MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
14


__ADS_3

"Ulang tahun itu... apa?"


Moza terkejut mendengarnya. Serius? Lelaki di hadapannya ini baru saja menanyakan itu? Orang gua mana yang tidak tahu–


Ah, lagi-lagi Moza lupa. Bukankah ia sudah memutuskan untuk jadi gila?


Moza tersenyum sambil menghela napasnya pelan. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke jendela.


"Ulang tahun itu... apa, ya? Aku juga gak tau arti pastinya apa. Tapi, kebanyakan orang biasanya seneng-seneng di hari ulang tahun mereka. Mulai dari potong kue, pesta atau kumpul sama keluarga. Pokoknya, yang ulang tahun itu pasti mendadak jadi raja atau ratu dalam sehari."


"Intinya... Ulang tahun itu hari yang paling membahagiakan buat yang merayakannya." Moza kembali menatap mata bulat milik Mogi.


Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, "Paling membahagiakan, ya."


"Berarti hari ini ulang tahun Mogi, dong?" tanya Mogi kemudian. Jelas saja Moza mengernyit bingung, "Maksud kamu?"


"Iya! Kata Moza, ulang tahun itu hari yang paling membahagiakan. Dan hari ini adalah hari yang paling membahagiakan buat Mogi. Karena bisa bikinin makanan buat Moza. Liat Moza gak sedih lagi rasanya bikin Mogi...."


"...bahagia."


Loading....


EEEEEEHHHHH??!?!??


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"...Liat Moza gak sedih lagi rasanya bikin Mogi... bahagia."


Andaikan bisa, Moza sangat ingin mengatakan pada otaknya untuk memikirkan hal lain. Tapi kenapa kalimat itu yang terus mondar-mandir di kepalanya?!


Saking bingungnya harus merespons apa, Moza hanya terdiam sebelum pamit ke kafe pada Mogi. Walaupun dengan sedikit gugup.


LAGI PULA SIAPA JUGA YANG TIDAK TERKEJUT?!


Mendengar perkataan itu, dengan raut wajah itu, ditambah lagi dengan tatapan itu, membuat Moza tak tahu harus menanggapi apa.


"HAYOOO! Ngapain?"


Moza yang sedang mengelap meja terperanjat, lalu menghela napas, "Aku kira Hana. Ternyata emang kamu."


"Kaget tapi udah tau ini gue. Aneh juga, ya," balas Hana sembari menarik kursi untuk duduk.


"Iya, dong. Soalnya di sini yang suka teriak-teriak ngagetin orang itu cuma kamu." Moza menyimpan lapnya dan ikut terduduk.


"Hehe... Btw tadi lo ngelamun apaan? Serius banget kayaknya."


"...Liat Moza gak sedih lagi rasanya bikin Mogi... bahagia."


"G–gak ada. Emang aku mikirin apa, gitu?"


Sial. Moza malah kembali mengingatnya.


Hana menyipitkan mata, "Diliat dari fokus lo waktu lap meja yang berantakan, cara ngomong lo yang gugup, dan mata yang mengalihkan pandangan...."


"...Lo lagi mikirin cowok, kan?"


Moza membuang napasnya kasar. Memang susah berbicara dengan 'pakar'-nya.


"Andaikan pola pikir kamu ini gak cuma dipake buat hal beginian," ujar Moza. Hana malah tersenyum-senyum sendiri dengan alis yang terangkat.


"Aahh... Capek juga ya hari ini."


Moza dan Hana menoleh pada suara barusan. Terlihat Billy baru saja keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah mereka.


Hana mendengus, "Capek pantat lo mulus. Pelanggan di sini aja gak pada keliatan udah kayak jodoh. Capek apaan?"


"Capek liat muka elu," balas Billy santai. Hana mengepalkan tangannya, "Ngomong sekali lagi."


Billy tertawa kemudian, "Tapi emang beneran capek. Akhir-akhir ini banyak pasien yang datang cuma buat minta surat sakit supaya diizinin gak masuk sekolah atau kerja."


Ah, Moza baru ingat kalau Billy juga adalah seorang dokter.

__ADS_1


"Ahahahahah itu sih gue waktu zaman SMA dulu. Tapi paling nyebelin kalo si dokternya cuma nulis satu hari izin gak masuknya. Kan gak cukup rebahan satu hari," lontar Hana, alias si pemuja rebahan.


"Ya iya, lah. Sakit flu doang. Lo mau minta berapa hari? Seminggu?" cibir Billy. "Diem. Lo gak akan ngerti mindset kaum rebahan kek gue," balas Hana.


"Eh gue jadi tiba-tiba kepikiran. Sejak kodok ini dateng, kafe gak pernah se-kosong ini. Paling sepi cuma lima orang. Tapi gak nyampe kosong gini," ujar Hana.


Moza mengangguk paham, "Iya juga, ya. Biasanya bahkan sebelum buka ibu-ibu udah ngumpul di luar mau foto sama Billy. Sekarang satu pun gak keliatan."


Hana melirik Billy, "Kenapa ye, Bil?"


"Ya jangan tanya gue! Lagi pula kalian ini kenapa? Ini hal yang paling normal dalam bisnis," balas Billy.


Hana tertawa, "Hilih... Sok-sokan ngomongin bisnis. Bahasa lu ketinggian! Bilang aja sedih kehilangan fans-fans lo itu."


"Hahaha... Kayak artis aja," tawa Moza.


"Emang cowok ganteng kayak si Billy ini harusnya jadi artis aja, gak sih? Buang-buang tenaga aja kerja beginian." Hana memainkan kukunya sendiri.


Billy terkekeh, "Untuk kali ini lo bener. Gue emang ganteng." Laki-laki itu seolah sedang merapikan kemejanya.


Hana menatapnya datar, "Ralat. Cowok kayak lo emang harusnya gak hidup aja."


Moza dan Billy tertawa mendengarnya. Tapi tak bertahan lama, pasalnya mereka bertiga langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar seseorang masuk.


"Ayah?" bingung Moza.


Ferdy memandangi sekeliling kafe yang benar-benar sepi, lalu berjalan ke arah Moza, Billy dan Hana yang masih terlihat bingung.


"Ini ada apa sama muka kalian? Kok agak serem ya liatnya," ucap Ferdy.


"Eh... Enggak, kok. Cuma agak bingung aja ayah tiba-tiba dateng," balas Moza. Ferdy menaikkan sebelah alisnya, "Emang ayah gak boleh ke sini?"


"Gak gitu...." Moza kehabisan kata-kata.


Ferdy malah tertawa melihatnya, "Hahaha... Muka panik kamu emang yang terbaik dari dulu, Moza."


"Dih? Kok nyebelin?" Moza mencebik.


"Bapak ngapain ke sini? Bukannya gak boleh, tapi kaget aja gitu. Kirain udah birthday Moza, langsung ke pergi lagi," timpal Hana.


Ferdy tertawa, "Iya-iya canda. Rank bentar lagi naik, nih!"


"Makanya aku jangan dianaktirikan. Ke Moza sama Billy aja inget. Giliran aku yang kayak lap lecek aja lupa."


"Eh? Kata siapa? Bapak selalu inget tentang kamu, kok. Termasuk pas kamu gak masuk ke sini gara-gara komplain pelanggan yang bilang pelayan di sini cemberut terus." Ferdy mendelik sementara Hana yang tersenyum kikuk.


"Apa apa, Yah?" tanya Billy.


Ferdy langsung menatapnya, "Gak ada apa-apa. Mau ketemu kalian aja."


Dari ucapan, ekspresi, dan tatapan itu... Billy tahu sang ayah sedang berbohong.


"Tapi kayaknya ayah salah masuk tempat, ya?" ucap Ferdy kemudian. Moza mengernyit bingung, "Maksudnya?"


"Yang mau ayah datangin itu kafe. Bukan kuburan."


Ketiganya langsung membatu seketika. Kalau sudah mengutarakan isi hatinya, Ferdy memang tidak pernah ba-bi-bu.


Langsung singkat, padat dan nyelekit.


"Ya kalo soal itu tanya aja sama bapak manager ini." Hana menatap Billy seolah menumbalkan.


"Haha kalian ini... Seharusnya kalian liat muka kalian tadi. Panik sekali kayaknya." Ferdy tertawa-tawa.


Billy geleng-geleng, "Kayaknya mood ayah lagi bagus."


"Ya masa ayah marah karena tempat ini sepi? Dalam bisnis, ini normal aja terjadi," ucap Ferdy, Hana memutar bola matanya, "Gak anak gak bapak, sama aja omongannya."


Ferdy melirik Billy, "Memang normal. Apalagi karena marketingnya yang buruk. Normal banget."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...

__ADS_1


"Ayah manggil aku?"


Moza membuka pintu dari luar, dan tampak Ferdy yang sedang terduduk di ruangannya.


Ah... Sudah lama Moza tidak melihat pemandangan ini. Sejak posisi Ferdy diambil oleh Billy, gadis itu tak pernah lagi melihat pria paruh baya itu menduduki 'singgasana'-nya.


"Enggak. Perasaan tadi ayah manggil sapi cacar."


Moza tersenyum mendengar itu. Memang random sekali bapak-bapak satu ini.


"Kenapa, Yah?"


Ferdy sempat terdiam, "Oke. Kayaknya ayah gak perlu cemas."


Moza mengedipkan matanya cepat, "Apa?"


"Tunggu. Kok aku bingung, ya?"


Ferdy tertawa kecil. Ia sempat mengira kalau Moza akan menemuinya dengan keadaan 'hancur' seperti kemarin.


Tetapi dilihat dari tatapan Moza tadi, sepertinya gadis itu sudah baik-baik saja.


"Pokoknya, gak ada yang harus ayah khawatirkan sekali pun ayah pergi hari ini," lanjut Ferdy. Moza terbelalak, "M–maksud ayah? Pergi ke mana?"


Moza benci pikirannya.


"Besok ayah udah harus ke Guangzhou lagi, Za."


Moza menoleh pada Billy yang baru saja masuk dan mengatakan itu. Gadis itu langsung mengusap dadanya dengan lega.


Ferdy terkekeh, "Emang pikir kamu apa?"


Moza tersenyum kecil sambil mengusap tengkuknya. Sementara Billy yang melirik sang ayah dengan wajah datar.


Ternyata dugaannya benar. 'Gak ada apa-apa' bukanlah jawaban yang masuk akal saat ia mendengarnya dari mulut Ferdy.


Buktinya? Sekarang ia sedang bicara empat mata dengan Moza. Ya... Walaupun sekarang jadi enam mata karena kedatangannya.


"Jadi, besok ayah mau pergi lagi? Kok mendadak?" tanya Moza kemudian. "Sebenarnya gak mendadak. Sebelum ke sini, ayah memang gak berencana untuk lama. Cuma hadir di ulang tahun kamu. Itu aja," jelas Ferdy.


"Ih, kok baru bilang sekarang?"


"Ayah gak mau bikin kamu kepikiran. Kalau kamu tau dan larang ayah pergi, ayah juga jadi berat buat ninggalin kamu, kalian semua."


"Apalagi waktu itu... kamu gak lagi baik-baik aja. Ayah gak mau nambah beban pikiran kamu, Moza."


"Tapi sekarang ayah tenang. Walaupun waktu itu kamu gak mau ngasih tau masalahnya, tapi kayaknya kamu udah baik-baik aja. Iya, kan?" Ferdy bertanya di akhir ucapannya.


Moza ingat. Saat ia masih memusingkan masalahnya dengan Mogi, Ferdy sempat bertanya kenapa, namun dijawab dengan perkataan khasnya.


'Gak apa-apa.'


"Kayaknya ayah bakal seneng kalo lo pake kado itu sebelum pergi," kata Billy. Ferdy mengangguk mengiyakan, "Tapi gak mungkin juga Moza pake itu di saat-saat begini."


Moza tertawa namun gugup, "I–iya."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Astaga... Betapa malunya ia mengingat kejadian tadi. Di mana saat Billy menyangkut-pautkan soal hadiah dari Ferdy itu.


"Jangankan dipake, aku aja gak tau isinya apa." Moza sebal pada dirinya sendiri yang terus menerus lupa untuk membuka hadiah itu.


Ah, Moza tidak sadar sudah sampai di depan pintu apartemennya karena saking lamanya berpikir.


Kala membuka pintu, tidak ada hal macam-macam di pikirannya. Moza mengira ia akan melihat Mogi sedang bermain mobil-mobilan di lantai seperti biasanya.


Namun ternyata tidak.


Moza tak pernah menyangka akan melihat apartemennya begitu gelap, dan berantakan. Barang-barangnya jatuh di sembarang tempat.


Dan... suara isak tangis.

__ADS_1


"Mogi...?"


...-TBC-...


__ADS_2