MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
31


__ADS_3

Pada pukul 15.00 alias pukul tiga sore kini, apron sudah terpakai rapi pada Moza. Gadis itu sibuk merapikan bagian dapur kafe yang sudah seperti kandang babi hutan.


Sebetulnya Moza belum seharusnya sibuk, namun karena Rio dan Arya sudah menghilang entah ke mana, akhirnya Moza dan Hana mau tak mau harus menggantikan posisi mereka.


Padahal Rio dan Arya masih memiliki sif kerja hingga pukul 15.30. Tapi, ya... tidak ada yang bisa diharapkan dari dua pemalas itu.


"Sori ya Za hari ini gue gak bisa bantu."


Moza menoleh pada Billy yang baru saja mengatakan itu. Moza dapat melihat Billy sedang sibuk memasukan beberapa map ke dalam tasnya.


"Oh iya gak apa-apa. Santai aja," jawab Moza.


Gadis itu bahkan tidak bertanya 'mengapa' karena memang sudah tahu Billy memang lelaki yang sibuk.


Billy tersenyum sebagai respons. Laki-laki itu lalu mengenakan jas hitamnya dan bergegas pergi.


Tapi mengira Billy akan benar-benar pergi, Moza dibuat terbelalak kaget ketika Billy datang pada Hana dan mengecup bibir Hana sejenak.


"Berangkat dulu, ya."


Billy tersenyum pada Hana. Dan cewek itu membalasnya dengan senyuman yang tidak kalah lebar.


"Jangan ngebut. Kalo ngebut, gue telanjangin."


"Bukannya udah pernah, ya? Haha."


"Oh? Nantangin?"


Moza dibuat kian menjerit dalam hatinya ketika melihat Hana hendak membuka kancing kemeja yang dikenakan Billy.


"H–hei! Jangan...."


Billy kembali mengancingkan kemejanya. Namun Hana malah tersenyum miring,


"Jangan di sini kan maksudnya?"


Billy terkekeh kecil. Cowok itu mengacak-acak rambut Hana sejenak sebelum akhirnya


benar-benar pergi.


"Na, bisa gak cabulnya pilih-pilih tempat? Mentang-mentang udah pacaran...."


"Sirik ae lu."


Moza sungguh dibuat geleng-geleng oleh tingkah sahabatnya satu ini. Untungnya tidak ada pengunjung yang terlihat. Jadi adegan romantis (menggelikan) tadi hanya disaksikan oleh jajaran meja-kursi kosong, dan... Moza tentunya.


"Tadi itu apa?"


Moza dan Hana kompak menoleh pada Mogi yang baru saja datang dengan sapu di tangan sebelah kanannya.


"Hana sama Om Billy tadi... ngapain?"


"Gue? Tadi ciuman doang."


Moza terbelalak. Gadis itu refleks menyenggol Hana yang membuat sang sahabat meringis kecil sembari tertawa-tawa.


"Ciuman itu... apa?"


"Halah gitu doang gak tau. Ciuman itu–"


"ITUUU...!! Nama...."


Moza sudah berusaha dengan susah payah menahan ekspresinya agar tidak terlihat gelagapan.


"Itu... nama.... nama... nama cupcake! Yaaa!!!! Cupcake! Ciuman itu nama cupcake, Mogi."


"Oohh...."


Moza tersenyum lega melihat Mogi hanya manggut-manggut saja. Kemudian gadis itu melirik tajam pada Hana dengan wajah sinis.


"Gak kelakuannya, gak mulutnya, sama-sama bikin elus dada kamu, Na."


"Ya udah, sih. Lagian gak ada salahnya dia tau juga."


"Yaaa... enggak di tempat umum begini juga ngasih taunya, Hanaaaa... Ini frontal banget namanya."


"Oh. Jadi kalo di tempat sepi boleh?"


Moza mendengus, "Mau heran, tapi Hana...."


"Udah ah. Aku ke belakang dulu. Kerjaan masih numpuk."


"Makanya dilipet biar gak numpuk!"

__ADS_1


Hana berteriak sembari tertawa. Sementara Moza hanya merespons dengan gumaman seadanya lalu pergi.


"Hana...."


Sang pemilik nama menghela napasnya panjang. Cewek itu menatap Mogi yang belum pergi dari tempatnya sedari tadi.


"Apa?"


"Cupcake-nya enak, gak?"


"Hah?"


"Isshh cupcake ciuman-nya enak, gak? Kalo enak Mogi mauuu!"


Hana baru tersadar, "Tolol. Lo dibohongin sama si Moza."


"Maksudnya?"


"Ciuman itu bukan cupcake!"


"Terus apa?"


"Itu–"


Kemudian Hana melamun. Kira-kira bagaimana bahasa yang tepat untuk membuat lelaki besar dengan mental seorang bocah ini bisa paham?


"Arrgh bodo amat! Intinya ciuman itu enak."


Mogi mengernyit, "Lho? Katanya ciuman itu bukan cupcake. Tapi kok enak?"


"Percaya sama gue. 'Enak'-nya itu beda haha."


"Mogi... gak ngerti."


"Ya gue tau. Ciuman itu umumnya dilakuin karena rasa sayang. Bocil kayak lo mana paham soal beginian."


"Ah... geli sendiri gue jadinya ngomongin ini. Lo kan...."


Hana terlihat kebingungan mendapati Mogi tiba-tiba melamun. Jelas saja Hana dibuat heran oleh Mogi yang mendadak diam begitu.


"Mogi...?"


Tidak menjawab, Mogi tidak memberikan respons apa pun. Laki-laki itu hanya melanjutkan lamunannya... sembari menatap Moza.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Enak, gak?"


Mogi bertanya sambil menatap Moza penuh harap. Laki-laki itu mengharapkan respons positif dari Moza untuk telur gulung yang baru saja ia buat sendiri.


"Enak, kok."


Dan Moza, gadis itu mengangguk-angguk mencicipi makanan buatan Mogi tersebut. Sejujurnya... rasanya tidak seperti kotoran sapi sejak terakhir kali Mogi memasak.


"Sepuluh lah dari aku," lanjut Moza. "Yeaayy!! Mogi udah bisa masak!" Mogi mengangkat kedua tangannya bahagia.


"Maksud aku sepuluh dari seratus."


Mogi cemberut, "Huh jahat."


"Enggak, kok... Enak-enak."


Moza tertawa-tawa kemudian. Untuk sejenak, gadis itu menatap wajah Mogi. Kilau mata laki-laki itu terlihat jelas kala tatapan mereka bertemu.


Laki-laki ini...


Entah mengapa. Moza jadi memikirkan awal pertemuannya dengan Mogi. Di mana gadis itu benar-benar jantungan ketika terkejut ketika terbangun dan melihat ada seperti laki-laki telanjang dada tengah terlelap di ranjangnya.


Belum lagi momen-momen setelahnya yang membuat kepala Moza nyaris hendak pecah. Ditambah lagi perilaku Mogi yang memang seperti bocah yang doyan merengek dan berisik.


Benar-benar penderitaan yang lengkap.


Namun sekarang....


Entah kenapa Moza melihat ada perubahan yang terjadi pada Mogi. Tidak terlalu banyak memang. Karena perilaku bocahnya masih melekat pada diri lelaki itu.


Tapi entahlah. Moza merasa Mogi tidak terlalu berisik seperti dulu. Juga tidak terlalu sering merengek dan menyebalkan seperti dulu.


Ya, ya, ya... Moza akui Menggemaskannya masih sama.


"Mata Moza kenapa? Wajah Mogi ada yang aneh, ya?"


Moza menggeleng pelan, "Enggak."

__ADS_1


"Terus kenapa?"


"Aku... cuma mendadak kepikiran. Ternyata sekarang kamu gak terlalu nyebelin, ya."


"Ih! Emang dulu Mogi nyebelin?"


"A–ah... Enggak. Abaikan aja," ucap Moza seraya tersenyum. Mogi mengangguk kecil saja sebagai jawaban.


"Oh iya Moza."


"Apa?"


"Mau tanya boleh?"


"Kalo gak dibolehin pun kamu akan tetep nanya, kan?"


"Iya hehe."


"Ya udah. Mau nanya apa?" kata Moza santai sambil mengambil gelas berisi teh hangat dan menyeruputnya.


"Ciuman itu apa?"


Moza langsung tersedak.


"M–masih nanyain soal itu?" Moza mengelap sisa-sisa teh yang sedikit berceceran di area bibirnya.


"Iya. Soalnya Moza bohong. Ciuman itu bukan nama cupcake! Ya jadi jangan salahin Mogi kalo Mogi mau tau yang benernya."


Moza menghela napas, "Emang harus banget ini dibahas, ya?"


"Iyaaaa, Mozaaaa... Soalnya kata Hana ciuman itu bukan cupcake. Tapi Hana yang bilang sendiri kalo ciuman itu enak. Mogi bingung."


Moza sampai geleng-geleng kepala mendengar ocehan Mogi barusan. Gadis itu mengusap mukanya sejenak sambil seperti sedang merasa geram.


"Hana... kamu apakan bocah ini?"


Moza lalu menatap Mogi dengan lelah, "Terus? Hal informatif dan edukatif apa lagi yang Hana bilang ke kamu?"


Mogi diam, lalu mengangkat kedua bahunya sejenak. "Gak ada lagi, sih."


"Oooohhh! Hana juga ada bilang ke Mogi. Mogi gak terlalu ngerti memang. Tapi Hana bilang kalau ciuman itu umumnya dilakukan karena rasa sayang."


Moza tersentak. Topik apa ini??


"Mogi... kamu bahkan gak tau apa yang kamu omongin. Tidur aja, ya? Kalo terlalu malem nanti ada badut ke sini, lho."


Moza berkata dengan nada rendah, berniat untuk menidurkan Mogi agar terbebas dari ocehan bayi bertubuh besar itu.


"Hmm?? Kata siapa? Mogi tau, kok."


"Maksud kamu?"


"Iya. Mogi paham apa itu 'sayang'."


"Oh bagus, anak kecil. Kalo gitu kasih tau aku."


"Moza."


Moza melongo, "Apa?"


"Moza, Moza... kok belum mengerti juga, sih? Sayang itu adalah perasaan nyaman kita pada seseorang. Sayang itu perasaan kita ingin melindungi orang itu dan gak mau bikin orang itu menangis. Pokoknya selagi rasa sayang itu ada...."


"...kita mau orang itu terus tersenyum."


Mogi tersenyum, "Dan setiap Mogi merasa seperti itu, satu-satunya yang ada di pikiran Mogi...."


"...cuma Moza."


Moza sampai terperangah mendengarnya. Gadis itu harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa lelaki yang sedang berada di hadapannya ini adalah Mogi.


Bocah ini... bicara apa dia?!


Sejujurnya, Moza tidak tahu mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Matanya jadi menatap Mogi dengan tidak tenang.


Ah, ralat. Moza tahu betul mengapa ia begini.


"M–Mogi...."


"Hmmm??"


Moza diam untuk sejenak. Gadis itu lalu menunduk dan menghela napasnya panjang sebelum kembali menaruh tatapannya pada Mogi.


"Kamu... mau tau gak ciuman itu gimana?"

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2