MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
20


__ADS_3

"Tadi mata Mogi yang terasa aneh. Kok sekarang jadi dada Mogi yang rasanya aneh?"


Moza menghela napasnya panjang. Kenapa ucapan Mogi kemarin sore itu terus terngiang-ngiang di kepalanya?


Tenang, Za... Mogi gak tau apa yang diucapinnya, batin Moza kemudian sembari menatap Mogi yang tengah sibuk dengan bus mainannya.


Fokus Moza teralihkan saat tiba-tiba mendengar suara dering telepon dari ponselnya.


Moza mengernyit bingung ketika melihat bahwa yang mengunjunginya adalah nomor yang tidak dikenal.


Tipikal orang yang penasaran dan takut jika ada hal penting, Moza menjawab panggilan telepon itu.


"Halo? Moza?"


Sepertinya Moza kenal suara ini.


"Tante Erna?" sahut Moza kenal dengan suara tantenya, Erna.


"Akhirnya kamu jawab juga. Mama kamu... Mama kamu sakit parah, Moza."


Moza termenung.


"Dia minta kamu pulang."


Moza terdiam saat menyadari Erna sudah menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Gadis itu melihat beberapa panggilan tak terjawab dari sang Tante tadi malam.


Andai saja ponselnya tak lowbat semalam, mungkin Moza bisa tahu lebih cepat perkara ini.


Bagaimana ini? Moza tidak mau kecanggungan menyerangnya saat bertemu dengan sosok yang ia sebut 'Mama' itu. Ia takut sang mama kembali membuka serpihan-serpihan luka di masa lalu.


Belum lagi, Moza takut kedatangannya ke sana hanya hal yang sia-sia. Karena gadis itu tahu karakter sang mama, bisa saja mamanya hanya pura-pura sakit.


Tapi menyadari Tante Erna sampai menelponnya berkali-kali, mana mungkin?


"Dari kemarin muka Moza gitu terus. Bosen Mogi liatnya."


Moza tersadar dari lamunannya. Ia menatap lelaki berkaus putih oversize di depannya sambil tersenyum kecil.


Moza menghilangkan senyumnya. Tunggu. Jika Moza pergi, berarti Mogi sendirian di apartemennya ini?


Oke, itu mimpi buruk.


Hal-hal mengerikan langsung melintas di kepala Moza kala membayangkan Mogi sendirian di tempat ini.


Apa Moza ajak saja, ya? Ah tidak-tidak. Lingkungan rumah tempat Moza tinggal sangat tidak sesuai dengan karakter bocah itu.


Kota kumuh, pemabuk di mana-mana, copet dan begal berkeliaran, pasti melihat salah satunya saja Mogi akan lari terbirit-birit.


Tapi aku juga gak mungkin ninggalin dia sendiri di sini. Moza jadi bimbang sendiri.


Moza tinggalkan setengah hari untuk bekerja saja, Mogi sering mengeluh kebosanan. Apalagi ditinggalkan ke luar kota yang sudah pasti lama?


Mungkin Mogi sudah membakar apartemennya.


Moza menggeleng kemudian, Aku gak mau ninggalin Mogi sendiri. Tapi aku juga gak bisa biarin Mogi ketemu mama.


Biarlah. Sepertinya Mogi lebih baik ditinggalkan saja. Lagipula walaupun tingkahnya seperti bocah sekolah dasar, Moza tahu Mogi pasti mengerti mana yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.


Memang apa yang mungkin terjadi?


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Mogi... udah dulu boboknya. Turun, yuk."


Mogi membuka matanya perlahan kala mendengar suara lembut dari Moza barusan. Lelaki itu menggosok-gosok matanya sambil celingak-celinguk ke sekitar dari dalam jendela mobil.


Moza terkekeh ketika melihat Mogi yang seperti sedang linglung itu.


Mempertemukan Mogi dengan mamanya memang bukan ide yang bagus, tapi Moza tak bisa membayangkan Mogi melamun sendirian menunggunya dengan jarak yang jauh dan waktu yang mungkin akan lama.


Moza menuntun Mogi keluar dari taksi online yang gadis itu pesan tadi, lalu mulai melangkah menyusuri tempat yang lebih mirip penampungan sampah raksasa dibanding lingkungan tinggal.


Akhirnya keduanya berhenti di sebuah rumah kayu sederhana, dengan dua kursi lapuk yang terpampang di bagian depan.


Alias rumah Moza.


Tidak tersedianya lampu di teras, ditambah lagi waktu sudah menunjukkan pukul empat sore dengan langit mendung, semakin membuat rumah ini mirip seperti rumah hantu di film-film horor.


Minimnya pencahayaan karena terisolasinya letak rumah Moza ini dari rumah warga lain, sebagai penguat kesan mencekam yang sedari tadi menghampiri keduanya.


Mogi memelankan langkah kakinya dan memilih untuk bersembunyi di belakang punggung Moza.


Sejenak, Moza menoleh dan melihat sorot mata lelaki yang kini juga tengah menatapnya dengan raut wajah tegang.


Bisa-bisanya aku lupa kalo dia takut gelap, batin Moza.


Gadis itu lalu mengembalikan fokusnya pada pintu kayu di hadapannya. Pintu kayu usang itu seolah mengajak Moza untuk pergi ke masa lalu dan melihat kembali berbagai memori lama.


Memori lama yang menyakitkan....

__ADS_1


Suara gemuruh hujan dan menggelegarnya kilatan petir disertai tiupan angin di luar sana tak semerta-merta membuat sepasang anak dan ayah di sebuah rumah menjadi panik.


Malam yang mencekam, hujan deras dan angin ribut sudah biasa mereka alami. Malah keduanya santai menikmati makan malam mereka seperti biasanya.


*BRUK!!!


Bicara tentang 'seperti biasa'... Melihat seorang wanita terjatuh di ambang pintu rumah dengan keadaan teler pun sudah menjadi pemandangan yang tak asing bagi ayah dan anak itu.


Perlahan, wanita yang tengah menggenggam sebotol minuman keras itu bangkit dan berjalan dengan sempoyongan.


Sang ayah menghela napasnya panjang lalu menoleh pada anak perempuannya yang berambut sebahu itu.


"Moza... Kamu ke kamar dulu, ya?"


Anak dengan kaus kuning gelap bermotif bunga itu mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Gadis kecil itu menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu bersandar pada pintunya.


Gadis kecil yang kerap dipanggil Moza itu menutupi telinganya dengan kedua tangan. Bukan sekali dua kali orang tuanya begini.


Saking seringnya, Moza bahkan bisa hafal dialog-dialog kasar dan mengerikan yang dilontarkan kedua orang tuanya kala situasi seperti ini.


Dan benar saja. Telinga gadis itu mulai dapat mendengar teriakan-teriakan amarah dari kedua orang tuanya tersebut. Suara hujan dan petir di luar bahkan seolah tidak ada artinya.


"GAK USAH CEREWET!! PUNYA MULUT KAYAK BANCI BANGET!"


"Sekarang papa tanya. Apa istri pemabuk mengerikan yang gak peduli keluarganya itu lebih baik dari banci? HAHHHH??!!!"


"SUAMI SIAAALAAANNNN!!!!!"


Moza terbelalak. T–tunggu. Apa yang baru didengarnya ini adalah suara sesuatu yang pecah?


Gadis itu memang langganan penikmat pertengkaran orang tuanya. Tapi tidak sampai ada barang-barang yang rusak seperti ini. Biasanya sang ayah akan lebih memilih untuk mengalah dan berbaikan walau mamanya tetap melakukan hal yang sama.


Penasaran, Moza membuka sedikit pintu kamarnya untuk melihat ada keributan mengerikan apa yang terjadi.


Dan gadis itu terpaku oleh apa yang dilihatnya. Nampak sang mama sedang terengah-engah dengan pisau dapur di tangannya menatap....


suaminya yang berlumuran darah.


Mendengarkan cekcok orang tuanya tiap malam saja sudah menjadi hal yang mengerikan bagi Moza. Dan sekarang... menyaksikan hilangnya nyawa ayahnya di tangan mamanya sendiri?


Sepertinya kata 'mengerikan' saja tidak cukup.


Moza menutup mulutnya dengan kedua tangan saking kagetnya. Gadis kecil itu perlahan mundur lalu tak sengaja menginjak lantai kayu yang berdecit.


Dapat Moza lihat sang mama yang sedang menatap jasad suaminya tiba-tiba menoleh ke arahnya akibat suara decitan tadi.


Melihat mamanya mulai datang mendekat, Moza sontak bergegas menuju ranjangnya dan menyelimuti diri seolah sedang tidur.


Dalam tidur palsunya, bibir Moza bergetar dengan napas yang tersengal-sengal tidak karuan. Gadis itu seperti sedang melihat hantu dalam film horror.


Sang mama mulai duduk di samping ranjangnya. Wanita itu menatap putrinya yang tengah 'terlelap' walau rambut menghalangi sebagian wajahnya.


Wanita itu mulai mengelus bagian pipi Moza dengan keadaan tangan yang masih bersimbah darah.


Percayalah, Moza sedang berusaha sekuat mungkin agar tidak teriak dan berlari sekencang mungkin. Karena jika Moza melakukan itu, bukan tidak mungkin ia akan menjadi korban selanjutnya.


"Karena papamu berisik, mama bikin dia diem...."


"...selamanya."


"Moza? Moza!!"


Moza tersadar dari lamunannya. Gadis itu menoleh pada Mogi yang baru saja memanggil-manggil namanya.


"Kok Moza diem aja? Kita salah tempat, ya?"


Moza menggeleng, "Enggak. Bener kok rumahnya yang ini. Yuk."


Moza sempat ragu untuk mengetuk pintunya. Tapi memori yang ia ingat beberapa detik lalu tak membuatnya gentar untuk sekadar mengetuk pintu.


"Ma? Mama?" panggil Moza seraya masih mengetuk pintu.


Tetapi nihil. Tak ada sedikit pun jawaban dari dalam. Gadis itu kemudian mengetuk lebih keras bahkan sesekali mendorong pintunya.


"Eh?" bingung Moza kala pintunya terbuka. Siapa sangka malam-malam begini rumahnya sama sekali tidak dikunci?


Ia masuk ke dalam dengan Mogi yang mengikutinya dari belakang. Lelaki itu menaruh tangan kanannya di pundak Moza sambil melirik pemandangan dalam rumah Moza yang seperti kandang sapi ini.


"Mama?" panggil Moza lagi.


*PRAAANGGG!!


Moza dan Mogi sama-sama terperanjat kaget mendengar suara bising di bagian belakang barusan.


"Tunggu di sini." Moza berlari ke arah sumber suara meninggalkan Mogi yang sepertinya nyaris terkena serangan jantung.


"Mama??!!" kaget Moza melihat seorang wanita dengan rambut tergerai agak basah berantakan sedang tertatih-tatih untuk berdiri.


Di samping wanita itu terdapat banyak sekali pecahan botol minuman keras dan beberapa sampah lainnya.

__ADS_1


Moza terdiam sejenak. Melihat kondisi mamanya saat ini saja ia sudah tahu bahwa sang mama tak benar-benar sakit.


"Mama nyuruh Tante Erna buat bohong?"


"Mama, mama, mama!! NAMA GUE WINDI!"


Haha... Moza bahkan tak terkejut mendengarnya. Sudah tidak heran, wanita itu memang begini kala sedang dalam pengaruh alkohol.


Jika umumnya orang-orang akan jalan sempoyongan, melantur atau pingsan, wanita yang mengaku bernama Windi itu malah lebih sering marah-marah sendiri.


Tak memasukan ucapan Windi ke dalam hati, Moza menuntun mamanya itu untuk berjalan menuju ruang tengah dan mendudukkannya di kursi.


"Seharusnya aku tau mama gak bener-bener sakit."


Windi yang sedang bersandar pada kursi tiba-tiba menatap wajah Moza dengan tatapan sayu.


"Lu siapa, sih?"


Jujur, kalau yang ini Moza sedikit kaget. Ya walaupun ujung-ujungnya Moza memilih untuk tidak ambil pusing.


"Kalo gitu Moza pulang aja. Ini buat mama. Buat beli obat." Moza memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Windi.


Sementara Windi menatap sejenak uang itu lalu, "Aaahh!! Moza anak mama! Apa kabar, sayang? Udah lama kamu gak ke sini, ya?"


Moza memutar bola matanya malas.


"Eh? Siapa adek ganteng ini? Kok mama belum pernah liat?" Windi mengalihkan pandangannya pada Mogi yang sejujurnya masih berusaha mencerna apa yang terjadi.


Kala Windi hendak meraih tangan Mogi, dengan cepat Moza meraih tangan Mogi duluan.


"Namanya Mogi. Temen aku."


Windi tersenyum, "Unik ya namanya. Beneran cuma temen aja, nih? Gak lebih? Siapa tau kalian pac–"


"Mam, cukup." Moza memotong.


"Kenapa? Emang salah ya seorang mama mengharapkan anaknya punya pasangan?"


"Mama akhirnya nganggap aku anak? Waw."


Windi mengernyit, "Kok gitu? Mama mau kamu punya pasangan, supaya kamu bisa bangun keluarga dan kebahagiaan kamu sendiri...."


"...biar kayak mama." Windi tersenyum miring.


Sial. Ucapan Windi benar-benar membuat Moza geram. Belum lagi senyum itu benar-benar memuakkan. Inilah mengapa ia membenci mukanya sendiri.


"Aku gak akan pernah mau kayak mama."


"Satu hal yang harus kamu pahami. Kamu dan Mama gak ada bedanya. Kita ini sama. Suatu saat, kamu pasti akan jadi seperti mama."


Moza menggeleng, "Gak ada kata kita."


"Kamu harus terima itu, sayang."


Windi tersenyum menang kala melihat Moza seperti sudah kehabisan kata-kata. Mungkin gadis itu memang tak bisa menyangkal.


"Mama bener...."


Senyuman Windi makin mengembang.


"Kayaknya aku harus terima kalo suatu saat jadi pembunuh rendahan dan licik kayak mama."


Windi beranjak dari tempat duduknya. Hal itu diikuti oleh Moza yang ikut berdiri sambil menatap tajam pada sang mama.


Senyuman Windi menghilang tak tersisa. Wanita itu berbisik, "Jangan kasar, sayang. Mama lagi berusaha baik sama kamu."


"Oh, itu gak perlu. Keluarin aja semua iblis di dalam mama itu, mam. Aku gak keberatan."


Windi melotot, "Dasar kurang ajar! Begitu kamu ngomong sama ibu kamu?"


"Dan cuma di saat-saat begini mama ngaku sebagai ibu aku? Kemarin-kemarin ke mana aja, mam?"


Windi menghela napas, "Siapa sangka Moza yang baik hati, lembut dan penyayang bisa ngomong begini ke mama yang melahirkannya?"


"Siapa sangka seorang pembunuh keji tanpa hati kayak mama bisa mengakui aku sebagai anaknya?" Moza menaikan sebelah alisnya.


Windi mendengus, "Kesabaran mama ada batasnya."


"Maaf...." Moza tertunduk.


"...Aku minta maaf ke diri aku sendiri karena harus menatap wajah pembunuh kejam tanpa penyesalan."


"BRENGSEEEKK!!!" Windi mengambil vas bunga yang ada di meja lalu mengarahkannya tepat pada kepala Moza.


Sempat menutup mata, Moza akhirnya membuka perlahan dan menyadari bahwa ia sama sekali tak merasa sakit.


Tapi ketika melihat Mogi tergeletak di lantai dengan kepala yang bercucuran darah, membuat Moza tiba-tiba merasakan sakit.


Sakit yang teramat sakit.

__ADS_1


"MOGIIIIII!!!!"


...-TBC-...


__ADS_2