berkata demikian. Moza mengajak Mogi untuk menemaninya menemui sang mama, lalu tanpa diduga mamanya mamanya melemparkan botol bir ke arah Moza yang ternyata malah mengenai kepala Mogi hingga berdarah-darah sampai lelaki itu tak sadarkan diri dan berakhir di rumah sakit.


Ya. Moza BUKAN orang jahat.


"Btw lo gak nangis, Za? Biasanya di novel-novel kan pemerannya bakal nangis kejer kalo adegan begini. AHAHAHAHAH...HA...ha...."


Niat mencarikan suasana, Hana justru merasa terpukul oleh Moza yang tak tertawa sama sekali. Gadis itu masih melamun menatap Mogi dengan kosong.


"Gak lucu, ya?" tanya Hana dengan dungunya. Cewek itu menghela napasnya panjang lalu menaruh kedua tangannya di depan dada.


"Entahlah, Za. Lo tau gue gak pinter ceramahin atau kasih kata-kata bijak ke orang lain. Ya tapi seenggaknya gue tau...."


"...lo itu orang yang kuat."


Hana tersenyum sembari menepuk pundak kanan Moza. Cewek itu berjalan menghampiri Mogi yang sedang terbaring lalu menampar kecil pipinya.


"Cepet bangun ye, cil. Jangan bikin cewek cengeng ini nangis terus, atau gue catok usus lo."

__ADS_1


Hana kembali tersenyum pada Moza, sebelum akhirnya melangkah keluar meninggalkan ruangan.


Kini tersisa Moza dan Mogi, ditemani rasa bersalah bercampur rasa lelah yang teramat mengakar di kepala gadis itu.


Tak terdengar suara Hana lagi, di saat yang sama Moza langsung menangis dengan napas yang tersengal-sengal.


Sepertinya air mata gadis itu masih banyak setelah lama menangisi Mogi di mobil ambulans dalam perjalanan kemari.


Kala menatap mata Mogi yang terpejam saja membuat Moza merasa dirinya adalah iblis mengerikan.


Sungguh. Ini adalah pertama kalinya Moza merasa seperti ini sejak bertemu dengan sosok Mogi.


Ya... Tentu saja Mogi yang dimaksud adalah seorang lelaki polos semi bodoh yang bernama Mogi.


Bukan seekor kucing putih.


"Moza nangis terus. Mogi gak bisa tidur, nih."


Moza terperanjat. Gadis itu membulatkan matanya menatap Mogi yang tengah menggosok-gosok matanya sambil sesekali menguap.


"K–kamu sadar?! Ah, enggak. Aku bersyukur kamu udah sadar." Moza meralat ucapannya.


Mogi tersenyum, "Dari mobil yang suaranya wiwiwiw itu juga Mogi udah bangun, kok. Tapi karena ngantuk, Mogi tidur deh."


Moza ikut tersenyum mendengar ucapan Mogi barusan. Andai saja ia melihat senyuman manis itu bukan di rumah sakit seperti ini, mungkin Moza akan lebih bahagia.


Gadis itu sudah berusaha percaya dan menerima Mogi apa adanya. Dan memang ia sudah membuka tangan lebar-lebar untuk lelaki itu.


Tapi saat ini... Moza berjanji pada dirinya sendiri untuk menyayangi Mogi dan harus membuat senyuman manis itu tak pernah terbenam.


Harus.


"Moza jangan nangis terus. Yang berdarah itu Mogi, loh," ujar Mogi setelah melihat air mata masih saja mengalir di wajah Moza.


Gadis itu tersenyum namun dengan tangis yang belum usai. Dengan wajah yang bersimbah air mata, Moza menyentuh pundak Mogi dan mengusapnya pelan.


"Sakit banget, ya?" Senyum Moza tampak pahit.


Gadis itu menghela napasnya lalu menghapus air matanya dengan cepat, "Maaf, ya."


Sial. Air mata Moza kembali mengucur setelah mengatakan itu.


"Sekarang bukan kepala yang sakit...."


"...tapi ini." Mogi memegang dadanya sendiri.


...-TBC-...

__ADS_1


__ADS_2