MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
27


__ADS_3

"Eh, astaga!"


Moza yang tengah mengelap gelas di meja kasir langsung menoleh pada pelanggan yang baru saja menumpahkan kopi ke lantai.


Sontak Moza langsung saja membawa alat pel dan menghampiri meja pelanggan itu.


"Ah... Maaf, Mbak. Saya gak sengaja," ucap pria dengan topi abu-abu itu. "Tidak apa-apa, Pak! Sebentar saya bersihkan dulu," jawab Moza ramah sembari mulai mengepel bagian lantai yang kotor akibat tumpahan kopi tadi.


Pelanggan pria itu harus bersyukur karena Moza yang melihat insiden ini dan membersihkan kekacauan kecil itu.


Jika saja Hana yang melihat insiden barusan, kecil kemungkinannya untuk pelanggan itu mendapatkan akhir yang sama.


"Biar Mogi aja."


Moza menoleh pada Mogi yang baru saja menghampirinya sambil menatap dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.


"Biar Mogi bantu... Moza istirahat aja, ya?"


Moza sempat terdiam. Sejenak, gadis itu sempat oleng dengan wajah Mogi yang nampak bercahaya di matanya.


Serius. Ketampanan Mogi membuatnya silau.


"G–gak apa-apa, kamu ke belakang aja."


Sial. Moza malah terdengar gugup barusan. Tapi gadis itu menyembunyikannya dengan kembali fokus mengepel lantai.


"Moza kelamaan."


Setelah mengatakan itu, Mogi langsung merebut pel yang semula dipegang Moza dan mulai mengepel dengan tangannya sendiri.


Dan Moza, gadis itu yang terdiam menyaksikannya Mogi yang tengah mengepel dengan wajah bingung.


"Mogi!"


Mogi langsung menoleh ketika mendengar panggilan itu. Terlihat seorang cowok berkemeja marun menghampiri ke tempat Moza dan Mogi berdiri.


"Masih banyak piring yang numpuk di belakang. Lo ngapain di sini?" ucap cowok yang tidak lain tidak bukan adalah Billy itu.


Sejenak, entah mengapa Moza mulai merasakan suasana yang tidak enak. Atmosfer seolah terasa tidak nyaman ketika melihat Mogi dan Billy saling menatap.


Dengan tatapan seperti hendak perang.


"Mogi lagi bantuin Moza di sini," jawab Mogi. "Tapi itu bukan alasan lo untuk ninggalin pekerjaan lo sendiri. Lo ke belakang lagi aja," jawab Billy.


"Tapi Moza lagi butuh bantuan di sini."


Moza dapat melihat tatapan Mogi yang menatap Billy datar. Moza menghela napasnya panjang dibuatnya.


"Aku gak nyuruh kamu buat bantu aku, lho."


Mogi menoleh pada Moza yang baru saja berkata demikian, "Tapi... Mogi sendiri yang mau bantu Moza."


"Gak usah. Ini memang tugas aku. Kamu ke belakang aja sana. Dengerin apa kata Billy tadi. Kamu... mau nurut, kan?"


Mogi mendengus pelan. Walau sempat terdiam sejenak, laki-laki itu mengangguk kecil dengan bibir yang cemberut pada Moza.


Mogi memberikan pel itu kembali pada Moza dan mulai melangkah menuju dapur. Setidaknya....


...sampai laki-laki itu menatap Billy.


Berbeda dengan Mogi yang nampak kurang senang, Billy justru malah menunjukkan tampang biasa saja seakan tidak terganggu dengan tatapan tidak bersahabat dari Mogi.


Mogi mendengus, lalu melenggang pergi.


"Makasih ya udah ngingetin Mogi, Bil. Kadang dia memang harus–"


Ucapan Moza seketika terhenti kala Billy mengambil alat pel dari genggamannya dan mulai mengepel sendiri.


"Lo balik lagi ke kasir aja. Gue yang beresin, oke?"


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Tengah hari yang terik, ditambah dengan pendingin udara yang memang sudah sekarat di ruang pegawai, Moza mengipasi dirinya sendiri hanya dengan menggunakan buku bekas yang ia sendiri lupa dapat dari mana.


"Haahhh... Kayaknya tempat ini harus ganti nama jadi 'Gunung Merapi'."


Hana datang dengan segelas air dingin di tangannya. Cewek itu terlihat duduk di samping Moza dan merampas buku bekas di tangan Moza dan mengipasi dirinya sendiri dengan santai.


"Za...."


"Hmm?" Kini giliran Moza yang merampas minuman dingin milik Hana.


"Lo... pernah suka sama seseorang?"


Seketika, Moza langsung tersedak. Fix. Moza yakin pasti ada alasan terselubung di balik pertanyaan yang dilontarkan Hana barusan.

__ADS_1


"Apa yang bikin cewek dengan beribu-ribu mantan kayak kamu nanya hal itu? Pasti ada udang di balik bakwan, nih."


Hana tertawa, "Dih? Sok tau. Gue cuma nanya, kok. Gue... penasaran aja apa seorang Moza Kanaya bisa suka sama cowok?"


"Atau... lo sukanya sama cewek?"


Moza terbelalak kaget. Gadis itu kemudian menyenggol kecil pundak Hana, "Mulut kamu memang butuh filter!"


"Ya... Kalau ditanya aku pernah suka sama cowok atau enggak...."


"...jawabannya enggak."


Hana tertawa, "Tuhkan? Berarti lo sukanya sama cewek. Ah! Apa jangan-jangan... lo suka sama gue? Gas aja, Za! Gue juga suka sama lo! Sini cium duluuuuu!"


Sumpah... Moza mau nangis.


Moza menjauhkan kepala Hana yang tengah memajukan bibir seolah hendak menciumnya. Gadis itu menatap sang sahabat sambil geleng-geleng kepala.


"Serius nanya. Kamu lagi kenapa sih, Na?"


Hana terkekeh, "Lagi oleng maap... Btw tentang jawaban lo tadi... jadi sekarang lo gak mau pacaran dulu?"


Moza terdiam. Sangat random memang pertanyaan Hana ini. Tapi hal itu membuat hati Moza berpikir–Ah... lihat? Di saat begini, Moza bahkan tidak menggunakan otaknya untuk berpikir.


Hatinya seolah mendadak alih fungsi.


"Enggak juga sih, Na."


Hana mengernyit bingung, "Maksudnya?"


"Ya... Kalo dibilang aku gak mau pacaran dulu pun, enggak juga sih, Na. Sebenernya kalo soal itu... aku mau."


"Lho? Katanya lo gak pernah suka sama siapa pun?"


Moza tersenyum, "Ya. Aku memang bilang itu. Tapi... aku gak bilang kalo aku lagi suka sama seseorang."


Hana melamun sejenak, "Lo hobi bikin gue bingung, ya?"


"Ya intinya aku lagi suka sama seseorang, Hana," ucap Moza kemudian.


Gadis itu memang membutuhkan kesabaran yang menggunung untuk bicara dengan makhluk dengan otak kecil macam Hana.


"Serius?? Lo akhirnya suka sama cowok juga? Ah... yang lagi lo sukai itu cowok, kan?"


Moza mendengus, "Beneran, deh. Kamu hari ini nyebelin banget."


"Dunia harus bergembira nih kayaknya. Karena akhirnya seorang Moza Kanaya suka sama cowok!! Wuhuuuuuuu!!!"


"Siapa cowoknya, Za?"


Moza tersenyum. Walau terkadang–(setiap hari, lebih tepatnya) Hana bertingkah aneh, tapi cewek itu selalu membuat Moza tidak merasa sendiri.


"Cowoknya, ya? Dia–"


Moza dan Hana sontak menoleh pada seseorang yang baru saja menyodorkan segelas ice coffee pada Moza.


"Buat aku? Thanks."


Billy kemudian tersenyum ketika Moza menerima kopi yang ia sodorkan barusan.


"Buat gue gak ada?" tanya Hana. "Gak tau. Mendadak mesin kopinya eror waktu mau bikin punya lo. Kayaknya... mesin itu dendam deh sama lo, Na." Billy menjawab dengan senyum jahil.


Hana mendengus, "Anak goblok."


"Ini apa, Bil? Aku gak pernah yang warnanya begini," tanya Moza sebelum meminum segelas kopi yang terlihat berwarna kehijauan itu.


"Oh itu? Itu kopi susu biasa. Cuma gue tambahin bubuk matcha yang dibeli ayah waktu itu."


Moza mengernyit, "Ayah Ferdy pulang lagi?"


"Enggak. Dia cuma kirim beberapa hadiah doang ke sini. Salah satunya, ya... bubuk matcha tadi."


"Gue gak bisa bayangin se-aneh apa rasanya kopi susu campur matcha. Lo sengaja ngasih racun ke Moza, ya?" Hana menimpali.


"Kalo itu racun udah gue kasih ke elo kok, Na."


Billy mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Jangan sampe buku ini melayang ke kepala lo." Hana sudah bersiap dengan buku bekas tadi di tangannya.


Moza tertawa dan menatap Billy, "Makasih, ya."


Karena memang haus dan suhu di ruang pegawai tempat mereka berada ini memang sudah seolah disorot oleh dua matahari, Moza meminum kopi dingin yang nampaknya akan segar itu.


Ya... Moza bisa melakukan itu jika saja seseorang tidak merebut segelas kopi itu dari tangannya begitu saja.

__ADS_1


"Hmmm enak!!"


Ketiganya, menatap wajah Mogi yang terlihat santai-santai saja setelah menghabiskan kopi itu tanpa sisa. Bahkan Moza saja belum meminumnya setetes pun.


"Mogi mau lagi. Di mana belinya?"


"Cil... Itu punya si Moza, lho," ucap Hana. "Hah? Iyakah?" Mogi melirik Moza. "Iya. Tadi Billy buat itu untuk aku. Tapi gak apa-apa, lah." Moza tersenyum. Mogi mengangguk kemudian, "Oh... Mogi gak tau."


Mogi melirik Billy, sambil menyunggingkan senyumnya. Namun tanpa ekspresi merasa bersalah sama sekali.


"Maaf ya, Om."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Jujur sama gue. Lo apain si bocil sama si Billy?"


Moza tersentak begitu mendengar suara itu setelah menjawab panggilan telepon dari Hana barusan.


"Sumpah, Na. Aku gak tau apa-apa. Aku aja bingung."


Walau tak menunjukkannya secara langsung, Moza tetap menyimpan rasa bingungnya atas tingkah Mogi dan Billy di kafe tadi siang.


"Kalo si Mogi, gue taulah. Udah gak heran lagi liat tingkahnya yang emang ajaib tiap hari. Tapi si Billy...? Kenapa dia tiba-tiba begitu?"


Moza terdiam sejenak. Gadis itu memain-mainkan selimutnya lalu menatap langit malam melalui jendelanya.


"Entahlah."


"Eh, Na."


"Halo? Na...?"


"Ya? Eh, sorry tadi gue habis ngobrol sama brondong peliharaan gue. Apaan?"


Moza bergidik, "Gak jadi, ah. Takut."


"Hahahahhahaah... Bercanda, Za. Ya kali gue mau sama brondong. Kayak gak ada yang lain aja."


"Gue lebih suka om-om... Ada apa?"


Moza menghela napasnya pendek lalu tertawa kecil.


"Tentang pertanyaan kamu tadi. Aku masih kepikiran."


"Hm? Pertanyaan yang mana?"


Benar-benar ciri khas Hana. Padahal Hana sendiri yang bertanya tadi siang. Tapi cewek itu juga yang lupa.


Moza masih merasa bahwa ada sesuatu di balik pertama Hana di kafe tadi siang. Bayangkan saja, tak ada angin tak ada hujan, Hana tiba-tiba bertanya bahwa Moza pernah menyukai seseorang atau tidak.


Hana pasti punya alasan di balik itu.


"Yang di kafe siang tadi, lho. Kamu nanya aku apa aku pernah suka sama seseorang atau enggak."


"Oh itu... Emang kenapa?"


"Kamu lagi suka sama seseorang, ya?"


Hening, setelahnya Moza tidak mendengar suara apa pun keluar dari Hana. Bahkan napas sang sahabat saja tidak bisa Moza dengar.


"HAHAHAHAHAAAHAHHH NGACO!!!"


Gila. Hampir saja Moza melempar ponsel saking kagetnya.


"MANA MUNGKIN GUE SUKA SAMA SESEORANG?!! LAWAK LO, ZA! GUE KAN CUMA NANYA!! HHAAHHAHAHAH...HAHAH...."


"...Ha."


"Oke sip, kalo gitu gue mau ngebangke dulu. Gue harus bangun pagi buat ngambil transferan dari sugar daddy gue hahhahahahh! Bye-bye!"


Hening.


Moza langsung diam ketika sambungan telepon barusan tiba-tiba diputus oleh Hana secara sepihak.


Oke. Moza paham.


Apa yang ada di kepala cewek itu? Moza sudah menjadi sahabat Hana sejak lama. Walau memang sebelum masa-masa sekolah mereka bahkan belum bertemu, tapi setidaknya Moza tahu Hana seperti apa.


Kapan Hana sedang bahagia, Moza tahu. Kapan Hana sedang 'sengklek', Moza pun tahu. Dan saat Hana berbohong....


Moza pun tahu.


Billy


Za, gue di depan apartemen lo. Bisa keluar gak?

__ADS_1


...-TBC-...


__ADS_2