MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
33


__ADS_3

Suasana sore seperti biasa di kafe Memories. Semilir angin hangat, dan angkasa yang mulai berwarna oranye dengan sentuhan merah muda. Tidak ada yang aneh, semuanya terlihat baik-baik saja.


Kecuali Moza.


Sedari tadi, gadis itu terus saja menatap layar ponselnya. Beberapa kali, Moza mondar-mandir di meja kasir sambil terus menaruh ponsel di telinganya seperti sedang menelepon seseorang.


Dan, ya. Tak lain dan tak bukan, orang yang menyebabkan Moza se-cemas itu adalah seorang laki-laki yang selalu memang memenuhi isi kepalanya.


Mogi.


Sudah sekitar lima belas menit Moza habiskan untuk menelepon anak itu. Tapi tidak kunjung ada jawaban.


Sebetulnya Moza tidak akan terlalu stres jika hanya itu yang terjadi. Seandainya jika Moza tidak tahu fakta bahwa Mogi sedang sakit.


Itu sebabnya Mogi tak hadir menemaninya bekerja sekarang ini.


"Halo?"


Moza sedikit terperanjat ketika mendengar suara seorang laki-laki dengan nada serak, seolah baru saja bangun tidur.


"Mogi?? Kok lama banget jawabnya? Kamu kenapa?"


"Ah... Enggak. Mogi cuma bingung cara pakai benda gepeng ini."


Moza menghela napasnya lega. Ternyata Mogi baik-baik saja. Tapi benar juga. Setelah menghadiahkan Mogi sebuah ponsel, seharusnya Moza mengajari anak itu cara menggunakannya.


"Ada apa, Moza?"


"Aku bentar lagi pulang. Kamu mau makanan apa?"


"Mogi gak mau apa-apa. Maunya Moza cepet pulang aja."


Mendengar suara Mogi sekarang saja, Moza tidak tega. Semangat yang meledak-ledak, dan suara yang memekakan telinga kini tidak lagi terdengar dalam suara laki-laki itu.


"Serius?"


"Iya."


"Kamu beneran gak mau apa-apa?"


"Iya."


"Tapi kamu harus makan sesuatu."


"Gak mau."


"Es krim?"


"Gak mau."


"Biskuit?"


"Enggak."


"Pudding?"


"Moza cepet pulang aja... Ya?"


Moza menghela napas, "Oke."


"Cieeeeeee!!!!"


Baru saja selesai menelepon Mogi, Moza sontak menoleh ketika mendengar Hana dan Billy kompak mendatanginya sembari meledeknya seperti itu.


"Makin lama makin lengket aja kalian berdua. Pake lem apa, sih?" Hana tertawa sembari menatap Moza dengan tatapan meledek.


Moza memutar bola matanya malas, "Ucap seorang cewek yang dari tadi bareng-bareng terus gak mau lepas sama cowoknya."


"Mueheheh...."


Billy tersenyum pada Moza, "Khawatir banget kayaknya. Lo kenapa lagi, sih? Ah, salah. Maksudnya... Mogi kenapa lagi?"


"Mogi demam. Udah tiga hari. Dia gak mau makan, minum obat apalagi. Maunya aku di apartemen terus bareng dia. Anak itu manja banget. Tapi sialnya...."


"...Aku kepikiran."


"Za... Si Momogi itu demam, bukan stroke. Lo gak harus terus-terusan sama dia. Lagian walau emang kelakuannya kek bocah ingusan tengil, tapi gue tau dia kuat." Hana menepuk-nepuk pundak Moza.

__ADS_1


"Kamu mau nenangin atau ngajak ribut sih, Na?"


Billy ikut tertawa, "Kalo mau pulang sekarang aja. Waktunya udah habis juga, kok."


"Dihh?? Kok gitu? Tadi ke gue bilangnya jangan dulu pulang???" timpal Hana sambil menoleh pada Billy. "Gak usah sirik. Lo nemenin gue malem ini. Rio izin gak akan masuk hari ini. Okee???" Billy menjawab.


Hana mencebik, "Ya udah. Kali ini gue ngalah sama pasangan baru. Manfaatin waktunya buat 'ehem-ehem' sama si Mogi, ya ahahahahhhahahah!!"


Moza geleng-geleng, "Bil, kamu udah panggil dokter?"


"Udah. Tapi gak ngaruh. Malah dokternya yang masuk RSJ gara-gara dia haha."


Hana terbelalak, "Lohh? Kok mulutnya pada minta disleding?"


"Aku kira cuma Mogi yang sakit. Cepet sembuh ya, Na."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Decitan pintu sayup-sayup terdengar ketika Moza membuka pintu apartemennya. Dan matanya disambut oleh pemandangan yang berantakan bukan main pada ruang tengahnya.


Bantal sofa yang berada di lantai, lima gelas yang berjejer acak-acakan di meja televisi, dan mobil-mobilan milik Mogi yang menggantung di samping jam dinding, ya Moza sendiri tidak mengerti mengapa bisa itu sampai di sana.


Tapi, ya... Ini memang sudah menjadi hal biasa. Jika Mogi ada di apartemen, jangan harap semuanya akan tetap bersih dan rapi. Karena walau sedang sakit atau apa pun itu, Mogi akan tetap menjadi iblis kecil yang hobi mengacak-acak.


Namun Moza lega. Jika Mogi masih bisa membuat apartemennya seperti Hiroshima saat masa perang, itu artinya....


...Mogi baik-baik saja.


Sembari menghela napasnya panjang, Moza menaruh tas cokelat kecilnya dan mulai merapikan segala kekacauan yang ada.


Setelah selesai dan memastikan seisi apartemennya sudah seperti tempat tinggal manusia normal pada umumnya, Moza melangkah menuju kamar di mana Mogi berada.


Pintu terbuka. Nampak jelas Mogi tengah berbaring meringkuk di ranjang. Laki-laki dengan piyama biru tua bermotif beruang kutub itu terlihat lemas. Bibir pucatnya jelas dapat Moza lihat.


Gadis itu menghampiri Mogi dan mengelus rambutnya. Wajah bersemangat itu tidak lagi terlihat kala Mogi meringkuk dalam keadaan seperti ini.


Gak peduli se-sakit apa kamu, halusnya dan harum stroberinya rambut kamu selalu bikin aku tenang, Mogi, bisik Moza dalam hatinya.


"Hmm? Moza udah pulang?"


Mogi tersenyum. Sesaat setelah membuka matanya barusan, Mogi bangun dari posisi tidurnya dan terduduk sila di hadapan Moza.


"Hai."


"Gimana sekarang?"


"Kepala Mogi masih pusing."


"Itu karena kamu jarang makan."


"Gak mau makan, Moza. Makanannya pait. Wlee."


"Pait karena kamu lagi sakit."


Mogi memajukan bibirnya, "Huuhh... Ternyata sakit itu gak enak, ya. Bahkan sekarang kepala Mogi serasa lagi diputar-putar kayak gangsing."


"Gak ada sakit yang enak, Mogi. Lagi pula ini akibatnya kalo kamu keras kepala. Udah aku bilang jangan hujan-hujanan, masih aja bandel. Sakit, kan?"


"T–tapi seru. Bisa main sama kodok...."


"Terus kalo udah sakit, kodok-kodok itu yang ngerawat kamu?" Moza menatap Mogi dengan tajam sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya.


"Mogi, Mogi... Kalo gak mau minum obat, ya jangan sakit. Kalo gak mau sakit, ya jangan dicari penyakitnya."


"Iyaaa maaf... Lain kali Mogi dengerin Moza."


"Ya, aku tau. Kamu dengerin aku, terus lama-lama bandel lagi."


"Iih... Kok jahat?"


"Jahat? Bukannya emang bener beg–"


*Chup!!


"Biar Moza gak marah lagi hehe."


Moza diam membatu. Ekspresi wajahnya berubah datar ketika menyadari bahwa Mogi baru saja mengecup bibirnya.

__ADS_1


"K–kamu pikir marahku bakal hilang cuma karena itu?"


"Hm... Gimana kalo lebih lama dari yang tadi?"


Anak ini bener-bener... Belajar dari mana, sih?? gerutu Moza dalam hati.


"Udah, ah. Sekarang kamu makan, terus habis itu minum obat yang aku bawa. Gak ada penolakan," ucap Moza sembari menunjukkan paper bag cokelat pada Mogi.


"Aaaaaa... Gak maaauuu! Paiiiittt!"


"Terserah, sih. Paling nanti gak akan ada Doraemon lagi buat kamu."


"Oke, Mogi minum obat."


Moza tersenyum miring, "Good boy."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Moza."


"Hmm...."


"Mozaaa."


"Apa??"


"Gimana sih cara pakai ini?"


Moza mengernyit. Gadis itu melihat Mogi menggenggam ponsel pemberiannya beberapa hari lalu.


"Tadi waktu mau jawab teledon Moza aja Mogi bingung."


Moza menghela napas, "Telepon, Mogi. Bukan teledon."


"Iya itu maksudnyaaa."


"Aku akan ajarin kamu cara pakai itu, kalo kamu udah sembuh."


"Lohh?? Kan Mogi udah sembuh?"


"Sembuh apaan. Suaramu bindeng gitu."


"Tapi kan Mogi udah minum obat tadiii!!"


"Obat itu biar kamu sembuh. Gak ada hubungannya sama HP."


"Seriuuss?? Kok Moza nyebelin??"


Moza mengernyit, "Kok kamu marah-marah?"


"Ih? Kok Moza begini ke Mogi?"


"Kamu juga kok begini ke aku?"


"Ya udah! Mogi ngambek!"


"Ngambek aja sana."


"Ngambek beneran, lho."


"Mau ngambek beneran atau ngambek HDC juga terserah."


"Mozaa jangan gitu, dong."


"Kamu juga jangan gini, dong."


"Sumpah, ya?? Mogi udah dengerin Moza buat minum obat. Sekarang Mogi mau minta diajarin pakai benda gepeng ini Moza gak–"


*Chup!


Mata Mogi berkedip beberapa kali. Laki-laki dengan rambut terbelah dua itu menatap Moza dengan mata bulat wajah polosnya.


Melihat itu, Moza tersenyum.


"Kamu pikir cuma kamu yang bisa nyosor sembarangan?"


...-TBC-...

__ADS_1


__ADS_2