
Moza menyelipkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinga. Gadis yang tengah memakai kacamata itu sibuk membaca novel dengan ditemani segelas teh hangat.
Namun fokus Moza pada novel tidak bertahan lama, karena sesuatu berhasil menarik perhatiannya.
Terlihat Mogi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk putih melilit di pinggang laki-laki itu. Rambut pirangnya setengah basah, juga tetesan-tetesan air yang masih mengalir di kening serta wajahnya.
Dan satu lagi yang pasti.
Mogi telanjang dada.
"Matanya serem amat, Mbak."
Mogi tertawa kecil melihat tatapan Moza yang cukup menakutkan, memandang lurus pada dada serta perutnya.
Moza pun tertawa mendengarnya. Gadis itu menutup novelnya dan menopang kepalanya sambil terus menatap Mogi.
"Kamu juga begini, karena mau aku liatin kan?"
Mogi terkekeh, "Ngaco."
Kemudian laki-laki itu mendekat pada Moza dengan tubuhnya yang masih terekspos. Sementara Moza, hidungnya mulai mencium aroma stroberi yang kuat dari Mogi yang kini terduduk di sampingnya.
Aroma ini....
Aroma pertama yang dapat Moza cium ketika menemukannya di pinggir tempat sampah dekat apartemen kala itu.
Ya. Saat Mogi masih berbentuk seekor kucing.
Dan kini. Siapa sangka kucing putih menggemaskan yang Moza temukan bisa menjadi seorang laki-laki tampan dengan tubuh seperti binaragawan ini?
Benar-benar kucing terseksi yang pernah Moza temui.
"Kenapa liatin terus, sih?" tanya Mogi, setelah sadar Moza diam sambil menatapnya sedari tadi seolah tanpa berkedip.
"Kamu sendiri?" Moza balik bertanya.
"Maksudnya?"
"Iyaa. Kamu sendiri ngapain duduk di samping aku gak pake baju?"
"Kan mau ngambil baju, Mozaaa."
"Bukannya baju kamu di kamar?"
Mogi diam sejenak lalu tertawa, "Gak boleh banget ya aku duduk di pinggir kamu?"
"Gak boleh."
Mogi tersenyum, "Can you... tell me the reason?"
Bisa saja Moza mengatakan 'iya'. Jika saja Mogi tidak menunjukkan dada dan perut atletisnya dan hanya memakai sehelai handuk tipis.
Moza melepaskan kacamatanya. Gadis itu balas tersenyum sembari menatap Mogi lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Simple. Because, if you near me and you don't wear any clothes like this, I can...."
Tangan Moza mulai mengarah lurus ke dada bidang milik Mogi. Gadis itu mulai meraba-raba dan mengusapnya dengan lembut.
"...do this."
Mogi agak terperanjat, "M–Moza?"
"Hmmm?"
"What you–"
"Doing? Nothing. I'm just did things that I...."
"...like to do."
Moza lalu menurunkan tangannya. Jemari lentiknya langsung mengelus-elus perut keras milik Mogi dan mencubitnya pelan.
Sementara sang 'pemilik' hanya bisa diam dengan sedikit menganga. Mogi dapat merasakan dengan jelas ketika jari-jari Moza mulai mengelus perutnya dengan lembut.
Napas Mogi kian memburu saat jemari Moza tak berhenti menari di atas perutnya, sampai akhirnya laki-laki itu menggeleng cepat dan berdiri.
"A–aku ngambil baju dulu."
Mogi pergi, sementara Moza yang langsung tertawa melihatnya. Gadis itu geleng-geleng lalu tersenyum.
"Dia yang nantang, dia yang tumbang haha."
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
"Mogi."
"Ya?"
"Liat ikat rambutku, gak?"
"Enggak, tuh."
Sudah hampir sepuluh menit Moza habiskan untuk mencari benda elastis berwarna biru tua itu, namun benda itu seolah tidak mau ditemukan.
"Tapi tadi aku taro di meja."
"Berarti harusnya ada kalo gitu."
"Tapi ini gak ada."
"Kalo gitu coba ingat-ingat."
"Aku yakin, Mogi... Di meja. Tapi sekarang gak ada...."
"...gak mungkin. Ini pasti ulah kamu. Balikin, Gi gak lucu tau. Rambutku kayak singa kalau gak pake itu!"
Mogi menghela napasnya panjang, "Moza... Itu ikat rambut kamu. Yang beli kamu. Yang selalu pake juga pastinya kamu. Dan sekarang ini salah aku?"
__ADS_1
"Karena tadi aku yakin ada di meja. Tapi sekarang gak ada. Masa ikat rambutku jalan sendiri?"
"Bahkan sekarang kamu nuduh ikat rambutnya punya kaki?"
"Mogi... Serius. Mana–"
Ucapan Moza terhenti ketika ponselnya berdering dengan menampilkan nama 'Hana' di layarnya.
"Hal–"
"MOZAAAAAAAAA!!!!!"
Ponsel Moza jatuh seketika.
"Astagaaa, Hanaaa!! Telingaku sampe berdengung... Apa, sih?"
"Ehehee... Lo gimana? Baik-baik aja, kan?"
"Na... Kita baru ketemu dua jam lalu."
"Terus? Emang salah ya nanyain kabar?"
"Hmm enggak, sih."
"Makanya... Lo baik-baik aja kan cantiknya akuuu????"
"Aku lagi gak baik."
"Lhoo?? Kenapa?"
"Ikat rambutku hilang." Moza melirik Mogi.
"Ya, ya, ya.... Btw ada hal lain?"
"Maksud kamu?"
"Iyaaa... Mungkin ada hal yang mau lo bilang ke gue gitu?"
"Lho? Kan kamu yang nelepon duluan. Kamu kali yang mau ngomong sesuatu?"
"Ish... Emang lo gak ada hal yang mau dibilangin ke gue?"
"Enggak, sih. Kenapa?"
"Ck... Seriusan gak ada?"
"Emang harusnya ada, ya?"
"BODO AMAT!!"
Moza terperanjat mendengarnya, bahkan refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Kemudian, sambungan telepon langsung diakhiri oleh Hana secara sepihak.
Mogi tertawa, "Kamu gak beneran lupa, kan?"
"Ppft... Sahabat macam apa aku sampe lupa? Itu kan hari bahagia buat Hana...."
Moza menatap foto Hana, Billy, dan dirinya sendiri di ponselnya. Foto beberapa tahun lalu itu, di mana saat Moza ulang tahun. Wajah mereka bertiga nampak kotor, penuh dengan krim kue.
Waktu memang berlalu begitu cepat.
Perlahan, Moza tersenyum. Gadis itu melihat foto-foto lain. Moza dibuat tertawa ketika melihat foto yang menunjukkan Hana sedang menodongkan pisau dapur pada Billy di kafe.
"Aku bahkan gak inget ini kapan," ucap Moza masih dengan tawanya.
Namun....
Tawa Moza memudar. Kepalanya yang gemar berpikir berat itu, mulai memikirkan bagaimana hubungannya dengan Hana dan Billy setelah ini.
Se-dekat itu Moza dengan Hana dan Billy. Terutama Hana. Sosok yang berisik, bodoh dan tak beradab itu karibnya sejak lama. Masa-masa sulit telah keduanya lewati.
Selama mengenal Hana, Moza paham Hana memang bukan tipe yang mengatakan hal-hal lembut jika menasihati. Cewek itu akan mengeluarkan semua bahasa binatang dari mulutnya.
Tapi Hana juga bukan tipe yang gemar memberikan pujian, padahal sebenarnya menjatuhkan.
Itulah yang Moza sukai.
Dan nanti. apa keduanya masih bisa seperti dulu? Momen-momen itu... Masih mungkinkah untuk terulang kembali?
"Hei."
Moza tersadar dari lamunannya. Moza sedikit menolehkan kepalanya dan merasakan pelukan hangat dari Mogi di belakangnya.
Laki-laki itu menaruh kepalanya di pundak Moza, "Kenapa?"
"Entahlah. Mungkin cuma perasaan-perasaan kecil sebelum Hana sama Billy... kamu tau kan...."
"...pergi."
Mogi tertawa renyah, "Ucapan kamu barusan jadi bikin mereka seolah mau pergi ke alam lain."
"Aku akan kangen mereka, Gi."
Mogi tersenyum. Lesung pipi laki-laki itu jelas terlihat kala bibir merah muda itu menerbitkan sebuah senyuman
"Itu sebabnya kita harus bikin acara Hana sama Billy jadi momen yang berkesan buat mereka berdua."
Moza diam, melamun sejenak. "Kamu bener."
"Kita akan buat acara itu jadi momen yang gak akan pernah bisa mereka lupakan."
Mogi mengangguk-angguk sambil tersenyum, "So... Jadi hadiah apa yang akan kamu kasih ke mereka besok?"
Seketika keadaan hening.
Moza terbelalak. Matanya bahkan tidak berkedip sama sekali. Gadis itu menatap Mogi dengan ekspresinya yang nampak kaget.
"B–besok?"
__ADS_1
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
"Gak nyangka, ya... Tom and Jerry kayak kalian akhirnya bisa duduk di kursi pelaminan yang sama."
Moza tersenyum, sembari mengusap air mata bahagia di pipinya. Kini Moza, Mogi, Hana dan Billy tengah mengobrol santai setelah acara inti selesai beberapa menit lalu.
"Jangankan lo. Gue aja kaget bisa nikah sama anak ini," celetuk Billy sambil menoleh pada Hana yang nampak cantik dengan dress putih dan bunga di kepalanya dengan warna senada.
Hana mendengus, "Jangan mulai."
"Hei... Kalian baru sah, lho. Udah mau berantem aja," tawa Moza. Dan disusul oleh tawa Mogi, "Baku hantam aja sekalian haha."
"Kalo masalah baku hantam gak usah ditanya... Gue jagonya. Apalagi kalo baku hantamnya di kasur. Beeuhh... Tiga jam gak akan berhenti kayaknya." Hana tertawa.
Moza speechless mendengarnya, "Kamu pengantin perempuannya lho, Na. Sadar astaga."
"Mulutnya emang gini. Tau sendiri, Za," ucap Billy yang bahkan sudah tidak heran lagi dengan kelakukan sosok yang menjadi istrinya kini.
Hana mendelik, "Gak usah sok-sokan, Mas. Nanti dikasih yang enak-enak baru diem."
"Jangan gitu! Banyak orang, Hana," bisik Billy.
"Gue penasaran. Emang seenak apa?" timpal Mogi sembari tertawa. Seketika, Moza langsung menyenggol bahu laki-laki itu.
"Enak banget kayaknya. Billy aja sampe merem-melek ahahahahah...." Hana mengabaikan peringatan sang suami barusan.
"Bisa gitu, ya. Padahal baru sah," tawa Mogi. "Emang sih baru sah. Tapi kan nakal tipis-tipis boleh, kali." Hana menaikkan alisnya pada Billy.
"Ssstt, Hana! Udah...." Billy berusaha menutupi wajahnya yang agak memerah.
Moza geleng-geleng, "Semoga kamu diberi kewarasan ya, Bil... Gak kebayang kalo harus menghadapi Hana tiap hari. Nyerah aku."
"Do'ain aja ya, Za. Gue juga gak yakin soalnya."
"Berisik atau centong sayur ini bakal mendarat di kepala lo, Mas," ucap Hana yang sudah siap dengan centong sayur panas di tangannya.
Moza dan Mogi dibuat terbahak-bahak oleh keakraban pasutri baru ini. Keduanya memang cocok.
"Tapi serius. Aku gak nyangka hari ini akan beneran terjadi. Ya... walaupun sempet kepikiran juga tentang kita yang mungkin gak akan sering ketemu, bla bla bla. Tapi yang jelas...."
"...aku seneng. Selamat, ya."
Hana dan Billy tersenyum mendengarnya.
"Gue benci terharu. PELUKAN DULU SINI KITA!" teriak Hana lalu memeluk Moza, yang disambut hangat oleh Moza sendiri.
"Ya, saling senengnya kemarin aja Moza hampir lup–AWW!!!"
Mogi menghentikan ucapannya setelah merasakan kakinya diinjak sesuatu yang keras, dan tajam.
Heels Moza.
"Naaahhh ini dia pasutrinya. Malah kabur kalian! Dari tadi dicariin! Keliaran mulu heran! Kalo ada hal aneh-aneh gimana??"
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampiri Hana dan Billy. Hana membuang napasnya panjang ketika melihat ke arah wanita itu.
"Eh, Billy. Siapa sih yang pesen cateringnya? Kok kacau banget, ya? Ini juga, Hana. Kenapa cake-nya jelek banget sih aduuhh... Belum lagi musiknya berantakan. Kalian gimana sihhh???"
Wanita itu seolah tak membiarkan keempatnya untuk bernapas. Karena sejujurnya, mendengar suara ocehan itu saja membuat Moza sesak.
"Eeh? Siapa ini?" Wanita itu menatap Moza dan Mogi.
"Ini temen Hana sama Billy, Mbak," ucap Billy. Moza dan Mogi sontak tersenyum sembari menunduk.
"Ya ampun... Cantik dan ganteng banget, ya. Kok gak bilang sih punya temen mukanya spek artis begini??"
"Gak semua temen gue, lo harus tau, Mbak," ucap Hana gusar pada Kakak sepupunya itu.
"Tapi kalian ini ngingetin Mbak sama anak Mbak, lho," ucap wanita itu pada Moza dan Mogi.
Billy menutup telinganya, "Mulai lagi...."
"Anak Mbak itu cowok. Mirip lah gantengnya sama adek ini. Terus disiplin juga anaknya. Kalo pagi dibanguninnya gak susah, kalo mau makan masak sendiri, mandiri banget pokoknya. Pacarnya juga cantik lagi kayak adek di sebelahnya. Tapi jujur, lebih cantik adek ini, sih...."
Wanita itu berbisik di akhir ucapannya.
Moza dan Mogi saling menatap. "A–ah... Iya. Makasih, Mbak," ucap Moza dengan senyum canggungnya.
"Mbak... Mending Mbak ambil piring kotor, terus cuci deh," ucap Hana, dan Billy menyenggolnya, "Yang sopan! Masa nyuruh cuci piring?"
"Ya daripada gue suruh kunyah?"
"Eh tapi kalian cocok, lho," ucap wanita itu pada Moza dan Mogi. "Kayak... keliatannya serasi, gitu," sambungnya.
Mogi terkekeh, "Serasi ya, Mbak?"
"Banget! Awalnya Mbak aja liat Hana sama Billy gak ada serasi-serasinya. Gak cocok sama sekali. Eh, ternyata emang takdir, ya. Gak bisa diapa-apain."
"Ewwhh... Copas dari mana tuh?" Hana bergidik geli.
"Tapi inget, ya. Kalian itu masih muda. Jangan aneh-aneh dulu. Harus serius menata diri. Hana sama Billy contohnya. Ya walaupun si Hana-nya agak 'begini', tapi mereka bisa membuktikan kalau hubungan mereka itu memang serius. Jadi...."
Hana terbelalak, "Oh no... Mbak, jangan–"
"...kalian kapan nyusul?"
...-TBC-...
*Halo, semua! Author di sini. Maaf ya akhir-akhir ini up-nya gak beraturan, karena kondisi authornya yang gak memadai. Banyak kegiatan, dan hal lain. Tapi author tetep berusaha untuk update rutin dengan waktu yang teratur, kok! Cuma memang lagi belum bisa aja huhu:(( Thanks a lot buat semuanya yang udah nungguin cerita ini, walau dengan update yang tidak beraturan:((
Maaf juga karena keseringan minta maaf:((
-
Love,
Jihadin Raz*
__ADS_1