MY HOTTEST CAT

MY HOTTEST CAT
17


__ADS_3

Moza membatu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mogi dan Hana tengah saling bertatap saat ini. Mereka berdua tampak kaget dengan keberadaan masing-masing.


Sialan. Padahal momen inilah yang paling Moza hindari. Jika sudah begini, Moza tidak punya cara lain selain mengeluarkan jurus pamungkasnya.


Berbohong.


Hana menatap Moza dan menunjuk Mogi dengan dagunya, "Siapa?" gumam Hana pelan supaya tak didengar Mogi.


"Ini... S–sepupu jauh aku, Na," jawab Moza dengan senyum se-natural mungkin.


Tapi alih-alih natural, bagi Hana senyuman Moza itu justru lebih mirip orang yang sedang hendak pinjam uang.


Hana memang bukan pakar ekspresi. Tapi tidak akan ada percaya senyuman Moza yang terlihat sangat tidak normal ini.


Hana mengangguk-angguk saja lalu menoleh pada Mogi dan tersenyum, "Gue Hana."


Sementara Mogi, lelaki itu melamun sejenak. Sambil menatap Hana yang sudah mengulurkan tangannya.


"M–Mogi."


Hana dan Moza sama-sama terbelalak kaget saat mendengarnya. Moza kaget karena ia sudah susah payah menutupi identitas Mogi, tapi lelaki itu malah membukanya terang-terangan.


Dan Hana. Tentu saja ia kaget. Hana memang pelupa. Tapi otaknya tidak se-goblok itu untuk lupa kalau 'Mogi' itu nama kucing yang Moza temukan waktu itu.


Bahkan Moza sendiri yang memberikan nama itu.


Jelas ada yang gak beres di sini, batin Hana curiga.


Hana tersenyum, "Mogi, ya... Namanya bagus."


Hana melirik pada Moza dengan tatapan yang mengintimidasi. Dan Moza malah nyengir kuda. Dengan tatapan itu saja, Moza paham bahwa Hana berusaha mengatakan,


"Lu hutang banyak penjelasan sama gue."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"Ha... Ha... HAHAHAHHAH!!"


Hana menatap kosong ke depan, pada televisi yang mati. Ia tertawa tidak percaya saat sudah mendengar semua penjelasan jujur dari Moza.


Ya. Moza sudah menjelaskan SEMUANYA.


"Kayaknya gue udah gila." Hana masih menatap kosong. "Na... Percaya, deh. Itu yang aku rasain pas awal ketemu dia. Tapi sejak memutuskan buat gak ambil pusing, aku jadi lebih tenang dan nerima ini semua," jelas Moza.


Ya, sebetulnya Moza tidak menyalahkan Hana atas reaksi kagetnya itu. Lagi pula siapa yang bisa percaya ada kucing yang bisa berubah jadi manusia?


"J–jadi lo minta gue buat nerima semua hal di luar nalar ini, Za?" kata Hana sedikit gugup, karena shock dengan apa yang ia dengar dari mulut sahabatnya tadi.


Untung saja saat ini mereka sudah berada di apartemen Moza. Jadi Hana teriak-teriak seperti binatang pun Moza tidak akan terlalu malu.


"Aku gak maksa kamu buat percaya, Na. Ya itu terserah kamu. Aku... cuma gak mau dianggap gila aja."


"Lo bilang sekali lagi? Gak mau dianggap gila? WOII! LO BERASUMSI LAKI-LAKI ITU KUCING CUMA KARENA DIA TIDUR SI SAMPING LO SAAT LO BANGUN?!! MASIH UNTUNG GAK GUE BAWA KE RUMAH SAKIT JIWA LU, ZA!"


Mungkin Hana memang sedikit berlebihan. Tapi ia memang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Moza.


Dari sekian banyak kemungkinan, Moza malah memilih untuk berpikir lelaki yang terbangun bersamanya di ranjang adalah Mogi, kucingnya.


Moza menggeleng, "Apa orang yang berekspresi kayak gitu saat namanya sendiri disebut-sebut bisa disebut manusia normal?"


Moza menunjuk Mogi yang tengah memandangi perseteruan Moza dan Hana di sofa. Laki-laki terlihat bingung sambil memiringkan kepalanya.


Hana menghela napas, "Jadi... penipu yang lo bilang waktu itu, sebenernya cowok ini?"


"Iya. Aku awalnya anggap dia penipu karena aku pun sama kayak kamu. Gak percaya. Tapi sikap dia, cara bicaranya, bikin aku berusaha untuk percaya."


"Sikap? Cara bicara? SE-MEYAKINKAN APA DIA SAMPE LO BISA–"


Hana menghentikan mulutnya untuk berbicara kala melihat Moza memberikan sebungkus makanan kucing pada Mogi, dan dimakan oleh lelaki itu.


"Oke, Za. Gue percaya."


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Kalau boleh jujur, Moza lebih memilih suara musik kencang yang memekakkan telinga daripada harus mendengar suara rintikan hujan seperti saat ini.


Karena entah mengapa, suara hujan hanya membuat otak Moza kembali mengingat memori-memori yang sebenarnya sangat ingin Moza lupakan.


Moza benci hujan.


"Wuusshhh!! Pesawat datang!"


Mendengar itu, Moza sadar dari lamunannya. Gadis itu menatap seorang lelaki berkaus putih dengan lengan panjang tengah memegang mainan di tangannya sembari mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya.


Ya. Moza dan Mogi tengah berada di kedai Bu Dewi dekat apartemen Moza. Seperti biasanya, niat mereka hanya membeli beberapa makanan kecil lalu kembali ke apartemen.


Tapi siapa yang menyangka kalau semesta berkata lain. Hujan yang sedari tadi tak kunjung berhenti ini membuat Moza dan Mogi terjebak.


"Awas ada dinosaurus jahat! Aaarrghh!"


Mogi menabrak-nabrakkan pesawat dan monster mainan yang berada di tangannya seolah-olah sedang perang.


"Kalau aja Bu Dewi punya payung. Aku bisa pinjem dan ajak Mogi pulang supaya gak terlalu malu begini," gumam Moza sempat tepuk jidat.


Untung saja tidak ada siapa pun yang melihat Moza terduduk bersama dengan lelaki muda yang sedang berkhayal main perang-perangan sambil membuat suara aneh.


"Eh, Moza... Sering-sering dong ajak sepupu kamu ini ke sini, ya. Kalo mau jajan, bilang aja. Ibu kasih gratis tis tis!" kata Bu Dewi yang baru saja muncul di balik etalase tokonya.


Moza terkekeh kecil, "Siap, Bu. Asal aku boleh ngutang roti sama mie instan dua minggu, hehe."


"Ah itu mah beres. Mau ngutang setahun juga bisa. Tapi yang ngutangnya harus si ganteng ini, ya." Bu Dewi tertawa lalu kembali melanjutkan aktivitasnya di dalam toko.


Melihat Bu Dewi tertawa seperti itu membuat Moza semakin merasa tidak enak saja. Bisa-bisanya wanita paruh baya itu percaya pada bualan Moza yang mengatakan bahwa Mogi adalah sepupunya.


Tapi ya mau bagaimana lagi? Selain tak mau dianggap gila yang yang kedua kalinya, Moza tahu Bu Dewi tak akan memberikan pengaruh apa pun walau ia bohong.

__ADS_1


"Tin, Tin! Awas tabrakan!!! Dhuaakkkk!!"


Moza tertawa kecil, "Mana ada pesawat suara klaksonnya begitu."


"Biarin aja. Kan Mogi yang main." Mogi melanjutkan aktivitas berimajinasinya dengan kembali menabrak-nabrakkan mainannya.


"Eeehh!!" pekik lelaki itu pelan kala pesawat mainan yang ia pegang, terjatuh ke tanah yang becek akibat hujan yang masih mengguyur.


Dengan polosnya, Mogi bangkit dari tempat duduknya dan hendak mengambil pesawat mainannya itu.


Tentu saja ia tidak akan membiarkan mainannya tenggelam dalam air hujan yang bercampur dengan lumpur.


"Eh! Kamu mau ngapain?!" tanya Moza kaget. "Ngambil pesawatnya, Moza. Nanti kotor."


"Udah terlanjur kotor, Mogi. Lagipula kan masih hujan. Nanti aja ambilnya," perintah Moza dan Mogi terdiam sejenak sebelum akhirnya menurut.


"Punya siapa, nih?"


Moza dan Mogi sontak menoleh pada suara barusan. Tampak Hana yang tengah memegang mainan Mogi yang jatuh tadi.


Cewek berpayung ungu muda itu berjalan mendekat lalu duduk di samping Mogi. Hana menyimpan payungnya dan menaruh pesawat mainannya di atas meja.


Hana menatap mainan kotor di atas meja itu, "Gue cuma berharap ini bukan punya cowok tinggi gede keker ini. Iya, kan?" tanya Hana menunjuk Mogi.


"Well, satu pertanyaan dan pernyataan. Pertama, sayangnya mainan itu emang punya Mogi alias si cowok tinggi gede keker ini. Kedua, Kenapa kamu bisa di sini, Hana?!" bingung Moza.


Ini sudah kesekian kalinya Hana berkeliaran di sekitar apartemennya. Padahal Moza tahu rumah kerabat Hana bahkan tidak ada yang di dekat sini.


Hana terkekeh, "Lo ngomong seolah gue gak boleh ke sini."


"Ya gak gitu juga."


Melihat kedua ciwi baru saja mengobrol, Mogi malah tiba-tiba mengambil pesawat mainannya dan pindah tempat duduk menjadi di samping Moza.


"Tu bocah kenapa, dah?" Hana terheran-heran. Moza mengangkat bahunya, "Gak tau juga. Padahal sama Bu Dewi gak kenapa-kenapa."


"Mungkin sama gue belum terbiasa, ya."


"Lebih baik jangan, sih. Kasian Mogi harus terbiasa sama makhluk berisik dan emosian kayak kamu."


"Za... Lo tau kan tangan gue bisa jambak lo kapan aja?"


"Hehe, bercanda... Tapi serius nanya. Ngapain kamu di sini? Pas hujan, lagi." Moza kembali bertanya. Karena sejujurnya ia tidak mengerti alasan Hana datang ke lingkungan kediaman Moza yang biasa-biasa saja ini.


"Gue lagi main ke rumah nenek cowok gue, Za elaahh... Kepo banget lo kayaknya."


"Ya habisnya... Tapi ngomong-ngomong siapa nama cowok alias korban kamu selanjutnya itu?"


"Kata 'korban' terlalu kejam, tapi gue setuju," Hana tertawa, "namanya Garry."


Moza mengangguk, "Namanya kayak orang bule."


"Dia emang blasteran Belanda. Cowoknya baik, dewasa, dan yang paling penting... mainnya jago."


"Apa 'main' yang kamu maksud?"


Moza tersentak, "Kok kamu tau??! Emang pernah?!"


"Hampir. Kami saling tatap, peluk dan ciuman. Terus gue bangun gara-gara suara alarm."


Moza menghela napas lega. Ternyata akal sehat Hana masih berjalan walau memang otaknya sudah agak miring.


"Dasar mesum."


Hana terkekeh kecil, "Habisnya dia ganteng banget, sih. Tinggi, putih, seksi.. Gak kalah lah sama bocil lo ini." Hana menatap Mogi.


Moza terperanjat, S-seksi??


"Susah buat otak gue untuk gak berpikiran ngeres. Kalo ada dia, pengen langsung making love aja rasanya," lanjut Hana tanpa rasa malu.


Sementara Mogi diam menatap Moza dan Hana yang tengah mengobrol hal yang sejujurnya tak ia pahami sama sekali.


Sampai-sampai Mogi mengabaikan mainannya hanya untuk mencerna topik ini. Lelaki itu celingak-celinguk menatap Moza dan Hana bergantian.


"Making love itu apa?"


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


"AHAHAHAHAHAHAHAH makasih lo udah bawa gue ke sini, Za! Kalo enggak, mungkin gue udah ngakak guling-guling di warung tadi!! HAHAHAHAHAHHA!!!"


Moza menatap sinis pada Hana yang tengah tertawa keras di sofa ruang tengah apartemennya.


"Kalo aku ini kamu, udah kusiram teh panas ini ke muka kamu, Na." Moza menaruh segelas teh tawar hangat sebagai jamuan untuk Hana lalu keduanya duduk bersama.


Hana berhenti tertawa sejenak, "Dan kalo gue ini lo, udah gue jelasin ni cowok soal apa tadi..? Making love? Hahahahahah!"


Hana masih tak habis pikir Mogi tak tahu apa itu making love. Apalagi bertanya dengan ekspresi se-polos tadi.


Mogi yang baru keluar dari dapur melihat Moza dan Hana langsung ikut terduduk seolah ingin bergabung. Hanya saja, bukannya di sofa, Mogi malah duduk di lantai persis di depan kaki Moza.


"Kalo kamu mau jelasin soal itu, ya udah jelasin aja. Asal bukan aku yang ngomong."


Hana mengangguk, "Kalo gitu buka baju lo, cil."


"Oke." Mogi hendak membuka kaus putihnya dari bawah.


"EEEHHH??!! Aku bilang jelasin, Hana!! Bukan ajarin!" teriak Moza sambil menepis tangan Mogi agar tak jadi membuka kausnya.


"Duh... Mau ngompol gue. Gak kebayang kalo dia 'main' sama lo. Mungkin cuma diem aja gak tau apa-apa. Emang unik jantan lo satu ini."


"Ngomong lagi, dan mukamu bakal melepuh." Moza sudah bersiap dengan teh panas di tangannya.


Hana bergidik, "Ampun, bos...."


Moza menaruh kembali teh panas itu dan menoleh pada Mogi yang berada di depan kakinya, "Kenapa? Sosisnya gak ada?" tanya Moza karena bingung Mogi datang padanya, padahal tadi ia suruh mencari sosis di dapur.

__ADS_1


Mogi mengangguk, "Hu'um... Sosisnya gak ada."


"Perkara sosis aja ribet. Lo kan punya, Mogi."


"Mana? Perasaan Mogi gak punya sosis." Mogi kebingungan, dan Hana menunjuk ke area ************ lelaki itu, "Itu di situ, tuh. Kasih ke si Moza aja. Pasti suka."


Moza terbelalak, "Kayaknya teh panas ini udah siap meluncur ke muka kamu, Na."


"Di mana sosis, Mogi?? Kok gak ada? Moza yang ambil? Kalo suka kan tinggal bilang, gak usah ngambil iisshh." Mogi merajuk.


Hana terbahak-bahak, "Tuh, Za! Balikin sosisnya! Nanti dia gak bisa kencing kan kasian!"


Moza pasrah. Ia sudah cukup gila dengan Mogi. Jangan sampai sel-sel otaknya yang tersisa ikutan hilang gara-gara Hana.


"Aku kagum sama Billy. Dia dulu sekelas sama kamu dan masih waras sampe sekarang."


Hana berhenti tertawa, "Ngomong soal Billy, apa... apa dia tau soal ni bocah?" Hana melirik Mogi.


Moza menggeleng, "Belum."


"Terus mau sampe kapan lo nyembunyiin ini semua?"


"Aku juga gak tau. Lagipula responsnya pasti sama kayak kamu. Ngapain juga aku bilang?" ucap Moza. Lagipula tidak ada alasan kuat untuk Billy tahu tentang Mogi.


Dan lagi. Masih mending Hana masih mau mencoba paham tentang Mogi walau tetap kaget pada awalnya.


Sedangkan Billy? Bagaimana kalau laki-laki itu ternyata tidak percaya dan menganggap Moza aneh?


"Heh, cantique gue kasih tau lo ya. Apa denger ada kucing yang jadi manusia itu hal yang normal? Walaupun Billy kaget, itu reaksi yang wajar."


"Lagian gak bisa dipungkiri, si tengil Billy itu tetep atasan kita di kafe. Kalo suatu saat bocah ini datang ke kafe lo mau bilang apa?" tanya Hana, mengingat jarak antara apartemen Moza dan kafe hanya beberapa meter saja.


Moza mendengus. Tahu apa yang Moza benci selain hujan?


Berpikir.


...(ฅ^•ﻌ•^ฅ)...


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Moza masih saja duduk santai di depan televisi sembari bermain ponsel.


Ya walaupun jemarinya memegang ponsel, tapi fokus Moza tetap pada ucapan Hana tadi siang. Moza tidak bisa selamanya terus menyembunyikan Mogi dari Billy.


Dan satu yang Moza yakini.


Sesuatu yang diawali kebohongan biasanya tidak berakhir baik.


Tuh kan. Kalo udah begini pasti suka pusing sendiri. Emang apa sih yang bakal terjadi, Mozaaaa?? Billy gak tau pun gak akan jadi masalah. Gak usah gila sendiri, oke??


Ya beginilah Moza. Jika sudah over thingking, pasti selalu berperang dengan pikirannya sendiri. Dalam otaknya, selalu ada dua sisi. Sisi waras....


...dan sisi goblok.


"Moza...."


Suara lelaki dengan nada lembut itu membuat lamunan Moza buyar. Gadis itu melihat Mogi berdiri di depannya dengan piyama putih bergambar boneka beruang warna-warni.


Untuk sejenak, Moza lega. Ternyata piyama yang baru ia beli tempo hari itu cocok di tubuh lelaki itu.


"Apa? Ngantuk?" tanya Moza, dan Mogi mengangguk-angguk.


"Udah cuci kaki?"


"Hu'um."


"Udah sikat gigi?"


"Udah."


"Cuci muka? Udah?"


"Udaaahh, Mozaaaa...."


Moza mengangguk, "Ya udah kalo gitu. Ke kamar, sana. Nyalain lampu tidurnya, terus AC-nya jangan terlalu dingin."


"Jangan kayak Hana. Dia tidur dalam keadaan lampu mati. Itu sekte paling aneh yang pernah ada di muka bumi."


Mogi mengangguk.


"Eh, Moza. Ingat soal Hana... Making love itu apa?"


Moza tersedak kopi hangat yang barusan ia minum. Sialan. Mengapa bahkan Moza harus mendengarnya LAGI dari mulut Mogi??


Hana brengsek. Mulut manusia itu memang terlalu berbisa untuk bocah yang tidak tahu apa-apa ini.


"P–pertanyaan macam apa itu? Tidur sana. Udah malem." Moza mengalihkan topiknya. Karena NO WAY IN HELL Moza harus menjelaskan hal itu pada Mogi.


"Ishh, Mogi tambah bingung jadinya."


"Daripada bingung? Mending tidur, ya gak?"


"Daripada Mogi berisik? Mending Moza jelasin, ya gak?"


Sial. Moza kira lelaki ini polos-polos bego. Ternyata Mogi cukup cerdik untuk membalikan pertanyaannya.


"Aduh... Apa, ya... M–making love itu semacam bikin orang jatuh cinta sama kita!" jelas Moza ngarang dengan harapan Mogi paham dan menyudahi topik menggelikan ini.


Mogi mengangguk, "Terus cinta itu apa?"


Moza terbelalak. Gadis itu berdiri dan menarik tangan Mogi untuk masuk ke kamar lalu menutupnya dari luar.


"Sekali lagi banyak tanya, dan kamu gak akan pernah keluar dari situ!" teriak Moza kesal.


Iblis kecil ini sepertinya harus diawasi.


...-TBC-...

__ADS_1


Tim lampu nyala pas tidur🙋‍♂️


__ADS_2