
"Lagi-lagi mendung."
Moza bergumam seraya menatap langit. Warnanya yang kelabu, ditambah dengan angin dingin yang menusuk, semakin terasa seperti perasaan Moza saat ini.
Jangan gila cuma karena isi kepala sendiri.
Itu dia. Kalimat Hana itu tidak berhenti lalu-lalang di pikirannya. Dan jika dibandingkan dengan keadaan Moza saat ini, semua perkataan Hana memang 'menampar'-nya.
Sejak bertemu Bad Boy, Moza menganggapnya penipu karena memang alasan lelaki itu tak masuk akal menurut Moza.
Tapi di satu sisi, Moza juga dibuat bingung dengan raut wajah yang ditunjukkan Bad Boy. Ekspresi polos laki-laki itu terkadang membuat Moza oleng dari kewarasannya.
TAPI... Sekarang Moza sadar.
Selama ini ia sudah dibuat gila hanya karena mempertahankan kewarasannya. Berpikir Bad Boy adalah penipu, tapi juga tak pasti karena sikap lelaki itu.
Jika mempertahankan akal sehat membuatnya hilang akal, lantas mengapa tidak hilang akal saja sekalian? Toh Moza pasti akan lebih baik jika mengabaikan asal-usul dan tujuan Bad Boy datang padanya.
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
"Kriiinggg... Kringg!"
Ah, berasa sedang membaca novel remaja. Di mana karakternya yang terbangun karena mendengar suara alarm.
Moza pun sama. Ia terbangun akibat suara alarm. Bedanya, suara itu bukan berarti dari ponsel atau jam weker.
Melainkan dari mulut seorang laki-laki.
"Krriiiinggg!! Mozaaaa! Banguuunnn!"
Moza mengucek matanya sejenak dan menatap seorang lelaki dengan kaus putih bergambar Miki Mouse sedang berdiri dan sambil memajukan bibirnya.
"Lama banget sih bangunnya! Suara Mogi sampe abis!"
Aneh. Biasanya Moza akan kesal jika mendengar lelaki ini menyebut nama itu. Tapi sekarang kenapa Moza baik-baik saja?
Apa ini efek ia sedang berusaha acuh? Hmm Mungkin iya.
Kalo gue jadi lo, Za... Se-meyakinkan apa pun ekspresinya, gue gak mungkin percaya kalo kucing bisa berubah jadi–Ah, kocak lu.
Moza seakan dapat mendengar suara itu dari orang-orang di luar sana.
Ya, Moza tahu. Moza paham hal itu. Tapi dipikir-pikir, jika Moza mempertahankan akal sehatnya, pasti ia akan menganggap laki-laki ini penipu dan terus membuat rencana supaya bisa membongkar alibinya, lalu dibuat tak yakin lagi.
Moza lelah dengan semua itu.
Karena prinsipnya sekarang, jika berusaha waras membuatnya gila, maka Moza lebih memilih gila agar tetap waras.
"Maaf, ya. Kemarin aku telat tidurnya. Jadi susah dibangunin," ujar Moza seraya tersenyum.
Ya. Moza tidak peduli lagi apa, siapa, dari mana, mengapa, bagaimana. Persetan saja semua itu.
Yang penting, Moza tidak pusing dan tetap bisa healing.
"Ya udah! Kalo gitu, turun dari kasur! Mogi laper, tau."
Ia berujar sembari misuh-misuh. Bad Boy–Ah... Sepertinya sudah saatnya Moza berhenti memanggil lelaki bermata cokelat itu demikian.
Bukankah Moza sudah gila sekarang? Kenapa tidak benar-benar memanggil 'Mogi' saja?
Baiklah. Mari panggil Mogi mulai sekarang.
Moza tersenyum, "Laper, ya?"
Sementara yang diajak bicara sepertinya sudah benar-benar kesal. Lelaki dengan kaus lengan panjang itu tolak pinggang sambil menatap Moza tajam.
"Laper banget. Moza jahat."
Moza tertawa, "Iya-iya. Aku cuci muka dulu ya...."
"...Mogi."
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
__ADS_1
Selamat ulang tahun.
Moza terpaku saat membaca pesan dari ponselnya itu. Bukan ucapannya, melainkan Moza fokus pada siapa yang mengirimnya.
Mama. Itu terbaca jelas olehnya saat melihat pengirim pesan.
Moza menghela napasnya. Ia bahkan tidak terkejut. Hari ulang tahunnya sudah lewat dua hari, dan sang mama baru mengucapkannya, lewat pesan, dan hanya tiga kata.
Perhatian sekali.
"Harusnya aku gak liat hape aja tadi," gumam Moza seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu menaruh ponselnya di sofa.
"Vrroomm... Vroom!!"
Moza melirik pada suara barusan. Dilihatnya seorang laki-laki berkaus putih panjang dengan celana hitam panjang sedang terduduk sambil memainkan beberapa mobil mainan.
Lelaki dengan poni yang hampir menutupi seluruh keningnya itu berhenti fokus pada mainannya, dan beralih pada Moza.
Laki-laki itu tersenyum, "Mau ikut Mogi main?"
Mogi... Sejak memutuskan untuk acuh dan menerima keberadaan sosok ini, Moza menjadi lebih baik. Setidaknya dalam segi psikologis.
Kini, Moza tak perlu memikirkan hal-hal yang hanya akan membuatnya sakit kepala. Yang harus Moza lakukan sekarang hanyalah mempercayai dan menerima lelaki satu ini.
Terlepas dari ia betul-betul Mogi, atau bukan.
"Emang aku boleh ikut main juga?" tanya Moza sambil tertawa kecil. Mogi mengangguk antusias, "Boleh, dong! Siniiii!"
"Tapi nanti pas main, aku bakal jadi ratu. Dan mobil-mobil itu bakal jadi punya aku," kekeh Moza.
Mogi membulatkan matanya. Sontak lelaki itu mengambil semua mobil mainan itu dan memeluknya erat, "Gak. Ini punya Mogi."
Moza tersenyum lebar. Raut wajah dan reaksi Mogi entah mengapa membuat Moza ingin tertawa karena lucu.
Ah... Moza jadi bingung. Antara 'lucu' atau 'menggemaskan', ya?
Mama
Selamat ulang tahun.
Tapi matanya tak sengaja melirik layar ponsel dan kembali membaca pesan singkat tadi. Alhasil suasana hatinya kembali mendung.
Melihat ekspresi Moza yang kembali murung, Mogi menyimpan mainannya. Lelaki itu merangkak menuju Moza yang sedang terduduk di sofa.
Bukannya ikut terduduk, lelaki sang pemilik bibir merah muda pekat itu malah menaruh kepalanya di kaki Moza yang sedang duduk.
"Moza kenapa?"
Moza mengedipkan matanya cepat. Sejujurnya ia kaget sekali. Apalagi melihat mata bulat yang menatapnya dengan polos itu.
Ah... Moza harus terbiasa dengan ini.
"Aku gak apa-apa. Cuma... laper? Ya, kayaknya agak aku laper," jawab Moza menyembunyikan rasa kagetnya tadi.
Mogi memiringkan kepalanya tanda bingung, "Laper?"
"Mau Mogi bikinin makanan?" Lelaki itu menatap Moza penuh harap agar Moza mengiyakannya.
Moza bergidik. Jangan sampai ia disajikan sepiring makanan kucing kalengan. Atau lebih parah lagi, Mogi memberikannya daging ikan mentah.
Sial. Moza mual hanya karena membayangkannya.
"Gak usah, deh. Lagian kamu mau bikinin aku apa?" tanya Moza kemudian. Sementara yang diajak bicara malah beranjak dari tempatnya dan tersenyum,
"Rahasia."
Lalu Mogi mulai melangkahkan kakinya ke dapur. Terdengar suara perkakas dapur yang berisik dan barang-barang berjatuhan.
Semua itu membuat Moza tidak tenang. Bagaimana jika tetangga datang karena suara bising ini? Bagaimana jika alat-alat dapurnya rusak akibat Mogi yang amatiran dalam memasak?
Atau lebih parah, bagaimana kalau apartemennya terbakar habis tidak tersisa?
"Kamu gak akan bikin apartemen ini kebakaran, kan?" tanya Moza dari ruang temu para Mogi yang sedang berjalan sendirian.
__ADS_1
"Moza duduk manis ajaaaa!!"
Terdengar suara teriakan nyaring Mogi dari dapur. Moza hanya tertawa kecil mendengarnya.
Setelahnya, Moza kembali melirik ponselnya. Dan lagi-lagi senyumnya memudar. Gadis itu jadi teringat pesan singkat yang dikirim Mamanya tadi.
Sebetulnya Moza tidak mau memikirkannya. Di mana luka-luka lama tentang sang Mama yang terkadang masih teringat oleh gadis itu.
Baru saja Moza memutuskan untuk menyembuhkan pikirannya, apa iya ia harus kembali memikirkan hal-hal merepotkan?
Tidak, terima kasih.
"Tadaaa!"
Lamunan Moza buyar seketika kala mendengar itu. Terlihat Mogi dengan rambut yang acak-acakan serta pipinya yang dipenuhi noda tepung.
Di tangan lelaki itu, terdapat semangkuk sup ayam dilengkapi dengan berbagai sayuran hijau. Dan yang membuat Moza terkejut adalah aromanya....
"Ini... apa?" tanya Moza masih kebingungan. "Moza kan udah liat. Ini makanan buat Moza," jawab Mogi.
Moza menatap sup itu sejenak. Tampilan luar dan aromanya, sekilas mengingatkannya pada sesuatu..
Sesuatu yang tidak bisa ia lupakan.
"Wanginya enak. Aku kira kamu mau kasih aku ikan mentah," tawa Moza. Sementara yang diajak bicara hanya meresponsnya dengan senyum tipisnya.
Sekadar ingin mengapresiasi usaha Mogi membuatkannya makanan, Moza memadukan satu sendok sup itu ke dalam mulutnya.
Gadis itu tertegun. Tampilan dan aromanya sudah mirip. Mengapa sekarang rasanya juga sangat mirip?
Moza menatap sup itu dan wajah Mogi secara bergantian, "Kamu beneran bikin ini?"
Mogi memiringkan kepalanya, "Hm?"
Moza terdiam. Dilihat dari kacaunya keadaan fisik Mogi, dan se-kotor apa baju yang dipakainya, sepertinya lelaki itu memang betul-betul membuatnya.
"Kenapa? Gak enak, ya?"
Ekspresi Mogi berubah menjadi murung. Bibir bawahnya naik dengan tatapan penuh harap yang seolah mengatakan, "puji aku."
Moza tersenyum, "Enak, kok. Banget."
Jelas Moza tidak berbohong. Karena rasanya benar-benar enak. Sampai-sampai membuatnya mengingat akan hal 'itu'.
Mendengarnya, sebuah senyuman terbit di wajah Mogi yang kotor dengan tepung. Lelaki itu menghela napasnya lega.
Moza tertawa, "Perasaan bikin ini gak pake tepung. Kenapa muka kamu kotor begitu?"
"Oh... ini?" Mogi menunjuk noda di pipinya, "Tadi gak sengaja tumpah. Waktu Mogi bersihin, ternyata enak juga kalo dipake di muka. Hehe." Mogi tertawa tanpa dosa.
Moza menaruh sendok, "Jadi... Kamu ngabisin tepungku buat main-main?"
Mogi menelan ludahnya, "A–ampun...."
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
"Katanya AGAK laper."
Mogi tersenyum melihat lahapnya Moza menyantap sup yang ia buat. Sampai-sampai mangkuknya kosong tak tersisa.
"Siapa yang bisa nolak makanan seenak ini?" balas Moza. Mogi mengembangkan senyumnya, "Yeayy Moza suka!"
Moza ikut tersenyum, "Suka banget malah. Makasih, ya."
"Dari sekian banyak hadiah, ini hadiah ulang tahun yang paling berkesan buat aku," lanjut gadis itu kemudian.
Bukan berarti hadiah lain yang ia terima tidak berarti. Tentu saja semuanya membuat Moza senang. Tapi ini... makanan ini memberikan kesan mendalam baginya.
Ya, walaupun Moza tahu Mogi memberikannya hanya untuk menghiburnya. Bukan untuk memberinya hadiah ulang tahun. Bahkan Mogi saja tak tahu kapan ulang tahunnya.
"Ulang tahun itu... apa?"
...-TBC-...
__ADS_1
Holaa! Cuma mau menjelaskan, kalau kata 'gila' di sini merujuk pada 'stres' atau 'frustrasi'. Jadi BUKAN menghina orang yang punya gangguan mental ya manteman. (Intinya dibawa enjoy aja sih, ga usah serius² amat wkwkwk).
Thanks and see u di bab selanjutnya!