
Aleta sampai dirumah pada pukul 7 malam. Aletta melangkah gontai masuk kedalam rumah nya. Setelah mengantarkan Renata pulang.
'Gue kayak gak bertenaga, nggak bergairah untuk melanjutkan hidup ini' Batin Aleta melow.
Langkah kaki Aleta tanpa sengaja dan dikomando masuk keruangan kerja sang abang. Didepan pintu ruang kerja abangnya "lah kenapa gue malah kesini?" Gumam Aletta garuk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.
"Bodoh ah masuk aja siapa tahu menemukan inspirasi untuk jiwa dan raga melanjutkan hidup" tanpa mengetuk pintu Aletta langsung masuk keruangan kerja sang abang.
Sedangkan sang abang yang berada didalam bingung, tumben-tumbenan sang adik menginjakkan kaki nya di ruang kerja nya. Arion beranjak dari tempat duduk nya, Dan...
"Bang gue putus sama Rino" tanpa basa-basi dan dikomando Aletta curhat.
Rion tidak terkejut ataupun marah karena dia telah mengetahun semuanya. Dia besyukur adik kesayangannya itu putus dari Rino, karena Rion tau Reno tidak baik untuk Leta. Ada suatu hal yang nggak bisa atau belum siap Exel ungkap tentang Rino selain Rino telah menduakan sang adik.
"Ohh" hanya itu respon Rion datar.
"Ihh kakak, responnya kok cuma gitu aja?" Protes Letta cemberut.
"Lah terus abang harus gimana?" Jawab Exel bingung
"Ya biasanya kan kalau seoraang abang lihat adiknya disakitin cowok itu biasanya marah, dan berinisiatif buat ngasih pelajaran buat si cowok gitu" jelas Letta
"Ngasih pelajaran matematika?" Canda Rion berusaha menghibur sang adik.
"Ya elah abang, barangkali mau ngeh*jar gitu? Atau tembak m*ti aja sekaliam" ucap Leta.
"Idih ogah,buang-buang tenaga dan waktu abang aja, lagian kamu tuh yah bagus putus sama dia, orang kayak dia aja dibucinin" ledek Rion.
"Ih abang nggak asik banget jadi temen curhat, p*k*lin kek, atau apa gitu?" Ucap Letta lagi.
"Oke kalau kamu maksa, abang kirim pemb*n*h terus kepalanya abang kasih kamu mau? Buat koleksi" Ucap Rion berpura-pura tetapi memang itu yang sebenarnya ingin Rion lakukan kepada Rino.
"Eh,,,eh jangan deh kasihan lagian sadis bener deh abang" cegah Letta sambil nyengir.
"Lah kenapa?tadi maksa sekarang malah gak boleh?" Tanya Rion heran.
"Jangan deh Bang kasihan nanti kalau dia kesakitan gimana? Nanti dia tinggal nama aja dong kalau abang kakak b*n*h" jawab Aleta membuat Rion hanya bisa mengembuskan nafas kasar.
__ADS_1
"Halah, terserah kamu dek, terserah udah disakitin masih aja ngebucin" Omel Rion sambil angkat tangan keluar meninggalkan sang adik yang masih nyengir.
Pasalnya Aleta juga tidak tega kalau Rino harus maninggal ditangan abangnya. Kalau boleh jujur dibanding sakit hati rasa sayang Aleta lebih besar hanya dia kecewa dengan Rino.
**********
Dikamar
ALeta mengambil ponsel yang sepi bagai k*b*ran jaman dulu yang sepi senyap, seperti hatinya saat ini yang sedang galau, sepi dan merana. Dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi berwarna hijau melihat status sebentar dann...
"Idih s*alan tuh si kadal garong dan Sheril belum juga 24jam putus dari gue, sekarang udah pamer kemesraan aja, gemb*el emang" omel Letta . Setelah melihat status sang mantan kekasih dengan kekasih barunya itu.
Kemudian dia mencari nama seseorang dan mengirim pesan pada orang tersebut.
"Kak boleh minta bantuan?" Send, centang dua, tetapi belum ada tanda-tanda akan dibalas. Terakhir dilihat pukul 05.00 subuh tadi.
"Tumben ni orang?" Hampir 2 jam Letta menunggu tidak ada jawaban, Dan akhirnya dia tertidur karena capek nangis dan sakit hati.
Kling..kling Ponsel Letta bebunyi tanda ada pesan masuk.
"Boleh ,mau minta bantuan apa?" 10 menit.
"Kok aku yang jadi deg..degan..mau minta bantuan apa?" 2jam tetap tidak ada jawaban. "Untuk jajan Ta biar nggak galau".
*******
"Anj*r ketiduran gue jam berapa ini?" Aletta melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.
Karena sudah pagi dan tidak mager, Aleta menuju kamar mandi hanya untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi karena masih malas untuk mandi.
Setelah selesai melakukan ritualnya Aletta keluar dan ingat kemarin pesannya belum dibalas.
Aleta segera mengambil ponsel nya yang terletak begitu saja di atas kasur.
Mata Alte mau copot melihat isi pesan di ponsel nya
"Wehh, anj*r malah ditransfer uang mana 20 jetong lagi" kemudian Aleta langsung menghubungi ke nomor yang bersangkutan.
Deringan ke tiga baru diangkat.
__ADS_1
"Halo?" Sapa seorang disebrang sana.
"Halo kak, wah ngajak ribut nih kakak, malah ngirim uang, nanti kalau bang Rion tau bisa dipecat jadi adek ni aku?" Teriak Letta kayak toa masjid, karena sangking kagetnya dapat transferan cuma-cuma.
Lawan bicaranya sampai menjaukan ponsel dari telinga takut bud*g karena suara Letta.
"Exel udah tau kok Le, santai aja" jawab Daniel santai. Ya yang dihubungi Aleta adalah Daniel selain Rion, Daniel sudah dianggap sebagai sosok yang penting dalam hidup Aleta.
"Ya meskipun gitu kan nggak enak kak, aku nggak minta uang hlo" ucap Letta dengan nada tidak enak.
"Nggak papa buat kamu jajan, lagian kamu nggak balas-balas mau minta bantuan apa ya aku kirim uang aja" jawab Daniel ngeles.
"Ya kakak balas nya lama bingits , ya aku ketidiran" jawab Aleta.
"Pantesan dasar tukang ngebo, ya udah kakak mau kekantor dulu" pamit Daniel.
"Idih tumben berangkat pagi biasanya juga siang bolong baru berangkat" ejek Letta. Yang disebrang sana hanya kendengus kesal.
"Ya karena siang ini ada praktek di Rumah Sakit sayang, jadi harus kekantor dulu" balas Daniel.
"Oh gitu, okey bye" klik telepon dimatika. Oleh Letta tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya. Dan Daniel hanya menggelengkan kepala karena ulah Adik kesayangannya itu.
Setelah itu Letta berfikir, uang yang lumayan banyak dari Daniel untuk apa ya? Aleta berfikir keras sambil mengetuk-ngetuk dahinya.
"Aha, buat belanja aja kali ya, telpon Renata dulu deh" Ide brilian tiba-tiba muncul, segera di pencet no Renata.
"Halo" sapa Aleta setelah tersambung dengan sang bestie.
"iya ada apa Ta?" Tanya Renata, dia agak merasa was-was kalau Aleta menelpon dia disaat dia sedang bekerja takut dia mau bunuh diri.
"Pulang kantor ikut gue ya ke mal?" Ajak Letta. Renata yang mendengar itu bisa bernafas lega karena tidak terjadi apa yang dia pikirkan tadi.
"Ogah gue mau lembur" ucap Renata pura-pura menolak. Padahal mau banget.
"Plisss mau ya mau ya, gue jemput deh" ucap Aleta merengek.
"hilih nanti juga gue loe tinggalin dan ngedrama nggak jelas, ujungnya ngerampok gue lagi" balas Renata sewot masih mengingat kejadian kemarin.
"Nggak janji nggak gitu lagi, duit kemarin beli es krim dan coklat gue ganti deh,. Gue traktir sepuas lu, gimana?" Ucap Aleta berusaha merayu sang sahabat.
__ADS_1
"Oke jemput gue jam 5" akhirnya Aleta mengiyakan karena jarang-jarang Aleta berubah baik.