
Perlahan, Moza membuka matanya. Ia terbangun sedang berada di ranjangnya dengan posisi bantal menutupi sebagian wajahnya sendiri.
Tidak. Bukan jam weker, alarm ponsel, atau silaunya sinar matahari pagi yang membangunkan Moza.
Entahlah. Moza sendiri tidak tahu mengapa ia bangun tanpa ada yang mengganggu tidurnya. Walaupun Moza memang bukan pemalas, tapi ia tetap membutuhkan jam weker, atau apa pun itu untuk membuatnya bangun tepat waktu.
Dan lagi. Permasalahannya kemarin sudah cukup membuat kepala Moza seakan berputar-putar.
Dengan tulang-tulang yang hampir patah, Moza terbangun dari ranjangnya walau tertatih-tatih. Gadis itu berjalan perlahan menuju ruang tengah.
Dan... Seperti Moza duga. Bad Boy terlihat meringkuk di sofa biru itu dengan mata yang terpejam.
Moza terdiam. Entah iblis apa yang memasukinya, Moza tiba-tiba berjongkok untuk memperhatikan wajah Bad Boy dengan tajam.
Melihat wajah lelaki ini, Moza jadi teringat kejadian kemarin malam.
Gadis itu berdiri dan mengusap air mata di wajahnya. Hidungnya merah, kulitnya pun pucat seperti lelaki di hadapannya ini.
"Mau bikin aku gak nangis lagi?"
Moza menatap mata Bad Boy dengan tajam. Sementara yang diajak bicara tak memberikan respons apa pun selain membalas Moza dengan tatapan lugunya.
"Berhenti ngomong seolah aku ini monster."
Moza menatap sinis ke arah Bad Boy, sebelum ia meninggalkan lelaki itu yang tengah berdiri terpaku di tempatnya.
Sial. Ekspresi itu, tatapan itu, dan kata-kata itu... Tidak ada penipu yang bisa menunjukkan itu semua. Bahkan aktor sekali pun, tak dapat se-meyakinkan ini.
Baru beberapa langkah menjauh, Moza menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Gadis itu memegang pergelangan tangan Bad Boy yang sudah sedingin es, lalu kembali menatapnya sinis.
Kemudian Moza menarik tangan Bad Boy untuk ikut pulang bersamanya. Sementara sang lelaki hanya dapat berwajah bingung, seperti linglung tak tahu apa-apa.
Bodoh... Aku ini lagi minta maaf, batin Moza.
Persetan dengan penipu atau bukan. Selain Bad Boy memang sudah meyakinkan Moza, gadis itu benci dengan yang namanya 'Merasa Bersalah'.
Sialan. Mengingatnya saja sudah membuat Moza kembali sakit kepala. Entah mengapa otak bodohnya tiba-tiba yakin pada Bad Boy hanya karena ekspresi yang ditunjukkan lelaki itu?
Ekspresinya saat berbicara dengan nada bergetar, saat meminta maaf, dan terlebih lagi saat....
...tersenyum.
Tidak ada penipu yang dapat tersenyum seperti itu.
Tapi jika bukan penipu lalu apa? Dari mana makhluk ini? Mengapa ia memanggil dirinya dan mengaku sebagai Mogi?
Ah... Sudah cukup. Moza tidak mau kehilangan akalnya karena memikirkan hal merepotkan ini terus menerus.
"Mmmhh...." Bad Boy bergumam di sela-sela tidurnya. Laki-laki itu mengubah posisi tidurnya, lalu perlahan membuka matanya.
"M–maaf, aku bukannya mau ngapa-ngapain. Aku liat serangga di muka kamu tadi. Jangan salah sangka."
Mungkin kata-kata itulah yang akan terucap dari mulut Moza seandainya jika gadis itu tidak pernah mengalami kejadian semalam.
Kejadian itu... cukup membuat Moza malas untuk melakukan hal-hal yang merepotkan. Bahkan untuk kaget sekali pun rasanya Moza malas.
Moza, atau pun Bad Boy hanya saling menukar tatapnya sambil terdiam. Biasanya, Bad Boy akan memberikan senyum paginya pada Moza, namun akibat kejadian semalam semuanya terasa canggung.
Ya... Lagi-lagi 'kejadian semalam'.
"Moza...."
Suara ini. Moza benci suara ini. Karena suara serak parau ini yang membuatnya terus merasa bersalah sejak kemarin.
"P–pagi," gumam Bad Boy dengan suara yang pelan. Ia sedikit terbata-bata akibat masih takut Moza akan berteriak marah-marah padanya seperti kemarin malam.
"Ya... Pagi."
Bad Boy membulatkan matanya. Di luar dugaan, Moza membalas ucapan selamat paginya sambil tersenyum.
Ya, walau sesudahnya Moza kembali berwajah datar.
Yang semula berjongkok di hadapan wajah Bad Boy yang tengah berbaring di sofa, Moza berdiri dan mengambil handuknya yang bersiap berangkat ke kafe.
Dan, Moza pergi ke kamar mandi begitu saja. Tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Bad Boy jadi bingung. Moza itu....
__ADS_1
...marah atau tidak, sih?
Selesai bersiap, Moza mengikat rambutnya menjadi gaya ponytail. Gadis dengan kaus putih dan celana jeans panjang itu tampak menjinjing tas kecil di tangan kirinya.
"Moza... masih marah?"
Moza tertegun mendengarnya. Ia menoleh pada Bad Boy yang tengah memainkan jarinya sendiri sambil menunduk.
Namun Moza dapat melihat lelaki itu sesekali mencuri pandang padanya, sebelum kembali menunduk.
"Enggak...."
Bad Boy mengangkat kepalanya. Lagi-lagi Moza bersikap tidak terduga setelah tadi membalas ucapan selamat paginya.
"Dari awal aku emang gak pernah marah sama kamu. Aku cuma...."
"...bingung."
Lagi pula Moza tak pernah menyangka akan terlibat dalam semua ini. Di hidupnya, hanya ada makan, mandi, kerja dan tidur.
Tapi Moza tidak pernah membayangkan bahwa semua akan serumit ini. Orang asing tiba-tiba datang dan mengaku sebagai sosok yang dekat dengannya.
Orang itu bersikap sangat baik, hingga membuat Moza yang tidak percaya padanya dan ingin mengusirnya jadi terlihat seperti monster mengerikan.
Lihat? Isi kepala Moza lagi-lagi kalut.
"Yaaaa... Meskipun gak ngerti, tapi Mogi lega Moza gak marah." Bad Boy bersandar pada sofa dengan tenang.
Lelaki itu melirik Moza dan tersenyum, "Makasih banyak Moza udah gak marah."
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
Dasar laki-laki sialan. Mau sampai kapan dia akan terus membuat Moza merasa bersalah? Melihat senyumnya saja, sudah membuat Moza merasa buruk.
Ditambah dengan kata-kata itu. Moza semakin tidak enak hati dibuatnya.
"Aduh!" teriak Moza reflek.
Ternyata gadis itu sudah sampai di depan kafe. Dan barusan ia baru saja menabrak pintu masuknya.
Se-tidak fokus itukah dirinya?
"Ah... Ini pertama kalinya aku telat."
Dengan langkah lemas, Moza membuka pintunya dan masuk. Anehnya, seisi ruangan gelap dan sunyi.
Walau masih pagi, kafe Memories ini selalu menyalakan lampunya. Tak heran jika Moza kebingungan saat melihat seisi kafe gelap akibat lampunya yang mati.
Dan cahaya matahari tidak terlalu membantu karena tengah tertutup awan.
"Na... Hana?" panggil Moza sambil sesekali memperhatikan langkahnya. Ia tidak mau menabrak benda di depannya lagi seperti barusan.
"Billy?" panggilnya lagi. Namun tak ada seorang pun yang menyahut.
Kemudian Moza menoleh kaget. Ia terperanjat kala mendengar suara sendok dan garpu jatuh ke lantai di meja kasir.
"H–Hana? Ini beneran gak lucu."
"HAPPY BIRTHDAY!!!"
Lampu menyala, lalu terdengar suara tepuk tangan dan nyanyian selamat ulang tahun dari beberapa orang yang tiba-tiba muncul dari tempat persembunyian mereka.
Billy, Hana, Arya dan Rio terlihat datang dari ruang pegawai dengan membawa kue ulang tahun berwarna kuning dengan lilin imut berwarna merah muda.
Bahkan beberapa pelanggan pun terlihat ikut menyanyi dan bertepuk tangan mengelilingi Moza.
Tunggu. Jadi hari ini...?
...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...
"Kalian ada-ada aja. Sampe melibatkan pelanggan segala," tawa Moza.
Hana ikut tertawa, "Haha... Diliat dari muka lo tadi, kayaknya lo lupa hari ini lo ultah. Iya, kan?"
Iya. Bagaimana Moza bisa mengingat ulang tahunnya sendiri jika akhir-akhir ini kepalanya dipenuhi oleh seorang laki-laki yang sekarang entah sedang apa di apartemennya?
__ADS_1
Moza terkekeh (palsu), "Dih? Siapa juga yang lupa? Aku cuma gak kepikiran bakal dikasih surprise. Jadi aja agak kaget tadi."
"Itulah kenapa namanya surprise," timpal Billy sembari tersenyum santai.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, Za. Semoga semua keinginan lo terkabul," Billy melanjutkan perkataannya.
Moza tersenyum, "Amin... Aku juga. Sekali lagi, makasih udah repot-repot bikin semua ini. Kalian semua orang baik."
Melihatnya, Hana memutar bola matanya malas seraya menghela napas kasar. "Bil, ini ketiga kalinya lo ngomong 'selamat ulang tahun' ke Moza. Dan Za, gue lupa berapa kali, tapi ini kesekian kalinya lo bilang 'makasih'."
"Berisik, lu. Sakit telinga gue," balas Billy dan Hana menatapnya sinis.
"Oh iya, Za. Tadi lo make a wish-nya lama banget. Permintaan lo banyak, ya? Emang apa aja, sih?" tanya Hana kemudian.
Billy memukul pelan kepala Hana, "Heh, itu privasi."
Ah itu. Andaikan Hana tahu. Sebetulnya lamanya Moza memejamkan mata, bukan karena banyaknya jumlah permintaan Moza. Justru malah karena Moza bingung ingin minta apa pada Tuhan.
Memang, setiap manusia itu pasti mempunyai keinginan untuk diraih/dicapai. Termasuk Moza. Ketahuilah, di buku diary miliknya saja, ada puluhan keinginan yang ingin Moza gapai.
Tapi tadi... keinginan-keinginan itu seakan menguap entah ke mana.
"Sewot banget ajig. Yang gue tanya itu Moza, bukan elu."
Moza tertawa kecil, "Ada, deh. Ngomong-ngomong, kuenya cantik banget. Kalian beli di mana, deh?"
Moza sangat kagum pada kue ulang tahun di depannya ini. Walaupun itu miliknya, tetapi Moza tidak tega memakannya saking cantiknya kue itu.
"Cantik dari mana? Tulisannya aja ada yang salah. Harusnya 'Selamat Ulang Tahun' jadi 'Selamat Ulang Tahuh'," ujar Billy sembari melirik Hana sinis.
"Harusnya gue gak biarin makhluk kayak dia ngehias kue ini," lanjut Billy.
Benar juga. Setelah diperhatikan, memang ada huruf 'N' yang terlihat seperti huruf 'H'. Penulisan huruf menggunakan krim memang butuh keterampilan khusus.
Hana geleng-geleng, "Liat siapa yang bicara. Orang yang hampir bikin kue ini jatoh gak pantes nge-roasting gue."
"Iya, deh. Gue yang salah. Salah gue nyuruh ngehias kue sama orang yang gak tau apa-apa soal seni." Billy tertawa jahil.
Hana mengepalkan tangannya, "Lo emang mau mati hari ini, ya?"
"Ya udah, sih! Kenapa jadi pada berantem? Kan aku suka kuenya. Apalagi hiasan wafernya. Bagus banget," ucap Moza alias si kritikus makanan.
"Oh, itu si Arya sama Rio yang susun," jawab Hana. "Sekarang mereka ke mana? Tadi ada, kan?" bingung Moza.
"Iya. Tapi mereka cuma bentar. Mereka kan sif sore," kata Billy, dan Hana geleng-geleng, "Ck, ck, ck... Level males mereka udah gak tertolong lagi."
"Ya... Sama kayak lo," celetuk Billy. Hana mengangguk, "Yoi...."
"...Eehh apa?!! Sini lu, bangsat!"
Moza tertawa kala melihat kedua rekannya ini bertengkar. Mungkin tawuran lebih tepatnya. Karena Hana sudah siap dengan pisau dapur di tangannya sementara Billy yang masih tertawa-tawa tak berdosa.
"Oh iya, Za. Gue ada beberapa video pas lo tiup lilin tadi. Mau liat?" tanya Billy. Moza mengangguk, "Mau, dong. Mana liat."
Bukannya video saat tiup lilin, mata Moza dibuat terbelalak kaget saat ternyata itu adalah video saat Moza terbentur pintu kaca kafe saat masuk tadi.
"EH?! APA-APAAN INI?? HAPUUUSSS!" teriak Moza tak terima. Billy tertawa puas, "Gak mau. Enak aja."
"Untung gue reflek nyuruh lo video-in si Moza pas datang. Kalo enggak, gak akan kerekam, tuh." Hana menimpali sambil ikut tertawa.
"Iya, juga. Thanks."
"Haha santai."
Mereka berdua akhirnya tos bersama.
"Giliran ngerjain aku aja, kalian akur. Nyebelin." Moza mencebik.
Lalu Billy dan Hana tertawa. Tapi dasar Moza si humor receh, ia malah ikut tertawa melihat kedua makhluk di hadapannya tertawa.
Tapi... lagi-lagi tawa Moza tak bertahan lama. Entah mengapa saat kejadian semalam melintas di kepalanya, Moza tidak bisa tenang.
Ribuan pertanyaan terus saja kembali menerjang kepalanya. Belum lagi rasa bersalah yang terus menghampiri.
Saking fokusnya melamun, Moza tak menyadari bahwa sepasang mata tengah menatap ekspresinya.
__ADS_1
Tatapan Billy... sulit ditebak.
...-TBC-...