
Sementara di tempat lain, terluka Billy sedang berjalan menyusuri trotoar jalanan kota di malam hari. Cowok itu melirik ke kanan dan kiri untuk sekadar melihat-lihat keadaan kota yang masih saja sibuk dengan hiruk-pikuk kendaraan yang melintas.
Tapi suasana dibuat lebih baik oleh banyaknya berbagai jenis lampu yang menghiasi gedung-gedung yang berjejer. Mulai dari restoran, pusat perbelanjaan, sampai bar pun terlihat sangat terang dan berwarna-warni.
Malam hari, sama sekali tidak membuat Billy merasa takut. Suasana yang ramai, dan seisi kota yang bak negeri cahaya seolah hendak menyaingi terangnya sang rembulan.
Benar-benar malam yang cantik. Cowok dengan hoodie abu-abu dan topi hitam itu sangat menikmati perjalanan malam yang menenangkan ini.
Setidaknya sampai ia berhenti di satu titik.
Titik di mana Billy melihat seorang cewek yang baru saja keluar dari sebuah bar. Namun cewek dengan rambut tergerai itu nampak berjalan sempoyongan.
Lalu kemudian Billy terkejut ketika cewek itu menabrak dan malah terdiam di dada bidangnya.
"Maaf... Mbak...?"
Billy mencoba menggoyang-goyangkan tubuh cewek itu dengan perlahan. Tetapi cewek dengan jaket kulit berwarna hitam itu bergeming. Tidak ada respons apa pun yang Billy dapat.
Billy memang sudah tahu cewek ini pasti sedang di bawah pengaruh alkohol. Mungkin bisa saja Billy menyadarkan cewek itu lebih keras sedikit dan meninggalkannya....
...Andai Billy tak tahu cewek ini adalah seseorang yang ia kenal.
"Hana?!"
Billy dibuat lebih terkejut ketika menyadari bahwa cewek yang sedang bersandar padanya ini adalah Hana.
"Hei! Bangun!" teriak Billy sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hana yang sekarang sudah lemas di dekapannya.
Sejenak, Billy melirik ke dalam bar tempat Hana keluar tadi. Siapa tahu Hana ke bar bersama teman-temannya, dan Billy bisa mendapatkan bantuan.
Tapi sial. Berpuluh-puluh manusia di dalam bar itu seolah tidak ada yang peduli ketika Hana ambruk di pelukan Billy tadi.
Jadi... Hana kemari sendirian?
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Dengan isi kepala yang sudah semrawut, Billy menaruh kedua tangan di setir mobilnya sembari sesekali melirik pada Hana yang terduduk pada jok di sampingnya.
Tidak ada pertanda apa pun cewek itu akan sadarkan diri. Mata Hana masih terpejam dengan wajah yang agak pucat.
Bingung, takut, heran, pikiran-pikiran itu sudah menyeruak masuk ke dalam kepala Billy. Cowok itu benar-benar tidak tahu harus membawa Hana ke mana, di saat ia sendiri tidak tahu di mana cewek itu tinggal.
"Tanya Moza aja kali, ya?"
Billy bergumam. Cowok itu baru menyadari betapa dekatnya Moza dengan Hana. Bahkan bisa dibilang Moza lebih dekat dengan Hana dibandingkan dengan dirinya sebagai teman Hana sejak SMA.
Mungkin Moza tahu di mana alamat Hana.
Cowok itu lantas mengambil ponselnya dan memanggil Moza melalui sebuah panggilan telepon.
'Not Answered''.
Sial....
Billy langsung berdecak kesal. Cowok itu menggaruk-garuk kepalanya frustrasi sembari sesekali melirik pada Hana yang masih belum sadarkan diri.
Memang gila, tapi sepertinya Billy harus membawa Hana ke... rumahnya.
Setelah sampai di rumahnya, Billy langsung menggendong Hana dan berjalan menuju kamar yang biasa digunakan sebagai kamar tamu.
Cowok itu lantas membaringkan Hana dengan perlahan lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang sudah seperti baru saja menggendong sepuluh gas elpiji.
"Lu makan apa, sih?"
Billy bergumam seraya mengatur napasnya yang sempat terengah-engah. Siapa sangka tubuh Hana yang terlihat normal-normal saja, memiliki bobot seperti bayi.
Bayi kuda nil.
Untuk sejenak, Billy memandangi wajah Hana yang tertutup beberapa helai rambut. Cowok itu sempat terkekeh pelan melihat Hana.
Dengan jaket kulit hitam dan rambut yang sudah seperti hantu, ternyata tidak menghilangkan aura bahwa Hana memang seorang Hana.
Sosok yang ia kenal dari dulu.
Sosok di mana seorang cewek yang pendiam, jarang berbicara, sedikit pemalu, tidak sopan, bodoh, aneh, dungu, serta bar-bar.
Ya. Hana dari dulu memang sudah seperti ini.
Billy menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Kemudian cowok itu balik badan dan mulai melangkah keluar untuk membiarkan Hana terlelap dengan tenang.
"Kasur ini bau orang mati."
Billy terdiam. Cowok itu langsung menoleh pada Hana yang baru saja mengatakan itu. Hana menatap Billy dengan mata sayu dan senyuman kecil di wajahnya.
"Padahal baru sadar, tapi langsung nyebelin. Hebat juga, ya." Billy tertawa kecil sambil kembali mendekat pada Hana.
Hana mengangkat kedua bahunya, "Gue mengutarakan fakta. Kasur ini bener-bener bau mayat...."
"...Berapa orang yang udah jadi korban lo?"
Billy menghela napasnya panjang. Dari pinggir jalan tadi Hana menjadikan Billy sebagai tempat pingsan. Belum lagi Billy yang menggendong tubuh berbobot kuda nil milik Hana dan mengorbankan waktu jalan-jalan malamnya agar tidak meninggalkan Hana sendirian di jalanan.
Tetapi ini yang Billy dapatkan?
...Demi alek gapapa.
Billy tersenyum sarkas, "Sama-sama."
Hana balas tersenyum, "Thanks ya, blok."
"Ya udah gue keluar dulu. Lo istirahat aja," ucap Billy.
"Oke bagus. Lu cabut aja sono. Gue ngantuk."
Billy mendengus, "Yang manusia ngalah."
Meninggalkan Hana yang terlihat tersenyum jahil, Billy melenggang menjauh dari tempat Hana berbaring.
"Bil."
Langkah Billy kembali terhenti, "Apa?"
Alih-alih mendapatkan jawaban, Billy dibuat bingung oleh raut wajah Hana yang terlihat tengah bingung juga. Billy langsung–
"Gue mau jadi pacar lo, Bil."
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Hana membuka matanya perlahan ketika mendengar suara sesuatu. Suara itu sukses membuat cewek itu terbangun dari tidur pulasnya semalam.
Bukan. Bukan suara kokok dari seekor ayam, atau suara kicauan burung yang membuat Hana terbangun.
Melainkan suara dari hatinya sendiri.
Suara atas rasa kalutnya sendiri setelah mengucapkan kalimat semalam. Kalimat yang pendek, namun sukses membuat Hana hampir mencekik dirinya sendiri saking stresnya.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Setelah Hana mengatakan itu, Billy hanya tersenyum kecil lalu melenggang pergi begitu saja.
"Lu tolol, Hana."
Hana menyentil kepalanya sendiri. Cewek itu melamun menatapi jendela lalu menghela napas panjang sembari memeluk kedua lututnya.
Kemudian Hana menoleh ketika mendengar suara decitan pintu terbuka dari luar. Cewek itu terbelalak. Jangan sampai ia bertemu dengan Billy. Keadaan pasti akan menjadi sangat canggung setelah perkataannya sendiri semalam.
Hana sontak kembali berbaring di ranjang dan menyelimuti dirinya sendiri lalu pura-pura memejamkan matanya.
Dan benar saja. Hana dapat mengintip bahwa memang Billy yang menghampirinya. Cowok itu terlihat membawa nampan di tangannya.
"Aktingnya udahan dulu, Na."
Hana langsung tersentak mendengarnya. Cewek itu membuka mata dengan perlahan dan menatap Billy.
Hana mendengus, "Kok lo tau, sih?"
"Ya... Mungkin karena gue yakin kalo tidur lo itu kayak sapi. Jadi gue gak percaya akting tidur lo yang sok imut tadi."
"Anjing."
Ralat. Ternyata tidak ada rasa canggung sama sekali.
Billy tertawa melihat reaksi Hana barusan. Cowok itu kemudian menaruh nampan yang ia bawa di atas meja.
Hana dapat melihat segelas susu dan sepiring biskuit cokelat di nampan itu.
"Ape, nih?" tanya Hana.
"Itu susu sama biskuit."
"Iya tau, tod."
"Terus kenapa nanya?"
"Hmm... Iya juga, ya. Goblok, lo."
Keduanya tertawa. Hana hanya berharap Billy tidak menghiraukan perkataannya semalam dan memilih untuk bersikap normal.
Hana pun tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang. Semalam Hana berharap akan jawaban Billy, tapi saat ini Hana lebih memilih untuk tidak mendengar jawaban dari cowok itu.
Entahlah. Hana... takut.
Hana memegang segelas susu itu. "Eh? Tapi kan gue sama sekali gak minta?" tanya Hana kemudian.
"Lo kan emang gak minta."
"Terus kenapa ngasih?"
Billy menghela napas, "Sesusah itu lo bilang 'Makasih'?"
"Hehe... Iya-iya makasih. Padahal gak usah repot-repot. Kan kasian lo harus capek-capek nyiapin ini...."
"...Nastar ada gak, sih?"
Billy menghela napas, "Na... Masih pagi."
Hana tertawa mendengarnya. Cewek itu lantas meminum susu dan menggigit biskuit cokelat pemberian Billy itu.
Untuk sejenak, Hana menatap gelas kosong yang ia genggam. Cewek itu memusatkan seluruh pandangannya pada gelas itu.
Billy, alias sosok cowok yang membuat Hana pergi ke bar dan mabuk-mabukan kini merangkap menjadi sosok penyelamatnya malam kemarin.
Sejujurnya, Hana benar-benar tidak bisa mengingat kejadian bagaimana ia bisa bertemu dengan Billy. Karena setelah berbagi pesan singkat bersama Moza, Hana langsung mabuk sejadi-jadinya.
...Billy lah yang sedang berada di sisinya.
Tapi alih-alih membuka mata dan memberitahu Billy secara terang-terangan bahwa ia sudah sadar, Hana malah melanjutkan drama aktingnya.
Ya walau ujung-ujungnya Hana akhiri drama itu di kamar dengan disertai ucapan yang membuat ia sendiri kalut.
Gila. Belum tepat tiga menit, Hana berharap Billy acuh akan perkataannya semalam. Namun setelah kalut dengan pikirannya sendiri, Hana malah kembali mengharapkan jawaban dari Billy.
Ternyata benar apa kata orang-orang. Cewek itu memang sulit ditebak.
"Tentang semalem... Jadi gimana?"
Hana bertanya tanpa melirik Billy sama sekali. Cewek itu masih saja mengarahkan pandangannya pada gelas kosong yang ia genggam.
Billy terdiam. "M...Maksudnya?" tanya cowok itu kemudian.
"Gue tau lo denger kemarin."
Keadaan menjadi hening. Tidak ada yang mau memulai topik. Hana mau pun Billy terdiam, sibuk bergelut dengan isi kepala masing-masing.
"Dari dulu, lo memang udah jadi orang yang spesial buat gue. Tapi baru sekarang gue berani untuk bilang."
Hana akhirnya memulai pembicaraan, walau dengan mata yang sama sekali tidak menatap Billy.
"Berkat jasa seseorang, akhirnya gue berani untuk bilang. Orang itu meyakinkan gue untuk bilang ini ke lo, sebelum gue mati menyesal...."
"...Dan orang itu adalah Moza."
Billy agak tersentak mendengarnya. Cowok itu lantas memandangi wajah Hana dengan ekspresi sedikit terkejut.
Hana tersenyum, "Iya. Moza. Alias cewek yang pernah lo suka," kata Hana menyadari raut wajah Billy itu.
Hana menghela napasnya lalu memalingkan mukanya dari Billy dan memandangi langit pagi lewat jendela.
"Waktu sekolah dulu... gue bahkan gak pernah berkhayal buat jadi pacar lo saking gak mungkinnya. Ada di sisi lo aja, udah bikin gue bersyukur."
Hana menjeda ucapannya.
"Tapi setelah tau lo suka sama Moza, lo gak tau seberapa ambruk gue ini. Tiap hari liat adegan romantis klise lo sama Moza alias sahabat gue sendiri," lanjutnya.
Tapi kemudian, Hana malah tertawa renyah. Ya... Walaupun setelah merasa seperti itu, ada sisi lain dari Hana yang selalu mengingatkannya akan sesuatu. Dan 'sisi lain' Hana itu selalu mengatakan,
'Elu siapanya dia?'
"Ya tapi gue sadar, kok. Konyol rasanya kalo gue marah ke lo atau Moza, di saat gue sendiri yang gak punya keberanian tentang perasaan gue ke lo...."
"...Tapi kemarin malem, keberanian itu hadir."
Kini Hana menaruh tatapannya pada Billy. Matanya seolah mengunci tatapan itu agar Billy tidak berpaling sedikit pun.
Sementara Billy, cowok yang sibuk berargumen dengan dirinya sendiri sedari tadi pun kini tersadar dan hanya menatap Hana kosong.
"Susu sama kuenya abisin, ya."
Billy tersenyum. Cowok itu lantas berdiri dan hendak meninggalkan Hana yang kini terlihat terpaku di tempatnya.
Hana sampai melongo mendengar respons Billy tadi. Sekian panjang pidato yang Hana sampaikan, hanya itu reaksi Billy?
Bagus.
__ADS_1
"Se-gak suka itu lo sama gue?"
Ucapan Hana barusan membuat langkah Billy terhenti.
"Gue ralat kata-kata gue tadi. Dulu gue gak pernah berkhayal jadi pacar lo karena gak mungkin...."
"...Ternyata sekarang pun sama aja."
Hana merasa sangat konyol sempat berpikir jika kali ini memiliki peluang untuk menjadikan Billi sebagai miliknya dan membuat ketidakmungkinan dahulu, jadi mungkin.
Rupanya, tetap tidak mungkin juga.
"Dengan begini, gue membuat diri gue rendah depan lo. Karena gue sejujurnya gue memang berharap sesuatu...."
"...Dan ini respons lo, Bil?"
Tiba-tiba saja, kedua mata Hana memuntahkan tetesan air. Pipi cewek itu mulai basah akibat air matanya sendiri. Entah mengapa Hana tiba-tiba menangis.
Ah, ralat. Justru Hana mengerti betul alasan mengapa dirinya menangis. Hana benar-benar paham.
"Moza... Sikap lo ke dia, tatapan lo ke dia, senyum lo ke dia, dan semua hal yang lo lakuin buat dia...."
"...Kenapa gue gak bisa mendapatkan itu?"
Setelah mengetahui, Billy menyimpan rasa pada Moza, setiap hari Hana selalu berusaha agar tidak membanting kursi saking geramnya.
Bukan geram pada Moza, atau pun Billy. Entahlah. Hana hanya tidak suka melihat keduanya dekat.
Adegan-adegan romantis itu.. mengapa Hana tidak bisa mendapatkannya?
"Semalem lo pergi gitu aja, dan sekarang respons lo pun begini. Lo emang suka liat gue begini ya, Bil?"
Hana dapat melihat Billy mengepalkan tangannya perlahan. Cowok itu mengembuskan napasnya dan menolehkan kepalanya sebagian pada Hana.
"Kemarin lo mabuk, Na. Lo gak serius."
"APA SEMUA PIDATO DAN MUKA GUE SEKARANG INI KELIATAN LAGI MAIN-MAIN BUAT LO?!!"
Lepas sudah emosi yang Hana tahan sedari tadi.
"Gue gak mungkin main-main dengan nangis-nangis kayak bocah begini, Billy!! Semua ini karena gue serius!"
Kemudian Hana terdiam. Cewek itu mengatur napas dan raut wajahnya dan mengusap air matanya perlahan.
"Ah... Jadi kayak sinetron. Sori, sori."
Hana tertawa kemudian. Cewek itu memang sempat merasa konyol karena berharap sesuatu pada Billy. Tapi tahu apa yang membuat Hana merasa lebih konyol?
Bersikap seperti ini.
"Kayaknya gue cocok jadi artis sinetron, ya gak?"
Billy terdiam. "Na–"
"Noo... Abaikan aja semua bacotan gue tadi. Lo punya hak buat nolak, kok. Gue juga gak tau setan apa yang masuk ke gue pas bacot tadi haha...."
"...Makasih ya, Bil."
Hana menampilkan senyum lebar di wajahnya. Walau dengan mata yang sembab dan pipi yang kemerahan akibat menangis tadi.
"Makasih banyak untuk bantuan lo kemarin malem. Makasih udah gendong badan raksasa gue. Makasih buat makanan enak ini...."
"...Dan makasih juga udah menyadarkan gue."
Entah bagaimana jadinya jika Billy meninggalkan Hana sendirian di pinggir jalan semalam. Mungkin nasib Hana akan lebih buruk.
Namun alih-alih berterimakasih, Hana justru menghadiahkan Billy dengan berbagai perkataan menggelikan seputar perasaan, dan apalah itu.
Astaga. Hana benar-benar merasa konyol.
Hana beranjak dari ranjang dan merapikan tempat tidur itu sejenak. Cewek itu juga merapikan sisa-sisa remahan biskuit yang ia makan tadi.
"Eh next time kasih gue biskuit ini lagi, ya. Enak banget gila."
Hana tersenyum pada Billy yang masih mematung. Cewek itu mengambil tas hitam kecilnya dan melenggang pergi melewati Billy. Hana–
*Grep!
Kini Hana yang mematung. Ada sesuatu yang... memeluknya.
"Gue bingung... Semua ucapan lo bikin gue bingung, Na. Gue gak tau harus jawab atau bereaksi apa. Gue...."
"...Bingung."
Hana gelagapan, "B–Bil... Gue gak mau berharap yang kedua kalinya ke lo."
Cukup sudah Hana dibuat merasa malu oleh Billy tadi karena topik perasaannya sendiri pada cowok itu.
Namun pelukan Billy sekarang, membuat harapan yang tadi sempat redup, kini muncul kembali.
"Bil... Lepas. Gue mau pulang."
Billy menggeleng di pundak Hana. "Gue belum yakin sama diri gue sendiri. Gue merasa labil sekarang, Na."
Hana menghela napasnya panjang. Cewek itu melepaskan pelukan Billy dan menghadap ke arah cowok yang kini hampir menangis itu.
Hana tersenyum, "Gue yakin lo gak bingung. Lo tau kok perasaan lo sendiri, Billy. Yang paling paham atas diri lo itu ya cuma diri lo sendiri."
"Gue mau meyakinkan diri gue sendiri, Na."
Hana tertawa, "Oke... Caranya?"
"Ini caranya."
Chup!
Hana membulatkan mata sejadi-jadinya ketika merasakan bibir Billy mengecup singkat bibirnya. Cewek itu bahkan sampai melongo pada Billy yang kini terlihat kaku.
Billy menelan ludahnya, "H–Hana...?"
Tidak ada jawaban apa pun dari sang pemilik nama. Hana masih sibuk me-refresh otaknya atas kejadian yang bahkan belum lima detik yang lalu barusan.
"S–sorry untuk yang barusan. Seharusnya gue minta persetujuan lo."
Kini Billy seolah dibuat menyesali perbuatannya sendiri. Cowok itu memang mau meyakinkan perasaannya sendiri. Tapi mungkin ada cara yang lebih baik–
"H–HANA??!"
Kini justru Billy yang dibuat terbelalak ketika Hana menarik hoodie putih yang ia kenakan dan membawanya ke ranjang.
Dan Hana, cewek itu langsung membanting tubuh Billy hingga berada di bawahnya. Tanpa aba-aba Hana langsung ******* bibir Billy dengan rakus dengan kedua tangan ditaruh si kedua dada bidang milik cowok itu.
Setelah melakukan aksinya, Hana memandangi wajah Billy yang nampak juga sedang memandanginya. Bingung, kaget, sekaligus malu terlihat jelas dalam ekspresi cowok itu.
"Sial. Pertahanan gue runtuh, njing."
__ADS_1
...-TBC-...