MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
34


__ADS_3

Two years later....


Seorang gadis berkaus cokelat tua dan celana jeans pendek baru saja selesai merapikan kamar tidurnya.


Melipat selimut, membuka tirai, mengelap jendela, semuanya telah dilakukan oleh gadis dengan rambut kuncir kuda itu.


Namun kemudian, gadis itu menoleh ke arah ponselnya yang sedang berdering di atas meja, lalu menjawab panggilan telepon yang masuk.


"Moza?"


Moza, gadis berambut cokelat itu tersenyum kala mendengarnya. Suara seorang pria tua, yang sangat ia rindukan.


"Halo, Yah?"


"Ah... Ternyata bener ini nomor kamu. Kamu gimana kabarnya? Ayah takut salah telepon nomor tadi."


"Ayah gak save nomor aku? Parah banget."


"Enggak gitu... Setelah HP Ayah rusak kemarin, Ayah langsung minta nomor kamu. Tapi takutnya si Billy iseng ngasih nomor orang lain ke Ayah. Masih mending kalo orang lain...."


"...Kalo tiba-tiba pas ditelepon ternyata tukang pijit plus-plus? Kan bahaya."


Moza tertawa. Pria tua ini benar-benar....


"Ayah gimana di sana? Sehat-sehat, kan?"


"Sehat, kok. Cuma lagi batuk dikit."


"Batuk??? Terus gimana?"


"Ya... gak gimana-gimana."


"Bukan gitu. Ayah kan harus sehat terus."


"Ngaco kamu. Dikira Ayah mesin kali gak boleh sakit? Lagi pula Ayah cuma sedikit batuk. Gak apa-apa."


"Tapi Ayah udah bilang ke Billy?"


"Ngapain bilang ke anak itu?"


"Lho? Kan Ayah sakit. Billy harus tau, dong."


"Kalo dia tau, paling cuma nyuruh banyak makan atau sering istirahat. Klise banget. Padahal beliin makanan, kek. Minuman, kek...."


Moza tersenyum. Mendengar ocehan Ferdy, membuat Moza tersadar bahwa ternyata istilah 'semakin tua usia, semakin kekanak-kanakan sikapnya' benar.


"...Apalagi Ayah kan mau bajigur."


"Yah... Ayah kan di Amsterdam. Bukan Cihampelas."


"Iya, ya? Harusnya Ayah ke Cihampelas aja."


Moza geleng-geleng kepala, "Astaga...."


"Oh, iya. Hana gimana di sana, Za?"


"Perasaan dari tadi Ayah nanya orang lain terus. Aku, Hana... Tapi enggak nanyain Billy. Aku jadi ragu dia anak kandung Ayah."


"Ya kalo bisa dijual sih, Billy udah Ayah jual dari dulu."


"Ppfftt!! Aku aduin ke Billy, ya hahahaha...."


"Tapi serius... Hana gimana? Dia baik-baik aja, kan?"


"Dia baik, kok."


Seandainya Ferdy tahu. Satu-satunya hal yang bisa membuat seorang Hana tidak baik-baik saja, itu hanya soal uang. Jadi, selama ada uang....


...Hana pasti baik-baik saja.


"Ayah lega dengernya. Soalnya dari kemarin, Ayah ketakutan."


"Takut... kenapa?'

__ADS_1


"Ayah takut Hana diapa-apain sama Billy."


Teh yang sedang diminum Moza bahkan nyaris saja menyembur ke luar saking inginnya Moza tertawa.


"Kalo soal itu, aku justru takut Billy yang diapa-apain sama Hana."


"Tapi enggak, kok. Mereka berdua baik-baik aja. Ayah gak usah banyak pikiran. Cukup sehat-sehat aja di sana, oke?"


"Ya... Kayaknya Ayah memang harus kurang-kurangi mikir macem-macem."


"Makanya... Kalo gitu, sekarang Ayah istirahat dulu."


"Ya udah kalo gitu. Ayah tutup dulu, ya."


"Iya, Yah."


"Eeehhh!! Bentar, Moza."


"Apa? Kenapa, Yah? Ayah kenapa???"


"Beli bajigur di sini di mana, ya?"


Keduanya tertawa sebelum Ferdy menutup sambungan teleponnya.


Sejenak, Moza menatap home screen pada ponselnya. Layar ponsel yang mati, membuat Moza dapat melihat wajahnya sendiri.


Moza terkekeh kecil. Dulu, Moza sempat benci bercermin, atau melihat pantulan wajahnya karena beberapa hal.


Dan salah satu 'hal' itu adalah mamanya.


Namun kini tak lagi. Cermin di tempat Moza tak lagi berdebu. Moza juga tak lagi benci pada hujan yang mengingatkannya pada momen kematian sang ayah.


Namun bukan berarti trauma itu hilang. Hanya saja....


...Moza mencoba untuk lebih dewasa.


"Aaww!!"


Moza langsung tersadar dari lamunannya dan terperanjat. Gadis itu menoleh pada seorang laki-laki yang baru saja memekik kesakitan.


Laki-laki itu sedang memegangi sapu di tangan kirinya. Laki-laki itu berdiri di dekat pintu, sambil masih saja mengusap jemarinya.


Moza tersenyum.


"Kenapa, Mogi?"


Mogi menoleh pada Moza. Sejenak, keduanya saling bertatapan.


"Aku gak apa-apa, kok."


'Aku'.


Entahlah. Sudah lama Moza mendengar hal itu keluar dari mulut Mogi. Namun menarik saja bagi Moza untuk mengingat masa lalu, dan membandingkannya dengan masa sekarang ini.


Sepertinya baru kemarin Moza menemukan seorang lelaki telanjang yang tiba-tiba berada di ranjangnya. Lelaki itu mengaku sebagai kucing, yang gilanya dipercayai Moza.


Laki-laki itu berisik, nakal, menyebalkan, cengeng juga jahil. Ah... dan kekanak-kanakan. Sifat itu sangat melekat pada Mogi. Laki-laki itu bahkan memanggil dirinya sendiri dengan namanya. Nama pemberian dari Moza tentu saja.


Tetapi sekarang....


Tak ada lagi Mogi yang menyebalkan, cengeng, dan kekanak-kanakan. Kini hanya ada Mogi, seorang laki-laki tampan dengan pribadi yang lebih dewasa.


Selesai dengan monolog di kepalanya, Moza beranjak dari sofa dan menghampiri Mogi yang sedang berdiri.


*Chup!


Mogi terdiam. Sejenak, laki-laki itu mengedipkan matanya cepat, lalu menatap Moza dengan ekspresi sedikit kaget.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Mogi.


"Hmm... Mau aja," jawab Moza enteng.


Moza dapat melihat Mogi menghela napas. Dan gadis itu dibuat kaget ketika Mogi melempar sapu yang dipegangnya ke lantai, lalu mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Keduanya semakin dekat, hingga Moza dapat merasakan tangan kekar Mogi memeluk pinggangnya.


Mata keduanya bertemu. Deru napas Mogi, semu dapat Moza rasakan. Dada bidang milik laki-laki itu nampak dekat sekali dengan wajahnya.


Kemudian, Moza merasakan tangan Mogi mulai mengusap tengkuk lehernya. Mogi mendekatkan wajah Moza, dan ******* bibirnya.


Kian detik, Mogi semakin liar. Laki-laki itu semakin gencar melahap bibir Moza dengan tangannya yang sepertinya sudah siap menjelajah.


Tak mau terus berdiri, Mogi menggendong Moza dan membawanya untuk berbaring di sofa lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


Entah kenapa, udara jadi terasa panas untuk Mogi. Keringat mulai membasahi keningnya. Mogi lalu melepas kaus hitamnya.


Otomatis, Mogi telanjang dada di atas Moza yang sedang berbaring.


Selesai dengan urusan kausnya, Mogi kembali malahap bibir Moza dengan rakus. Laki-laki itu juga menjelajah ke bagian leher Moza, untuk membuat kissmark di sana.


Tangan Moza pun tidak bisa diam. Gadis itu menaruh tangannya di dada Mogi, sambil sesekali mengelus perut atletis milik laki-laki itu.


Tapi kemudian... Moza merasakan sesuatu yang tidak wajar. Beberapa kissmark yang tengah Mogi buat mulai terasa sakit.


Laki-laki itu sudah kesetanan.


"Heeii... Pelan-pelan."


Mogi berhenti seketika. Laki-laki itu melihat ke arah Moza, dan leher Moza yang penuh dengan titik-titik berwarna kemerahan.


"Arrghh bodoh."


Mogi menunduk lalu malah berbaring di sisi Moza. Laki-laki itu mengusap wajahnya sendiri sambil menghela napas panjang.


Moza terkekeh, "Gak apa-apa."


Mogi menoleh pada Moza. "Tadi aku kasar, ya?"


"Enggak, kok."


"Bohong."


"Serius enggak, Mogi."


"Huufft...." Mogi menghela napas, lalu memeluk Moza dengan keadaan yang masih telanjang dada.


"Maaf...."


Moza tertawa. "Iya gak apa-apa." Moza mengelus dan mengacak-acak kecil rambut laki-laki itu.


Masih harum stroberi, batin Moza.


"Lain kali jangan gitu lagi," ucap Mogi yang masih dalam pelukan Moza.


Moza menunduk untuk melihat Mogi lalu mengernyit bingung, "Hmm?"


"Iya kamu. Jangan tiba-tiba kayak tadi lagi."


"Kayak tadi?" Moza melamun sejenak lalu paham apa yang dimaksud Mogi. "Oh... Maksud kamu...."


*Chup!


"...jangan kayak gitu lagi?"


Mogi sempat kaget, sebelum akhirnya mendengus. Walau masih berpelukan dengan posisi kepala Moza di atas, Mogi mencoba memalingkan wajahnya.


"Ck nyebelin."


Moza tertawa, "Iya-iya. Gak lagi-lagi, deh."


"Serius, Moza. Aku beneran gak mau kelepasan lagi kayak tadi. Tapi kalo kamu begitu terus, jujur aja...."


"...aku gak kuat."


Moza menyunggingkan senyumannya. Gadis itu mengusap pipi Mogi, dan mencubitnya dengan gemas.


"I'm listen to you, my hottest cat."

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2