
Moza keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Gadis itu masuk ke kamarnya dan mendapati Mogi yang masih terlelap di kasur.
Tunggu. Disclaimer sebelum ada pikiran yang melayang ke mana-mana, Moza dan Mogi memang satu kamar. Tapi tidak satu kasur.
Mogi tidur di kasur bagian bawah, sementara Moza di bagian yang atas. Gadis itu tidak pernah menyangka kasur jenis double bed-nya akan benar-benar berguna.
Moza menghampiri Mogi dan terduduk di pinggir lelaki itu yang tengah tidur menyamping dengan posisi kedua tangan sebagai bantal.
Wajah tampan itu jelas dapat Moza lihat. Hidungnya yang mancung, lentiknya bulu mata, dan bibir merah muda tanpa senyum itu tak lepas dari tatapan Moza.
Gadis itu mengelus rambut Mogi yang menutupi keningnya. Samar-samar dapat Moza cium kembali aroma stroberi.
Moza bingung. Aroma ini selalu hadir saat Moza mendekati rambut pirang gelap kecokelatan milik Mogi itu.
"Lagi tidur aja masih kayak berlian. Fiks kamu emang bukan manusia," gumam Moza pelan sembari tertawa kecil.
*TSB In Your Area!
Moza lalu menoleh pada ponselnya yang baru saja mengeluarkan suara notifikasi pesan masuk.
Mama
Bisa ke sini, gak?
Setelah membacanya, Moza terdiam.
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Padahal waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tapi Hana sudah sibuk menjinjing tas belanjaan di mall.
Maklum, anak teladan yang sedang disuruh oleh orang tuanya untuk belanja kebutuhan bulanan.
Ya Hana tidak dirugikan juga, sih. Toh di tempat seperti ini banyak (cogan) pemandangan yang bisa ia lihat.
"Lumayan biar mata gak iritasi liatin cangkir kopi mulu," gumam Hana sembari bermain ponsel.
Namun sesaat setelahnya cewek itu menghentikan langkahnya ketika tahu ada telepon yang masuk.
"Hmm? Apaan, kak?"
"N–Na... Lo lagi di–sshhh lagi di mall, kannhhh??"
Hana membulatkan matanya mendengar suara Raka—kakak laki-lakinya—yang seperti tengah mendesah itu.
"Kak... Jangan bilang lo lagi main."
"Berisik, ah! Gue cuma mau nitip–mmhhh nitip pengaman satu bungkus!"
"Stres. Lo minta gue beli begituan? Kenapa gak beli sendiri aja?"
"Ck! Lo banyak ngomong! Beli aja ntar duitnya gue gan–AAAHHHHH...."
Sambungan teleponnya tiba-tiba terputus ketika terdengar suara ******* yang amat kencang dari Raka itu.
"Halo? Kak? Raka setan? Halo?"
Hana mengangguk setelahnya. Ia menaruh ponsel ke dalam saku celananya dan kembali berjalan.
"Kayaknya ponakan gue bakal nambah lagi."
Hana masuk ke bagian supermarket setelah beberapa saat berkeliling tadi. Cewek itu mulai melihat-lihat ke bagian alat kontrasepsi.
"Gila banyak banget. Warna-warni pula. Mana gue tau si Raka biasanya pake yang mana?" gerutu Hana bingung melihat alat pengaman pria dengan bermacam-macam warna seperti permen.
"Bodo, ah. Gue pilih yang kecil aja. Lagian 'burung'-nya si Raka juga gak sampe segede jempol," gumam Hana lalu mengambil pengamannya asal.
"Hana?"
Hana menoleh pada seseorang yang memanggil namanya barusan. Terlihat Billy yang baru keluar dari rak makanan.
Billy menghela napas, "Gue lega gak salah manggil orang. Soalnya dari belakang lo kayak seumuran tante gue." Billy mengelus dadanya.
Hana mendengus kasar, "Bersyukurlah kita lagi di tempat umum. Kalo enggak, dah gue tendang 'biji' lo."
Billy terkekeh mendengarnya. Tapi setelahnya laki-laki dengan hoodie marun terang itu tampak salah fokus pada sebuah alat pengaman pria yang dipegang Hana.
Billy tahu bahwa Hana memang cewek yang aneh, tidak sopan, semena-mena, ceroboh, bahkan cabul. Sejak SMA dulu Hana memang sudah begitu.
__ADS_1
Tapi kalau untuk ini... jujur Billy pun kaget.
"Lo... mau beli itu?" tanya Billy menatap pengaman yang dipegang Hana. "Iya," jawab cewek itu dengan lempeng-nya.
Billy mengangguk dengan ekspresi canggung, "Kalo gitu have fun, ya...."
"Have fun matamu! Ini bukan buat gue, njing. Gila aja gue beli beginian."
"Kalo punya lo juga gak apa-apa, kok. Itu artinya lo taat aturan. Dua anak cukup!" Billy mengacungkan jempolnya.
Hana menatap Billy tajam, "Gue yakin lo gak mau denger ada berita seorang laki-laki mati ditendang temennya gara-gara gak bisa jaga mulut."
"Ebuset... Nyantai, mbak." Billy masih dengan tawanya.
Sempat mendengus, Hana malah tiba-tiba membelalakkan matanya kaget sembari gugup di tempat. Cewek itu spontan bersembunyi di balik tubuh bidang milik Billy.
"Lo ngapain?" bingung Billy sekaligus terkejut Hana bersembunyi di belakangnya secara tiba-tiba.
"Ssstt! Gak usah berisik!" gumam Hana pelan sambil berjalan menuju kasir dan menjadikan tubuh Billy sebagai perisai.
Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran alat pengaman tadi, Hana kembali menarik-narik tubuh Billy untuk menjauh dari lokasi.
"Sesek, woi!! Lo gak ada kerjaan banget!" pekik Billy. Hana menghela napasnya kasar, "Bisa diem, gak?! Itu ada mantan gue."
"Terus emang kenapa?"
"Gue habis porotin duitnya. Dia bisa ngamuk besar kalo liat gue."
Billy memutar bola matanya malas, "Emang yang mana mantan lo?"
"Itu yang pake jaket abu-abu!"
Sejenak, Billy menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang ditunjuk Hana barusan. Tapi tidak ada siapa-siapa selain seorang pria paruh baya yang sedang duduk santai sambil tumpang kaki.
"Mantan lo... bukan om-om itu, kan?"
Hana menarik tangan Billy dan berusaha pergi lebih jauh, "Gak usah diperjelas!"
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Kini mereka terduduk di kursi yang tempatnya jauh dari keberadaan mantan Hana tadi.
"Hidup lo terlalu dibikin ribet, bro! Nikmatin selagi bisa! Hidup cuma sekali, Bil." Hana tertawa remeh lalu meneguk minuman kalengnya.
Billy terdiam sejenak, "Ini yang salah gue apa elu, ya?"
"Intinya, Bil! Lo harus enjoy. Kita bukan kucing yang punya sembilan nyawa. Hidup kita cuma sekali. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya. Oke?" Hana menepuk-nepuk pundak Billy.
Billy menatap Hana sinis, "Tau apa yang lucu? Lo ngomong seolah gue yang butuh pencerahan. Padahal di sini yang sableng kan elu."
"Ya... Gue gak peduli impression lo itu. Selagi gue bisa nyari cowok yang cocok sama kriteria gue."
"Berarti om-om tadi pernah cocok sama kriteria lo?"
Hana mengangguk, "Yoi. Banyak duit, loyal dan yang paling penting...."
"...pentilnya nyetak."
Billy terperanjat kaget mendengarnya. Ia melihat dadanya sejenak, lalu menutupinya dengan kedua tangan.
"Tenang, lo aman. Karena pake hoodie, ****** lo gak keliatan."
Billy sampai geleng-geleng mendengarnya. Bisa-bisanya Hana mengucapkan semua kata-kata itu tanpa rasa malu.
"Lagian kayaknya ****** lo berbulu. Gue kurang doyan kalo yang ada bulu-bulunya gitu. Bikin geli," lanjut Hana.
Untuk pertama kalinya, Billy berpikir Hana benar-benar butuh diperiksa.
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Di ruang tengahnya, Moza terdiam melamunkan isi chat dari mamanya tadi. Chat terakhir dari sang mama adalah saat mengucapkan selamat ulang tahun secara singkat pada Moza saat itu. Alias sudah berbulan-bulan lalu.
Dan kini mamanya kembali mengirimkan pesan singkat secara tiba-tiba pada Moza dan memintanya untuk pulang? Untuk apa?
Tak mungkin masalah uang. Karena biasanya sang mama hanya akan memintanya lewat transfer melalui bank online.
Moza jadi bingung. Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
"Moza udah makannya?"
Pertanyaan dari Mogi itu sukses membuat lamunan Moza buyar seketika. Gadis itu melihat Mogi dengan senyuman tipis serta kedua alis yang terangkat seperti biasa.
Betul-betul ekspresi yang khas.
"Udah, kok. Emang kenapa?" tanya Moza sempat menatap ke arah piring dan gelas bekas makannya tadi.
Tak menjawab, Mogi hanya mengangguk kecil sebagai respons. Moza dibuat bingung kala Mogi mengangkat piring dan gelas itu dan pergi ke dapur.
Saat mengikuti Mogi, Moza membulatkan matanya saat melihat keadaan dapurnya yang sangat bersih dan rapi.
Semerbak harum lavender bisa Moza cium dengan jelas walau kakinya baru menapak di pintu dapur.
"Kamu beres-beres?" tanya Moza.
Mogi mengangguk, "Hu'um."
"Mogi gak mau diem aja saat liat Moza capek. Mogi juga tau Moza perlu istirahat. Mogi gak mau bikin Moza susah."
"Mogi... gak mau jadi beban."
Moza menyunggingkan senyumnya. Siapa sangka Mogi ternyata diam-diam menyimpan rasa simpati padanya?
Moza tertawa kecil lalu mencubit pipi Mogi ke kiri dan ke kanan, "Kalau kamu beban buat aku, udah aku jual ke tante-tante di luar sana. Bisa tuh aku dapet seenggaknya dua juta...."
"...Tapi ini enggak, kan?"
Sejujurnya, Moza kagum dapat mengatakan itu. Di awal-awal, Moza tahu betul sesulit apa rasanya untuk menerima keberadaan Mogi dan segala hal tentangnya yang melawan akal sehat.
Tapi kini, Moza sadar bahwa ia sudah benar-benar menerima kehadiran Mogi.
"Tante-tante itu siapa?"
Moza mematung. Ia lupa bahwa lawan bicaranya saat ini adalah anak sd polos yang tidak tahu apa-apa. Lain kali Moza harus mengawasi perkataannya sendiri.
"Gak usah dipikirin. Yuk duduk di sana. Masa ngobrol di dapur begini?"
Mogi menggeleng, "Kan Mogi mau beresin ini dulu," ujarnya sambil menjunjung piring dan gelas tadi.
Moza jadi merasa tidak enak. Padahal Moza yang makan, malah Mogi yang harus mencuci piringnya.
"Kalo gitu aku bantuin kamu lap piringnya," Moza mengambil lap dan mulai mengelap piring-piring yang Mogi cuci tadi.
Beberapa kali, keduanya saling bertukar tatapan kala melakukan aktivitasnya masing-masing.
"Moza! Liat!"
Moza menoleh. Ia melihat Mogi tengah kegirangan bermain dengan busa-busa yang dihasilkan dari cairan pencuci piring.
"Liat, nih! Mogi bisa bikin yang gueedeee banget!!"
Moza tertawa ketika Mogi mulai meremas dan meniup-niup busa itu dengan bahagianya. Sebagian wajah lelaki itu bahkan hampir tertutup oleh busa.
"Eh? Eh?! Apa ini?!!" teriak Mogi kemudian. Lelaki itu memejamkan matanya dan berhenti bermain-main.
"Kamu kenapa?" tanya Moza agak panik.
"Mata! Mata Mogi kok rasanya aneh?! S–sakit!"
Moza terbelalak. Ia baru sadar mata Mogi pasti terkena sebagian busa yang tadi dimainkan oleh laki-laki itu.
"Mata Mogi gak bisa liaaattt sebelah! Huaaaaa!!" pekik Mogi. Lelaki itu hendak menggosok-gosok matanya menggunakan tangannya yang bahkan tengah dipenuhi busa.
"Jangan! Nanti mata kamu tambah perih!"
Moza mendorong tubuh Mogi ke dinding dan memegang kedua tangannya dengan erat agar lelaki itu bisa tenang.
Mendekat, kini jarak antara wajah Moza dan Mogi hanya berkisar beberapa milimeter saja. Gadis itu mulai meniup pelan mata Mogi yang terkena busa tadi.
"Sekarang gimana? Udah baikan?"
Mogi membatu. Lelaki itu membuka pelan-pelan sebelah matanya yang kesakitan tadi, lalu menatap Moza dengan mata bulatnya.
"Tadi mata Mogi yang terasa aneh. Kok sekarang jadi dada Mogi yang rasanya aneh?"
...-TBC-...
__ADS_1