MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
6


__ADS_3

AAAAAAAAA!!!


Moza yang baru saja terbangun dari tidurnya itu menjerit dalam hati ketika tahu ada seseorang tidur bersamanya di ranjang.


Kaget bukan main, Moza sampai menutupi mulutnya sendiri saking tidak percaya apa yang dilihatnya.


Bagaimana tidak?! Seorang laki-laki dengan rambut terbelah dua tampak terlelap nyenyak di ranjangnya.


Bukan hanya itu, yang membuat Moza lebih terkejut adalah fakta bahwa cowok bertelanjang dada dengan bagian perut terlihat jelas.


Walaupun setengah badan lelaki itu tertutupi selimut, tapi HEY!! Siapa dia??! Mengapa bisa ada di sini?!


Moza yang semula terpaku dibuat terperanjat saat laki-laki itu menggeliat dari tidurnya. Lelaki itu terlihat menggosok-gosok matanya sembari menguap.


Habislah sudah. Laki-laki itu melirik Moza yang tengah berdiri di samping ranjang dengan keadaan yang masih terbaring sambil tersenyum.


"Hm? Moza udah bangun? Selamat pagi."


Oke. Ini gila.


Perlahan tapi pasti, Moza mulai meraih penggaris besi dari mejanya dan mengarahkannya pada pria itu.


"Keluar dari sini, dan aku akan anggap ini gak pernah terjadi," bisik Moza dengan tatapan mengintimidasi.


Namun alih-alih takut, laki-laki di depannya ini malah melamun sejenak, lalu menggosok matanya sembari menguap layaknya bayi.


"Moza aneh," gumam sang lelaki lalu hendak menyingkapkan selimut yang menutupi setengah tubuhnya yang TELANJANG.


Sontak, Moza langsung berlari ke luar kamar dan menutup pintunya hingga laki-laki itu terdengar mengetuk-ngetuk dari dalam.


"DASAR GILA!" teriak Moza.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"M-Moza... Bisa lepasin, gak? Sesak, nih...."


Mendengar lelaki itu mengeluh barusan, membuat Moza semakin ingin menjual manusia satu ini ke pasar loak.


Tiba-tiba masuk kamarnya tanpa izin, telanjang, dan sekarang Moza bungkus laki-laki itu menggunakan selimut, lelaki itu malah mengeluh?! Masih untung Moza tak memenggal kepalanya tadi.


"Kamu gak pake baju, masa iya aku lepasin?! Gak!" sentak Moza, membuat lelaki itu terdiam sejenak.


Sebetulnya Moza mempunyai banyak sekali pertanyaan untuk sosok di hadapannya ini. Mengenai siapa dia, apa tujuannya, dan mengapa laki-laki itu....


...telanjang.


Kira-kira apa panggilan yang cocok untuk makhluk tidak beradab alias bad attitude seperti ini? Kutu Kupret? Atau... Bad? Bad Boy?


Tidak, bukan Bad boy ganteng yang biasa seliweran di cerita novel. Bad Boy yang ini justru Moza namakan Bad karena memang kelakuannya yang benar-benar bad.


Oke. Mari panggil Bad Boy mulai sekarang.


Moza menghela napas, "Saking bingungnya, aku bahkan gak tau harus lapor polisi atau enggak."


"TAPI! Bukan berarti aku pasrah. Aku tetep butuh penjelasan se-rinci mungkin dari kamu!"


Setelah Moza berucap demikian, Bad Boy hanya menatapnya kosong sembari sesekali mengedipkan mata.


"Laper...."


Moza mengernyit. Apa-apaan dia?!


Moza geleng-geleng dibuatnya, "Tingkah laku kamu bener-bener gak logis."


Di tengah-tengah perdebatan mereka, tiba-tiba terdengar suara pengingat di ponsel Moza penanda bahwa waktunya untuk bekerja.


Sial. Tidak mungkin Moza meninggalkan rumahnya yang berisi orang asing yang setengah gila. Moza bisa ikutan gila hanya dengan memikirkannya.


"Tapi aku juga gak bisa bolos kerja demi orang sinting ini," gumamnya kemudian.


Tanpa berucap apa pun lagi, Moza berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kafe.


"Kok rasanya jadi kayak orang bego gini, ya... Tinggal usir aja cowok itu, Moza! Selesai, kan?!" teriaknya pada diri sendiri di dalam kamar mandi.


Sejujurnya, Moza bisa saja melakukan hal itu. Tapi apa kata orang jika ada yang melihat seorang cowok telanjang, yang baru saja keluar dari apartemennya?

__ADS_1


Itu sih auto di-kick.


Selesai bersiap, Moza melihat cowok itu masih terdiam dengan tubuh yang masih terbungkus oleh selimut layaknya lemper raksasa.


"Dan kamu! Diem di sini, dan jangan ke mana-mana dulu! Setelah pulang nanti, aku pastiin kamu gak akan bisa menghindar dari ribuan pertanyaan yang akan aku kasih," ujar Moza, siap untuk menutup pintu.


"Lama, gak? Mogi ikut, ya?"


Kaki Moza seolah pusing mendengar itu.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Nah! Ini dia, anaknya! Dari mana aja sih, lo? Gue lama nunggunya. Untung hari ini sepi."


Ucapan Hana barusan seakan dianggap angin lalu oleh Moza. Gadis itu terus saja masuk ke dalam, tanpa menghiraukan Hana yang kini tengah kebingungan.


"Za? Lo gak denger gue?"


Moza tersadar, "Y-ya?"


"Astaga... Lo punya masalah apa sampe ngelamun segitunya?" tanya Hana, lalu menarik salah satu kursi pengunjung.


Persetan, lah. Sekarang kafe sedang merangkap menjadi kuburan, alias sepi bukan main.


"Na, kalo kamu bangun, dan ada cowok gak dikenal ada di pinggir kamu gimana?" tanya Moza spontan, sambil menatap kosong pada jendela yang tembus pandang ke awan yang seperti bentuk jerapah makan eskrim.


"Ya, kalo cowoknya ganteng gue gak apa-apa, sih," tawa Hana, dan Moza meliriknya sinis. "Kayaknya emang salah aku ngomong ini ke kamu."


"Eeehhh iya iyaaa! Bercanda doang, kali. Lagian pertanyaan lo ngawur, ah! Siapa juga yang pas bangun tidur tiba-tiba ada cowok asing? Lo mimpi, ya?"


Andaikan itu benar. Moza berharap kejadian tadi hanya mimpi agar tak perlu sakit kepala memikirkannya. Seperti siapa cowok itu, dari mana datangnya, apa alasannya, dan....


...mengapa ia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Mogi'?


Saking kagetnya, Moza bahkan tak sempat untuk menoleh dan bertanya. Setelah cowok itu berkata demikian, Moza hanya terdiam sejenak dan mengunci pintu lalu pergi.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Za, pengunjung yang barusan itu pesen capuccino. Bukan kopi susu."


"E-eh! Maaf, maaf! Aku bikin lagi, ya!" kaget Moza, namun tangannya dicekal dengan lembut oleh Billy.


"Gak usah. Pengunjungnya mau nerima, kok. Untungnya."


"Aku emang agak ngelamun tadi. Sorry banget, ya. Ini gak akan terulang lagi, kok," ujar Moza merasa bersalah, sembari sesekali menyentil kecil kepalanya sendiri.


"Agak? Udah sejam yang lalu kali lo ngelamun. Emang ada masalah apa?"


"Dia gak akan jawab, Bil! Gue nanya aja dia malah kasih tebak-tebakan!!" timpal Hana dengan beberapa pesanan pelanggan di tangannya.


"Cuma kurang tidur aja, sih," ujar Moza seolah mengabaikan ucapan Hana barusan.


Mendengarnya, Billy mengangguk paham lalu beranjak dari duduknya dan menatap Moza, "Tunggu bentar."


Sekitar beberapa saat, Billy kembali menghampiri Moza dengan segelas minuman hangat di tangannya.


"Nih, biar agak enakan."


Moza tersenyum geli, "Makasih banyak loh aku yang kurang tidur ini kamu kasih kopi."


"Itu cokelat panas. Bukan kopi, Za."


Moza mengernyit, "Baru tau kita punya ini... Menu baru, ya?" tebak Moza sembari meminum cokelat panas tadi.


"Bukan. Ini emang gak ada di menu kita," jawab Billy. Moza semakin dibuat bingung karenanya. "Itu gue bawa buat penghilang stres aja, sih. Semoga ampuh buat lo," lanjut Billy seraya menerbitkan senyumnya.


Jika saja beban pikirannya tak terlalu berat, mungkin cokelat panas ini akan menenangkannya. Tapi yang jadi masalah....


...ada cowok asing yang tiba-tiba muncul di apartemennya! Rasanya segelas minuman hangat saja tak bisa menenangkan Moza semudah itu.


"M-makasih, ya. Cokelatnya manis." Kayak senyum kamu, Bil, lanjut Moza dalam hati.


Eh? Sadar, Za! Cowok gila di apartemen itu yang harus dipikirin duluan, sentak Moza pada dirinya sendiri.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...

__ADS_1


Astaga... Berapa lama lagi Moza harus berdiri melamun di depan pintu apartemennya sendiri? Sedari tadi gadis itu diam saja sembari menunjukkan wajah tegang.


Moza ragu-ragu untuk membuka pintunya. Ia takut Bad Boy bertingkah macam-macam di dalam, atau bahkan merampok seisi kamarnya?!


"Ah. Over thingking emang gak baik," ucap Moza kemudian.


Moza tidak mau memikirkan kekacauan yang hanya terjadi di kepalanya saja. Selain melelahkan, buang-buang waktu juga.


Dan syukurlah. Setelah pintu terbuka, tak ada yang aneh. Moza melihat semua barang-barangnya masih berada di tempat yang sama, dan terlihat normal.


Kecuali....


MENGAPA BAD BOY TERBARING DI LANTAI?!!


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Kiri-kanan, depan-belakang, sedari tadi Moza tak bisa berhenti mondar-mandir di kamarnya sendiri.


Bagaimana tidak? Setelah kaget melihat Bad Boy terbaring di lantai dengan keadaan yang masih terbungkus selimut, Moza langsung panik setengah mati dan mengangkatnya ke ranjang.


Ya... Walau tulang-tulang Moza menjadi taruhan akibat harus mengangkat seorang lelaki dewasa seusianya.


"Hidung napas, perutnya gerak, berarti masih baik-baik aja, kan?" gumam Moza pelan.


Untuk lebih memastikan, Moza mendekati cowok yang tengah terbaring berselimut itu dan memposisikan kepalanya agar dekat dengan dada bidang Bad Boy dengan maksud untuk mendengarkan detak jantungnya.


"Nnghhh... M-Moza?"


"ASTAGA!"


Moza terperanjat kaget, lalu berdiri di samping ranjang. Sementara sang cowok agak terkejut, sekaligus bingung.


"A-aku gak ada maksud apa-apa! Cuma mau cek keadaan kamu aja," ujar Moza sembari mengalihkan pandangannya karena malu.


Lelaki itu tersenyum tipis, "Moza lucu."


Moza rasanya ingin memukul cowok itu sekarang juga. Tapi hal itu berubah kala Moza melihat Bad Boy menghilangkan senyum tipisnya sambil memegangi perut.


"Kamu kenapa?"


Lelaki itu menoleh, lalu menjawab dengan polosnya, "Laper."


Aneh.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Harusnya aku tau waktu liat wajahnya yang pucat. Moza bego!" makin Moza pada dirinya sendiri.


Entahlah. Sekarang rasa jengkelnya pada Bad Boy hilang seketika. Entah mengapa. Moza justru malah jengkel pada dirinya sendiri.


Mengapa Moza bahkan mau repot-repot untuk merasa panik pada seorang laki-laki yang bahkan tidak ia kenal? Laki-laki yang tiba-tiba berada di dalam apartemennya dan bertingkah gila.


Tapi, ya... Melihat ada seseorang tergeletak di dapurnya membuat Moza panik dan kebingungan juga.


Setelah selesai membuat bubur sambil memaki dirinya sendiri, Moza berjalan ke ruang tengah tempat Bad Boy menunggunya membuat makanan tadi.


Ya. Bubur yang Moza buat itu tentu saja akan ia berikan pada laki-laki itu. Setidaknya jika Moza tahu lelaki dengan hidung mancung itu berada di mana sekarang.


Bukan. Bukan rasa iba yang mendorong Moza untuk membuatkan bubur itu. Gadis itu hanya berpikir....


...kurang afdol rasanya mengusir orang yang hampir mati kelaparan. Betul sekali, bukan?


"Ke mana lagi, sih? Katanya tadi lapar," gumam Moza kesal. Gadis itu menaruh mangkuk bubur buatannya, dan mencari Bad Boy.


Dan betapa kagetnya Moza melihat laki-laki itu sedang meraih sesuatu di laci penyimpanan makanan ringannya dengan gerak-gerik yang mencurigakan.


Sial. Begini rupanya.


"Seharusnya dari awal aku tahu kalo kamu punya niat buruk!"


Moza menghampiri laki-laki yang masih menggunakan selimut di sekujur badannya itu dan membalikan posisi tubuhnya agar berhadapan.


Namun... Mata Moza menangkap sesuatu yang membuatnya terpaku, sekaligus membisu kehabisan kata-kata.


"M-makanan kucing?"

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2