MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
26


__ADS_3

"Mozaaa!! Sini Mogi bantu!"


Pada pukul dua siang ini, terlihat Moza yang sedang menyapu halaman depan kafe sambil merapikan gelas-gelas bekas pengunjung yang duduk di sana.


"Gak usah. Kamu ke dalem lagi aja sana."


"Kok Moza gitu? Kan Mogi mau bantu. Siniii!"


Moza menghela napasnya, "Mogi... Mau nurut, gak?"


Dan laki-laki berkaus putih panjang itu langsung terdiam. Mogi menunduk dan mengangguk kecil.


"Iya Mogi nurut."


Moza tersenyum, "Kalo gitu kamu ke dalem lagi aja, ya? Nih sekalian kamu bawa dan cuci. Oke?" Moza memberikan gelas-gelas tadi pada Mogi.


"Okeee, Moza! Meluncuuurrr!! Ngeenggg!"


Mogi mengambil gelas itu dan berlari-lari kecil ke dalam kafe sambil merentangkan kedua tangannya seolah ia adalah pesawat terbang.


Moza terkekeh kecil. Gadis itu jadi merasa seperti seorang ibu yang sedang mengecoh anaknya agar tidak mengganggunya beres-beres.


Kemudian Moza kembali melanjutkan aktivitasnya. Setidaknya sampai gadis itu melihat seorang cowok dengan kaus kuning kasual dan celana cokelat panjang.


Mungkin tak akan terasa lucu jika Moza tidak menyadari bahwa cowok di hadapannya ini adalah Billy yang tengah memakai apron pegawai milik kafe Memories ini.


"Wah, wah, wah... Keknya ada yang salah sama isi kepala manager kita satu ini." Hana tiba-tiba datang dengan garpu di tangannya.


"Ngape lo tiba-tiba mau pake apron?" tanya Hana kemudian sembari menodongkan garpunya pada Billy.


Billy menyingkirkan garpu dari wajahnya, "Sebagai manager yang bertanggung jawab dan peduli pada pegawainya, gue mau bantu kalian melayani customer mulai hari ini...."


"...Keren, gak?"


Moza tertawa, "Bagus, tuh. Makin banyak yang bantu, makin cepet beres."


"Hah... Pupus harapan gue untuk gak liat muka nyebelin lo itu. Biasanya gue terbantu karena lo selalu diem bertelor di ruangan lo. Tapi ini..?"


"Semoga gue masih bisa waras, deh." Hana melemparkan tatapan sinisnya pada Billy yang terlihat santai-santai saja.


"Lo seharusnya kayak Moza, Na... Dia seneng gue bantu. Kalo kata Moza tadi, makin banyak yang bantu-bantu di kafe, makin cepet beres juga."


Hana mendengus, "Itu translate dari 'Kami mau pulang cepet'."


"Udah, udah. Mending kita ke dalem lagi. Tapi sekarang, biarin Billy yang jaga di kasir. Sekaligus coba untuk pertama kali. Gimana?" Moza memberi usulan di akhir kalimatnya.


Billy dan Hana pun mengangguk bersamaan.


"Let see seberapa banyak stok kesabaran kodok ini menghadapi berbagai macam spesies para customer ajaib itu."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Silakan dilihat menu-nya, Kak."


Moza tersenyum ramah pada seorang wanita berjas abu-abu dan kemeja putih serta rok hitam pendek.


Benar-benar khasnya karyawan kantor.


"Saya mau pesan pie apel satu sama capuccino less sugar-nya satu untuk dibawa pulang."


Moza selesai mencatat pesanan pelanggannya itu, "Pie apel dan cappucino less sugar. Ada lagi?"


"Enggak, itu aja. Tolong agak cepet, ya. Saya gak punya banyak waktu."


Moza sedikit tersentak. Lagi-lagi ia harus menghadapi pelanggan dengan modelan seperti ini.


Oke. Jangan sampai terjadi konflik apa pun.


"Kalau gitu silakan Kakak tunggu di meja sebelah sana, ya. Pesanannya akan segera diantarkan."


"Loh? Harus nunggu dulu? Saya udah bilang gak punya banyak waktu. Denger gak, sih?" Wanita itu terlihat melipat kedua tangan di depan dadanya.


Moza menghela napas. Gadis itu memang sudah menjadi seorang pawang untuk meladeni makhluk-makhluk seperti ini.


Tapi setiap hal ini terjadi, ya Moza kesal juga.


"Lagi pula biasanya semua menu udah tersedia, jadi kalo ada pelanggan tinggal kasih. Aduh... gimana, sih? Coba mau ketemu manager-nya."


Sialan. Bagaimana ini? Di jam-jam seperti sekarang, Billy sedang sibuk-sibuknya mengerjakan urusannya di dalam ruangannya sendiri.


"Ada apa, Moza?"


Moza dan wanita itu sama-sama menoleh pada Mogi yang baru saja selesai mencuci piring di bagian belakang.


"Ini... Kakak ini pesan menu untuk dibawa pulang, tapi lagi buru-buru dan gak punya waktu untuk nunggu pesanannya. Di belakang ada pie apel yang udah matang, gak?"


Tanpa merespons perkataan Moza, Mogi menoleh pada wanita yang sempat menggerutu tadi yang kini malah terlihat melamun menatap Mogi.


"Maaf, Kak. Apa ada lagi menu yang Kakak pesan?"


Moza terbelalak mendengarnya. Gadis itu bahkan harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang sedang ia tatap sekarang ini adalah Mogi, alias laki-laki dewasa dengan mental seorang anak tujuh tahun.


Tapi kenapa gaya bicara Mogi barusan tidak terdengar seperti biasanya?

__ADS_1


Wanita itu tersadar dari lamunannya, "Ah... Capuccino less sugar. Saya juga pesan itu."


Mogi mengangguk-angguk kecil lalu mencatat kembali pesanannya. Laki-laki itu tersenyum kecil hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas.


"Pesanan Kakak akan segera siap."


"O–oh... Gitu, ya? Ralat, deh. Gak usah dibawa pulang. Makan di sini aja. Saya punya banyak waktu luang, kok. Santai aja gak usah buru-buru," ucap wanita itu sembari menatap Mogi.


Mogi kembali tersenyum, "Boleh. Kalau gitu pie apel dan cappucino less sugar untuk dimakan di sini. Silakan tunggu di meja, ya...."


"...sayang."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Mata lo bikin gue takut tau, gak?"


Hana sampai bergidik ketakutan saat menyadari bahwa Moza menatapnya sedari tadi dengan tatapan yang menyeramkan.


"Sumpah mata lo udah kayak mau copot aja. Ape sih, Za?"


"Kamu ngajarin apa ke Mogi?"


Tanpa harus bertanya pada Mogi pun, Moza di sudah tahu siapa dalang di balik satu kata yang dilontarkan Mogi yang sukses membuatnya menganga lebar tadi.


Sementara yang ditanya malah terdiam. Otak Hana yang kecil itu berusaha untuk memproses perkataan Moza barusan.


"Oh... Itu...." Hana akhirnya paham. "Gue cuma ngajarin dia cara berinteraksi sama pelanggan, kok," lanjutnya.


"Dengan kata 'sayang'? Na... Kamu bisa membedakan mana berinteraksi, dan mana gombal, kan?"


Hana terkekeh, "Gue gak nyuruh dia buat begitu, kok. Gue cuma bilang harus lebih ramah. Bocil-nya aja yang kelewat kreatif...."


"...Lagian emang kenapa? Dengan dia begitu gak akan bikin pelanggan tersinggung, kan? Yang ada pelanggan malah betah di sini. Kapan lagi bisa disebut 'sayang' sama cogan, coba?"


Moza termenung. Ucapan Hana barusan memang betul. Moza pun sudah memikirkannya.


Tapi entah mengapa ia belum terbiasa dengan perubahan sikap Mogi secara mendadak seperti tadi.


Di mana saat ia melihat dengan jelas Mogi berbicara dengan pelanggan wanita tadi. Laki-laki itu jadi terlihat seperti lebih dewasa dengan gaya bicaranya yang lebih halus dan tidak berisik seperti biasanya.


Tapi....


...kenapa Moza justru tidak merasa senang?


Jangan tanya apa alasannya, karena Moza sendiri pun kebingungan. Hanya saja, melihat Mogi bersikap dewasa seperti tadi membuatnya terasa....


...aneh.


"Hai, guys! Ada yang gue lewatkan, kah?"


"Guys, goys, guys, goys... Lo cosplay jadi yutuber?" sinis Hana. "Percuma aja pake apron kalo tetep duduk enak di ruangan sejuk ber-AC," lanjut cewek itu.


"Ya gue gak bisa apa-apa soal itu. Lagian kerjaan gue banyak, gak cuma nyinyirin orang lain doang. Maaf, ya." Billy tersenyum miring.


Hana mendengus, "Kerjaan banyak yang lo maksud itu adalah kata lain dari 'Nonton video nganu', kan? Kalo itu gue setuju. Yang begituan emang kayaknya udah bejibun di laptop lo."


"Mulut lo itu! Se-mesum apa gue pake nyimpen video nganu segala? Biasanya yang ngomong itu pelakunya."


Hana tertawa sinis, "Gak usah pura-pura cupu. Gue tau lo suhu. Gue tau lo bandar video nganu. Iya, kan? Ngaku, gak?"


"Video nganu itu apa?"


Hana, Billy termasuk Moza menoleh pada Mogi yang baru saja datang dengan segelas yoghurt stroberi di tangannya.


Berbeda dengan Hana dan Billy yang terlihat tertawa-tawa karena kepolosan Mogi barusan, Moza justru malah menghela napasnya sambil mengelus dada.


Entah kenapa Moza merasa lega melihat Mogi masih sesosok anak kecil yang terjebak di dalam tubuh laki-laki dewasa.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Enak banget, ya?"


Moza tertawa kecil ketika melihat Mogi masih menyeruput segelas yoghurt stroberi tadi dengan kedua tangan memegangi sedotannya.


Dan yang ditanya mengangguk saja sambil mengacungkan kedua jempolnya tanpa berhenti menyedot minumannya itu.


"Moza mau?" tanya Mogi kemudian. "Kamu nawarin pas tinggal es-nya doang. Makasih banyak, lho," sarkas Moza setelah melihat bahwa di gelas yang dipegang Mogi hanya tinggal tersisa beberapa es batu dengan sedikit foam yoghurt di sana.


"Ih? Es batunya juga enak! Moza gak tau, ya?"


"Jelas aku gak tau. Aku aja gak pernah makan es batu. Ngapain juga? Udah keras, gak ada rasanya lagi."


Mogi geleng-geleng, "Biar Mogi tunjukkin. Es batunya enak, tau!"


Mogi lalu berlagak mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dan hendak menjatuhkan es batu itu agar tepat mendarat ke dalam mulutnya.


Takdir : Tidak semudah itu. Akan kuberikan hukuman bagi kalian wahai makhluk-makhluk caper.


Dan, ya... Karena takdir sudah berkata demikian, akhirnya es batu itu malah mendarat ke baju yang Mogi pakai.


Alhasil bajunya basah bercampur dengan sia-sia foam yoghurt yang masih menempel pada es batunya.


Jika saja Mogi belum melepas apron-nya, mungkin tidak akan nampak terlalu basah dan kotor.

__ADS_1


"Mogi... Kamu tau kan kalau yang lagi dipakai kamu sekarang itu baju putih?"


Mogi menelan ludahnya sendiri. Laki-laki itu beberapa kali menatap mata Moza yang sepertinya sudah siap untuk marah besar.


"M–Mogi bakal bersihin ini! Janji!"


Moza menghela napasnya panjang. Beruntung sekali tidak ada satu pun pengunjung yang menempati meja karena memang waktu yang sudah mulai larut, jadi Moza tidak segan untuk mengoceh pada bocah ini.


"Janji, janji tapi gak dibersihin juga. Ke kamar mandi sana!"


"Iya nanti, Moza. Mogi pasti bersihin."


"Loh? Kok nanti? Aku gak mau kamu jadi anak yang kotor, ya. Kalo baju kamu kotor, nanti banyak kecoak...."


"...Mau digigit kecoak?"


Mogi terbelalak, "TIDAAAKKK!!!!"


Sontak laki-laki itu beranjak dari kursinya kemudian berlari sekencang angin menuju kamar mandi.


Moza tertawa melihatnya. Walaupun tadi memang menyebalkan, hasil akhirnya selalu sama.


Mogi pasti selalu membuatnya tersenyum.


Dan Billy, cowok itu baru saja keluar dari ruangannya. Ekspresinya jelas kebingungan ketika melihat Mogi berlari seperti sedang dikejar hantu.


"Dia kenapa?" Billy mendekati meja tempat Moza terduduk, sementara gadis itu aja terkekeh kecil sebagai responsnya.


"Mogi... Ternyata rajin juga dia."


Moza sempat diam sebelum akhirnya mengangguk, "Ya... Bisa dibilang. Aku gak salah kan nyuruh dia bantu kita?"


Billy hanya meresponsnya dengan tertawaan kecil, sebelum akhirnya suasana kembali terasa hening.


Jika tak ditemani Hana, inilah yang terjadi jika Moza dan Billy berada di satu atmosfer yang sama.


Pasti yang menemani adalah keheningan.


"Za."


Moza menoleh mendengar namanya disebut.


"Moza."


Moza mengernyit sambil tertawa, "Apa, Bil?"


Billy menunduk. Beberapa kali cowok itu mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai sambil membuang pandangannya.


Moza jadi bingung. Sebenarnya ada apa dengan Billy? Topik apa yang mampu membuatnya seperti orang yang sedang menahan buang air besar ini?


"Bil..."


Billy mendongkak dan menatap Moza.


"...Kenapa?" Moza lanjut bertanya.


Billy diam sejenak, "Gue–"


"Moza!!! Pulang, yuk!"


Keduanya sontak menoleh pada Mogi yang baru saja selesai bersih-bersih di kamar mandi. Laki-laki itu nampak mendekati meja tempat Moza dan Billy duduk sambil melompat-lompat kecil.


"Bentar dulu. Aku kan lagi ngobrol," ucap Moza.


Mendengarnya, Mogi menoleh pada Billy. Alhasil tatapan kedua laki-laki itu bertemu sebelum akhirnya Mogi buang muka dan kembali menatap Moza.


"Tapi Mogi laper."


Moza menghela napas, "Aku paling males kalo kamu udah begini, nih. Sabar dulu, Mogi... Gak akan lama."


"Ya udah, deh. Mogi pulang duluan, terus masak sendiri di dapur. Sekalian deh Mogi bikinin buat Moza. Moza mau makan apa?"


Moza tersentak mendengarnya.


Mogi? Dapur?


Tidak.


"Maaf, Bil. Besok lagi aja, ya. Aku gak mau apartemen aku kebakaran gara-gara Mogi yang bahkan gak bisa masak apa pun."


"Oh... Iya gak apa-apa santai aja."


Saat Moza beranjak, Mogi langsung menggandeng tangan gadis itu dengan erat lalu mulai berjalan.


Sementara Moza, gadis itu bergelut di pikirannya antara memikirkan apa yang akan dibicarakan Billy tadi, dan membayangkan betapa ngerinya jika Mogi berada di dapurnya.


Makhluk yang bahkan tidak terbiasa berada di dapur selama sepuluh menit itu tidak bisa diharapkan.


Dan Billy, cowok itu hanya menatap Moza dan Mogi yang mulai berjalan menjauh memunggunginya. Sampai akhirnya ia melihat Mogi menoleh ke arahnya sambil tersenyum.


"Kami pulang dulu, ya...."


"...Om."

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2