MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
29


__ADS_3

"A–auchh! Sakit!"


Mogi meringis ketika Moza mengoleskan cairan antiseptik pada luka di tangannya. Sementara Moza, gadis itu terlihat menatap Mogi dengan wajah kesal.


"Ya jelas sakit! Lukanya aja gede begini!"


Mogi langsung tersentak mendengar nada suara Moza yang meninggi barusan. Laki-laki itu menunduk walau sempat melihat ke arah Moza beberapa kali.


Moza menghela napasnya panjang. "Kok bisa berantem sama kucing tadi sih? Aku kira kamu lagi sakit." Moza menurunkan nada bicaranya.


Bukannya menjawab, Mogi malah memainkan jari-jari tangannya sembari menunduk memandangi kedua kakinya sendiri.


"Kalo ditanya itu dijawab," kata Moza datar.


"Gak mau jawab. Moza-nya marah."


Moza membuang mukanya. Gadis itu menghela napas pasrah seraya mengusap wajahnya sejenak untuk meredam emosinya.


Mogi benar-benar menjengkelkan hari ini.


"Aku gak marah... Kenapa tadi bisa berantem?",


Mogi langsung mendongkak. "T–tadi kan Mogi l–lagi diem di sini! Mogi emang lagi sakit, Moza... Terus tiba-tiba ada suara berisik dari luar! Eh pas Mogi cek, ternyata kucing yang tadi! Mogi suruh diem deh kucingnya biar gak berisik, tapi kucing itu malah marah-marah ke Mogi! Ya udah Mogi marahin balik! Tapi dia curang! Dia nyakar-nyakar Mogi! Jadinya kayak gini deh huaaaaaaaaaa!!"


Moza melongo.Gadis itu berasa sedang mendengar seorang bocah yang tengah mengadu....


"Tapi bener kamu gak pura-pura sakit?" tanya Moza dan langsung dibalas dengan gelengan kepala yang cepat oleh Mogi. "Enggak! Mogi beneran sakit, kok!"


"Tapi sekarang udah enggak hehe." Mogi terkekeh kemudian.


Moza mengangguk paham melihatnya. Gadis itu lanjut mengoles luka pada tangan Mogi, hanya saja dengan lebih keras.


"A–AWW!! Sakit, Moza! Kok sakit banget, sih??"


Moza tertawa, "Katanya tadi udah enggak?"


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Seperti biasa, kafe Memories di pukul tiga sore ini memang tengah sibuk-sibuknya. Ya walaupun bisa dibilang kafe ini memang selalu sibuk di pukul berapa pun dan dalam keadaan apa pun.


Badai, hujan, bahkan petir yang menggelegar atau hingga angin topan menerjang keras sekali pun, tidak akan menyurutkan semangat para pelanggan wanita termasuk ibu-ibu untuk datang ke kafe Memories ini.


Kafe yang sekarang bahkan disebut sebagai, 'Kafe Brondong'.


"Na! Sorry tolong pancake sama kopi dingin ke meja empat!"


Billy berseru pada Hana. Cowok yang sedang sibuk melayani banyak sekali pelanggan ibu-ibu itu terlihat berusaha tetap tenang dan mempertahankan ketampanannya di tengah ramainya ibu-ibu yang mengantre sembari berteriak memanggil namanya.


"Woyy!"


Billy kembali berseru ketika tidak mendapati jawaban apa pun dari Hana. Dan rupanya, cewek itu memang sedang melamun.


"Hana!"


"IYA DENGER GUE, BANGSAT! APEEE??!"


Billy mengatur ekspresinya yang sempat kaget, "Ambil pancake sama kopi cepet! Ini tentang hidup dan mati gue!"


Hana melirik pada banyaknya pelanggan wanita yang berkerumun di depan Billy. Cewek itu yakin Billy menyuruhnya untuk cepat-cepat, supaya pelanggan-pelanggan itu mendapatkan pesanannya segera dan menjauh dari Billy.


Hana geleng-geleng, "Gue penasaran. Bukan artis aja, hidup lo se-ribet ini. Apalagi kalo lo artis, ya?"


Jika seorang Billy menjadi artis, sudah dipastikan seratus persen Hana akan angkat kaki dari kafe ini. Cewek itu tidak akan sanggup menjadi pesuruh rendahan seharian gara-gara Billy sibuk melayani para penggemarnya nanti.


"Ya, ya. Makasih pujiannya. Sono cepet ambil."


Hana mendengus, "Anak setan. Bodo amat!"


Alih-alih melaksanakan perintah dari Billy tadi, Hana justru malah memilih untuk keluar kafe lewat pintu belakang.


Cewek itu menutup pintu dan diam-diam mulai mengatur napas setelah pintunya tertutup. Entah kenapa napas Hana tidak terasa lancar tadi. Cewek itu seolah menahan sesuatu ketika melihat Billy.


"Ekhemmm...."


"ASTAGAA!!"


Moza ikut terperanjat kaget ketika Hana berteriak barusan. Mereka akhirnya mengelus dada dengan lega.


"Lo ngagetin aja, sih!" seru Hana. "Dih? Aku kan cuma batuk doang," balas Moza dan Hana membuang mukanya, "Bacod."


Moza tersenyum jahil, "Kamu lagi kenapa sih Na? Kayaknya... ada udang di balik tahu ini, ya?" Moza tertawa. "Ngaco!" elak Hana.


Moza mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oke, oke... Ngerti, deh. Kamu lagi gak kenapa-kenapa. Kamu baik-baik aja...."


"...Kamu seratus persen baik-baik aja."


Hana malah termenung mendengarnya. Sementara Moza, gadis itu seolah puas melihat ekspresi kalut Hana itu. Triknya memang tidak pernah gagal.


"Dari kapan lo tau kalo cowok itu Billy?"


Moza tersenyum. Gadis itu memang sudah menduga akan ada pertanyaan ini keluar dari mulut Hana. Dan Moza yakin, Hana pun sebetulnya sudah sadar bahwa Moza tahu hal ini beberapa hari lalu.


"Bisa dibilang... dua minggu ini? Entahlah," jawab Moza. Hana menghela napas sepanjang-panjangnya lalu menyenderkan kepalanya ke pintu.


"Gue gak tau kenapa bisa suka sama dia," ucap Hana sambil menatap langit. "Yakin gak tau? Udah jelas dia ganteng, loh." Moza membalas.


Hana mendengus, "Kalo itu gak usah dibahas. Nenek-nenek umur sembilan puluhan juga pasti bakal bilang 'ganteng'...."


"...Gue cuma gak ngerti sama diri sendiri kenapa bisa suka sama kodok nyebelin, sok kocak, sialan, goblok plus aneh kayak dia." Hana melanjutkan tanpa mengalihkan wajahnya dari langit.


Moza mengernyit, "Kalo gitu kalian cocok, dong?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Ya soal persamaan kamu sama Billy. Nyebelin? Kamu pun sama. Sok kocak? Sama juga. Sialan? Hmm... Kayaknya gak ada bedanya. Goblok? Kamu pun–"


"Za...."


Hana menatap Moza dengan tajam, sementara yang ditatap hanya tertawa geli. Moza lalu mendekati Hana dan ikut terduduk lesehan di tanah.


"Maksud aku... kalo kamu suka, bilang aja sama dia. Aku sama Billy udah gak ada apa-apa, kok. Serius."


Hana menoleh pada Moza, "Beneran?"


"Lo enggak relain Billy cuma demi gue, kan? Gue bukan tipe yang bisa dibuat menyedihkan begitu." Hana membuang mukanya pelan.


Moza tertawa, "Jadi begini ya liat orang lagi mabok suka sama cowok? Ngomongnya ngelantur banget. Ya enggak, lah!"


"Sekarang kami itu bestie, tau. Jadi aku punya temen yang bentar lagi pacaran sama temen aku juga. Wah, keren... Mikirnya aja aku senyum-senyum sendiri!" lanjut Moza, entah drama romantis menggelikan apa yang sedang diputar di otaknya.


"Keren pala lo! Pacar, pacar... Enteng banget ngomongnya kayak gak ada beban. Gue yang stres, woy!"


"Kenapa harus ada beban? Nyatanya emang enteng banget, kok! Apalagi kalo kamu jujur tentang perasaan kamu dari sekarang."


Hana mendengus gusar mendengarnya. Cewek itu membuang mukanya dari Moza dan kembali memandangi langit.


"Kenapa ya orang lain selalu suka sama lo?"


Moza mengernyit kebingungan mendengarnya.


"Ya... gue tau lo cantik. Gak usah bahas itu. Karena gue tau, gue kalah jauh kalo dari poin itu."


Moza semakin dibuat kebingungan saja mendengarnya. Gadis itu sampai geleng-geleng saking tidak habis pikir dengan ucapan Hana barusan.


"Ternyata suka sama orang bisa bikin seorang Hana jadi begini?"


Hana melirik Moza dengan tajam, "Apa? Gue gak salah, kan? Lo emang cantik. Jelas banyak cowok yang suka sama lo."


Sekali lagi, Moza menghela napas mendengar ocehan Hana itu. Moza benar-benar tidak tahu setan apa yang merasuki Hana untuk berbicara omong kosong seperti tadi.


"Gimana sih rasanya disukain banyak cowok, Za? Ya... Selain cantik. Kalo itu yang jadi alasannya, gue mundur sih." Hana tertawa.


Moza mendengus, "Sekali lagi kamu ngomong, tempat sampah ini mendarat di kepala kamu, Hana."


"Za... Gue jujur loh ini. Lo emang cantik. Udah gitu–"


"Billy!"


Hana terbelalak kaget ketika Moza mendadak berteriak memanggil Billy barusan. Dan Moza, gadis itu merasa jengah mendengar Hana terus saja merendahkan dirinya sendiri.


"Za! Lo ngapain buset?!"


Moza melirik Hana sejenak, "BILLY!!!" Moza seolah mengabaikan Hana barusan. "Moza! Sumpah lo ngapain?!!" Hana kini mulai terlihat panik.


"Ada apa, Za?"


"Kok pada diem? Ada apa ini?" Billy kembali bertanya. Sebagai respons, Moza tersenyum kecil sembari melirik Hana.


"Ini... Hana mau ngomong katanya."


Sontak Hana membulatkan matanya sempurna. Namun mata cewek itu semakin melotot ketika Billy menoleh ke arahnya.


Moza tersenyum jahil, "Lanjut aja ngobrolnya."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Hana


Gara-gara elu gue jadi kek orang bego di depan Billy tadi siang!


^^^Moza^^^


^^^Ahahahhaaha rasain.^^^


^^^Moza^^^


^^^Tapi... kamu bilang ke dia atau enggak?^^^


Hana


Enggak.


Hana


Entahlah. Kayaknya emang gak usah aja.


Moza tersenyum hambar membacanya. Membicarakan ini bersama Hana memang tidak akan ada habisnya. Beribu-ribu kali Moza akan seolah menggurui dan menceramahi Hana, dan akan beribu-ribu kali juga Hana akan memberikan alasan untuk berkelit.


^^^Moza^^^


^^^Ya udah. Sekarang terserah kamu.^^^


Moza menaruh ponselnya dan meminum segelas teh hangat miliknya. Malam-malam begini, ditambah dengan hujan yang kecil di luar, teh hangat memang adalah satu-satunya teman yang paling baik.


Apalagi–


Hana Sent a Photo


Moza melirik ponselnya. Langsung saja gadis itu membuka gambar yang dikirim oleh Hana beberapa detik yang lalu.


Moza langsung terbelalak kaget ketika melihat bahwa foto yang dikirim Hana tadi adalah foto tangan cewek itu yang sedang memegang sebotol minuman alkohol.


Belum sampai di situ. Moza dibuat kian terkejut ketika menyadari bahwa Hana memang sedang di 'toko malam'.

__ADS_1


^^^Moza^^^


^^^Ngapain di situ?!!^^^


Hana


Ngilangin stres.


Moza mendengus sebal. Alasan konyol macam apa itu? Ingin sekali Moza membalas pesan singkat Hana tadi dengan kata-kata kasar dan memakinya.


Tapi Moza tahu, Hana lelah.


Dan sejujurnya... jika Moza boleh jujur, sebetulnya Moza pun bukannya bahagia sudah menggurui Hana sekian lama. Menasehati inilah, itulah, padahal Moza sendiri....


...seperti ini.


^^^Moza^^^


^^^Aku percaya kamu gak akan membiarkan diri kamu sendiri terluka.^^^


Hana


Ya....


Hana


Beda cerita kalo om-om yang bikin terlukanya.


^^^Moza^^^


^^^Ok, bye.^^^


Moza menaruh ponselnya dengan senyuman mengembang di wajahnya. Dalam keadaan apa pun, Hana memang selalu menyempatkan diri untuk membuat suasana sekitarnya tersenyum.


Padahal Moza tahu, isi kepala Hana sekarang ini memang sudah dipenuhi oleh berbagai hal yang bahkan tidak bisa Moza mengerti. Tapi yang Moza mengerti adalah, Hana dalam masalah, namun membuat sebuah candaan sebagai tameng.


Memang ciri khas dari seorang Hana.


*Praangg!


Moza terkejut ketika mendengar suara benda jatuh dari kamarnya barusan. Tanpa berpikir lagi, gadis itu berlari menuju kamarnya.


Ketika dibuka, Moza langsung dapat melihat sosok laki-laki dengan piyama putih sedang tertidur lelap di ranjangnya.


Lelaki dengan bibir merah muda pekat itu memejamkan mata dengan imutnya. Buku mata yang lentik itu kian dapat Moza lihat ketika matanya tertutup.


Mogi, lelaki itu bahkan tetap tampan saat tidur.


Moza melihat ke sekitar, dan melihat cangkir biru tua yang sengaja ia beli untuk Mogi, ada tergeletak di lantai.


Mungkin suara tadi dari gelas ini, batin Moza.


Gadis itu lalu berjalan ke arah Mogi dan duduk tepat di samping wajah menggemaskan milik Mogi. Semerbak harum aroma stroberi mulai menyeruak masuk ke dalam hidung Moza ketika rambut Mogi dekat dengannya.


Moza tersenyum melihatnya. Dengan wajah yang begini, Moza sampai berpikir. Bagaimana dari awal pertemuan mereka, perkenalan mereka, hingga kedekatan mereka hingga saat ini.


Dan entah mengapa, ketika Moza menatap lelaki satu ini, di kepalanya Moza selalu melihat seekor kucing putih yang ia temukan waktu itu.


Wujud yang berbeda, namun dengan perasaan yang sama.


Moza, gadis itu kemudian malah salah fokus pada kancing piyama Mogi yang terbuka di bagian atas. Tiga kancing itu terbuka dengan lebar hingga memperlihatkan dada bidang milik lelaki itu.


Entah karena insting atau memang pikiran Moza saja yang kotor, pipinya langsung terasa hangat sekali melihat itu.


Moza sampai dibuat bingung. Wajahnya menggemaskan. Tingkahnya seperti bocah. Dan tidurnya seperti bayi kecil.


Tapi kenapa tubuhnya seksi sekali?!


Moza membuang napasnya perlahan. Moza mulai memegangi kancing-kancing yang terbuka itu dan hendak menutupnya kembali.


Tapi memang dasarnya sudah tergoda entah apa, alih-alih memegangi kancing piyama Mogi, Moza malah dengan sengaja memegangi dada Mogi yang terekspos itu.


Untuk sesaat, Moza berusaha merasakan degup jantung laki-laki itu. Dada Mogi benar-benar terasa hangat di tangannya. Mungkin karena memang laki-laki itu dalam keadaan kurang sehat.


Kacau... Aku mulai menikmati ini, batin Moza.


Berbeda dengan dada Mogi yang terasa hangat, pipi Moza justru terasa terbakar sejadi-jadinya. Tidak tahu kenapa Moza merasakan seolah ada api yang sedang luluh lantak membakar pipinya.


Tapi... Moza menyukainya.


"Sshhhh...."


Moza langsung terbelalak kaget ketika Mogi mulai terusik dari tidurnya. Namun kemudian Moza menghela napasnya lega ketika sadar bahwa Mogi kembali tertidur.


"M...Moza?"


Mampus.


Suara serak-serak khasnya seseorang yang baru saja bangun dari tidur. Dan tatapan Mogi yang menatapnya seolah bingung.


Dan sialnya, tangan Moza masih berada di dada lelaki itu.


Menyadari akan hal itu, Moza langsung menarik tangannya kembali dengan wajah gelagapan bukan main. Malu, takut, semuanya bercampur aduk di kepalanya.


"Aku mau nutupin kancing baju kamu. Jangan sampe masuk angin." Moza berusaha mati-matian untuk menyembunyikan wajahnya yang kini entah sudah seberapa merah.


Tapi....


...Mogi malah tersenyum.


Lelaki itu justru menggenggam tangan Moza dan menuntunnya untuk kembali memegangi dadanya. Jelas, Moza dibuat syok dengan hal itu. Tatapan keduanya saling beradu dengan Mogi yang tak henti menampilkan senyumnya yang menggemaskan.

__ADS_1


"Tangan Moza hangat. Mogi suka."


...-TBC-...


__ADS_2