MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
36


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktu-waktu di mana para staff kafe Memories mengistirahatkan tubuh mereka setelah lelah seharian.


Entah itu lelah fisik karena bekerja sekian jam, atau lelah batin akibat menghadapi berbagai customer yang ajaib.


Sama seperti Moza. Gadis itu baru saja melepas apron-nya lalu duduk di kursi pelanggan.


Moza mengikat rambut cokelatnya yang tergerai dan meminum segelas moccachino yang ia bawa tadi.


"Udah tutup, Mbak. Datang besok aja sana," ucap Hana yang baru saja datang.


Cewek itu menggandeng Billy yang sedang membawa dua gelas matcha latte di tangannya.


"Lengket banget pasutri baru." Moza tertawa melihat kedekatan Hana dan Billy. Keduanya memang jadi lebih sering bergandengan.


Bahkan saat jam kerja pun, tangan keduanya seolah sudah dilumuri lem. Karena tak lepas walau hanya satu detik.


Yaaa... walaupun yang gila-gilaan ingin terus bersama itu Hana.


"Kamu pegangin Billy terus, Na. Dia juga gak akan kabur, kali," kekeh Moza seraya meneguk kopinya.


"Ya gue percaya dia gak akan kabur. Tapi gimana kalo ada tante-tante gila yang mau nyulik dia?" Hana mendelik pada Billy.


Billy tertawa, "Tante-tante gila? Lo lagi ngomongin diri sendiri?"


"Oh... Nyebelin, ya. Gak gue kasih ampun malem ini mampus, lu."


"Astaga... Bisa gak sih ngobrolin itunya berdua aja? Masih ada aku, lho," ucap Moza gerah dengan topik khas pasutri ini.


"Oh iya, Za."


"Hmm?"


"Gue gak liat si Mogi dari tadi. Dia ke mana?"


Billy mengernyit, "Baru sadar? Dia emang gak ada dari tadi, Hana."


"Ah... Aku lupa bilang. Dia lagi demam. Semaleman aja berisik gak bisa tidur minta teh hangat mulu."


"Ya masih untung mintanya teh doang, Za. Kalo minta 'yang lain' kan repot. Mana lo belum ada pengalaman juga."


"Maksudnya?"


"Udah, Za. Kalo lo nanya gitu, Hana makin gencar ngejelasinnya."


"Apa, sih? Aku kan emang gak–Ah... Ngerti."


Hana tertawa, "Emang apa?"


"Udah, ah. Kotor otak aku ngomong sama kamu."


Isi kepala Hana memang sudah tidak tertolong lagi. Melihat tiang listrik di tengah jalan saja bisa tertawa-tawa sendiri. Entah apa yang dipikirkannya.


Se-kacau itu isi otaknya.


"Hm... Na, Bil... Aku mau ngomong."


"Ngomong apa, Za?" tanya Billy.


"Bau-bau deep talk."


"Bukan... Ini. Anu...."


"Apa sih, Za? Lo kayak anak baru lagi ospek tau, gak? Kenapaaa??" Hana kegerahan juga lama-lama.


"Aku... ada rencana mau kasih birthday surprise buat Mogi. Menurut kalian gimana?"


....


Bahkan jangkring pun terdiam.


"Apa kata lo barusan? Birthday surprise?"


Moza diam sejenak, "Emang salah, ya?"


"Mmm... Menurut gue gak salah, sih. Cuma–"


"Gini ya, Cinta... Kasih birthday surprise itu gak salah. Yang salah itu adalah saat lo ngasih birthday surprise ke si Momogi...."


"...emang lo tau kapan dia ulang tahun?"


Jujur, Moza memang tidak tahu. Jelas saja. Mana mungkin Moza tahu tanggal lahir seekor kucing yang ia temukan di jalanan?


Ya walau sekarang kucing itu memang sudah menjadi laki-laki berisik, manja, jahil dan sialnya tampan.

__ADS_1


"Aku memang gak tau kapan ulang tahun dia. Tapi aku ingat betul kapan aku nemuin dia pertama kali. Dan aku mau kasih surprise di hari itu...."


Sekilas, terdengar lucu memang. Tapi tidak ada hari berharga lain untuk menjadi Mogi. Selain saat Moza menyelamatkannya dari dinginnya hujan di hari itu.


Hari pertama di mana kilau mata kebiruan itu dapat Moza lihat.


"...gimana?"


Mendengarnya, Hana dan Billy saling menukar tatapannya. Keduanya diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan.


"Yeess!! Makasih, guys! Kalian memang–"


"Sahabat terbaik. Ye, ye, ye... Udah tau, kok."


"Bukan. Babu terbaik!"


Hana cemberut, "Tonjok gak, ya...."


"Tapi, Za."


"Ya?"


"Kenapa baru sekarang lo kepikiran buat kasih surprise ke Mogi? Kemarin-kemarin kenapa?" Billy bertanya.


"Sebenernya, aku udah mikirin ini dari lama. Cuma kan... kalian tau sendiri dulu Mogi kayak gimana. Kalo seandainya aku kasih surprise, yang ada dia malah request mau mobil-mobilan satu truk penuh...."


"...tapi sekarang beda."


Moza tersenyum, "Dia udah dewasa."


Ya. Mogi yang kini sudah cukup dewasa, setidaknya untuk paham bagaimana arti menghargai, dan merasakan suatu perasaan yang disebut....


...kebahagiaan.


"Dan lo tau mau kasih surprise apa?" Billy kembali bertanya setelahnya.


"Belum tau juga, sih."


"Ah gak usah bingung-bingung, Za."


"Emang kamu punya ide?"


"Lo tinggal pake baju pendek, terus duduk di paha si Mogi. Gue yakin itu bakal jadi surprise yang paling berarti...."


"...sekaligus enak."


Billy geleng-geleng juga, "Hm? Hana? Siapa itu?"


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Gi."


"Mogi."


"Hei... Bangun."


"Mogiii... Banguuunnn...."


Entah sudah berapa menit Moza habiskan hanya untuk membangunkan seonggok daging penuh rasa malas bernama Mogi itu.


Sedari tadi, Moza sudah menggoyang-goyangkan tubuh laki-laki itu. Mencubit pelan. Bahkan Moza sudah menepuk-nepuk pipinya.


Mungkin Moza tidak akan bersusah payah membangunkan Mogi begini, jika saja....


...sekarang bukan pukul sebelas siang.


"Mmmhhh...."


Moza mendengar suara dari bibir merah muda milik lelaki itu. Mata Mogi terpejam, namun mulutnya terus membuat suara-suara aneh. Alisnya pun terangkat beberapa kali.


Seperti sedang bermimpi buruk.


"Gemesin."


Walau sedang terlelap, aura laki-laki itu masih terpancar indah. Belum lagi cahaya matahari yang menyeruak masuk lewat jendela, membuat wajah Mogi makin terlihat bersinar.


Memang aneh, tapi Moza suka melihatnya.


"Sshhh...."


Perlahan, Mogi mulai membuka matanya sembari memegangi kening. Laki-laki itu kemudian menatap Moza yang juga sedang menatapnya sambil menerbitkan senyum di wajahnya.


"Selamat pagi, anak ganteng."

__ADS_1


Mogi tersenyum mendengarnya,


"Pagi juga, kakak cantik."


Moza terkekeh pelan. Gadis itu mengacak-acak rambut Mogi dengan gemas.


"Ishh... Berantakan jadinya," ucap Mogi cemberut sambil merapikan rambutnya yang sebetulnya masih terlihat sangat baik-baik saja.


"Gak apa-apa. Kamu tetep ganteng, kok."


"Jangan ngomong gitu."


"Lho? Kenapa?"


"Nanti aku mau cium."


Astaga... Anak ini, batin Moza.


"Udah ah ayo bangun. Jam berapa ini?"


"Kan aku lagi sakit, Moza."


"Itu bukan alasan buat tidur kayak kebo. Bangun! Lagi pula tidur mulu juga gak bagus buat orang sakit."


"Iya, ya. Kayaknya aku gak boleh tidur terus."


"Kan?? Makanya bangun."


"Tapi kalo liatin kamu terus... boleh kan?"


Moza diam menatap Mogi dengan wajah datarnya.


"Oke. Kayaknya kamu udah sembuh."


Jika Mogi mengaku sedang sakit, namun mulutnya masih bisa mengatakan hal-hal menggelikan seperti tadi....


...maka berarti yang sakit itu otaknya.


"Sembuh, dong. Kan ada Moza."


"Hmm... Sekarang diam. Aku mau ngompres kamu."


Ya walau mulutnya masih menggelikan, Moza tahu bahwa Mogi masih sakit. Meski sepertinya otaknya yang lebih sakit.


Kemudian, Moza menyiapkan kompresnya dan menempelkannya di kening Mogi yang masih terbaring. Sementara laki-laki itu hanya diam menatap Moza yang sedang mengatur agar kompresnya tidak jatuh.


"Makasih, ya."


Moza langsung menatap wajah Mogi.


"Makasih banyak udah mau rawat anak manja, cengeng dan nyebelin ini, Moza."


Moza tersenyum, "Kurang satu lagi. Berisik."


"Ya, ya. Dan berisik," Mogi tersenyum, "Aku janji akan lebih mandiri, dan justru lebih bisa jagain kamu. Aku gak akan childish kayak dulu lagi."


Menenangkan rasanya. Mendengar Mogi berbicara sambil melihat senyuman manisnya itu. Terlebih posisi laki-laki itu yang sedang berbaring.


"Tapi, Gi...."


"...kadang aku suka kangen sama kamu yang dulu."


"Oh iya?"


Moza mengangguk. "Kadang aku suka ingat... Mogi yang polos, Mogi yang lincah, atau Mogi yang bahkan sempet dibohongin kalau ciuman itu nama cupcake...."


Mogi mendengus, "Hana sialan."


"...tapi bukan berarti aku gak bersyukur sama keadaan sekarang. Mogi yang sekarang ternyata enak juga kalau diajak ngobrol."


Keduanya sama-sama tersenyum dengan saling bertukar tatapan. Pupil hitam besar itu jelas dapat Moza lihat di mata menggemaskan milik Mogi itu.


"Yaa... kalau sama aku sih gak cuma ngobrol. Apa pun bisa jadi enak hehehehe."


"Nah, ini nih. Kalau soal beginian, kamu duplikat Hana banget."


"Sembarangan. Aku gak se-error dia."


"Sama aja. Otak kalian kalau dicuci, airnya pasti jadi warna cokelat."


Keduanya tertawa lepas. Dan entah refleks atau tidak, tapi tangan kekar Mogi tiba-tiba menggenggam tangan Moza.


"Thank you, babe."

__ADS_1


Chup!


...-TBC-...


__ADS_2