MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
7


__ADS_3

Mengalami hal baik secara tak terduga, mungkin adalah momen yang dinanti-nanti oleh mayoritas orang. Mulai dari bertemu artis idola secara tidak sengaja, mendapat kejutan besar dari orang spesial, sampai mendapatkan suami seperti Tom Cruise.


Dan Moza pun mengalami hal yang sama. Bedanya, Moza sama sekali tak menanti momen ini. Tidak pernah sekali pun terlintas di pikirannya, akan duduk di samping pria dengan memakai buntalan selimut di badan sambil memakan makanan kucing.


Ya. Makanan kucing.


"K-kamu yakin gak mau bubur itu?" tanya Moza gelagapan tanpa menatap cowok yang ia ajak bicara.


Demi Tuhan, Moza tidak sanggup melihat seorang manusia memakan makanan kucing. Apalagi jenis makanan yang basah.


"Gak, ah. Bubur putih itu baunya gak enak," jawab Bad Boy sembari menikmati makanan kucing kemasan yang ia pegang dengan lahap.


Sebenarnya ada apa dengan Bad Boy? Jika cowok itu datang untuk menipu, mengapa ia harus sampai memakan makanan kucing segala?


Sial. Sepertinya Moza harus mencari cara untuk membongkar kedok Bad Boy. Saat cowok itu memanggil dirinya sendiri dengan nama 'Mogi'....


...itu benar-benar tidak masuk akal.


"Eh? Jatoh?" gumam Bad Boy terkaget karena makanan yang ia lahap jatuh ke dalam selimut yang ia lingkarkan di badan.


Alhasil cowok itu menyingkapkan selimut itu dan mencari makanan yang jatuh ke badannya.


Memang dasar gila. Moza menyuruhnya memakai selimut karena Bad Boy telanjang. Dan sekarang cowok itu seolah mau memperlihatkan tubuhnya?!!


Gila.


"Ng-ngapain, sih?!!" Moza masih buang muka dengan ekspresi gugup. Entah mengapa pipinya tiba-tiba terasa hangat.


Aku yang gak gaul, atau emang penipu zaman sekarang itu pada ganteng, ya? Moza membatin dengan dungunya.


Tapi memang Moza akui, bohong jika Moza bilang cowok itu tidak tampan. Menurut Moza, parasnya nyaris sempurna. Belum lagi tubuhnya yang sempat Moza lihat-


Ah, Moza jadi ikut gila.


"Hm? Moza kenapa?" tanyanya dengan wajah polos. Moza berdecak kesal, "Malah balik nanya. Kamu ngapain buka-buka selimut segala?!"


"Ini makanan jatoh ke badan. Nanti kalo didiemin kotor, dong," balas Bad Boy. Moza memutar matanya malas. Lalu beranjak dari sofa.


"Ya udah, tunggu sebentar. Aku ambil baju buat kamu."


Moza pergi ke kamar, dan membuka lemari pakaiannya. Ia berusaha melihat-lihat pakaian yang cocok dipakai oleh Bad Boy.


"Aduh... Baju aku kecil semua, lagi," gumam Moza. Gadis itu baru sadar tak punya pakaian yang cukup untuk ukuran seorang pria.


Kecuali... INI DIA!


Sweater berwarna toska dengan motif hati berwarna merah muda tampak terlipat di salah satu sudut lemari Moza.


Moza tak mau mengingat mengapa ia punya baju ini, karena sejujurnya Moza pun lupa. Tapi persetan saja, lah. Ini satu-satunya pakaian oversized yang Moza punya.


"Ini. Pake ini," ucap Moza sambil memberikan sweater itu. Untung saja ia masih menyimpan celana panjang berwarna hitam yang diberikan tetangganya sebagai kado.


"Apa ini?" tanya cowok itu dengan mata bulatnya. Moza mendengkus, "Pake aja. Kamu gak mau pake selimut terus, kan?"


Walau sempat terdiam, cowok dengan rambut terbelah dua itu mengangguk-angguk dan hendak menyingkapkan selimutnya.


"KAMU KENAPA LAGI, SIH? GILA, YA?" teriak Moza reflek berbalik badan. "Ih? Perasaan Moza marah-marah terus, deh. Katanya suruh pake ini." Bad Boy memajukan bibirnya.


"Ya enggak di sini juga, kali!"


"Terus harus di mana?"


"Di kam-Ah... Biar aku yang keluar."


Sumpah. Moza kehabisan energi hanya dengan meladeni perkataan cowok dengan bibir merah muda itu.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Za... Sebenernya lo masih nganggap gue sahabat gak, sih?"


Moza sudah menceritakan semuanya pada Hana. Mulai dari kucingnya yang hilang, kedatangan cowok asing, dan segalanya yang tak masuk akal itu, semuanya Moza ceritakan.


"Ya maaf. Aku takut kamu gak akan percaya."

__ADS_1


"YA JELAS, LAH! SIAPA YANG BAKAL PERCAYA ADA COWOK GAK DIKENAL NGAKU-NGAKU SEBAGAI HEWAN PELIHARAAN? JELAS-JELAS ITU PENIPU, ZA!"


Moza bersyukur mereka berbicara lewati telepon. Jika saja bertemu langsung, mungkin Hana akan mencabik-cabik Moza karena tidak berterus terang sejak awal.


"Aku juga tau! Mana mungkin itu beneran Mogi! Aku cuma... bingung."


"Haaahhh... Di mana dia sekarang? Gak denger pembicaraan kita, kan?"


"Enggak. Sekarang dia lagi di kamar. Tidur kayaknya."


"Kayaknya lo emang gak waras deh, Za. Bisa-bisanya lo biarin dia tidur di kamar lo! Suruh di luar aja!"


"Justru karena aku masih waras makanya aku suruh dia di kamar! Kalo aku suruh dia tidur di ruang tengah, gimana kalo ada tetangga dateng terus liat cowok asing di apartemen aku?"


"Terserah, lah. Btw sekarang apa rencana lo? Gak mungkin lo bakal diemin niat buruk dia, kan?"


"Enggak, lah! Aku juga ada rencana. Besok, aku mau beli baju sama dia. Pokoknya aku mau yakinin dia seolah aku bener-bener percaya bahwa dia Mogi."


"Terus? Udah itu mau lapor polisi atau gimana?"


"Ya...." Aku juga gak tau.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Kayaknya kamu capek banget."


Moza tersenyum sambil menyodorkan segelas kopi hangat pada Billy yang sedang mengipasi tubuhnya sendiri yang kegerahan.


Padahal sekarang pukul tiga sore. Seharusnya cahaya mataharinya sudah normal-normal saja. Tapi entah mengapa sore ini matahari serasa ada dua.


"Hah?" Billy tertawa kecil, "Gini doang. Gak capek, kok. Cuma udaranya aja kayak di gunung berapi."


Moza ikut tertawa, "Dari tadi ngelayanin pelanggan, dimintain foto bareng, dimintain tanda tangan, beneran gak capek?" Moza tersenyum miring di akhir ucapannya.


"Capek dikit, sih. Tapi it's ok lah," kekeh Billy. "Lagi pula jadi manager di sini bosen. Cuma duduk diem aja di ruangan gak ngapa-ngapain. Mending bantu-bantu di sini. Ya, kan?" lanjut pria itu.


"Bisa bantu-bantu atau bisa tebar pesona?" Moza tertawa jahil. Dan Billy menggaruk tengkuknya kikuk.


Semuanya tak pandang bulu. Dari gadis, wanita dewasa, ibu-ibu, bahkan anak SD pun selalu bersemangat saat Billy menjadi pelayan mereka.


Apalagi sore ini. Dikarenakan Arya dan Rio sudah masuk kerja di sif pagi, kini giliran Moza dan Hana. Namun Hana, kecebong satu itu mengaku tak bisa masuk kerja dengan dalih sakit.


Alhasil Billy-lah yang harus menggantikan posisi Hana setidaknya untuk sore ini.


"Kayaknya kebanyakan pengunjung lebih milih kamu sebagai pekerja di sini dari pada Hana," ucap Moza.


Billy menyeruput kopi yang diberikan Moza tadi. "Entahlah. Tapi siapa yang suka sama muka cuek dan tatapan julid si Hana itu? Gue gak ngerti kenapa ayah gue memperkerjakan makhluk itu."


Moza tertawa mendengarnya. Jika saja Hana hadir dan mendengar itu, mungkin tangan Billy akan dipelintir habis-habisan oleh cewek bar-bar macam Hana itu.


"Berdo'a aja semoga Hana gak denger apa kata kamu barusan, Bil."


Billy mengurai senyum saat mendengarnya. Moza pun tersenyum. Dan senyuman itu... senyuman itu yang selalu membuat Moza melupakan segala hal yang membuat kepalanya seolah hendak pecah.


Pikiran-pikiran dan masalah menyebalkan yang berada di otak Moza itu seakan sirna kala hanya melihat segaris bibir merah muda yang tersenyum itu.


Namun... Kini giliran senyum Moza yang sirna. Wanita itu tiba-tiba kembali teringat pada sosok penipu yang masih berada di apartemennya.


Haaahhhh... Penipu sialan itu bisa membuat Moza gila.


"Kayaknya sekarang lo yang capek deh, Za. Capek mikirin apa lo?"


"ADA COWOK ASING YANG TIBA-TIBA MASUK KAMAR AKU DAN PURA-PURA NGAKU JADI HEWAN PELIHARAAN AKU, BELUM LAGI DIA BELA-BELAIN MAKAN MAKANAN KUCING BIAR AKU PERCAYA!! DAN TAU APA YANG LEBIH MENARIK? AKU MALAH NYUSUN RENCANA GAK MASUK AKAL DIBANDING LAPORIN DIA LANGSUNG KE POLISI!!"


"Gak apa-apa." Moza tersenyum.


Jangan bodoh. Moza tak mungkin mengatakan hal seperti itu. Seberat apa pun masalahnya, Moza tidak akan membuang-buang waktunya hanya untuk menjelaskan masalahnya pada orang yang tidak perlu tahu menurutnya.


Apalagi orang itu adalah Billy. Apa yang akan terjadi jika Moza jujur pada Billy bahwa ia bertemu pria asing yang bersikap aneh?


Tidak, tidak, tidak. Moza tak mau memperumit semuanya.


"Aku lagi lemes. Biasa... 'masalah cewek'. Tapi gak apa-apa, kok."

__ADS_1


Billy sedikit kaget mendengarnya. "Mau gue beliin obat? Walau udah biasa, rasa sakit itu gak bisa ditahan, lho."


"Eh? Gak usah! Aku udah gak apa-apa serius. Mending kita fokus ke kafe aja, mumpung lagi rame," jawab Moza sekaligus mengganti topik.


"Ngomong-ngomong soal fokus, dari tadi gue hilang fokus gara-gara lo, Za."


Moza menoleh, "Ya? Gimana?"


"Enggak...," Billy tersenyum.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Tahu rasanya berendam di air hangat saat malam hari? Rasanya seperti tidak mau keluar saja dari bathtub. Belum lagi dengan alunan musik menenangkan yang memanjakan telinga.


Tapi tidak untuk Moza. Yang bisa didengar olehnya hanyalah suara riuh dari televisi yang sedang ditonton si cowok nyasar itu.


Selesai dengan ritual mandinya, Moza mengeringkan rambutnya dengan handuk dan keluar kamar mandi.


Wanita itu melirik jam dinding dan jarumnya menunjukkan pukul tujuh malam. Kanan, kiri, Moza mencari keberadaan Bad Boy.


Moza jadi penasaran. Televisi menyala, dan volumenya sampai terdengar ke kamar mandi bahkan nyaris membuat telinga Moza pecah.


Tapi mengapa Bad Boy tidak ada?


Sambil melirik kanan-kiri, Moza mencari keberadaan Bad Boy dengan masih menggunakan handuk di rambutnya.


Sampai akhirnya langkah kaki Moza terhenti saat merasa kakinya tidak sengaja menendang sesuatu.


"Astaga," gumamnya kaget saat tahu bahwa yang ia injak adalah kaki Bad Boy yang tengah tengkurap di lantai.


Bagus. Ada apa lagi ini? Tidak mungkin makhluk satu ini kelaparan sampai pingsan seperti waktu itu. Porsi makannya tadi siang sudah seperti manusia purba.


Apa jangan-jangan....


"Bosen...."


Moza mengernyit.


"Bosen, Mozaaaa... Pengin main."


Sial. Sia-sia aja Moza sempat khawatir.


"Bangun dulu. Lagi pula ngapain tiduran di lantai, sih? Tv nyala tapi gak ditonton, lagi," geram Moza.


Bad Boy bangun dan menatap Moza dengan ekspresi datar. Laki-laki itu sempat berkedip lalu mengurai senyum di wajahnya.


"Cantik."


EEEHHHH??!!


"A-apa, sih?! Gak jelas!" Moza berusaha mengalihkan pandangannya. Bad Boy jadi cemberut mendengarnya, "Moza marah-marah mulu! Mogi kan mau main, bukan dimarahin!"


Mogi....


Oh iya. Hampir saja Moza lupa. Moza harus melakukan skill aktingnya saat ini.


"Ya udah. Mau main apa?" nada suara Moza menurun. Gadis itu bingung saat Bad Boy pergi dan mengambil sesuatu yang tidak asing.


"Main ini aja, yuk!!"


Di tangan Bad Boy, terdapat sebuah tongkat kayu dengan beberapa bola dan lonceng kecil yang tergantung di ujungnya. Ditambah lagi dengan bulu unggas warna-warni tertempel di bolanya.


Moza tertegun. Mainan ini... Mainan yang Mogi suka.


"A-ayo... Kita-"


"MOZAAAAA!!! LO ADA DI DALEM, KAANNN?!!"


Gawat. Suara Hana. Apa yang akan terjadi jika Hana dan Bad Boy bertemu?


Tidak. Itu mimpi buruk.


...-TBC-...

__ADS_1


__ADS_2