MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
12


__ADS_3

Jam makan siang tiba. Moza melepas apron-nya dengan niat ingin ke apartemennya. Lagi pula ia tidak mau mati kebosanan karena Billy dan Hana sedang tak berada di kafe.


Baru saja selesai melipat apron yang dipakainya tadi, Moza terbelalak saat melihat sosok pria paruh baya dengan kaus merah polos dan celana panjang itu mendekat ke arah Moza.


"Ayah?!" kaget Moza dengan kata yang masih terbelalak.


Moza tidak pernah menyangka akan melihat Ferdy lagi setelah sekian lama tak berjumpa akibat Ferdy yang untuk menyerahkan kafe Memories pada Billy dan pergi ke negri panda alias China.


"Happy birthday ya, cantik." Ferdy tersenyum sembari membalas pelukan Moza. Gadis itu tiba-tiba memeluk sang 'ayah' tadi.


"Gak. Gak diterima ucapannya. Aku ngambek." Moza melepas pelukannya dan seolah sedang marah.


Ferdy terkekeh, "Loh? Kenapa?"


"Habisnya datang ke sini gak bilang-bilang! Kalo begini kan aku gak ada persiapan sama sekali. Aku gak punya apa-apa buat dikasih ke ayah." Moza menundukkan kepalanya.


Pria dengan gaya rambut yang hampir mirip dengan Billy itu lagi-lagi tertawa kecil, lalu mengacak-acak rambut Moza.


"Itulah kenapa namanya surprise...."


Cih. Itu juga kata-kata yang diucapkan Billy tadi.


"Lagi pula ini ulang tahun kamu. Kamu gak perlu siapin apa pun," lanjut Ferdy.


Tapi senyuman Ferdy menghilang seketika, "Emangnya Si Billy gak ngasih tau kamu kalo ayah udah pulang?"


Moza melamun sejenak.


"Beliau udah pulang?" tanya Moza lagi.


"Udah. Setelah nyampe rumah, beliau langsung nyuruh gue ngasih ini."


Sial. Se-penuh itukah isi kepala Moza sampai-sampai ia melupakan perkataan Billy yang bahkan belum berselang dua hari?


"Ah itu... Billy ngasih tau, kok. Aku aja yang lupa." Moza menggaruk tengkuknya.


Ferdy tersenyum, "Ya udah. Kamu di sini aja dulu, mumpung lagi istirahat."


"Pasti, dong! Lama aku gak ketemu sama ayah, masa aku tinggalin di sini sendiri? Kangen banget, tau!" Moza memeluk Ferdy erat.


"Emang siapa yang bilang kalo ayah kangen kamu?"


Moza mengangkat kepalanya, "Nyebelin."


"Gak kangen, tapi KANGEN BUAAANGEETTT." Ferdy menggoyang-goyangkan pelukan itu sampai keduanya tertawa.


Sekarang, mengerti kan mengapa Moza memanggil Ferdy 'Ayah'?


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Kenapa?


Itulah pertanyaan yang ingin Ferdy lontarkan sedari tadi kala melihat raut wajah Moza. Sejak bertemu tadi, Moza memang tak henti tersenyum sebagai ekspresi dari rasa rindunya pada Ferdy.


Tapi sudah beberapa tahun mengabiskan waktu bersama, Ferdy tahu bahwa Moza memiliki banyak sekali jenis senyuman.


Contohnya saat Moza terluka saat mencuci piring di kafe. Ferdy bertanya 'kamu kenapa?' dan Moza hanya tersenyum sembari menjawab, 'aku baik-baik aja, kok'.


Dan di situ Ferdy paham bahwa Moza sedang tidak baik-baik saja.


Tapi ini... Senyum Moza ini betul-betul terasa asing bagi Ferdy. Gadis itu memang tersenyum padanya sedari tadi.


Namun entah mengapa Ferdy melihat sesuatu yang salah.


"Gimana hadiah dari ayah? Kamu suka?"


Pertanyaan itu sukses membuat lamunan Moza sirna seketika. Gadis itu menatap Ferdy seperti orang bodoh.


"I–iya... Banget! Cocok sama selera aku. Makasih, Yah." Moza lagi-lagi hanya tersenyum sembari mengingat-ingat hadiah apa yang dimaksud Ferdy.


Pasti hadiahnya itu yang dikasih Billy kemarin, ucapnya dalam hati.


Sialan. Moza bahkan belum tahu apa isi dari hadiah itu. Setelah Billy berkunjung waktu itu, ia langsung berlari ke luar untuk–


Ah, lagi-lagi hal itu yang Moza pikirkan.


"Syukurlah kamu suka. Ayah maunya sih hari ini kamu pake itu. Kebetulan itu Billy yang pilih. Pasti cantik kalau kamu pake."

__ADS_1


Moza mengernyit. Jika seperti itu, berarti isi hadiahnya semacam perlengkapan fashion?


"Tadi buru-buru. Jadi gak keburu pake," ujarnya sekaligus beralibi.


Hening. Suasana itu tiba-tiba menyerang keduanya saat ini. Benar-benar tidak masuk akal. Jika sudah bertemu, biasanya perbincangan hangat akan terjadi.


Bahkan pembicaraan tak berguna pun tidak terelakan saat Moza dan Ferdy bertemu. Tapi kali ini....


"Moza."


Moza tersadar, "Ya?"


Ferdy menghela napas. Lagi-lagi melamun.


"Udah berapa lama kamu di sini?" tanya Ferdy. Jelas saja setelahnya dibalas oleh ekspresi bingung Moza.


"Maksudnya?"


"Udah berapa lama kamu kenal ayah?" Ferdy mengulangi pertanyaannya.


"Sejak... aku kerja di sini?" balas Moza kemudian, walau sempat kebingungan karena Ferdy bertanya seperti itu secara tiba-tiba.


"Udah berapa lama itu? Lama, kan?" ucap Ferdy lagi. Moza mengangguk dengan ekspresi yang tidak menghentikan menunjukkan bahwa ia bingung.


Billy tersenyum, "Gak usah bingung kenapa ayah nanya ini tiba-tiba. Karena kamu yang bikin ayah nanya ini."


Moza mengernyit, "Aku?"


Moza langsung tersadar. Sepertinya ia terlalu menunjukkan bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.


"Kamu kenal banget ayah. Ayah juga tau betul sikap kamu. Dan kamu sekarang ini, bukan kamu yang biasa."


Moza menundukkan kepalanya. Gadis itu menyelipkan poni terbelah duanya ke telinga.


"Ayah gak akan tanya 'ada apa?'. Tapi kamu tau ayah bisa jadi pendengar yang baik buat kamu," kata Ferdy dengan senyum tipisnya.


Moza tertegun. Ferdy memang betul. Sangat buang-buang waktu bertanya, 'kenapa?' pada Moza. Karena gadis itu pasti hanya akan tersenyum sambil berkata,


'Gak apa-apa.'


"Aku bener-bener stres, Yah. Kadang aku merasa mau nangis dan kabur aja. Ini bikin aku... capek," curhatnya pada Ferdy.


"Tapi bukan berarti aku nyerah...."


"Aku memang lagi mengalami hal yang bener-bener bikin aku sakit kepala. Tapi, aku gak mau down cuma karena ini."


"Untuk sekarang, cuma itu yang bisa aku bilang, Yah." Moza tersenyum, walau senyuman luka yang ia tunjukan.


Ferdy melamun. Masalah Moza bukan hal yang sepele.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Haaahhhh... Boleh nangis gak, sih?" Moza merebahkan tubuhnya ke ranjang sambil menatap langit-langit dengan tatapan kosong.


"Gak usah nanya. Nangis-nangis aja, kali," celetuk Hana sembari menguyah keripik kentang.


Selesai dari kafe tadi, Moza langsung ikut pulang ke rumah Hana. Entah mengapa ia tidak mau pulang ke apartemennya.


Tunggu, ralat. Justru Moza tahu betul alasan mengapa ia tidak mau ke apartemennya saat ini.


"Udah jam empat sore. Lo gak mau balik?" tanya Hana tanpa memalingkan pandangannya dari televisi.


"Kamu ngusir?"


"Iya."


Moza menghela napasnya kasar. Celetukan Hana ini memang kadang-kadang sangat menusuk.


"Oh, iya. Apa kabar orang yang nipu lo itu? Udah mati?"


Moza langsung tersedak jus jeruk yang tengah ia teguk tadi, "M–maksud kamu?"


"Lo sama penipu itu gimana? Udah ada jalan keluarnya? Atau lo masih di jalan 'rencana' lo itu, hah?"


Moza jadi bingung. Tadi Ferdy. Sekarang Hana yang menanyakan hal mengejutkan dengan tiba-tiba.


"Aku udah gak sama penipu itu. Aku laporin dia ke tetangga sekitar aku, terus aku gak pernah liat dia lagi."

__ADS_1


Astaga, Moza... Alasan macam apa itu? Bahkan anak SD aja gak bisa tertipu sama alasan konyol ini. Moza merutuki dirinya.


"Oh...."


Eh? Moza sampai melongo mendengarnya. Ia tak tahu Hana bisa dibohongi semudah ini


"Terus sekarang kenapa lo di rumah gue?"


"Y–ya emangnya gak boleh? Biasanya juga kamu gak pernah keberatan aku ke sini."


Hana memalingkan wajahnya dari layar


televisi dan melirik Moza. "Nah, itu point-nya. Biasanya gue gak keberatan karena gue tau lo ke sini setiap ada masalah...."


"...Kali ini ada apa?"


Sial. Apa hari ulang tahun Moza akan berubah menjadi hari interogasi? Ferdy, Hana, keduanya memberikan pertanyaan yang sama-sama intimidatif.


"Sederhana, sih...."


"...Aku cuma mau nagih catokan yang kamu pinjem. Di mana itu? Gak ilang, kan?"


Moza hanya berharap ia tidak terlihat gugup seperti orang yang sedang berbohong.


"Ooohh itu... Ada, lah. Ya kali gue ilangin barang elo." Hana kembali menguyah keripiknya dan fokus pada televisi.


Moza menghela napas lega. Syukurlah Hana tidak menanyakan hal-hal yang merepotkan lagi.


"Lagian gue udah gak akan pinjem catokan lo lagi. Gak ada gunanya," lanjut Hana. Moza mengernyit, "Heh, maksudnya? Catokan aku gak rusak, ya. Enak aja."


"Bukan itu! Maksud gue gak ada gunanya karena cowok gue selingkuh. Buat apa dandan? Cantik kagak, capek iya."


Moza geleng-geleng. Di matanya Hana itu seolah sudah seperti boneka hidup. Secara fisik, Moza akui Hana lebih unggul darinya.


"Aku heran. Kamu ini mau improve atau emang gak bersyukur, sih? Aku tau standar kecantikan orang itu beda-beda, dan kamu itu udah memenuhi dari standar aku. Malah lebih."


"Tapi kamu terus aja ngomong seolah gak cantik. Kalo kamu yang modelan gini aja gak cantik, terus aku apa? Ampas tahu?"


Hana membuang bungkusan kerpiknya ke sembarang arah dan memeluk Moza sambil menghela napas panjang, "Andaikan gue cowok, udah gue pacarin lo, Za."


"Ya... Kalo buat itu sih aku enggak dulu. Bisa-bisa aku di-kdrt terus sama kamu."


Hana mencebik, "Yeeehh...."


"Lagi pula kamu jangan geer. Aku gak muji kamu. Cuma gemes aja liat orang kayak kamu masih insecure sama muka sendiri," kata Moza.


"Sampe bingung. Siapa yang bisa nyelingkuhin kamu?"


Hana lagi-lagi membuang napasnya panjang, "Ada, lah satu orang. Bajingan itu tiba-tiba minta putus dan posting foto sama ayang barunya."


"Ppfftt... Tapi gue bodo amat, sih. Gue tinggal ajak aja pacar gue yang lain, terus melakukan hal yang sama." Hana melanjutkan.


Ekspresinya benar-benar lempeng saat mengatakan itu.


"Na...."


"Hm?"


"Gimana ya supaya bisa se-santai kamu?"


Hana menoleh dan menaikkan sebelah alisnya, "Maksud?"


"Iya. Gimana caranya biar bisa se-santai kamu? Setiap ada masalah, kamu seakan gak peduli dan bodo amat. Kalo aku jadi kamu, mungkin bisa nangis berhari-hari kalo diselingkuhin."


Sempat bingung, akhirnya Hana tertawa kecil mendengar itu, "Bukannya gak peduli, sih. Gue cuma males pusing dan gak mau ribet."


"Sebenernya kalo mau, gue bisa aja labrak selingkuhan bajingan itu. Tapi gue gak mau. Repot, males, pusing, ribet. Tinggal cari cowok baru, kelar deh."


Moza tersenyum tipis, "Andaikan aku bisa kayak kamu. Tapi mustahil kayaknya. Kalo ada masalah, aku ini orangnya gampang kepikiran."


"Kenapa mustahil?"


"Sebenernya lo juga bisa, Za. Semua orang juga bisa. Tergantung mindset masing-masing aja. Kalo mindset-nya kayak lo, masalah sekecil apa pun pasti dibikin pusing karena mikirnya negatif terus."


"Sementara orang yang kayak gue, pasti lebih memilih untuk gak ambil pusing ngikutin alurnya. Karena jujur aja, Za...."


"...Masalah sepele bakalan jadi masalah besar kalo dipikirin yang negatifnya terus. Apalagi masalah yang beneran besar."

__ADS_1


"Jangan gila cuma karena isi kepala sendiri."


...-TBC-...


__ADS_2